MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU

MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU
Kamu Sempurna


__ADS_3

Happy reading ya 🤓


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kondisiku pasca melahirkan secara caesar sudah jauh membaik. Aku sudah mulai bisa memangku Nathan dan Nicholas bergantian saat mereka waktunya minum asiku.


Sebelumnya aku hanya bisa untuk memompanya karena perutku masih terasa sakit jika harus ditindih. Aku bersyukur kedua putraku tidak pernah rewel.


Mungkin mereka tau ibunya belum bisa banyak bergerak hehehehe,,,


Mama dan papa setiap hari membantuku menjaga mereka. Mama yang paling terlihat sangat bahagia. Mama yang paling sigap saat mendengar suara tangisan si kembar.


Dirga lebih jarang ada dirumah karena papa telah memilih pensiun dan menyerahkan semua bisnisnya pada Dirga. Papa ingin memiliki waktu lebih banyak dengan cucu kembarnya.


Mengenai sikap mama padaku,,,


Bisa ku bilang ada sedikit demi sedikit perubahan. Mama jadi lebih sering mengajakku bicara dan saling bertukar pikiran saat membahas kebutuhan si kembar.


Apa aku puas??


Mungkin,,,


Yang jelas aku merasa perhatian mama seperti itu sudah lebih dari cukup. Bagiku yang penting mama menyayangi kedua putraku.


Pagi ini aku mengantar Dirga hingga di depan pintu seperti biasanya. Dirga mencium keningku lalu bergantian menciumi si kembar yang ku letakkan di kereta dorong untuk bayi kembar.


"Ayah kerja dulu ya sayang,, Jangan nakal dan bikin ibu ngomel ngomel yaaaa" pesannya pada si kembar.


Aku mencubit perutnya yang ku rasa sekarang makin berlemak saja. Sejak menikah Dirga bertambah berat badannya karena dia puas dan selalu menambah makan sejak aku yang memasak di rumah.


Mbak Santi tidak pernah lagi memasak untuk kami. Dia hanya mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Kalaupun saat aku di dapur mbak Santi hanya turut membantu memotong sayuran atau sekedar membersihkan bawang dan bumbu lainnya.


Aku melambaikan tanganku saat Dirga telah keluar meninggalkan halaman rumah luas ini. Aku hendak masuk kembali saat sebuah mobil sport dengan bak terbuka memasuki halaman.


Aku menoleh siapa yang ada dibalik kemudi.


Vhena,,,


"Ada urusan apa dia datang sepagi ini" batinku.


Vhe turun dari mobilnya dan melepas kacamata mahalnya.


Dia mengenakan sebuah atasan off shoulder yang hanya sebatas pusar. Perut ratanya yang bertindik tampak sangat ramping. Atasan itu dipadu dengan rok jeans mininya serta sepatu sports merk ternama.

__ADS_1


Rambut panjang hitamnya kali ini diikatnya saja ke belakang dengan sebuah karet rambut. Namun meski hanya begitu tampak sesuai dengan bentuk wajah tirusnya itu.


Ah Vhe,,, kamu tampak sempurna sekali,,,


Tiba tiba aku merasa minder saat dia berjalan mendekatiku. Apalagi dari jarak kurang dari dua meter aku sudah bisa mencium aroma wangi parfumnya.


"Halo Ayu,,, " sapanya dengan nada yang tidak ku suka.


Nada merendahkan dan setengah terpaksa menyapaku.


"Ada perlu apa kamu kesini?" tanyaku.


Vhe tertawa kecil.


"Sejak kapan kalau aku kesini harus menunggu jika aku ada perlu?? Rumah ini sudah seperti rumahku sendiri. Aku bebas kapan pun keluar masuk" tukasnya.


Lagi lagi nada merendahkan itu kurasakan di tiap kalimatnya.


"Jangan takut begitu,,, Aku tidak sedang ingin menemui Dirga kok. Aku hanya ingin bertemu tante Widya." lanjutnya.


"Mama ada didalam" sahutku singkat tanpa mempersilahkannya masuk.


Namun Vhe juga tidak menungguku mempersilahkan dirinya masuk karena seperti yang dia bilang tadi dirinya menganggap rumah ini seperti rumahnya.


