MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU

MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU
Tuntutanku


__ADS_3

Selamat membaca 🌺


Maaf typo bertebaran πŸ™


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


πŸŒΊπŸ’ž


Keesokan paginya seperti biasa aku sibuk dengan persiapan sekolah si kembar namun ada beberapa hal yang tidak biasa.


Aku berdandan cantik dan modis dengan pakaian baruku. Ku padu padankan dengan sepatu terbaru juga. Kuku pun telah berwarna dengan kutek glossy yang ku beli kapan hari.


Jika aku sibuk mempercantik diriku sendiri,,, maka aku tak lagi menyiapkan apa pun kebutuhan Dirga pagi itu.


Aku memang sengaja melakukan semua itu sebagai bagian dari permainanku.


"Ayu,, mana bajuku?? Kenapa kamu tak menyiapkannya untukku??" teriak Dirga dari kamar kami.


Aku dengar itu tapi aku sengaja tak menjawabnya. Mama yang diam diam sedari tadi mencuri pandang penampilan baruku pun menghampiriku.


"Heh,, kalau ditanya suami itu jawab!!!" tegur mama yang risih mendengar teriakan Dirga.


"Untuk apa Dirga punya dua istri kalau mengambil baju pun masih harus Ayu yang melakukannya. Semestinya menantu baru mama itu yang mulai belajar cara melayani suaminya,,, Bukan malah ngambek dan meninggalkan rumah hanya karena hal semalam." sahutku cuek.


"Kamu yang keterlaluan,,, mana ada suami istri berpoligami minta tidur bersamaan dan minta jatah bersamaan juga!!!" ketus mama.


"Loh,, ini kan rumah tangga Ayu,, Ayu berhak kok mengaturnya seperti apa. Mau Ayu jungkir balik bersamaan,,, berhubungan intim bersamaan,,, terserah Ayu. Kalau tidak mau mengikuti permainan Ayu ya mundur saja,,," balasku.


"Masih pagi sudah berdebat saja,,," tegur papa melerai.


Aku dan mama pun diam. Aku melanjutkan mempersiapkan bekal si kembar dan mama memilih masuk ke kamarku.


"Mama,,,?? Mana Ayu ma,, apa dia tak dengar aku memanggilnya??" tanya Dirga.


Mama tak menyahut dan langsung membuka lemari baju kami. Dipilihkannya sebuah setelan kemeja dan celana kerja untuk Dirga.


"Ini,,, pakai baju ini." kata mama.


"Kok mama yang menyiapkan??" tanya Dirga heran.


"Sudahlah Dirga,,, kan Vhe juga belum bisa membantumu menyiapkan ini jadi biar mama dulu yang menggantikannya." sahut mama.


Dirga mengangguk.


"Nanti biar mama datangi apartemen Vhe dan bicara padanya,,, mama tau Vhe anak baik,, dia pasti bisa jadi istri terbaik untukmu. Hanya saja masih ada Ayu yang membuatnya tidak nyaman." kata mama lagi.

__ADS_1


Bagai kerbau dicocok hidung,, Dirga pun kembali mengangguk mengiyakan semua perkataan mama. Mereka pun keluar dan menuju ke meja makan untuk sarapan bersama.


Dirga setengah terpana melihat penampilanku yang berbeda hari ini.


"Ada acara apa hari ini di sekolah Ayu??" tanya Dirga.


Aku heran mendengar pertanyaan itu.


"Tidak ada,,, memangnya kenapa?? Lagian,,, sejak kapan kamu ingin tau kegiatan di sekolah anak anak??" tanyaku balik.


"Ku kira ada acara formal atau penting lainnya hingga kamu harus berdandan begini. Lagipula bajumu terlalu pendek,,," sahut Dirga setengah memperingatkan.


Sepertinya Dirga tau aku bukan wanita yang suka mengumbar tubuhku. Aku lebih suka memakai celana panjang tiap harinya.


Dan jika hari ini tiba tiba aku hanya mengenakan sebuah gaun yang sebenarnya dibawah lutut,,, Dirga menganggap itu sudah pendek karena sudah menampilkan bagian kakiku.


Aku hanya mendengus.


"Kalau Vhe kau ijinkan dandan dan berpakaian minim kemana mana,,, aku juga boleh kan??" tanyaku lagi.


Aku sudah mulai lagi memancing keributan.


"Terserah kamu saja Ayu,,," Dirga pun pasrah.


Perjanjian akan berbuat adil yang dibuatnya sendiri itu benar benar membuatnya susah bergerak.


