MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU

MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU
Gaji Untuk Santi


__ADS_3

Happy reading ya 🤓


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Aku tak habis pikir bagaimana bisa Vhe seakrab itu pada Papa. 


"Semoga saja apa yang ku pikirkan ini salah. semoga saja tuhan" Lirihku


Tengah sibuk memikirkan kemungkinan kemungkinan buruk antara papa dan Vhe,,, aku mendengar suara teriakan mama.


"Ayu,,, sini dulu mama mau bicara!!!" suara mama terdengar begitu ketus.


"Ada apa ma?" tanyaku menghampiri beliau.


"Kamu itu seharusnya tidak perlu menyuruh Dirga menjaga jarak dengan Vhe. Bagaimana pun juga Vhe itu teman Dirga dari kecil!!!" ketus mama.


Aku yang merasa sama sekali tak pernah meminta Dirga melakukan hal itu tentu saja merasa heran.


"Tapi ma,,, Ayu,,, " aku mencoba menjelaskan namun mama menyela lagi.


"Pokoknya mama gak suka ya kamu itu berlagak jadi nyonya dan sok ngatur ngatur Dirga. Apalagi kalau kamu sampai berani membatasi ruang gerak Vhe dan Dirga" sela mama.


"Ingat ya!!! Vhe itu gadis baik baik yang sudah menikah. Vhe tentu tau bagaimana tugas dan tanggung jawabnya sebagai seoranh istri. Jadi seharusnya kamu itu bisa sedikit dewasa menyikapi sikap Vhe pada Dirga. Vhe dan Dirga hanya teman" pungkas mama.


Aku tak langsung menjawab. Aku masih berpikir dimana letak salahnya jika ada seorang istri merasa was was jika suaminya masih akrab dengan mantan pacarnya walau pun mereka memang bersahabat dulunya.


Terlebih lagi jika wanita sahabat suaminya itu sering kali sengaja melakukan hal hal yang tidak ku sukai. Apalagi jika wanita itu seperti Vhe yang dari penampilannya memang lebih segala galanya di banding aku.


Salahkah jika aku cemas???


"Heh,,, diajak ngomong malah bengong bengong gak jelas!!! Sudah sana kamu makan yang banyak lalu beri asi Nathan dan Nicholas. Aku tidak mau cucuku kekurangan gizi nantinya!!!" titah mama.


"Ii,, iya ma. Ayu permisi dulu" pamitku sopan.


"Heemmm" sahut mama tanpa melirikku.


Entahlah apa yang kurasakan saat itu. Aku senang tiap kali ma mengingatkan aku untuk makan atau sekedar minum susu atau vitaminku.


Namun aku juga sedih karena sepertinya mama melakukan itu semata mata untuk si kembar saja. Sama sekali bukan karena mama benar benar memperhatikan asupan giziku.


Aku menghela napas. Berusaha mengurangi sesak di dadaku.


"Ayo non Ayu,,,Silahkan makan. ini sudah saya ambilkan piringnya." kata mbak Santi.


Aku tersenyum padanya.

__ADS_1


"Temani Ayu makan ya mbak" pintaku.


Mbak Santi tampak terkejut mendengarnya.


"Jangan non nanti nyonya marah sama saya" Tolak mbak Santi.


"Tidak apa apa mbak,, memang apa salahnya menemani saya makan? Ayo mbak,, ambillah piringmu dan makan bersamaku disini. Kalau ada temannya aku akan lebih selera makannya" ucapku.


Mbak Santi akhirnya mengalah dan beranjak mengambil piringnya lalu dengan ragu ragu duduk di sebelahku. Aku lah yang memintanya duduk disitu.


"Jangan non,, biar saya ambil sendiri saja"


Mbak Santi kembali menolak saat aku hendak menyendokkan nasi ke piringnya. Aku tersenyum lalu menurutinya. Mbak Santi mulai menyendok nasi saat mama tiba tiba datang.


"Eh,,, Eh,, apa apaan kamu Santi??? Berani sekali kamu!!!" mama membentaknya dengan mata terbelalak.


"Mmmmm,,, mmmaaaaff nyonya" mbak Santi sangat ketakutam hingga tangannya gemetar.


Aku yang melihatnya segera berusaha membelanya dengan mengatakan bahwa akulah yang memang meminta dan memaksanya.


