Nyarla Day Of Vengeance

Nyarla Day Of Vengeance
Chapter 177 : Iblis Ilusi


__ADS_3

Dilhade menampakkan dirinya. Kini dia bersatu dengan tanah. Bola mata besar muncul di tanah yang dipijak Hendri, tidak memberikan dia pilihan lain selain mencari pijakan yang aman di atas pohon kaktus yang dia buat sendiri.


Menurut penilaiannya Dilhade kemungkinan memiliki wujud yang sama besar dan anehnya seperti Arknight. Yang berbeda hanya kekuatan destruktifnya saja.


Arknight dapat mengendalikan lautan besi, sedangkan Dilhade mampu membuat ilusi yang nyata dan memiliki kemampuan psikokinesis tahap menengah.


Di puncak kaktus tertinggi Hendri menyelidiki sekitarnya. Dia tidak melihat Dilhade di manapun, selain dari bola mata besar itu.


Suara Dilhade bergema di kepala Hendri. Dia mengejek Hendri karena tidak bisa menemukan dirinya.


Tidak lama kemudian Hendri kembali terkena serangan ilusi Dilhade. Kali ini dia melihat Violet didepannya.


Ilusi yang dia buat cukup vulgar, menampilkan Violet tanpa busana ingin memberikan pelayanan cinta kepada Hendri.


Di dalam ilusi itu Hendri bahkan dapat merasakan sentuhan tangan Violet yang sedikit kasar namun terasa hangat. Benar benar terasa nyata.


Tetapi orang bodoh mana yang akan menikmati ilusi vulgar dikala dirinya sedang berperang.


Laba laba menyetrum Hendri. Ilusi yang memalukan itu membuatnya marah.


"Sialan kau, aku tidak rela pengalaman pertamaku diambil oleh wanita ilusi mu itu!"


Hendri mencongkel bola mata besar yang ada di tanah. Namun dia gagal melakukannya karena mata itu memiliki akar yang tertanam sampai ke kelak bumi.


Lagi lagi Hendri terkena ilusi. Kali ini ilusinya sangat rapi dan menyatu dengan keadaan, sehingga Hendri tidak menyadarinya. Gara gara ilusi itu Hendri sampai merobek bahunya sendiri.


Disaat Hendri merobek bahu, robot laba laba yang terhubung ke tulang belikatnya pun ikut tertarik.


Setelah itu pertarungan pun menjadi berat sebelah. Hendri tidak bisa membedakan mana ilusi dan mana kenyataan. Dia juga tidak bisa menghindari ataupun bangun dari ilusi yang dibuat Dilhade.


Dilhade membuat Hendri melihat tubuhnya digantungi oleh banyak ular kobra. Sihir Ilusi milik Dilhade tidak main main kuatnya. Walaupun Hendri tahu ular itu hanya ada dalam pikirannya, tetapi gigitan dari ular ular itu terasa nyata di kulitnya. Sehingga mau tidak mau dia harus mencabik cabik tubuhnya untuk menyingkirkan ular ular itu.


Pujian Red Witch membuatnya sombong, sehingga dirinya tidak memperhatikan jarak kemampuan antara penyihir asli dengan penyihir imitasi.


Red Witch yang melihat Hendri mencabik cabik dirinya sendiri pun menarik nafas panjang.


Tubuh Hendri beregenerasi lagi. Regenerasi lah satu satunya perisai yang dia miliki saat ini.


Dilhade yang melihat kondisi menyedihkan Hendri sontak tertawa terbahak bahak.


Red Witch ingin membantu, namun dihentikan oleh Hendri.


"Kau tidak perlu kemari Red Witch. Aku akan mengalahkannya sebentar lagi. Kau duduk manis saja." Kata Hendri lewat telepati jarak jauh.


Sebenarnya Red Witch mengetahui semua atribut sihir Dilhade termasuk kebiasaan dan pola bertarungnya. Dia sengaja tidak memberitahu Hendri kemampuan Dilhade karena dia ingin mengukur tingkat kecerdasan Assault Nyarla itu.


Menurutnya, Hendri Graham kuat karena sel nyarla, kemampuan bawaan dan keberuntungan saja. Dia tidak pernah menggunakan otaknya dalam pertarungan langsung. Terlebih semua musuh yang dikalahkan Hendri hingga saat ini semuanya berada satu tingkat dibawahnya.


Hendri teringat kata kata Red Witch sebelum mereka pergi menyerang Dilhade. Bahwa Dilhade adalah manusia bumi yang mendapat kekuatan dari monster kuno. Itu artinya dia masih memiliki kepribadian dan kelemahan seorang manusia.