"Bukan iri ma,, hanya tak ingin terlalu berbeda saka kok,,," sahutku dengan nada mengejek.


Mama hanya merengut. Mama kesal karena akhir akhir ini aku tidak pernah lagi menjawab "iya ma" pada setiap perkataan beliau.


Aku selalu saja punya jawaban sekarang.


"Oh ya Dirga,,, jadi kan kamu membelikan rumah baru untuk Vhe?? Sebaiknya kalian memang harus pisah rumah,,," kata mama seolah ingin memanasiku.


"Iya ma,,, hari ini juga Dirga akan mengajaknya mencari rumah hunian yang layak untuknya. Dirga juga tidak mau kalau dia tinggal di apartemen itu trus." sahut Dirga.


"Kamu tidak keberatan kan Yu kalau urusan rumah,,, kan kamu juga sudah tinggal di rumah besar ini." Kata Dirga.


Aku menghela napas.


"Kalau kamu ingin membelikannya rumah dan tinggal di sana tidak apa apa kok,,, Ayu bersedia meninggalkan rumah ini dan ikut kalian." sahutku santai.


"Ikut??" mama mengulang kata itu.


"Iya ikut,,, apa ada yang salah??" tanyaku balik.

__ADS_1


"Untuk apa kamu ikut??? Ada ada saja,,," sungut mama.


"Papa,,, tolong katakan pada Ayu,,, bukankah kemana pun suami pergi,, istri wajib mengikuti??" tanyaku pada papa yang belum bicara.


"Semestinya seperti itu,,," sahut papa singkat.


"Kalau begitu Ayu tidak salah kan dalam hal ini??" tanyaku sembari memandang mereka satu persatu.


Entah kenapa aku bisa berubah menjadi wanita yang sangat menyebalkan sekarang. Aku pandai membuat onar dengan perkataan perkataanku.


"Kalau kamu tidak ingin aku mengikuti kalian ya Vhe saja suruh tinggal di sini,,, lagipula mama kan dulu mengharuskan aku diam di rumah ini. Jadi kenapa menantu kesayangan mama itu tidak diharuskan tinggal di sini juga??" tanyaku.


Mama merasa pipinya panas mendengar kalimatku.


"Kan biar adil juga,,, Kamu juga akan terlihat lebih gentle jika berani memutuskan agar dua istrimu ini tinggal satu atap." aku membuat Dirga tersindir.


Dirga hanya menunduk.


"Disamping ituMama kan bisa punya waktu banyak bersama dia kalau dia di sini. Bisa tau juga kemampuan memasaknya juga,,, Atau mungkin juga bisa memberinya ide untuk buka usaha sendiri seperti mama menyarankan aku buka catering dulu. Bukan begitu ma??" tanyaku lagi.


Mama hanya bisa diam termakan omongannya sendiri dulu.


"Jangan khawatir kalau kami berdua akan terus bertengkar saat kamu tidak ada di rumah Dirga. Kan ada papa yang selalu bisa menengahi di sini. Papa akan bisa menegur siapa yang sudah keterlaluan diantara kami. Iya kan pa??"


Mataku beralih pada papa yang tampaknya sedari tadi merasa terancam jika Dirga dan mama sampai menuruti kemauanku untuk Vje di bawa ke rumah ini.


Keberadaan Vhe akan sangat membahayakan papa.


"Papa???" aku menyadarkan beliau yang masih belum menjawab pertanyaanku tadi.


"Ii,, iiyaa,,, ada papa" sahut beliau.


"Maaf pa,,, meski papa selama ini baik padaku tapi papa secara tidak langsung masuk dalam permainanku." batinku.


"Akan aku pikirkan lagi semuanya,,, aku harus ke kantor sekarang" ucap Dirga menutup pembicaraan pagi itu.


"Antar aku dan anak anak dulu,,, Vhe sudah pernah duduk di mobil itu bersamamu,,, dan aku belum" ucapku santai tanpa menunggu Dirga mengiyakan lagi.


Dirga kembali menelan ludahnya yang terasa mencekat tenggorokannya. Lagi lagi dirinya tak mampu menolak tuntutanku padanya agat bersikap adil.


Aku tak akan pernah berhenti membuatnya kewalahan dengan semua tuntutanku dan menyesal telah berani memutuskan menikah lagi.


\=\=\=\=\=


Jangan lupa vote, like dan komen ya

__ADS_1


Terima kasih 🌺


__ADS_2