Vhe langsung masuk melewati aku yang masih berdiri di tengah pintu. Sempat disenggolnya juga bahuku saat dia masuk. Aku tau dia sengaja melakukannya.


Tanpa ku tunjukkan jalan dia sudah tau harus kemana mencari keberadaan mama. Malah aku yang berjalan di belakangnya sambil mendorong kereta bayiku.


"Tanteeeeeee,,, " pekiknya begitu melihat mama.


Mama yang tengah duduk di meja makan dan meminum tehnya langsung meletakkan cangkirnya dan berdiri menyambut Vhe dengan tangan terbukanya.


Vhe langsung memeluk dan mencium kedua pipi mama.


"Cantik sekali kamu sayang,,, Ada apa sepagi ini sudah datang? Apa kamu sedang tidak menemani mamamu ke salon?" tanya mama.


Vhe menggeleng kemudian dengan masih merangkul pinggang mama dia mengajak mama menuju sofa yang di ruang keluarga. Aku tau Vhe sengaja membawa mama kesana karena aku sedang duduk disana.


Aku melirik saja saat dia sudah duduk di sofa depanku.


"Tante,,, Vhe bosan dirumah sendiri. Mama ke salon. Papa lagi pergi sama klien. Sandy juga sibuk dan tidak bisa dihubungi. Makanya Vhe kesini saja" ucapnya manja.


"Memang seharusnya seperti itu Vhe,,, rumah ini kan juga rumahmu. Kamu boleh kapan saja datang. Tante juga sekarang jarang keluar kok" kata mama.

__ADS_1


"Kenapa tante?" tanyanya.


"Kan tante bantu Ayu jagain anak kembarnya" kata mama.


Vhe menatapku yang pura pura tak mendengarkan apa yanh mereka perbincangkan. Aku memilih sibuk memainkan mainan untuk si kembar yang tengah terjaga itu.


"Memangnya Ayu tidak mampu menjaga anaknya sendiri??" sindirnya.


"Kalau memang tidak mampu kan jangan punya anak dulu!!" lanjutnya.


Aku yang mendengarnya hendak menjawab namun ku urungkan saat mama menjawab lebih dulu.


"Oh itu tante sendiri kok yang mau Vhe,,, Mereka kan cucu pertama tante jadi sudah sewajarnya kan kalau tante selalu ingin dekat mereka" kata mama.


Aku sedikit bingung saat mama menjawab seperti itu. Apa yang diucapkan mama memang benar tapi apa mama sadar ucapannya itu terkesan membelaku??


Aku senang namun tak ingin terlalu senang karena tampaknya mama belum selesai bicara. Aku ingin dengar dulu apa kalimat mama selanjutnya.


"Lagipula tante ini kan harus selalu memastikan apa Ayu bisa mengajari hal hal baik pada cucu tante atau tidak. Kamu tau kan Vhe,,, Ayu dibesarkan oleh orang biasa yang tante yakin pendidikannya juga kurang" ucap mama tanpa peduli aku akan tersinggung atau tidak mendengarnya.


Aku benar kan??


Aku benar dengan memutuskan senang dulu dengan jawaban mama tadi karena akhirnya mama juga menyakitiku lagi dengan perkataannya.


Walau mama sama sekali tak menolehku saat mengatakannya dan membuat itu tampak alami tanpa keinginan menyindir namun tetap saja aku merasa tersinggung.


Aku masih bisa terima jika mama hanya mengatai aku saja,, namun aku merasa tidak terima jika mama membawa orang tuaku juga.


"Ayu,,, Bawa Nathan dan Nicholas kesini. Temani papa di taman" papa memanggilku.


"Iya papa" sahutku langsung berdiri dan mendorong kereta bayiku.


Papa sengaja memanggilku karena papa sempat mendengar ucapan mama tadi. Papa ingin aku segera beranjak dari sana agar tak mendengar lebih banyak.


"Halo om" sapa Vhe yang langsung berdiri.


Papa tak menjawab dan hanya mengangguk kemudian mengambil alih kereta bayi dan mendorongnya keluar. Sepertinya papa kurang menyukai Vhe. Tapi aku tidak tau pasti.


Aku hanya menduga duga saja.


"Ada rahasia yang disembunyikan Papa dan Vhe" Pikirku. 


\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen yaa


Terima kasih 💞


__ADS_2