
Dirga pamit pulang saat hari makin sore. hari ini dia terpaksa tidak ke kantor karena mengurusku dan menemui orang tuaku membicarakan semuanya.
Tugasnya belum selesai karena sekarang dia harus menemui orang tuanya sendiri dan menyampaikan berita kehamilanku.
"Segera kabari aku setelah kamu selesai bicara pada mereka. aku sangat ingin tau reaksi mereka terutama tante Widya" pesanku sebelum dia menginjak pedal gasnya.
"Jangan khawatir. Mereka pasti sangat senang mendengarnya. Jangan terlalu banyak pikiran sayang. kasihan bayi kita kalau kamu ajak berpikir terus. Ingat pesan dokter ya" tukasnya.
Aku mengangguk dan mundur selangkah saat dia mobilnya mulai bergerak. Ku lambaikan tanganku padanya.
Ibu menungguku di pintu.
"Mulai sekarang kamu tidak usah capek capek ya Yu,, janganke rumah makan. Istirahat saja. Lagipula sudah ada yang bantu ibu kan." ucap ibu lembut.
Aku tersenyum dan mengangguk. Betapa bentuk dukungan ibu akan kehamilanku seperti ini sangat menenangkan hatiku. Ibu mengantarku masuk ke kamarku.
"Terima kasih bu" ucapku.
Ibu tersenyum lalu menutup pintu kamarku dan membiarkan aku istirahat. Ibu segera kembali ke rumah makan dan melanjutkan aktifitasnya.
Pikiranku melayang pada Dirga. Baru saja ditinggal olehnya aku sudah merasa sangat merindukannya. Mungkin ini juga bawaan kehamilanku.
"Apa yang akan dikatakan tante Widya nanti ya?" batinku.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mamaaaaaa,,, Papaaaaaa,, Dirga bawa berita baik buat kalian"
Teriak Dirga yang yakin orang tuanya tak akan menyalahkan dirinya atas apa yang telah diperbuat olehnya.
"Ada apa Dirga? Pulang pulang bukannya ucap salam dulu nalah teriak teriak gitu" tegur papa yang ada di ruang keluarga.
"Pa,, mana mama??" tanya Dirga.
"Ya dimana lagi kalau bukan di tempat arisan bersama teman temannya" sahut papa.
"Yaahhh padahal Dirga bawa berita baik" gerutu Dirga.
"Berita apa memangnya??"tanya papa.
__ADS_1
" Ayu hamil pa,,,!!! Anak Dirga!!!!" ucap Dirga semangat.
Papa meletakkan buku yang tengah dibacanya. Dilepasnya juga kacamata bacanya.
"Kamu sadar atas apa yang kamu katakan ini?? Kamu begitu bangga mengakui bahwa Ayu hamil anakmu??? Kamu waras tidak Putu Dirgantara!!!!" bentak papa.
Dirga terkejut mendapat bentakan dari papa. Reaksi papa sungguh diluar perkiraannya. Papa yang selama ini sama sekali tak menunjukkan rasa tidak sukanya padaku tapi saat mendengar berita kehamilanku papa langsung emosi.
"Bukannya papa setuju jika Dirga menikahi Ayu??" tanya Dirga.
"Papa memang setuju. Bahkan sangat setuju kamu memilih Ayu menjadi pendampingmu. Papa tau Ayu gadis yang baik. Dia pasti bisa menjadi istri terbaik untukmu!!" kata papa masih dengan nada emosi.
"Tapi bukan karena alasan papa setuju dengan pernikahan kalian terus kamu pikir kamu bisa seenaknya merenggut kesuciannya sebelum kalian menikah apalagi sampai mengakibatkan dirinya hamil begini!! Apa kamu tidak pikirkan bagaimana tanggapan orang orang pada dirinya nantinya??
Pernahkan kamu memikirkan bagaimana nantinya anak kalian menghadapi omongan orang? Walaupun pernikahan kalian tinggal sebulan lagi tapi orang orang juga akan tau pada akhirnya bahwa anak kalian nantinya adalah anak yang terlahir dari suatu kesalahan orang tuanya.
Papa kecewa padamu!!!
Seharusnya kamu bisa menjaga dirimu dan kesucian Ayu!!! Papa tidak pernah kan mengajarkan kamu hal seperti ini!!! Bikin malu saja!!!
Lalu apa kamu sudah menemui orang tua Ayu dan mengakui perbuatanmu pada anaknya??? Sudahkah mereka tau bahwa Ayu hamil???"
