Nyarla Day Of Vengeance

Nyarla Day Of Vengeance
Chapter 173 | Menyihir Lingkungan


__ADS_3

Buat yang nanya kenapa novel ini sekarang updatenya lama banget. Jawabannya simple karena author lagi sibuk banget bulan ini.


Ditambah lagi sekarang Author punya novel On Going kedua yang judulnya


Selain karena sibuk, faktor jumlah view juga mempengaruhi speed update novel ini.


Tapi buat yang masih nungguin novel Nyarla Day Of Vengeance jangan kecewa. Sebab Author pasti bakal namatin novel ini.


Jadi pantengin terus cerita Hendri Graham yang udah dapet kekuatan sihir yak.


O iya, sekedar ngingetin. Narator cerita sekarang berpindah kembali ke Hendri Graham seperti di chapter prolog. Jadi jangan bingung lagi ya...


....................................................................................


Operasi Nepal Prison dan Operasi Knowledge sukses besar.


Kerja keras pasukan Hunter, serta Sir Near yang turun tangan langsung melawan Arknight demi membangkitkan semangat juang patut di apresiasi.


Selain itu kedatangan Tatara ke medan perang adalah bantuan besar yang tidak terduga.


Sir Near yang berubah menjadi Nyarla Chimera membuatku terkejut. Aku tak menyangka Sir Near memiliki mode setengah nyarla sekuat itu.


"Bahkan nyarla capung bisa sekuat itu. Kenapa aku tidak bisa jadi sekuat itu ya."


Beberapa hunter kuat hanya dengan bermodalkan kekuatan nyarla.


Penyihir Kehancuran 'Wizard' dibunuh oleh Tatara dan kekuatannya berpindah ke Tatara.


Penyihir Kemerosotan 'Arknight' berhasil dibuat tidur dengan racun khusus buatan Sir Near, saat ini dia dikurung di nepal prison dengan Tatara sebagai penjaganya.


Lalu aku berhasil membunuh komandan divisi 6 black leaves, juga menangkap kaki tangannya.


Alat Massive Reactor berhasil ditemukan dan dibawa ke timur tengah dengan lancar.


Arknight meninggalkan lautan besi yang sangat melimpah. Cukup untuk meng-upgrade keseluruhan senjata dan artileri milik The Hunter.


Aku bersyukur pertempuran di nepal melawan makhluk makhluk absurd sudah berakhir.


Demikianlah, aku membuka mata di hari kedua pasca perang nepal berakhir.


Aku tidak terbangun di rumahku. Aku tidak tahu berada dimana sekarang. Rumah ini besar dan berwarna emas. Yang lebih aneh lagi aku sendirian di rumah sebesar ini.


Pintu pintu di rumah ini juga tidak dikunci. Jadi aku bisa leluasa memasukinya, hingga sampailah aku di pintu keluar.


Tidak lama aku dengar keributan dari arah luar dan pintu dibuka paksa.


"Itu kak Graham!"


"Tuan Graham, Kami mencintaimu!"


"Hendri Graham, yeaah..!!!"


"Hendri Graham Hebat...!!!"


Aku kaget ada banyak sekali orang.


Aku bangun di tempat yang tidak aku kenali dan sekarang banyak orang menyorakiku. Apa yang sebenarnya terjadi.


"Tuan Graham, kenalkan saya tuan rumah disini. Saya Zhuge Fengying."


"Anda pamannya Xiao Fengying ya."


"Kenapa saya berada di rumah anda? Apa yang terjadi saat saya tertidur?"


"Para Hunter menitipkan anda ke rumah saya. Karena katanya rumah sang pahlawan perang harus direnovasi supaya lebih layak ditinggali."


"Jadi saya dianggap pahlawan perang?"


"Tentu saja. Nama anda menjadi trending topik di internet kita sejak kemarin."


"Orang orang yang ada diluar itu adalah para penggemar anda yang dikumpulan oleh Jacob Ripe."


