
Selamat membaca ya π€
Semoga suka πΊ
Maaf banyak typo π
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
πΊ
Ku arahkan ujung pulpen itu di tempat yang bertulisakan namaku. Dengan berat hati mulai ku ukir tanda tanganku disitu.
Dirga tersenyum saat melihat aku mulai mengukir tanda tanganku di sana namun matanya membulat saat melihat pulpen itu terus bergerak tiada henti hingga kertas itu penuh dengan coretan.
Ya,,,
Aku sengaja membuatnya senang dulu dengan tanda tanganku namun kemudian ku mainkan lagi peranku dengan mencoret coret semua kertas itu.
Ku buat pola seperti benang kusut dan ku gerakkan tanganku kesana kemari sesuka hati bak anak kecil yang pertama kali memegang pulpen dan diberi kertas.
Tak cukup sampai disana,,,
Aku pun kemudian membuang pulpen itu lalu meremas kertas itu. Tak puas hanya dengan meremas,, aku kembali membukanya dan merobek robeknya menjadi beberapa bagian.
Dirga hanya menganga dan tak berkata kata. Dirinya tidak menyangka aku bisa sejahat itu. Dirga bahkan hanya menerima robekan kertas kusut itu saat aku meletakkannya di tangannya.
Mata Dirga nanar menatap kertas kertas itu.
"Tuh,,, sudah ku tanda tangani. Oh ya,,, sekali ini saja aku mau tanda tangan. Bawa saja surat itu sekarang. Aku tak ingin kertas itu mengotori kamar ini." ucapku.
"Apa yang kau lakukan Ayu,,,??" tanyanya kesal setelah menyadari semua perbuatanku.
"Tentu saja aku menandatanganinya,,, mencoretnya,,, meremasnya dan merobeknya." jawabku polos.
"Ayu!!! Aku sedang tidak bermain main ya,,,!!" ketus Dirga.
"Dan aku pun juga!!! Aku tidak main main berkata Tidak!!!" bentakku.
Ini adalah pertama kalinya aku membentak Dirga setelah bertahun tahun kami saling mengenal dan hidup bersama.
"Jangan membentakku Ayu!! Kau sadar sedang bicara dengan siapa??" tanyanya lagi dengan nada tinggi.
"Aku sadar betul,,, dan aku juga ingin kau sadar bahwa sikapku padamu itu bergantung pada bagaimana kau bersikap padaku!!!" ketusku lagi dengan nada tak kalah tinggi dengannya.
"Aaarrrgghhh,,," Dirga kesal.
Dirga pun keluar kamar dan membanting pintu cukup keras. Aku hanya langsung menoleh ke luar jendela dan memastikan bahwa si kembar masih ada di sana.
__ADS_1
Aku tak ingin mereka mendengar keributan kami.
"Maafkan mama ya nak,,, mama seperti ini karena mama berusaha mempertahankan keutuhan keluarga kita. Mama bukan sengaja ingin melawan papa kalian,,, tapi papa kalian sudah kelewatan bodohnya dan harus diberi pelajaran dulu biar dia sadar dan jadi pintar" gumamku kembali terbawa emosi.
πΊπΊ
Dirga menuju apartemen Vhe.
"Hey,,, kenapa tiba tiba datang??" tanya Vhe yang terkejut saat membuka pintu.
Dirga tak menyahut dan langsung nyelonong masuk. Vhe belum bisa menebak alasan ditekuknya wajah Dirga sore itu.
"Ada apa Sayang?? Apa kau sudah membicarakannya dengan Ayu?" tanya Vhe yang duduk di sebelah Dirga.
Dirga hanya mengangguk.
"Dia pasti sudah menandatangani surat itu kan?? Sini aku mau lihat suratnya." Vhe berbinar.
Dirga menyerahkan sobekan sobekan kertas yang dibawanya tadi. Vhe heran kenapa Dirga memberinya kertas kusut dan sudah tak terbaca isinya itu.
"Apa ini maksudnya??" tanya Vhe.
"Ya itu surat yang sudah ditandatangani Ayu. Dia juga sudah merobek dan meremasnya setelah itu." kata Dirga.
"Maksudnya??" Vhe makin heran.
"Maksudnya ya dia tidak mengijinkan kita menikah Vhe,,," Nada suara Dirga meninggi karena emosinya pada Ayu tadi kembali memuncak.
"Maaf Vhe,,, bukan maksudku untuk membentakmu. Aku hanya kesal saja pada Ayu." ucap Dirga yang mengira diamnya Vhe adalah karena bentakan darinya.
