MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU

MERTUA & MANTAN PACAR SUAMIKU
Hari Pernikahan


__ADS_3

Happy reading ya 🤓


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Persiapan menjelang hari pernikahan yang menyibukkanku membuatku lupa dan tak berkesempatan menanyakan pada Dirga siapa sebenarnya Vhena.


Hingga hari pernikahan pun tiba,,,


Serangkaian upacara pernikahan adat kami yang panjang dan butuh waktu seharian penuh bisa ku lewati tanpa adanya gangguan mual atau gejala gejala lainnya.


Aku sangat bersyukur karena bayiku sepertinya tau dan sangat bahagia dengan pernikahan orang tuanya. Dia sama sekali tidak rewel atau menyiksaku.


Walau hanya diselenggarakan secara sederhana dan tertutup untuk keluarga saja tapi kami sangat bahagia ditambah lagi kesadaran kami akan hadirnya buah hati sebentar lagi.


"Apa Ayu itu sedang hamil Widya?" tanya seorang kerabat dekat Dirga.


Aku sempat mendengar pertanyaan itu saat hendak mengambil minum ke dalam. Aku penasaran apa yang akan dikatakan oleh tante Widya pada kerabatnya itu.


"Yaahh begitulah kalau orang miskin ingin jadi kaya,, Pakai segala cara untuk menumpang hidup" suara tante Widya.


"Kamu benar Widya,,, gadis gadis jaman sekarang memang nekad. Merelakan tubuh mereka begitu saja demi uang. Apa ini penyebab Dirga batal nikah sama Vhena?" tanya kerabat lainnya yang ikut nimbrung.


"Ya siapa lagi,,, padahal Vhe jauh lebih segala galanya dari wanita ini tapi karena Vhe pandai menjaga diri maka dirinya kalah dengan wanita murahan ini." ucap tante Widya.


"Loh,, tapi dengar dengar kan si Vhe yang nikah duluan? Gimana tuh ceritanya" suara kerabat.


Merasa cukup banyak mendengar semua itu aku memutuskan untuk sengaja lewat di depan mereka agar mereka tak terus membicarakanku yang tidak tidak.


"Ya karena Vhe merasa kecewa sama Dirga. Dirga sih susah diingatkan,,, jangan dekat dekat sama wanita lain apalagi yang seperti ini. Demi batu kali dia membuang permata" tante Widya yang melihat kehadiranku mulai menyindirku.


Rasanya sakit sekali mendengar tante Widya yang sekarang telah menjadi mertuaku sendiri mengatakan hal seperti itu.  Tidak sepantasnya dirinya berkata demikian.


Tante Widya melirik sinis kepadaku. Tatapan mata yang sama dari para kerabat yang mendengarkan ucapannya tadi juga tak kalah membuatku merasa begitu hina.


"Baik baik ya nak tinggal dirumah suamimu,, Pandai pandailah melayani dan berbakti padanya. Jangan berbuat hal yang bisa membuatnya kecewa dan marah" pesan Ayah saat Dirga hendak membawaku pulang.


" Hormati juga kedua mertuamu,, Anggaplah mereka itu orang tuamu sendiri. Perlakukan juga mereka sebaik kamu memperlakukan kami ya Yu" ibu juga berpesan.


Aku tak tahan untuk tidak menangis. Entah karena pengaruh hormon atau memang aku sedang bersedih dan terbawa suasana.

__ADS_1


Sungguh berat rasanya meninggalkan mereka dan pindah kerumah Dirga mengingat betapa tidak sukanya tante Widya kepadaku.


Aku memeluk ibu dan ayah cukup lama sambil berderai airmata. Dirga dengan sabar memberiku waktu berlama lama dengan mereka. Dia tau betul betapa aku sangat menyayangi mereka.


"Sudah Yu,, hapus airmatamu. Pergilah,,, Dirga sudah lama menunggumu." kata ayah.


Aku yang masih terisak segera mengangguk dan menghapus airmataku.


"Aku sudah siap sayang" ucapku pada Dirga.


Dirga tersenyum padaku. Dirinya kemudian mendekati ayah dan ibuku. Mereka terlibat obrolan yang cukup serius. Orang tuaku tentunya berpesan padanya untuk baik baik menjagaku.


Tampak Dirga berkali kali mengangguk mengiyakan. Aku menangkap tatapan bosan dan tidak suka pada mata tante Widya. Dirinya pasti ingin segera pergi dari rumahku ini.


