MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU

MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU
Mertua Mulai Kasar


__ADS_3

Happy reading ya 🤓


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tok,, tok,, tok,,,


Mataku mengerjap ngerjap mendengar ketukan di pintu kamarku.


"Siapa sepagi ini sudah mengetuk pintu?" pikirku saat melihat jam masih menunjukkan pukul empat pagi.


"Mungkinkah Dirga telah kembali? Tapi kenapa dia tak mengabariku lebih dulu?" pikirku lagi.


"Ayuuuuu bukaaa woiiii,,,,"


Brakkk,, brak,,, braaakk,,,


Ketukan itu berubah jadi gedoran. Aku tergagap begitu mengenali suara itu. Itu suara mama. Aku segera bangun dan setengah berlari menuju pintu lalu membukanya.


"Lama sekali sih!!!" ketusnya.


"Ada apa ya ma?" tanyaku polos.


"Ada apaaaa????" mama tiba tiba menjewerku seperti ibu yang menjewer anaknya yang bandel.


"Aawww ma,,, sakitttt,,, Ayu salah apa lagi ma?" aku mengiba menahan sakit di telingaku.


Mama melepaskanku. Aku mengusap usap telingaku yang terasa panas. Aku tak berani memandang wajah mama.


"Kamu lupa kalau mulai hari ini Santi sudah tak bekerja?? Kamu lupa siapa yang menggantikan Santi mengerjakan semua???" tanya mama.


Rupanya mama benar benar tidak main main dengan ucapannya kemarin. Mama ingin aku mengerjakan semuanya. Pantas saja sepagi ini mama sudah menggedor kamarku.


Mbak Santi memang biasanya sudah mulai aktifitasnya jam empat atau lima pagi. Besarnya rumah ini tentu membuat dia kewalahan jika harus selesai membersihkan semua.


Untuk itulah mbak Santi selalu bangun paling awal dan mulai menyapu lantai serta mengepel sebelum kami semua bangun.


"Sudah sana cepat!! tunggu apa lagi???" ketus mama.


"Tapi ma,,, bagaimana dengan Nathan dan Nicholas kalau aku harus tinggal mereka?" tanyaku memikirkan kedua anakku.


"Dengar ya,,, jangan pernah pakai pakai mereka untuk alasan. Mereka biar mama yang urus. Kamu urus saja pekerjaan rumah. Jangan lupa pompa juga asimu agar mereka bisa meminumnya dari botol susu saja" tukas mama.


Aku terkejut saat mama mengucapkan itu.


"Kenapa harus pakai botol susu ma? Ayu kan ada dirumah. Ayu masih bisa langsung menyusui mereka" protesku.


Mama mendelik mendengarnya.

__ADS_1


"Kamu pikir mama akan memberikan cucu mama padamu yang kotor dan dekil habis bersih bersih seisi rumah?? Kamu pikir mama akan berikan cucu mama untuk menyusu pada seorang pembantu??" ketus mama.


Airmataku menetes.


"Ma,, Ayu ini ibunya. Seperti apa pun kondisinya, Ayu tetaplah ibunya" lirihku.


Mama mengibaskan tangannya.


"Gak usah drama deh pagi pagi. Kamu mau segera lakukan tugasmu atau masih mau terus berdebat dengan mama??? Lihat itu mereka terbangun gara gara kamu banyak bicara!!!" tukas mama saat terdengar suara tangisan Nathan.


Aku hendak masuk mengambilnya namun mama menahan langkahku.


"Biar mama saja!! Kamu pompa sana dulu asimu" usir mama.


Aku yang merasa tak tega mendengar tangisan Nathan tak kunjung beranjak dari sana.


"Hehhh,,, cepat!!! kamu mau buat cucuku kehausan???" bentak mama yang melihatku masih berdiri menangis.


Aku tersentak dan segera berjalan menuju dapur untuk mencari perlengkapan botol susu anakku. Aku menghidupkan kompor dulu dan mendidihkan air untuk mensterilkan botolnya.


"Maafkan ibu ya nak. Ibu sangat tidak berdaya melawan nenek" batinku.


Beruntung aku bisa mendapatkan lumayan banyak asi yangbku rasa cukup untuk mereka berdua. Walau selama memompanya aku terus berurai airmata namun asiku tetap lancar.