"Dasar tuan Ripe. Gara gara dia kediaman anda jadi berisik seperti ini."


"Tidak apa apa tuan Graham. Sebelum anda pergi maukah anda menjawab satu pertanyaan saya?"


"Dengan senang hati Tuan Fengying."


"Bagaimana saat terakhir Keponakan saya?"


Aku mengingat ngingat kejadian saat jadi cemilan waktu itu.


"Yang saya ingat waktu itu Xiao Fengying berkata 'Tidak masalah jika akhir hayatku seperti ini' setelah itu dia menutup matanya."


"Begitu ya. Terima kasih sudah menyampaikan pesan terakhirnya."


Aku sudah berhenti berkabung untuk Xiao Fengying.


"Sekarang anda boleh pergi menyapa para penggemar anda."


"Kalau begitu saya pergi tuan Fengying."


Di luar rumah, kerumunan massa berkumpul sejauh radar deteksiku untuk melihatku.


Aku mau muntah diperhatikan orang sebanyak ini. Ini gara gara aku punya demam panggung.


"Kak Graham, tunjukkan keajaiban yang kau punya pada kami!" Pinta seorang gadis.

__ADS_1


Aku tidak tega melihatnya berdesakan. Gadis muda seperti ini rawan jadi korban pelecehan disaat tengah berdesak desakan seperti ini.


Ngomong ngomong keajaiban yang dia maksud adalah sihir.


Di belahan dunia bagian timur sihir memiliki konotasi yang jelek. Karena itulah mereka menggunakan kata keajaiban sebagai pengganti kata sihir yang digunakan oleh orang orang barat.


"Akan saya tunjukkan keajaiban, tapi setelah itu tolong bubarlah. Saya jadi tidak enak dengan tuan rumah ini." (Hendri)


Bahkan ada anak kecil yang ikut berdesakan. Tidak berdesakan juga sih, anak itu digendong oleh ayahnya.


"Adik kecil, boleh kakak minta satu butir buah kurmanya?" (Hendri)


"Bapak!!!" (Anak kecil)


Anak itu menangis saat kudekati.


"Ambil aja tuan. Maafkan anak saya, saya yang mengajaknya kesini. Hahahaa..." (Ayahnya)


"Iya tidak apa apa." (Hendri)


Aku merindukan wajah tampanku yang dulu...


Lupakan soal wajah. Mari kita coba atribut sihir apa lagi yang aku miliki selain peningkatan kekuatan nyarla.


Aku membayangkan sesuatu yang seru saat mengalirkan energi sihirku ke sebutir kurma.


Setelah itu sebutir kurma yang aku pegang perlahan lahan membesar.


Orang orang yang melihat aksiku takjub.


Aku percepat lagi pertumbuhan ukuran buah kurma itu hingga sebesar buah mangga.


Aku kembalikan buah kurma itu.


"Coba cicipi buahnya pak. Apa rasanya masih sama."


"Enak, rasa manisnya enggak berubah! Kalau begini satu buah kurma bisa untuk makan satu keluarga."


Setelah itu aku lanjut menjelaskan atribut sihirku kepada para penggemar.


"Saya bisa memperbesar ukuran sebuah benda dengan tetap menjaga kualitasnya."


"Sekarang tunjukkan kepada saya kebun apa saja yang anda sekalian mau ukuran buahnya di panen kali ini membesar."


Akhirnya aku berhasil membawa kerumunan masa meninggalkan kediaman Zhuge Fengying.


Aku diajak ke kebun kentang.


Karena aku suka kentang aku perbesar semua ukuran kentang di kebun itu hingga sebesar buah kelapa.


Sebenarnya aku ingin mengubah ukurannya jadi sebesar buah semangka, tapi tempat menanamnya akan rusak jika kentang nya sebesar itu.


Lanjut ke kebun kurma. Buah kurma sangat manis, jadi aku perbesar buahnya hingga seukuran buah mangga dan aku tambah tangkai buahnya hingga menutupi seluruh batang pohonnya.


