
Selamat membaca 🌸
Maaf banyak typo 🙏
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🌸
Dokter meninggalkan dua pria dewasa yang sama sama terpekur itu. Setelah dokter pergi,,, Papa dan Dirga saling berpandangan dan sama sama curiga. Keduanya saling memberi tatapan tajam.
"Pasti papa kan yang membawa virus itu!!!" bentak Dirga.
"Sembarangan saja,,, Sedari tadi kamu terus menuduh papa yang tidak tidak." papa masih berkilah.
Dirga yang kesal langsung mengambil ponselnya dan memutar video papa dan Vhe.
"Lihat ini!! Masih mau berkilah apa lagi??" tanya Dirga.
Papa berkali kali mengusap keringat di dahinya melihat dirinya dalam video itu. Dirga menunggu apa yang akan dikatakan papa setelah ini.
"Siapa,,, siapa yang memberimu video ini??" tanya papa.
"Bukan urusan papa dan bukan itu intinya. Dirga ingin dengar sendiri apa sekarang alasan papa setelah kedok papa terbongkar begini!!" ketus Dirga.
Papa menelan ludahnya.
"Dirga,,, Papa,,,"
"Tidak usah minta maaf!!! Bukan kalimat itu yang ingin ku dengar. Lagipula aku tak punya gudang maaf untuk papa dan Vhe." potong Dirga.
"Vhe,,, Vhe yang memulainya,,," lirih Dirga.
"Oh,, jadi dia yang memulai?? Tadi dia bilang papa yang mulai. Kalian benar benar saling melengkapi ya,,," sindir Dirga yang tak percaya dengan pengakuan papa.
"Dirga,, Papa tau papa salah dan papa bisa terima seandainya kamu tidak mau memaafkan papa. Tapi papa akan berusaha memperbaiki diri. Papa akan mengembalikan Vhe padamu. Kamu lebih berhak memilikinya." kata papa.
Dirga kembali tertawa sinis.
"Setelah cacat dan penyakitan,,, Setelah ketahuan belangnya,,,dan setelah anak kalian lahir,, Papa mau dengan seenaknya menyerahkan dia kembali padaku?? Tidak pa!! Aku sudah tak membutuhkannya lagi. Ambil saja,,, Papa doyan banget kan??!!" sindir Dirga.
"Itu anakmu Dirga,,, Bukan anak papa. Sejujurnya selama ini kami selalu memakai pengaman." kilah papa yang kini tak mau mengakui anak itu.
"Oh ya,,, Lihat ini!!!"
__ADS_1
Dirga menunjukkan hasil USG yang menunjukkan usia kehamilan Vhe. Papa tampak mengingat ngingat kapan pertama kali Vhe mengajaknya berhubungan tanpa pengaman dan mulutnya pun komat kamit menghitung.
"Itu jelas bukan anak papa,,, Itu pasti anakmu Dirga. Selama ini Vhe berarti membohongi papa. Dia bilang itu anak papa tapi nyatanya papa baru diperbolehkan tak pakai pengaman setelah dia hamil jadi itu pasti kamu yang menghamilinya." tuduh papa balik.
Dirga jadi lebih kesal lagi karena dituduh balik.
"Aku yang dapat ijin tanpa pengaman setelah dia hamil. Jadi itu bukan anakku. Itu anak papa!!!" Dirga bersikukuh.
"Test DNA saja. Apa susahnya??"
Suara seseorang terdengar. Papa dan Dirga menoleh pada sumber suara itu. Bukan main terkejutnya mereka berdua melihat Ayu datang didampingi pengacaranya.
"Ayu?? Sedang apa kamu di sini??" tanya Dirga.
"Aku hanya ingin memberikan surat panggilan persidangan pertama kita untuk kasus yang kuajukan padamu." kata Ayu datar.
"Kamu tau dari mana aku ada di sini,,,?" tanya Dirga.
"Dari penjaga apartemen istrimu. Katanya istrimu mengalami kecelakaan jadi kami coba mendatangi rumah sakit terdekat dan benar saja bisa menemukanmu di sini." jawab Ayu.
"Iya,, Vhe kecelakaan dan bayinya sudah lahir." lirih Dirga.
"Selamat kalau begitu,,, Entah siapa di antara kalian berdua ayah biologisnya tapi intinya aku datang kesini bukan ingin mengulik tentang itu. Aku juga bukan ingin jenguk Vhe. Jadi aku permisi sekarang juga." kata Ayu.
"Maafkan aku Ayu,, Tapi kemungkinan aku tak akan bisa datang karena aku harus menjaga mama yang terkena stroke." jawab Dirga.
"Itu terserah kamu bagaimana caranya. Yang jelas aku sudah mengingatkanmu untuk datang." kata Ayu menutupi rasa terkejutnya mengetahui mama sakit.
Ayu pun langsung pergi.