Biasanya ibu menyusui yang sedang setres atau sedih cebderung terganggu hormon penghasil asinya. Untungnya itu tak terjadi padaku pagi ini.


Seandainya saja ada Dirga dirumah,, tentu mama tidak akan seberani ini memperlakukanku. Dirga juga tentu tak akan berdiam diri walau mama berani. Dia pasti melindungiku.


Setelah kurasa cukup, aku menutup botol susu dan mengantarkannya ke kamar. Aku juga sudah terlebih dulu menghapus airmataku.


"Ini ma,, " ucapku menyerahkan kedua botol itu.


"Lama sekali,, cucuku sampai haus begini" gerutu mama melihat Nathan yang langsung terdiam dan mengenyot botolnya kuat kuat.


"Kenapa mama malah menyalahkan aku? Bukankah mama sendiri yang membuat Nathan harus menunggu? Seandainya saja tadi aku langsung menyusuinya tentu Nathan sudah kbali tertidur saat ini" protesku dalam hati.


Mama menoleh padaku yang masih berdiri memandangi Nathan dan Nicholas yang lebih anteng tidurnya.


"Kok masih disini sih?? Sana kerja!!!" usir mama.


Aku tergagap.


"Ii,, iiyy,, iyaa ma" ujarku.


Aku segera memutar tubuhku dan berjalan menuju pintu saat mama kembali menyebut namaku.


"Ayu!!!"

__ADS_1


Aku menoleh.


"Awas kalau kamu berani mengadu pada Dirga. Mama pastikan kamu tidak akan pernah mama ijinkan memberikan asimu lagi pada mereka. Mama lebih rela membelikan susu formula saja. Itu pun kalau kamu tega membiarkannya!!!" ancam mama.


Ya tuhan,,,


Bagaimana bisa mama berkata seperti itu? Mama mengancamku dengan hal yang menyangkut kedua putraku.


Tentu saja aku tak akan tega membiarkan mereka minum susu formula sedangkan asiku sendiri melimpah,,,


Dan mama malah menyalahkan aku jika aku sampai tega membiarkan hal itu terjadi.


"Bukankah mama sendiri juga tega akan melakukannya jika Dirga sampai tau kekejaman mama padaku?" batinku menangis.


Mama benar benar menyulitkanku kali ini. Ingin rasanya ku adukan semua pada Dirga suamiku agar aku bisa terbebas dari segala hal buruk yang mama lakukan padaku.


Tapi apalah artinya jika aku bisa bebas namun kedua putraku yang harus menderita???


Aku memang tak punya pilihan lain lagi. Aku akan tutup mulut dan merahasiakan apa pun yang terjadi antara aku dan mama dari Dirga.


Demi anakku,,, aku rela menderita. Naluri seorang ibu pasti ingin selalu melindungi anak anaknya.


Aku berjalan menuju gudang penyimpanan peralatan bersih bersih rumah. Ku ambil gagang sapu dan mulai menyapu dari sudut ke sudut,, ruang ke ruang,,,


Saat sampai di depan kamarku aku melongokkan kepalaku. Ku lihat mama sedang tidur di ranjangku dengan memeluk kedua putraku yang tidur bersebelahan.


Aku senang namun tetap sedih melihatnya.


"Setidaknya mama memang mencintai mereka berdua." batinku.


Namun walau begitu aku tidak boleh menyepelekan ancaman mama tadi. Walau mama sayang pada mereka tapi mama adalah orang yang lebih menyayangi harga dirinya.


Mama akan tetap tega memisahkan mereka dari asiku jika aku sampai melanggar perintahnya untuk bungkam.


"Tuhan,, beri aku kesehatan dan kekuatab yang lebih agar aku bisa menjalani semua ini. Berikanlah juga ekstra kesabaran dalam hatiku menghadapi sikap mama" doaku dalam hati.


Matahari mulai menampakkan sinarnya saat aku selesai menyapu seluruh ruagan rumah besar ini. Aku sudah merasa letih namun aku tak boleh menyerah.


Aku kembali ke gudang dan kali ini mengambil alat pengepelan lantai. Butuh waktu sejam lebih untukku menyelesaikan tugas mengepelku.


Ku seka keringat di dahiku. Aku hendak mengambil air minum saat mendengar deru mobil masuk ke halaman.


"Siapa yang datang sepagi ini?" batinku.


\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa vote, like dan komen yaa

__ADS_1


Terima kasih 💞


__ADS_2