"Oh tidak apa apa sayang,,, Aku bisa mengerti kok. Aku hanya sedang memikirkan cara lain saja agar kita bisa tetap menikah." ucap Vhe kemudian.
"Memangnya ada cara apa lagi?? Satu satunya cara bisa menikah lagi hanya dengan ijin darinya dan pernyataan tertulis ini,,," ucap Dirga kesal dan menampik kertas kertas yang dipegang Vhe itu hingga berjatuhan di lantai.
"Tenang sayang,, selalu ada jalan. Kau hanya cukup menjawab pertanyaanku dan aku yang akan melakukan sisanya." ucap Vhe.
"Pertanyaan apa memangnya??" tanya Dirga heran.
"Kau masih tetap ingin menikah denganku bukan??" tanya Vhe.
"Tentu saja masih,,, tapi,,,"
Dirga belum selesai bicara ketika Vhe tiba tiba sudah membisikinya rencananya. Wajah Dirga berubah ubah mendengarnya.
"Apa kau yakin Vhe??" tanya Dirga memastikan setelah Vhe selesai mengatakan apa rencananya.
"Sangat yakin sayang,,," ucap Vhe dengan mata berbinar.
__ADS_1
"Tapi,,, mereka??" tanya Dirga.
"Mereka akan baik baik saja. Ingat sayang,, ini bukan sungguhan. Hanya gertakan saja. Aku tau di mana mencari orang yang bisa melakukannya." sahut Vhe meyakinkan Dirga.
"Terserah kau sajalah Vhe,,, tapi ingat,, kau harus janji dan memastikan orangmu agar tidak sembarangan." kata Dirga.
"Pasti sayang" sahut Vhe mantap.
Vhe pun meninggalkan Dirga dan menuju ke dapurnya untuk membuat minuman.
Dirga menyandarkan kepalanya di sandaran sofa itu. Matanya memandang ke langit langit apartemen Vhe. Pikirannya melayang pada perkataan Ayu tentang nafkah bulanan yang dititipkannya pada mamanya.
"Rasanya tidak mungkin jika mama tidak memberikannya pada Ayu selama ini,,, Meski aku tau mama tidak begitu menyukai Ayu,,, tapi mama bukan wanita yang kurang uang. Mama tidak perlu menyita uang itu jika hanya ingib sekedar shopping atau ke salon. Uang yang papa berikan jauh lebih banyak dari itu,,,," batin Dirga.
"Sayang,,, ini minumlah. Ku buatkan kamu teh hangat biar kamu bisa lebih tenang" ucap Vhe yang datang dengan pakaian yang sudah berganti.
Pakaian yang lebih mirip dengan gaun tidur yang sangat tipis dan menampilkan lekuk tubuhnya. Vhe memang sengaja berganti pakaian dan memilih pakaian tipis itu untuk menahan Dirga.
Vhe ingin Dirga benar benar menjadi miliknya malam itu.
Pemandangan itu berhasil membuat mata dan pikiran Dirga teralihkan. Diterima cangkir berisi teh hangat itu namun hanya diletakkannya di meja karena ada benda lain di depan matanya yang lebih menantang untuk dipegang dan dinikmati.
Vhe yang tau apa hal yang diinginkan Dirga selanjutnya memulai rangkaian dosa yang mereka lakukan malam itu.
Vhe mengambil kendali penuh akan diri Dirga. Dirga yang sedari dulu dikenalnya sebagai sahabat sekaligus kekasih yang sangat menjaga kehormatannya,,,
Malam itu Dirga berubah menjadi pria dewasa yang memperlakukannya dengan adegan dewasa juga,,,
Dirga kembali melupakan aturan dan norma masyarakay seperti saat dirinya pertama kalinya melakukannya dengan Ayu,,,
Dirga lupa diri,,,
Dirga lupa dengan statusnya sebagai suami,,
Dirga lupa dengan istri dan anaknya,,,
Dirga hanya ingat akan kebutuhan nafsunya yang sudah lama tak terlampiaskan,,,
Vhe hanya membiarkan saat Dirga melakukan semuanya. Wanita itu begitu pandai membuat Dirga merasa dirinya sangat pandai memuaskan Vhe yang dikiranya juga sudah haus dengan hal seperti itu.
"Tidak buruk sekali sih,,, meski daddy jauh lebih pandai memuaskanku,,," batin Vhe senang saat Dirga telah terkulai lemas di sisinya.
"Menginap di sini saja ya sayang." bisik Vhe.
Dirga hanya mengangguk dan membawa Vhe dalam dekapannya hingga keduanya tertidur.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
Terima kasih πΊ