"Ayu terlihat lebih cerdas dan berkelas sekarang. Tidak seperti dulu yang polos dan lugu. Aku sungguh bodoh telah melepasnya." batin Dirga sembari terus memandangi punggung Ayu.
"Apa kamu sudah dapat pinjaman dari klien untuk membayar denda hukuman??" tanya papa menyadarkan.
"Itu bukan urusan papa. Aku bisa mengurusnya sendiri. Sekarang lebih baik kita lakukan ide Ayu tadi. Aku rasa itu perlu kita lakukan agar kita bisa pastikan siapa ayah bayi itu. Begitu anak itu terbukti bukan anakku,,, Aku akan segera membatalkan pernikahanku yang memang dilarang negara karena Vhe mempoliandri aku." tegas Dirga.
"Ok,,Papa tidak keberatan karena Papa juga yakin itu bukan anak papa. Lebih baik kamu siap siap saja kalah dengan hasil tes DNA itu dan kamu harus minta maaf karena telah keterlaluan menuduh papa." sahut papa seperti tak merasa bersalah.
Keduanya lalu menemui dokter untuk mengajukan permintaan tes DNA. Dokter menyanggupi dan menganjurkan tes yang akan mereka jalani nantinya memakai sampel bercak darah saja karena bercak darah merupakan sampel paling baik untuk digunakan jika ingin cepat tau hasilnya.
Dokter juga menjelaskan bahwa bercak darah dalam jumlah sedikit saja sudah mampu menghasilkan banyak DNA.Hanya akan membutuhkan waktu 24 jam untuk mengetahui hasilnya.
Tanpa pikir panjang lagi Dirga menyanggupinya tak peduli meski itu memakan biaya besar. Yang jelas dirinya ingin segera tau hasilnya. Begitu juga papa yang rela merogoh koceknya lebih dalam juga demi membuktikan anak itu bukan anaknya.
__ADS_1
"Sekalian juga saya ingin memeriksakan kondisi kesehatan saya dok."kata papa mengingat bahaya virus yang dokter sampaikan tadi.
"Tapi bukankah suami saja yang perlu diperiksa dulu??" tanya dokter tidak mengerti.
"Ya,,, Tentu anak saya juga akan periksakan dirinya juga. Saya hanya orang tua dok,,,Saya hanya ingin mengantisipasi diri saya saja." jelas papa tak ingin dokter berpikir macam macam.
"Baik pak,,," sahut dokter.
"Masih saja pandai berkilah." Dirga kesal dan mengumpat dalam hatinya mendengar obrolan papa dengan dokter.
Dirga tanpa disuruh juga akan memeriksakan dirinya.
"Beruntung Ayu dulu tak pernah mau ku sentuh sejak kehadiran Vhe. Bahkan sejak sebelum Vhe datang juga kami lama tak melakukannya. Dulu alih alih kecewa karena Ayu tak pernah ada waktu melayaniku hingga aku tergoda pada Vhe,,, Sekarang aku kena getahnya." batin Dirga.
"Setidaknya aku yakin aku tak menulari Ayu. Jika Ayu sampai tertular maka aku tak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri yang sudah gagal menjadi suami." lanjutnya.
"Apa pasien sudah bisa dijenguk dok??" tanya papa.
"Belum pak. Pasien masih belum sadar dan sebaiknya tidak ditemui dulu. Lagipula kami menempatkannya di ruang khusus karena penyakit yang di deritanya itu." kata dokter.
Papa hanya mengangguk angguk mengerti.
"Setiap bentuk perhatian papa pada Vhe membuatku makin benci. Aku tak bisa menerima papa kembali dalam keluargaku. Biar mama bercerai dengan hidung belang ini. Aku lebih rela mama sendiri daripada masih menjadi istri bandot tua ini!!" geram Dirga dalam hati.
Papa hanya melihat Vhe yang belum kunjung sadarkan diri dari kaca di pintu ruang isolasinya lalu kembali ke ruangan mama menyusul Dirga.
"Mau apa papa ke sini?? Temani saja selingkuhan papa itu." hardik Dirga mengusir papa yang hendak menemani mama.
"Tapi mama istri papa dan itu istrimu,,," protes papa.
"Mama tidak butuh papa. Aku yakin jangan jangan mama seperti ini juga karena papa dan Vhe. Kalian berada di rumah kan tadi sejak papa pulang kantor awal??!! Kalian berdua pasti yang membuat mama celaka." tuduh Dirga.
Papa diam saja tak mengelak sedikit pun dan keluar dari ruangan mama.
Dirga menyeka airmata mama yang terus berlinangan seolah membenarkan apa yang dikatakan Dirga tadi. Hanya saja dirinya tak bisa bicara.
"Jangan sedih ma,,Ada Dirga di sini yang akan melindungi mama." kata Dirga.
Mama hanya mengedip ngedipkan matanya tanda mengiyakan.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen yaa
__ADS_1
Terima kasih 🌸