
torga masih bercerita.
"lee yin. tidak apa apa, aku ada disini sayang.. "
"greeg.. greeggh.. "
torga menangis melihat kondisi tunangannya, dirinya duduk di samping ranjang lee yin.
sudah 5 hari lee yin terbaring di ranjangnya, para dokter yang telah memeriksa lee yin menganggap lee yin sebagai anak pohon, karena selnya yang benar benar telah berubah menjadi sel pohon.
bahkan ada beberapa doktor ternama dari luar negeri yang ingin mengobati lee yin karena penasaran. tapi hasilnya tetap nihil.
hari hari torga berjalan dengan suram. hingga pada suatu hari, saat torga baru kembali dari berbelanja dirinya terkejut saat melihat si penjahat bertopeng di ruang tamunya.
"hai paman, bagaimana kabarmu dan istrimu?"
"kau!!"
torga refleks mengambil pisau lipat yang dia simpan disakunya dan mencoba menikam arlong.
namun arlong berhasil menahan pisau torga dengan dua jarinya.
"tenanglah pak tua, aku datang kesini untuk menolong istrimu."
"kaulah yang membuat lee yin jadi seperti itu, apa kau juga yang akan menolongnya. jangan bercanda!!"
torga memukul wajah arlong. torga terus memukulnya sambil berusaha menikamkan pisaunya.
perlawanan torga tidak ada gunanya, arlong berhasil merebut pisau lipat torga dan menikam lutut torga.
"aahhhh!!"
"aku benar benar datang untuk menolongnya."
"istrimu akan mati dalam beberapa jam jika aku tidak menolongnya." ucap arlong.
torga membeku mendengar kematian akan segera menghampiri istrinya.
dia merasa putus asa.
"kenapa dia?"
"dia adalah orang yang baik. kenapa kau menyakitinya?"
"hanya kebetulan saja. aku sedang mencari inang yang kuat untuk dijadikan uji coba."
"kau melakukan hal yang sangat buruk kepada orang yang baik."
"dia selalu disakiti tapi dia tidak pernah berubah menjadi orang jahat. dia selalu menjadi orang yang baik." ucap torga sambil menangis tersedu.
mendengar itu arlong menjawab.
"nasib baik dan buruk bisa mendatangi siapa saja tanpa terkecuali. aku hanyalah salah satu perantaranya."
"sekarang katakan dimana lee yin berada, aku akan menyelamatkan nyawanya."
torga yang perasaannya sedang bercampur aduk antara marah, sedih dan bingung tidak mau memberitahu.
"kalau kau tidak mau mengatakannya, maka akan kucari sendiri."
"hahh.. tunggu!"
"akan kuberi tau.."
arlong dan torga pun pergi ke rumah lee yin, ketika itu hari menjelang malam.
"berjanjilah kau tidak akan menyakitinya lagi..!!"
"aku berjanji."
mereka pun sampai di rumah lee yin, begitu sampai disana torga kaget melihat pintu depan yang terbuka.
torga bergegas masuk ke dalam rumah lee yin, namun tidak menemukan lee yin di kamarnya.
"lee yin, lee yin!"
sementara arlong menunggu di luar rumah.
torga akhirnya menemukan lee yin di kamar mandi. lee yin sedang melihat bayangannya di cermin kamar mandi.
"lee yin. tidak apa apa, aku ada disini."
"ggraaaggkk.. gaargkkk.."
"graaghhhkk.."
lee yin yang melihat bayangannya di cermin menangis dengan sangat keras.
torga yang menyaksikan itu berusaha menenangkan lee yin, dia berkata pada lee yin bahwa dia sudah menemukan orang yang bisa menyembuhkan. saat ini orang itu sedang menunggu di depan.
torga pun mempersilahkan arlong untuk masuk, arlong melepas topengnya. dia adalah seorang pria muda yang tampaknya berasal dari negara barat berusia sekitar 30 tahunan.
tanpa banyak basa basi arlong memberikan serum yang bisa menyembuhkan penyakit lee yin. setelah itu dia pergi lagi.
lee yin meminum obat pemberian itu, tapi dia tidak tau kalau arlong lah yang memberikannya karena torga khawatir lee yin akan menolak.
beberapa hari setelah lee yin meminum obat, kondisinya semakin membaik namun tingkahnya menjadi aneh.
__ADS_1
dia tidak mau memakan makanan manusia dan selalu meminta torga membawakannya kayu untuk dia cerna.
"apa dia masih menjadi dirinya ketika itu tuan torga?" tanya rouge pada torga.
"sedikit. dia terkadang menanyakan kabarku saat aku mengunjunginya."
"menurutku dia sudah berubah pada saat itu tuan torga."