Tidak hanya itu, sihirku juga bisa menyuburkan tanah yang tandus, serta mempercepat pertumbuhan tanaman.


Berkatku, perusahaan pengolah buah zaitun untung besar karena tunas pohon yang mereka tanam tumbuh dewasa dan berbuah lebat hanya dalam 2 jam.


Dalam sekejap berita tentang Hendri Graham yang menyuburkan tanaman perkebunan dengan sihir pun tersebar luas.


Buah buah berukuran raksasa ramai dijual di pasar, dan citra baikku semakin meluas.


Bukannya aku sombong. Tapi sihir ini membuatku berbangga diri hingga ke tingkat yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.


"Hei Violet! Apa yang kau beli?" Tanyaku pada Violet yang lewat.


"Memang apa urusannya denganmu?" Violet menolak memberitahuku. Aku tidak tahu apa masalahnya.


"Kau membawa buah melon kan? Bagaimana kalau aku perbesar ukurannya untukmu." (Hendri)


"Tidak perlu, aku merasa mual kalau makan terlalu banyak." (Violet)


"Oh baiklah kalau begitu."


Aku lanjut berbuat kebaikan di sana sini. Hingga hari menjelang sore aku pun dipanggil oleh Komandan Spiral.


-Di kantor Komandan divisi 2 Spiral-


"Selamat sore. Ada hal penting apa Komandan?" (Hendri)


"Hendri Graham apa kau tidak terlalu banyak menggunakan kekuatan sihirmu? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kau kehabisan daya sihirmu." (Komandan Spiral)


"Saya merasa baik baik saja meski menggunakan banyak daya sihir." (Hendri)


"Kalau begitu kekhawatiran kami salah. Tapi ingatlah, kau harus menyimpan energi sihirmu itu untuk pertempuran." (Komandan Spiral)


"Siap pak. Saya tidak akan sembarangan menggunakan sihir saya lagi." (Hendri)


"Bagus. Saranku sebaiknya kau hentikan aksi penyuburanmu itu. Karena masyarakat akan menggantungkan harapan mereka kepada dirimu."


Aku tahu betapa beratnya merangkul harapan orang lain. Aku pernah merangkul harapan besar ayah dan ibuku. Dan berakhir dengan aku yang gagal memenuhi harapan mereka untuk jadi tentara.


Setelah itu aku kembali ke rumah.


Seperti biasa, setelah menyelesaikan misi besar aku diberikan beberapa hari untuk istirahat. Kali ini aku istirahat selama 3 hari.


Hal ini membuatku bosan, karena aku tidak merasa lelah sedikit pun setelah pertempuran di nepal.

__ADS_1


Karena gabut aku memutuskan untuk mengunjungi danau buatan di pinggir kota. Inilah adalah cara healing paling tepat untuk seorang introvert sepertiku.


Saat berbaring aku buat payung dari daun untuk melindungi mataku dari sengatan sinar matahari.


Ketenangan ini membuatku mengantuk, tapi tidak lama kemudian sebuah layang layang jatuh ke wajahku.


Benang dari layang layang itu terlihat aneh. Rupanya Arachne lah yang mengikat benang di layangan itu.


"Kau mau apa?" (Hendri)


"Ayolah jangan sinis begitu. Apa kau senang punya sihir?" (Arachne)


"Lumayan seru sih. Aku bisa membantu banyak orang dengan sihir ini." (Hendri)


"Kalau begitu kenapa kau tidak membantu dirimu sendiri?" (Arachne)


"Maksudmu bagaimana?" (Hendri)


"Pikiranmu pasti lelah setelah pertempuran panjang di nepal kan. Bagaimana kalau kau ikut denganku ke tempat healing yang lebih baik dari disini." (Arachne)


Aku menolak tawaran wanita laba laba itu.


"Tidak mau. Aku tidak suka tempat ramai yang lampunya kelap kelip." Maksudku klub.