"Berhenti!!" Teriak Hendri sekeras mungkin agar didengar oleh Dilhade.


"Aku menyerah!! aku tidak bisa melawan ilusimu!!" Teriaknya lagi.


"Segitu sajakah kemampuanmu? ternyata kau tidak seberbahaya yang dikatakan Valkyrie." Ketos Dilhade.


Diam diam Hendri memfokuskan diri untuk melacak arus sihir Dilhade.


Tidak sulit untuk melakukannya, karena semua penyihir dapat melihat aliran mana atau energi sihir seseorang dengan cara menutup mata dan memfokuskan indra perasa.


Dalam waktu singkat dia berhasil menemukan asal aliran sihir Dilhade, yaitu dari tanah yang dia pijak.


Berbeda dengan energi sihir Hendri dan Red Witch yang apabila dilihat secara astral berwujud pekat dan kental. Milik Dilhade justru berwujud kabut yang samar.


Apapun itu setidaknya Hendri tahu kalau tubuh asli Dilhade kemungkinan bersembunyi di dalam tanah.


Dilhade telah bersiap menghancurkan Hendri dengan selusin batu sungai raksasa yang dia terbangkan dengan psikokinesis nya.


"Satu pertanyaan sebelum kau membunuhku. Bagaimana caramu menerapkan ilusi padaku?" tanya Hendri.


Dilhade tidak menjawab dan langsung ******* Hendri dengan batu sungai.


Dikiranya Assault Nyarla sudah mati, tiba tiba muncul semak belukar yang mengelilingi sekitarnya. Itu adalah kekuatan Hendri untuk menciptakan tanaman.


Batu batu sungai seperti itu tidak akan cukup untuk membunuh salah satu nyarla terkuat.


Hendri keluar dari lubang galian tanah seukuran dirinya. Lantas dia memuji atribut sihir Dilhade "Sihir ilusimu luar biasa. Bolehkah aku memiliki nya juga?"


"Kalau punya sihir ilusi seperti milikmu aku bisa menghidupkan teman khayalanku sewaktu sd." ucap Hendri.

__ADS_1


Dilhade merasa jijik kepada Hendri yang tidak tahu kapan harus menyerah. Dia pun lantas menangkap lengan kiri Hendri dengan psikokinesisnya, lalu memelintir tangannya.


Tetapi Hendri bisa menahan kekuatan psikokinesis nya. Dilhade tidak terkejut dengan hal itu, karena dia sadar psikokinesis sangat lemah kalau dibandingkan dengan penyihir lain.


Disaat akan mengeksekusi Hendri, Dilhade mencium bau yang familiar. Lama kelamaan bau itu semakin tajam dan mempengaruhi pikirannya. Pandangannya menjadi buram, memberikan Hendri waktu untuk menjalankan rencananya.


Hendri menelan tanah yang mengalir energi sihir Dilhade, dengan harapan bisa meningkatkan kepekaannya terhadap energi sihir.


"Apa yang kau lakukan padaku Assault Nyarla!!"


Tanpa diduga bola mata besar itu melayang ke langit, lalu mulai melihat lihat keadaan sekitarnya, seolah sedang mencari sumber kejanggalan yang terjadi pada dirinya.


Dilhade pun melihat kalau semak yang ditumbuhkan oleh Hendri sebenarnya adalah semak dedaunan ganj*.


Aroma dari dedaunan haram itu memiliki efek yang sangat kuat dengan pengaruh dari sel nyarla dan energi sihir, sehingga Dilhade yang telat menyadarinya pun menjadi mabuk berat.


Red Witch kagum dengan strategi Hendri.


Hendri melempar batang pohon yang terangkai dari puluhan tanaman venus monster ke arah mata bola mata Dilhade. Serangan itu sukses mengenai mata Dilhade yang kemudian para venus itu pun menggerogoti bola mata itu.


Hendri berkata pada Red Witch dengan telepati jarak jauhnya.


Red Witch yang memegang akar Hendri pun mendengarnya.


"Apa menurutmu dia bisa melepaskan diri dari pengaruh ganj* super kuat itu?"


"Setahuku Dilhade tidak punya kemampuan lain selain dari ilusi dan psikokinesis. Membuatnya mabuk itu adalah keputusan yang sangat bijak." Jawab Red Witch.


Hendri melompat lalu menebas mata Dilhade dengan pisau kayu berlapis sihir yang dulu dia gunakan untuk menebas Cthulhu Kraken (Wujud sempurna Nyarla Kraken).


Sukses membelah mata itu menjadi dua, Hendri belum merasa dirinya sudah menang. Karena targetnya adalah menggali tunas sihir Dilhade dan membawanya ke yaman dengan bantuan Red Witch untuk diteliti.