Di daerah tempat tinggalku rangkaian pernikahan diadakan di dua tempat. Pertama dilaksanakan di kediaman pengantin perempuan yang dikenal dengan Mepamit. Yang artinya berpamitan.


Berpamitan kepada para leluhurku karena aku akan ikut dan masuk menjadi bagian dari keluarga Dirga yang tentunya memiliki leluhur yang berbeda.


Nantinya setelah aku sampai dirumah Dirga,, Akan ada juga upacara lain yang masih menjadi rangkaian dari pernikahan itu sendiri. Disana aku akan dimasukkan ke dalam bagian dari leluhur mereka.


Terdengar ribet mungkin bagi yang tidak paham atau tidak tinggal disini. Namun begitulah adat setempat yang masih kami junjung.


Tiba dirumah Dirga aku disambut dengan prosesi upacara seperti yang kusebutkan tadi. Aku merasa bersyukur karena bayiku benar benar tidak rewel hari ini. Ku jalankan semua rangkaian upacara dengan baik.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Mulai sekarang anggaplah ini rumahmu sendiri Ayu. Jangan sungkan sungkan" ucap papa.


"Terima kasih pa telah menerima Ayu dengan baik dirumah ini" jawabku.


"Tante,,, walau Ayu ini istri Dirga,, Ayu mohon tante jangan sungkan jika membutuhkan bantuan Ayu" ucapku dengan sangat berhati hati padanya.


Aku bahkan masih tak berani memanggilnya mama.


"Kok masih panggil tante sayang? Panggil saja mama" tegur Dirga.


Aku tak segera mengangguk karena aku merasa tidak enak pada tante Widya yang tak seperti papa memperbolehkan aku memanggilnya papa.


"Kalau memang Ayu belum bisa menganggap mama ini mamanya ya biarkan saja Dirga. Jangan dipaksa!!" tante Widya bicara seolah menyalahkanku.

__ADS_1


"Bu,, bu,, bukan begitu maksud Ayu tante,,,, ehm,, Ma,, mmm,, mama. Mungkin Ayu hanya belum terbiasa. Maafkan Ayu ma" ucapku terbata bata.


"Sudahlah tidak usah basa basi lagi,,, Bawa dia istirahat ke kamarmu Dirga. Dia tentu sudah lelah seharian disibukkan dengan upacara pernikahan. Mama tidak mau terjadi apa apa dengan bayinya." ucap mama Widya.


Ada angin sejuk berasa menerpa wajahku mendengar dirinya mengatakan itu.


"Mungkinkah mama sudah bisa menerima kehadiranku dan bayiku? Semoga saja tuhan,,, " batinku.


"Iya ma,, Dirga permisi dulu ya. Ayo sayang,, ku tunjukkan kamar kita" ajak Dirga.


Papa dan mama mengangguk mengiyakan. Mbak Santi segera membantu kami membawa koper koper bajuku.


"selamat datang di rumah ini ya non Ayu. Kalau non Ayu butuh apa apa panggil saja saya" ucapnya ramah.


"Terima kasih mbak Santi" jawabku sembari tersenyum.


"Jangan kamu pikir kamu bisa senang senang menjadi nona dirumah ini. Apalagi jika sampai bayi itu ternyata perempuan. Ku pastikan kamu tidak akan menjadi nona tunggal dirumahku ini." batin mama Widya.


Dirga membawaku masuk ke kamarnya yang begitu luas.


"Selamat datang istriku. Nyonya Dirga" bisiknya.


Aku tersenyum mendengar dia menyebutku istri. Setetes airmata bahagia mengalir di sudut mataku. Kisah panjang kami akhirnya berlabuh di pelaminan.


Dirga menghapus airmataku dengan bibirnya. Diciuminya kedua pelupuk mataku. Tangannya mendekapku erat.


"Aku janji akan berusaha menjadi suami terbaik untukmu. Selalu ingatkan dan tegurlah aku jika aku mungkin aku salah." lirihnya.


Aku mengangguk. Tanpa ku iyakan pun aku tau seberapa besar cinta kami berdua. Hanya saja mulai saat ini tugasku akan lebih berat karena tentunya tak cukup hanya menjaga cinta kami saja.


Menjaga keutuhan rumah tangga yang kami bina juga pastinya tidak segampang membalikkan telapak tangan. Aku sadar betul bahwa dalam berumah tangga pasti akan ada saja ketidakcocokan atau problematika.


Aku dan Dirga hanya harus pandai pandai menyikapinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa vote, like dan komen ya


Terima kasih 💞

__ADS_1


__ADS_2