"Siapa yang mengajakmu ke klub. Ayo ikut aku ke perpustakaan." (Arachne)


"Aku juga sedang ingin healing." (Arachne)


Di pikiranku perpustakaan adalah tempat yang sepi. Aku pun menerima ajakan Arachne. Arachne mengajakku ke perpustakaan di dekat markas The Hunter. Tempat ini memang sangat sepi, cocok untuk seorang introvert. Tapi melihat begitu banyaknya buku membuatku teringat dengan masa lalu yang tidak mengenakkan.


"Kau lelah kan, berbaringlah disini."


Aku terdiam beberapa detik saat Arachne menyuruhku berbaring di pangkuannya.


Apa dia sedang menggodaku? Tidak mungkin di tertarik pada pohon sepertiku kan.


"Apa yang kau rencanakan?"


"Aku berhutang budi padamu dan The Hunter. Arlong dan Black Leaves tidak pernah mengabulkan permintaanku meskipun aku bekerja keras untuk mereka." (Arachne)


"Sebagai balasan terima kasihku yang pertama, kau boleh tidur di pangkuanku selama yang kau mau." (Arachne)


Arachne. Wanita yang sudah tidak muda lagi tapi tetap cantik dan wangi. Sepertinya tidak buruk juga tidur di pangkuannya. Hitung hitung healing dengan gaya.


Aku berbaring di pangkuan Arachne.


"Aku kenal betul pribadi sepertimu ini. Bahkan seorang introvert pun butuh teman untuk diajak bicara." (Arachne)


"Apa kau mau ngobrol denganku?" (Arachne)


Gawat! senyumnya yang cantik membuatku tidak berdaya untuk menolak. Untuk apa juga aku menolak wanita secantik ini.


"Kau bersedia mendengarkanku kan. Kalau begitu aku ingin bertanya padamu."


"Apa kau punya hubungan khusus dengan Pembawa Bencana Penyihir Merah?" (Hendri)


"Aku tidak tahu kenapa kau bisa berpikir sampai situ. Tapi aku bisa memberimu jawabannya." (Arachne)


"Hubunganku dengan Red Witch adalah majikan dan peliharaan." (Arachne)


"Kau peliharaannya Red Witch. Kasihan sekali." (Hendri)


Arachne memegang pipiku. Ini agak erotis. Aku sedih karena tidak bisa merasakan sentuhannya.


"Hei... Mau aku beritahu sesuatu..." Ucap Arachne dengan suara lembut nan menggoda.


"Kalau tidak menarik aku tidak mau." Jawabku dengan sinis.


"Kau bisa kembali ke wujud manusiamu sekarang lo." (Arachne)


Aku termenung lebih dari saat dia menyuruhku berbaring di pangkuannya.


"Bagaimana caraku kembali menjadi manusia?!" (Hendri)


"Mudah, tidur lah dan bayangkan dalam mimpimu badanmu kembali jadi manusia." (Arachne)


"Jangan khawatirkan gangguan dari luar. Aku akan menjagamu disini." (Arachne)


"Jangan main main, ini sangat berarti bagiku." (Hendri)


"Aku tidak bohong. Red Witch selalu melakukan itu disaat dia akan menggunakan sihir perubahan wujud. Itu layak dicoba kan." (Arachne)


"Baiklah, akan aku lakukan."


"Na na na, tidurlah dengan nyenyak." (Arachne)


"Kau tidak perlu menyanyikan lagu nina bobo." Protesku.


Tidak butuh lama untukku tertidur di bantal yang seempuk ini.


Dalam mimpi yang acak aku membayangkan melukis diriku sendiri.


"Jika metode Arachne benar benar bisa membuatku kembali jadi manusia. aku bersumpah akan mengabulkan satu permintaan apapun darinya."


Proses melukis diri sendiri pun dimulai.


....................................................................................

__ADS_1


Jangan lupa tekan like dan taruh novel ini di rak buku kesayangan kalian. 😄


....................................................................................


__ADS_2