"sebagai pasangan yang saling mencintai aneh jika dia menanyakan hal formal seperti itu padamu."
rouge hanya bicara di dalam hati, dia tidak berani mengatakannya langsung karena takut torga tersinggung.
"hal itu terus berlangsung untuk waktu yang lama, hingga satu tahun sebelum penyerangan black leaves ke amerika arlong kembali mendatangiku."
"dia ingin membawa lee yin pergi dariku dengan alasan dia akan lebih nyaman tinggal bersamanya dan sebagai gantinya dia akan membawakan wanita yang cantik dan lebih baik dari lee yin."
"aku menolaknya, namun dia bersikeras ingin membawa lee yin. lalu kami membuat kesepakatan, aku akan pergi kemanapun lee yin pergi. arlong setuju dan aku pun menjadi nyarla."
"boleh aku bertanya. kenapa arlong repot repot meminta izin pada anda."
"entahlah. dia selalu tampak seperti orang yang berbeda setiap kali aku bertemu dengannya."
"semenjak saat itu aku dan lee yin resmi menjadi anggota black leaves. kami selalu menjalankan pekerjaan dari black leaves bersama, hingga terakhir kali aku bertemu dengannya adalah saat lee yin diperintahkan untuk menyerang markas militer amerika 3 tahun yang lalu."
"apa anda masih berharap dia kembali?" rouge bertanya lagi.
"...iya." jawab torga dengan suara pelan.
rouge melihat lukisan lukisan yang ditaruh di belakang torga. pemandangan langit malam, lorong rumah yang gelap, dan hutan yang sunyi semua lukisan itu didominasi oleh warna gelap.
berdasarkan ilmu psikologi kondisi mental seseorang dapat dilihat dari warna apa yang sering dia gunakan dalam kesehatannya.
dalam hal ini torga menggunakan banyak warna hitam pada lukisannya yang mengindikasikan bahwa dirinya sedang dalam kondisi depresi.
"saya turut berduka cita untuk nona lee yin tuan torga. terima kasih sudah mau meluangkan waktu anda."
"apa anda akan pergi sekarang." tanya torga.
"iya. saya sudah tau alasan anda mengejar assault nyarla, saya juga sudah berjanji tidak akan memberitahukan hal ini pada siapapun. jadi saya merasa sudah tidak ada keperluan lagi."
torga merasa lega karena rouge tidak menanyakan lebih banyak hal lagi.
"maafkan jika selama kita ngobrol tadi bahasa yang saya gunakan tidak formal. saya belum terbiasa bicara begini."
"tidak apa apa, saya juga tidak terbiasa." ucap torga dengan ramah.
sebelum pergi rouge mengingatkan torga tentang tindakannya.
"tuan torga. komandan arlong melarang kita ikut campur dalam masalah assault nyarla ini. tapi anda sudah bertindak lebih dulu sebelum arlong memberitahukannya, jadi anda setidaknya bisa membela diri jika terjadi masalah nanti."
"satu hal lagi tuan torga. kita tidak memiliki dendam jadi saya ingin memperingatkan anda."
"jika anda mengkhianati black leaves, maka saya sarankan pada anda untuk pergi sejauh mungkin dan bersembunyilah di tempat yang tidak akan bisa mereka temukan."
"karena mustahil bagi anda untuk melawan pasukan black leaves yang sesungguhnya."
"...baiklah. akan saya ingat pesan anda."
rouge pun pergi.
torga dihampiri salah satu pelayannya.
"tuan, apakah orang itu tau tentang rahasia tuan?"
"ya dia tau.."
"haruskah saya membunuhnya?"
"tidak usah. tampaknya dia bisa dipercaya."
sambil berjalan rouge memikirkan beberapa kejanggalan di cerita torga.
"arlong adalah seorang pria barat berusia 30 tahunan, itu sangat mustahil."
"pertama kali aku bertemu dengan arlong 9 tahun yang lalu dia masih bocah berumur 12 tahun. aku bahkan melihatnya berubah dari wujud nyarla ke wujud manusia jadi tidak salah lagi."
"apakah ada seseorang yang menggunakan identitas arlong untuk keuntungan pribadi."
"tapi jika benar arlong yang memberi obat pada lee yin adalah arlong palsu lantas pada untungnya baginya."
"tunggu. aku tidak boleh percaya begitu saja pada cerita torga. bisa saja cerita itu hanya karangannya. ahh.. biarlah yang penting aku tidak terlibat dalam masalah ini."
rouge pun pergi meninggalkan wilayah tempat tinggal torga.
kembali ke hendri
dirinya yang pingsan karena luka lagi lagi bermimpi atau berkhayal bertemu dengan wanita berwajah hitam.
