
Happy reading ya 🤓
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Beberapa hari sejak kedatangan keluarganya ke rumahku Dirga jarang ke rumah makan. Namun dia tetap menelponku dan selalu mengabariku.
Di mana pun, sedang apa pun, dan dengan siapa pun Dirga terbiasa mengabariku hingga rasanya aku selalu ada bersamanya. Hal yang sama juga ku lakukan selama ini. Kami saling menjaga komunikasi.
Kali ini tuan Wicaksana atau mulai sekarang akan ku sebut dengan kata papa, mengirimnya ke luar kota untuk turun langsung ke lapangan pada proyek pembukaan kantor kargo baru.
Hal ini tentunya mendapat pertentangan keras dari tante Widya. Aku belum berani menyebutnya mama karena dia belum memintaku melakukannya.
"Papa ini bagaimana sih? Kok malah Dirga dikirim ke luar kota. Dirga itu harusnya lebih banyak bersama Ayu. Mereka harus sudah mulai proses anak!" kata tante Widya.
"Mama itu yang bagaimana? Bagaimana mungkin mama malah menyuruh anak kita itu melakukan hubungan intim sebelum waktunya?" jawab papa.
"Alah, toh juga mereka akan melakukannya suatu hari. Apa bedanya sekarang dengan tiga bulan lagi? Kalau mulai sekarang kan justru bisa lebih cepat jadinya. Kalau tunggu tiga bulan lagi dan tak segera bisa hamil kan buang buang waktu saja!" sungut tante Widya.
"Sudah sudah! Jangan ribut lagi! Dirga pusing mendengarnya!" Dirga melerai.
"Kamu harus segera meyakinkan Ayu agar dia mau menuruti mama. Kalau kamu sendiri yang langsung bicara padanya mama yakin dia pasti tidak akan menolak. Lagipula dia kan harus mulai terbiasa menurut padamu." ucap tante Widya.
Tante Widya terus mencekoki Dirga dengan semua perkataannya. Tapi aku yakin Dirga bisa menyikapinya. Dirga sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan.
Papa geleng geleng kepala saja melihat tante Widya yang tak kunjung menyerah meminta Dirga segera menyentuhku. Dalam hati papa sebenarnya papa senang karena tante Widya begitu tidak sabar ingin segera mendapatkan cucu dariku.
Namun di hati papa juga terselip rasa sedih karena istrinya itu menginginkan cucu bukan murni karena dia menyayangiku dan menerimaku sebagai menantunya. Melainkan hanya ingin menjadikanku mesin penghasil anak laki laki saja.
Harus laki laki!
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Aku sakit Yu. Badanku terasa meriang beberapa hari ini." kata Dirga di telpon siang itu.
__ADS_1
"Kamu sakit apa Ga?" tanyaku khawatir.
Tentu saja aku khawatir padanya yang saat ini hanya sendirian saja di luar kota. Dia tidak membawa siapa pun pergi dengannya. Dirga yang memang terbiasa mandiri dan selalu bisa menyelesaikan pekerjaannya sendiri lebih memilih untuk tidak mencari asisten.
Dan sekarang pria mandiriku itu tengah seorang diri menahan sakitnya disana.
"Entahlah, aku bahkan belum ke dokter. Seharian ini aku hanya berbaring saja di kamar hotel ini." ucapnya.
"Terus kamu sudah makan? Sudah minum obat?" aku makin khawatir dengan keadaannya.
Lewat panggilan video ini aku bisa melihat betapa pucat wajahnya dan terlihat sekali dirinya sangat lemas. Dia menjawab pertanyaanku itu hanya dengan gelengan kepala.
"Aduh Dirga! kamu harus makan biar bisa minum obat!" ketusku.
Aku kesal karena dirinya malah tidak makan. Di hotel tentu bisa memesan makanan dan minta dibawakan saja ke kamar langsung.
"Aku tak selera dengan makanan di hotel. Itu hanya akan membuatku muntah dan memperburuk kondisiku." lirihnya.
Aku diam saat dia mengatakannya. Ada benarnya juga ucapannya itu. Sejenak kemudian aku berpikir.
