Nyarla Day Of Vengeance

Nyarla Day Of Vengeance
Chapter 159 : Pertemuan


__ADS_3

aku melihat sir near kecil yang bersimbah darah. harusnya saat itu aku sadar dan menghentikan niat balas dendam ku. tapi saat itu... aku masih terlalu muda.


kakak pembantu memeluk aku dari belakang. kami yang awalnya hanya sedang... emm, bahasa kasarnya menguntit, sekarang malah sedang bersembunyi dari sosok ayah yang mengerikan itu.


aku yang tidak bisa bersabar tanpa pikir panjang mengambil sebuah tomat besar yang aku bawa lalu melemparkan tepat ke kepala sir near.


setelah melakukan itu, kami pun ketahuan oleh ayah itu. near yang terkena tomat ku tepat di dahinya menangis kesakitan, sebab tomat yang aku lemparkan sebelumnya sudah aku isi dengan pecahan kaca yang besar. namun karena saat itu dahi near kecil sudah berdarah, darah yang muncul akibat luka terkena pecahan kaca jadi tersamarkan.


"SIAPA KALIAN!!!"


kami ketahuan. tapi alih alih kabur kakak pembantu malah keluar dari persembunyian sederhana kami sambil menarik ku keluar.


"itu anak majikan saya..."


"saya minta maaf atas kelakuannya..." kata kakak pembantu.


aku yang tidak terima disalahkan pun mengatakan alasanku kepada bapak itu. setelah menjelaskan dengan singkat si ayah pemabuk itu berbalik menatap anaknya yang terluka.


"et ole sankari, paskiainen." (kau bukan pahlawan, bajingan.)


bapak itu memukul near kecil dengan tinjunya hingga anak yang kurus kering itu tersungkur ke tanah dengan keras. beruntungnya sir near terhantam ke salju.


"sudah aku urus. nanti akan aku beri dia lebih banyak pelajaran lagi. nah sekarang, kalian harus memberi kami bayaran."


"hah???"


ayah dari sir near adalah mantan tentara. di lingkungan tempat tinggalnya dia terkenal sebagai orang yang suka memeras orang lain. kebiasaan memerasnya itu masih ada hingga sekarang.


"bayaran apa? bukankah mendidik anak itu kewajiban semua orang tua?" kakak pembantu membela diri kami. pegangan tangan kakak pembantu semakin kuat di tanganku.


"anak ku tidak sepenuhnya salah. dia memperingatkan kedua gadis kecil itu agar tidak bermain di taman tanpa pengawasan orang dewasa, terlebih lagi disaat musim dingin seperti ini. kalian juga harus bertanggung jawab untuk dahi anakku yang terluka."


setelah itu kakak pembantu menawarkan sejumlah uang sebagai ganti rugi dahi anaknya, namun orang tua itu meminta sesuatu yang lebih.


"aku tidak terlalu membutuhkan uang. yang aku butuhkan adalah sedikit gairah."


ayah sir near mendekati kakak pembantu lalu meraba raba nya.


kakak pembantu yang sudah lama tinggal di desa ini tahu seberapa gilanya ayah sir near jika keinginannya tidak terpenuhi. sehingga dia diam saja saat dirinya dilecehkan, sementara aku yang masih dia pegang erat berusaha mencegah hal itu. aku mendorong tubuh orang tua sialan itu supaya menjauh dari kakak pembantu namun orang itu malah membentakku. dia berteriak sangat keras di telinga ku lalu menampar kakak pembantu hingga jatuh ke tanah.


aku sangat shock menyaksikan kejadian itu. tidak terasa air mata ku mengalir saat melihat lebam di pipi kakak pembantu.


ayah sir near yang mabuk kemudian menindih tubuh kakak pembantu lalu memukulinya tanpa ampun seperti samsak tinju.


aku menangis sejadi jadinya, tidak ada penduduk selain sir near dan ayahnya disini sehingga aku tidak bisa meminta bantuan. disaat itulah dia muncul sebagai pahlawan, untuk sekali lagi.


jleb!


sir near menusuk punggung ayahnya dengan pecahan kaca. ayahnya pun menjadi semakin murka dan kini dia berbalik menyerang sir near. ayah sir near berkata seperti ini...

__ADS_1


"anak bangsat! siapa yang kau serang?!"


"tentu saja kau ayah bangsat! serendah itukah harga dirimu sampai sampai memukuli perempuan? kau tidak pantas disebut tentara. kau lebih cocok disebut bandit penggila alkohol."


ejekan yang pedas itu membuat ayah sir near benar benar murka. dia mengambil sebuah kapak di samping rumahnya lalu mengejar sir near. sir near pun melarikan diri ke dalam hutan. aku dan kakak pembantu selamat, tapi kakak pembantu terluka parah.


dengan tangan yang gemetar aku menelepon rumah ku, lalu beberapa menit kemudian para pembantu lainnya ditemani bapak sopir datang menjemput kami. kakak pembantu pingsan setelah dihajar, aku benar benar merasa bersalah, itu adalah kali terakhir aku melihat sir near dan ayahnya di tahun itu.