"kegelapan ini.. kuharap suara dan wajah yang menakutkan itu tidak muncul lagi."
tidak lama setelah hendri mengatakannya wanita berwajah hitam itu muncul lagi.
karena takut melihat wanita itu hendri menutup matanya, namun entah kenapa matanya sulit ditutup. padahal ini hanyalah mimpi tapi hendri bisa merasakan rasa takut yang jelas saat melihat wanita itu.
"pergilah kau wanita seram! aku tidak mau melihatmu lagi!!"
suara terdengar.
__ADS_1
"kita semakin menyatu hendri, tidak lama lagi kau akan menyadarinya."
hendri hanya diam, dia menundukkan kepalanya agar tidak melihat wajah wanita hitam itu.
tidak lama kemudian wanita itu menghilang dan hendri terbangun.
saat bangun dirinya sampai berkeringat gara gara mimpi itu.
"hahh.. hahh.. apa itu sebenarnya?" ucapnya dalam hati.
"dimana ini? apa aku di gudang. mereka tega sekali menidurkanku di gudang yang berantakan ini."
hendri bergegas turun dari tempat tidurnya.
"hah!?"
"penglihatanku.. aku bisa melihat lebih jauh dari sebelumnya..??"
"kenapa?"
awalnya hendri cuma bisa melihat hingga jarak 3 meter saja, itu pun dia tidak benar benar melihat melainkan hanya memindai tekstur benda di sekelilingnya atau mendeteksi sekitarnya.
jadi hendri tidak bisa melihat sesuatu yang tidak bertekstur seperti bayangan di cermin dan tampilan layar. dirinya juga tidak bisa memindai permukaan benda yang tertutup oleh benda lainnya.
namun meski begitu hendri bisa melihat suhu tubuh dari makhluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan. selama mereka masih berada di jarak satu kilometer darinya.
tapi sekarang hendri bisa melihat hingga jarak 12 meter lebih.
"bagaimana bisa? tidak ada pohon atau akar yang bisa menerima sinyal deteksiku disini."
untuk membuktikannya, hendri mencari sesuatu untuk dilemparkan, dia mengambil sebuah mangkuk tanah liat di dekatnya.
"mari kita lihat."
hendri melemparkan mangkuk itu keatas sebuah peti yang berjarak 10 meter darinya dan benar saja mangkuk itu pecah dan berserakan diatas peti itu, yang menandakan bahwa penglihatan hendri tidak salah.
para pelaut yang mendengar suara barang pecah di gudang pun bergegas masuk.
"anda sudah sadar tuan graham."
hendri mengangguk.
"biar kami antar anda keluar."
hendri mengikuti para pelaut, disepanjang jalan dia merasa tidak nyaman melihat para pelaut yang memberi hormat padanya.
"tidak perlu merendahkan diri tuan graham."
"semua yang ada di kapal ini sudah mengakui anda sebagai prajurit pemberani."
"itu tidak perlu. aku hanya membantu sedikit yang mvp di pertempuran ini adalah tuan ripe." ucap hendri melalui telepati.
mereka pun naik ke geladak utama, ternyata hendri saat ini berada di kapal perompak, dia juga melihat banyak kapal lain di sekitar. termasuk kapal kargo yang baru. namun mereka belum mulai berlayar.
"sudah berapa lama aku tidur?" tanya hendri.
"sekitar 19 jam."
"lama juga, padahal kalau dibandingkan luka ini tidak separah luka yang kudapatkan sebelum sebelumnya."
tiba tiba seseorang muncul tepat di samping hendri, orang itu adalah jacob ripe.
"hei graham, bagaimana lukamu?"
hendri mengangkat jempolnya pada ripe.
"bagus! seorang remaja seusiamu memang harus kuat."
hendri bertelepati dengan ripe.
"bagaimana keadaan wanita perompak itu tuan ripe?"
"maksudmu wanita berambut silver itu. dia sedang dikurung di sel."
"tolong bawa aku kesana."
"hei, apa kau tidak mau menanyakan kondisiku. kita ini teman kan?"
"ahh.. maaf tuan ripe, aku lupa bertanya karena melihat kondisimu yang tampak bugar."
"hehe, tentu saja aku bugar. sengatan listrik itu sangat bagus untuk mengobati otot tanganku yang kram saat bertarung."
"padahal kau sendiri hampir mati saat itu." gumam hendri dalam hatinya.
"tolong antar aku menemui wanita itu tuan ripe."
"ayo ikuti aku."
hendri dan ripe pergi ke geladak bawah. hendri memiliki ide bagus untuk menghabiskan waktu dalam perjalanan ini.
dalam hatinya hendri bergumam.
"mumpung perjalanan ini masih sangat panjang, aku bisa menjadikan dagger subjek eksperimenku."
"ini sangat mendebarkan! kuharap aku mampu melakukannya."
..........
__ADS_1