Aku melihat Dirga langsung berbinar mendengarnya.
"Aku langsung lapar membayangkan masakan ibu. Bawakan aku menu biasanya ya Yu." pintanya.
Aku segera mengangguk. Aku minta ijin pada Ayah dan ibu untuk keluar kota menyusul Dirga. Ku katakan kondisi Dirga yang sedang sakit itu.
"Ayah dan ibu ijinkan kamu pergi Ayu. Berhati hatilah di jalan. Dan sampaikan salam ayah ibu pada Dirga." Kata Ayah mengantar kepergianku.
"Ini. Kamu berikan padanya. Ibu rasa dia rindu makanan ini." Kata ibu sembari menyodorkan sekotak bungkusan berisi aneka masakan ibu.
"Terima kasih bu. Akan Ayu sampaikan salam ayah ibu padanya." ucapku.
Mereka melambaikan tangannya padaku saat aku mulai memacu sepeda motor matic milikku ini.
__ADS_1
Rasanya aku tak perlu mengatakan alasan kenapa aku malah memakai sepeda motor. Tentu saja karena aku tak punya mobil. Kebetulan jarak hotel tempat Dirga menginap juga masih bisa ku tempuh dengan dua atau tiga jam perjalanan saja.
Bagi gadis biasa ini perjalanan seperti itu bukanlah perjalanan yang melelahkan. Aku bahkan sangat menikmati perjalananku saat mulai memasuki wilayah pegunungan. Udara sejuknya membuat otakku terasa segar. Ku buka kaca helmku dan menurunkan maskerku. Aku sengaja hirup udara segar itu dalam dalam.
Bali terkenal dengan pemandangan alamnya yang indah. Banyak terdapat pegunungan dan danau danau indah. Kali ini aku mendapat kesempatan menikmati semua keindahan itu langsung.
Hotel tempat Dirga menginap ada di balik gunung dan danau ini. Sama sekali tak ada rasa lelah yang kurasakan karena aku begitu menikmati perjalananku ini.
Sebelum berangkat tadi aku juga sempatkan diri singgah di rumah Dirga. Sekedar ingin memberitahu papa dan tante Widya bahwa Dirga sakit.
Siapa tau mereka ingin menitip sesuatu untuknya. Aku memutuskan singgah karena kebetulan jalan menuju rumah Dirga memang searah dan ku lewati.
Tapi aku tak berhasil menemui papa dan tante Widya. Pembantu mereka, mbak Santi, mengatakan bahwa mereka telah pergi dari tadi pagi. Aku hanya menitip pesan padanya agar menyampaikan bahwa aku sempat datang.
Mbak Santi,
Pembantu yang sudah cukup lama bekerja di rumah Dirga. Usianya sudah kepala empat namun dia belum menikah. Entah dengan alasan apa dia memilih untuk sendiri saja.
Walau tante Widya sering berkata kasar padanya tapi dia tetap memilih bertahan di sana karena susah mendapatkan pekerjaan ditempat lain dengan latar belakang pendidikan yang minim.
Kesabaran papa padanya juga yang membuatnya bertahan. dia selalu hormat pada papa yang tak pernah menganggapnya pembantu. Jika tante Widya memarahinya papa selalu datang padanya setelah itu. Papa akan meminta maaf padanya akan sikap istrinya.
"Tolong jangan diambil hati ya mbak, istri saya tidak bermaksud begitu. Dia hanya tidak bisa memilih kalimat yang bagus untuk diucapkan. Tolong maafkan dia ya mbak."
Itulah kata yang selalu papa ucapkan pada mbak Santi tiap kali tante Widya mendapatkan bahan memarahi wanita itu. Papa memang selalu baik kepada siapa pun. Walau dia kaya raya tapi dia tidak pernah menganggap kekayaannya itu menjadikan dirinya setingkat lebih tinggi.
Dan beruntungnya sifat itu menurun pada Dirga.
Aku selalu merasa bersyukur pria yang ku cintai itu tak mewarisi sifat tante Widya. Mungkin saja aku tak akan pernah jatuh hati padanya jika sifat mamanya lah yang diwarisinya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
__ADS_1
Terima kasih 💞