Red Witch memberitahu kalau Dilhade belum tewas. Bola mata itu hanyalah bagian kecil dari tubuhnya. Untuk membunuhnya Hendri harus menghancurkan menara merah yang merupakan jantung dari Dilhade.


Dengan bergegas Hendri berlari ke menara merah yang lokasinya tak jauh dari lokasi pertarungan mereka.


Saat sampai Hendri terkejut melihat puncak menara merah itu disambar oleh petir berkali kali.


"Apa petir itu salah satu kemampuannya?" Tanya Hendri.


"Tidak. Petir adalah kekuatan milik Zeus. Segeralah kembali jika Zeus muncul, Hendri Graham!"


Zeus yang dimaksud oleh Red Witch tidak muncul. Tetapi muncul taring taring tajam di sekitar menara merah, yang kemudian mengatup menjadi mulut ular yang sangat besar.


"Uwaahhh...!!! Red Witch, kau tidak bilang soal ini."


Tubuh besar ular Dilhade terkubur secara vertikal di dalam tanah. Hendri yang tidak sempat menghindar pun ditelan oleh Dilhade. Terlihat mata kanan si ular buta.


Karena Dilhade menegakkan badannya secara vertikal, alhasil Hendri pun meluncur melewati lidah ke tenggorokan dan ke lambung. Untungnya dia berhasil berpegang di dinding saluran makanan sebelum jatuh ke tumpukan asam lambung yang menjijikkan.


"Ini kali kedua aku dimakan." Keluh Hendri.


"Kalau dipikir pikir lebih mudah menyerangnya dari dalam sini." Pikir Hendri sambil mengusap dagu.


"Red Witch! kau mendengarku?"


"Syukurlah kau masih hidup." Red Witch menjawab panggilan Hendri. Untungnya kemampuan telepati Hendri tidak bisa dihalangi oleh perut ular.


"Jujur saja! kau mampu atau tidak?!" Red Witch mempertanyakan kemampuan Hendri sekali lagi.


"Aku mampu." Jawab Hendri dengan mantap.


"Coba pikir, kalau aroma ganj* saja bisa memabukkannya, bagaimana ganj* itu masuk langsung ke perutnya?"


Tanpa basa basi lagi Hendri mencipratkan darahnya, lalu mengubah ceceran darah itu menjadi semak ganj* dengan jumlah berkilo kilo.


Strategi Hendri berhasil membuat Dilhade mabuk, bahkan sampai menghentikan pergerakannya.


Dilhade berhenti berlari. Dirinya sudah tidak sanggup lagi menahan efek memabukkan yang dirasanya sangat nikmat.


Merasa guncangan sudah berhenti Hendri pun bergegas merayap ke tenggorokan untuk mencari lidah alias menara merah yang menjadi jantung Dilhade.


Dilhade yang merasakan Hendri berjalan keluar dari lambungnya pun merasa kesal.


Dirinya yang seorang pembawa bencana ini ditaklukkan oleh seorang makhluk imitasi. Apalagi kekalahan karena mabuk menghirup dedaunan narkot*k ini dianggapnya sangatlah memalukan. Mengingat dirinya adalah penyihir spesialisasi ilusi, tidak mungkin dia mau dikalahkan oleh ilusi pula.


Hendri mendengar batin Dilhade yang terus mengutuk kekalahan yang dialaminya saat ini. Dengan batin yang puas, Hendri pun me-roasting Dilhade secara singkat.


"Kau memang kuat. Gelar pembawa bencana itu, dan penyihir keangkuhan itu cocok denganmu. Tetapi semua itu tidak merubah fakta bahwa kau masih seorang manusia."

__ADS_1


"Kau mendapat kekuatan dari tunas sihir monster kuno. Sementara aku mendapat kekuatan dari DNA tunas sihir itu langsung. Kalau dibandingkan harusnya aku lebih kuat darimu kan?"


Dilhade makin emosi mendengar ejekan Hendri. Dengan sedikit kesadaran yang tersisa dia keluar dari tubuh ularnya, memisahkan bagian kepalanya, dan menjebak Hendri di dalam tubuh ularnya.


Lalu dengan psikokinesis nya dia memelintir tubuh ularnya tersebut.


Dia benar benar mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk memelintir tubuhnya yang ukurannya puluhan kali lipat ukuran kapal Symphony of the Seas.


"Aaarrrrgggkkkkhhhhh...!!!" Dilhade mengerang kencang, walau suaranya tidak terdengar oleh siapapun dikarenakan tubuh aslinya tersembunyi di dalam menara merah/lidah.