"Sudah pa,, Dirga sudah menemui mereka tadi. Dirga bahkan juga sudah meminta maaf pada mereka atas kesalahan yang kami perbuat. Mereka telah memaafkan dan menerima kehadiran calon cucunya" lirih Dirga.
Papa mengerti namun masih tetap kecewa akan ulah anaknya. Papa sama sekali tak menyalahkanku karena dia pikir pasti anaknya yang telah merayuku hingga aku mau.
"Ehhh tunggu tunggu,,, siapa yang hamil???" tanya tante Widya yang tergopoh gopoh masuk mendengar keributan dari ruang keluarga.
"Siapa Dirga??" tanyanya lagi.
"Ayu ma,, dia hamil anak Dirga." lirih Dirga.
Mata tante Widya berbinar namun kemudian wajahnya berubah.
"Sialan,, rupanya perempuan itu bisa hamil juga. Kalau benat anaknya laki laki,, Dirga pasti akan tambah mencintainya. dan aku harus rela punya menantu miskin seperti itu" batinnya.
Tante Widya senang saat tau bahwa sebentar lagi mereka akan punya keturunan namun dia tetap tak menyukaiku. Dia hanya ingin menjadikanku pencetak anak tapi Dirga tak boleh terus mencintaiku.
"Mama senang mendengarnya Dirga,, tapi kamu harus yakin dulu anaknya laki laki atau perempuan. Kalau perempuan ya buat apa juga,, Mengecewakan saja!!!" kata tante Widya kemudian.
__ADS_1
"Mama cukup!!!!!" papa membentaknya.
Tante Widya terkejut. Baru kali ini papa membentaknya sangat keras.
"Cukup!!!! Anak kita ini sudah melakukan kesalahan besar dengan menghamili anak gadis orang tapi mama disini malah masih memikirkan diri sendiri dengan masih mempermasalahkan jenis kelamin bayinya!!!!" ucap papa.
Papa makin emosi menghadapi anak dan ibu yang bagi papa sama sekali tidak ada yang memikirkan diriku dan bayiku kedepannya nanti.
"Kok mikirin diri sendiri sih?? Mama itu mikirin nasib keluarga kita!!! Tidak salah kan kalau mama ingin Ayu itu harus bisa kasih cucu laki laki." tante Widya membela diri.
"Pokoknya pernikahan mereka harus tetap dilaksanakan tak peduli anaknya apa!!!" putus papa.
"Memangnya yang mau mereka batalkan pernikahan itu siapa?? Mama cuma menekankan agar Ayu punya anak laki laki. Kalau memang tidak bisa segera punya anak laki laki ya mama hanya akan beri dia waktu tiga tahun saja" kata tante Widya.
"Selanjutnya???" tanya papa.
"Ya Dirga harus menikah lagi!!! Tidak peduli mau berapa kali yang jelas sampai dia bisa dapat anak laki laki!!!!" tegas tante Widya.
"Keterlaluan kamu ma!!! Sama sekali kamu tidak pernah memikirkan perasaan Ayu!!!" sahut papa.
"Mama sudah bilang kan,,, mama tidak suka punya menantu seperti Ayu. Mama sudah berbaik hati memberinya kesempatan menjadi istri Dirga dan membuktikan dirinya bisa melahirkan anak laki laki. Jadi kalau dia tidak berhasil ya mama akan carikan Dirga istri lain" kata tante Widya tak kalah tegas.
"Tiga tahun sudah cukup. Ingat itu Dirga!!!" lanjutnya.
"Sudah Cukup!!! ,,, Papa,, Dirga minta maaf karena telah mengecewakan papa. Dirga tau Dirga salah tapi Dirga akan tetap bertanggung jawab dan menikahi Ayu,,, dan Mama,,, Tak peduli apa pun anak Ayu,,, Dirga tak akan mau menikah lagi!!! Dirga hanya mau Ayu satu satunya yang jadi istri Dirga. Jadi mama tidak perlu repot repot mencarikanku gadis lain!!!" tegas Dirga.
" Jangan ada lagi yang berdebat!!! Siapkan saja semua yang diperlukan saat pernikahan nantinya." lanjutnya.
Dirga yang paling tidak suka melihat jika kedua orang tuanya saling berbeda pendapat langsung naik ke atas dan masuk ke kamarnya.
"Ini semua gara gara mama yang meracuni pikirannya. Anak kita jadi tak bisa menjaga diri!!" kata papa.
"Kok mama lagi sih yang disalahkan?? Heran deh!!!" sahut tante Widya tak merasa bersalah sedikit pun.
Papa meninggalkan dirinya yang masih mengomel.
Jangan lupa vote, like dan komen yaaa
Terima kasih 💞
__ADS_1