"Oooohhh,,, makin berani kamu ya!! Mentang mentang sudah jadi istri Dirga dan bisa memberi kami cucu laki laki terus kamu mulai seenaknya merubah aturan yang ada dirumah ini!!!" mama ganti membentakku.


"Kamu mau menggantikan posisiku jadi nyonya rumah ini hahhhhh??" mama tiba tiba menjambak rambutku.


Mbak Santi yang sedari tadi gemetar saking takutnya langsung bersuara.


"Tolong lepaskan nyonya,, kasihan non Ayu. Nyonya jambak saya saja. Tolong lepaskan non Ayu nyonya" pintanya memelas.


"Diam kamu pembantu!!!!" bentak mama lagi.


Mbak Santi kembali diam dan menundukkan kepalanya. Namun dia sangat lega saat melihat mama yang telah melepaskan rambutku dan mendorongku hingga jatuh terduduk.


Mbak Santi segera menghampiriku dan membantuku berdiri lagi.


"Non Ayu tidak apa apa kan?" tanyanya mencemaskanku.


"Aku tidak apa apa mbak" jawabku tak ingin dirinya semakin merasa bersalah.


Mama yang masih berkacak pinggang di depan kami masih terus melotot.


"Dasar orang miskin,,, cocok sekali kalian yaaaa,,,, Santi!!! Mulai saat ini kamu ku pecat!!! Bawa barang barangmu dan angkat kaki segera dari rumahku ini!!!!" titah mama.


Mbak Santi yang mendengarnya langsung terisak namun tidak membantah sama sekali dan langsung saja beranjak dari sana agar tak membuat mama semakin marah.


Dalam hatinya dia merasa bingung harus mencari pekerjaan dimana lagi setelah ini. Mbak Santi melangkah menuju kamarnya dengan gontai.

__ADS_1


"Ma,,, jangan pecat mbak Santi ma. Ayu yang salah. Tolong biarkan mbak Santi tetap bekerja disini ma" pintaku.


"Kalian berdua sama sama salahnya. Jangan kamu kira kalau Santi saja yang akan mendapat hukuman. Kamu juga akan ku hukum menggantikan Santi mengerjakan semua tugasnya sampai mama dapat penggantinya!!!" kata mama.


Sebenarnya aku tidak merasa keberatan jika harus mengerjakan semuanya karena dulu aku juga terbiasa melakukannya dirumah. Ibu juga sudah selalu mengajari dan membiasakan anak anaknya melakukan pekerjaan rumah.


Tapi saat ini aku juga harus merawat si kembar.


"Ngerti gak kamu??? Jangan diam saja!!!" bentak mama lagi.


"Iya ma,, Ayu mengerti" lirihku pasrah.


"Bagus!!" kata mama.


"Nyonya,, Saya pamit dulu. Tapi sebelumnya apa saya boleh meminta gaji saya?" Mbak Santi mengatakannya dengan takut takut.


"Enak saja sudah berbuat salah masih mau minta gaji. Gak ada gaji!!!!" ketus mama.


Mbak Santi kembali bersedih mengingat dirinya tak cukup punya banyak uang saat ini. Dirinya tidak bisa berbuat apa apa lagi dan memilih segera meninggalkan kami.


Aku yang merasa sangat tidak tega dan bersalah padanya memanggilnya.


"Tunggu mbak" titahku.


Mbak Santi berhenti melangkah dan heran melihatku yang langsung berlari ke kamarku. Aku segera kembali dengan sejumlah uang di tanganku.


"Ini gaji mbak,, Tapi Ayu minta maaf jika jumlahnya kurang" ucapku. Mbak Santi menerimanya dengan penuh syukur.


"Terima kasih non,, Uang ini sudah lebih dari cukup. Saya permisi ya non. Nyonya saya permisi" pamitnya.


"Hati hati ya mbak" pesanku melepasnya dengan rasa bersalah. Mama hanya memandangnya sinis.


"Dari mana kamu dapat uang itu??" tanya mama menarik lenganku.


"Dirga yang memberikan padaku ma,,, itu nafkah darinya" jawabku sambil menahan rasa sakit di lenganku akibat tarikan paksa mama.


"Banyak juga Dirga memberinya uang" batin mama tidak suka. 


"Aku harus bisa membuat Dirga tak lagi percaya pada istrinya lagi. Aku tak rela jika wanita itu hidup enak dengan uang putraku!!!" Geram mama dalam hati. 


\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa vote, like dan komen yaa


Terima kasih 💞

__ADS_1


__ADS_2