Red Witch yang menyaksikan gejolak sihir Dilhade sampai ternganga.


Kadang kala, di suatu kondisi para penyihir dapat mengeluarkan potensi maksimal dari kekuatannya. Yaitu disaat mereka berada di titik terendah mereka, yaitu didekat kematian.


Hal ini dapat terjadi karena manusia memiliki keinginan yang kuat untuk bertahan hidup sehingga terkadang muncul keajaiban seperti yang terjadi pada Dilhade saat ini.


Bentuk energi sihir nya yang awalnya mengalir tenang seperti air kini bergejolak seperti gelombang ombak. Para pembawa bencana menyebut fenomena ini dengan kata sederhana 'Ignite' yang artinya menyala.


Dilhade memeras tubuhnya hingga menjadi seperti cucian basah.


Tanpa diduga tubuh ular Dilhade terpotong menjadi tiga bagian, dan sesosok monster besar pun keluar dari sana.


Itu adalah Hendri dalam wujud Berserk nya. Dia ditutupi dedaunan yang memberikan efek memabukkan.


Dilhade yang melihat Hendri berhasil selamat pun mulai berputus asa.


Hendri yang mampu mempertahankan akalnya, bergegas menyerang Dilhade dengan satu tebasan kasar.


Dia membuat tangannya menjadi 3 bilah pedang panjang, kemudian dia mengiris kepala ular Dilhade hingga tengkoraknya terbelah.


Dilhade yang tidak bisa apa apa lagi mulai pasrah dengan nasibnya. Aroma daun haram itu terserap oleh kulit juga dagingnya. Dirinya pun pingsan di dalam kepala ularnya.


Hendri masuk lewat mulut ular lalu masuk ke dalam menara merah untuk mencari keberadaan tubuh asli Dilhade.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Hendri berhasil menemukan tubuh asli Dilhade yang berwujud seorang pria berusia 30 tahunan.


Lalu dia membawa keluar Dilhade dan menyerahkannya kepada Red Witch.


"Rencana kita berubah Hendri Graham. Kita akan membawanya hidup hidup ke Yaman." Ucap Red Witch.


"Bukannya tadi kau bilang aku harus membunuhnya?" Sanggah Hendri.


"Aku memiliki rencana lain setelah sihir psikokinesisnya. Selain itu, dengan kekuatanmu saat ini, kau sudah bisa menghancurkan satu divisi pasukan Black Leaves seorang diri." (Red Witch)


"Kalau begitu cepat kita selesaikan urusan disini, agar cepat kembali dan menyerang Black Leaves." (Hendri)


Karena Dilhade berhasil dikalahkan, misi mereka selanjutnya adalah menemukan tunas sihir milik Dilhade.


Lokasi yang sebelumnya ditunjukkan oleh Red Witch kepada pasukan Hunter adalah lokasi zona kekuatan sihir dari para pembawa bencana. Dia tidak tahu secara spesifik dimana tunas sihir mereka berada.


Namun Hendri yang baru saja ditelan dan merasakan gejolak energi sihir Dilhade dari dekat, bisa melacak lokasi tunas sihir milik Dilhade.


Red Witch pun mengangkat tanah dan berhasil menemukan tunas sihir.


Lalu Hendri dengan pisau kayunya berusaha memotong akar akar di bawah tunas itu, namun gagal.


Red Witch memberitahunya kalau setiap bagian dari tunas itu tidak bisa dihancurkan. Bahkan dirinya pun hanya bisa membuat lubang kecil saja.


Hendri menyentuh tunas itu, dan sesuatu yang aneh pun terjadi. Tiba tiba saja dia berhalusinasi melihat planet bumi dari angkasa.


Hendri menggosok matanya, lalu dia melihat energi sihir yang terpancar dari tunas itu masuk ke dalam tangannya.


Hendri tidak menganggap serius kejadian itu, karena dia merasa tidak ada yang terjadi pada dirinya.


Dia dan Red Witch pun membawa tubuh asli Dilhade dan tunas sihirnya ke Yaman melalui portal antar ruang.


**


Di Yaman Sir Near masih menunggu kabar dari Hendri.


Tidak lama kemudian yang ditunggu tunggu akhirnya datang.


Red Witch membawa tunas sihir bersama sebidang besar tanah.


Keduanya pun disambut meriah oleh pasukan Hunter.


Misi menangkap pembawa bencana ilusi ini pun sukses besar.


.......................................................................................

__ADS_1


Jangan lupa tekan like dan taruh novel ini di rak buku kesayangan kalian. 😄


..........................................................................................


__ADS_2