1 tahun kemudian. musim dingin datang lagi, seakan sudah takdirnya aku kembali bertemu dengan sir near kecil namun kali ini pertemuan kami tidak seheboh tahun sebelumnya.


ketika itu aku sedang berbelanja kue dengan ibuku, disaat kami melewati taman desa aku melihat sir near tengah duduk menunduk di kursi taman yang tertutup salju.


aku merasa takut namun juga merasa bersalah atas kejadian tahun lalu. berkat kejadian itu aku belajar untuk berpikir dewasa meskipun usia ku baru 10 tahun.


aku memberanikan diri mendekati sir near kecil. tentunya dengan ditemani ibuku.


aku melirik ke sana sini untuk memastikan ayahnya yang jahat tidak ada di sekitar sini. lalu sambil menarik tangan ibuku aku menyapanya...


"hai, lama tidak bertemu. apa kau baik baik saja setelah dikejar ayahmu waktu itu."


sir near mengangkat kepalanya, lalu tersenyum padaku sambil berkata...


"aku baik baik saja. apa kau sudah terbiasa tinggal di negara ini nona swan?"


"darimana dia tahu namaku?" pikir ku.


"oh baguslah kalau begitu."


aku ingin meminta maaf pada near. aku sadar kalau waktu itu dia berusaha menjauhkan aku dan adikku dari bahaya, hanya saja aku tidak menyadarinya.


ibuku menarik tangan ku. saat aku ingin mengucapkan kata maaf, orang orang berteriak di belakang ku.


"anak itu!! dia anak mantan tentara itu!!!"


"kenapa dia bisa berada di tempat umum? bukankah dia dikurung di panti asuhan?"


"telepon polisi, ada anak yang kabur dari panti asuhan."


rupanya setelah kejadian hari itu near dimasukkan ke panti asuhan. aku merasa sedikit lega karena itu artinya near tidak akan tinggal dengan ayahnya yang kasar itu lagi. tapi kemana ayahnya?


"cepat tangkap dia, anak itu membunuh ayahnya yang seorang mantan tentara!!"


apa yang aku dengar ketika itu membuat tubuhku membeku.


near membunuh ayahnya.


aku berusaha mengingat lagi kejadian traumatis satu tahun yang lalu.


near dihajar oleh ayahnya hingga babak belur dan terluka parah, aku melemparkan tomat berisi pecahan kaca ke dahi near, ayah near melecehkan kakak pembantu, ayah near berteriak keras di telingaku sampai membuatku telingaku sakit, ayah near menghajar kakak pembantu tanpa ampun, near menusuk ayahnya, ayahnya marah dan mengejar near dengan sebuah kapak, near melarikan diri ke hutan dan dikejar oleh ayahnya.

__ADS_1


ayah near...


ayahnya near...


ayah near...


ayah near...


ayah near...


...


...


...


aku merasa mual saat mengingat kejadian itu lagi. terutama saat mengingat ekspresi dari ayah near yang mabuk. namun yang membuatku lebih terkejut lagi adalah near membunuh ayahnya yang tampak sangat kejam dan brutal itu.


tanpa sadar aku bertanya pada sir near...


"kau... membunuh ayahmu?"


"iya." jawab sir near dengan singkat.


ibuku langsung menarik tanganku dan menjauh dari near. aku masih bertanya tanya bagaimana cara anak sekecil near bisa membunuh ayahnya yang seorang mantan tentara.


"hati hati! anak itu bukan hanya membunuh ayahnya tetapi juga melemparkan mayat ayahnya ke gerombolan serigala salju!" teriak salah satu warga.


"aku melakukannya agar bisa selamat dari serigala salju. apakah salah jika seorang ayah berkorban untuk keselamatan anaknya?" ucap near, dia menunjukkan tatapan putus asa, namun bukan kepada orang yang mengguruinya namun kepada diriku yang ada di depannya.


awalnya aku kira near menatapku, namun ternyata yang dia tatap adalah mata ibuku yang saat itu berada tepat di samping wajah ku.


aku bisa mendengar suara sirene mobil polisi dari kejauhan. polisi datang untuk menangkap near. seorang anak berumur 12 tahun yang telah menghabisi nyawa ayahnya sendiri.


saat para polisi memasuki taman near berbicara padaku.


"kau cantik..."


aku takut saat mendengar near mengatakan itu. apalagi ekspresi wajahnya mirip dengan ekspresi ayahnya saat melecehkan kakak pembantu dulu.


tapi kata kata near tidak berhenti sampai disitu, dia melanjutkan kata katanya...


"aku akan menjadi seorang polisi yang melindungi semua orang terutama para wanita."


"aku tidak akan menjadi seperti ayahku yang menganiaya ibuku hingga membiarkan ibuku gantung diri." kata sir near sambil tersenyum kepadaku. setelah itu dia dibawa oleh polisi.


itu adalah pertemuan pertamaku dengan near sekaligus yang terakhir di tahun itu. aku tidak bertemu dia lagi di tahun berikutnya, tahun berikutnya lagi juga tidak. aku kembali bertemu dengannya 8 tahun kemudian. saat kampus ku mengadakan tur swasta.


.....

__ADS_1


__ADS_2