
kembali ke hari dimana pasukan Hunter berperang melawan divisi 6 Black Leaves. Arlong yang kabur dari pertempuran tentu memiliki alasan khusus mengapa dia melakukan itu.
Arlong kembali ke markas besar Black Leaves cabang Kanada karena mendapat panggilan dari seseorang yang sangat penting.
Valkyrie datang ke markas Black Leaves dengan merasuki tubuh Bianca Landscher, seperti yang Red Witch lakukan untuk bertemu pasukan Hunter.
Melalui Bianca Valkyrie menyampaikan kekecewaannya terhadap pasukan Black Leaves yang semakin lama semakin lemah dan terus menerus dikalahkan oleh pasukan Hunter.
"Black Leaves mu semakin lemah, kalau begini terus kau tidak akan bisa bertahan di pertempuran selanjutnya."
"......" Arlong tidak dapat menyangkal hal itu.
"Kau beruntung aku menarikmu mundur dari medan perang nepal. Kalau saja kau tetap berada disana kau pasti akan hancur oleh kekuatan pembawa bencana kehancuran (Wizard)"
Arlong tidak senang mendengar itu, dia pun balik memarahi Valkyrie.
"Harusnya pasukan utama The Hunter musnah di nepal. Dengan begitu banyaknya pasukan yang menunggu mereka mulai dari 2 pembawa bencana, AI super, pasukan mesin, hingga aliansi eropa dan divisi 6 Black Leaves, mustahil bagi mereka untuk keluar dari sana hidup hidup."
"Tapi semuanya jadi kacau balau gara gara anggota kalian berkhianat. Aku sengaja membiarkan Arachne berpindah kubu ke The Hunter supaya dia menggiring mereka ke Nepal. Tapi sekali lagi rencana itu kacau gara gara Red Witch mengirimkan Graham-tatara ke medan perang."
"......" Valkyrie tidak bisa berkata kata.
"Harusnya kamilah yang marah saat ini. Bagaimana bisa Red Witch yang merupakan salah satu penyihir primodial itu mengkhianati kehendak inangnya?"
Valkyrie terdiam. Dia berbeda dengan pembawa bencana lain yang mudah terprovokasi oleh manusia, Valkyrie lebih tenang, karena itulah dia dipilih sebagai penghulu 10 pembawa bencana untuk berhubungan dengan pasukan Black Leaves.
"Aku juga masih menyelidiki perkara itu. Kami minta maaf atas kekacauan yang disebabkan Red Witch, kami harap kau tidak berencana mengkhianati kami juga karena kejadian ini."
Tatapan tajam Arlong dianggap Valkyrie sebagai tanda permusuhan.
Valkyrie pun pergi dan Bianca tersadar.
Bianca yang melihat muka masam adiknya lantas bertanya apa yang dikatakan Valkyrie padanya.
"Dia kecewa dengan kinerja kita belakangan ini. Lalu aku memarahinya balik." Jawab Arlong.
"Dia tidak marah padamu kan? bisa gawat kalau dia menjadi musuh kita." Ucap Bianca dengan khawatir.
"Valkyrie bukanlah musuh yang kuat, kita bisa saja mengalahkan Valkyrie tanpa menggunakan senjata utama kita."
Arlong mengucapkan kunci suara lalu lantai besi yang dia pijak terbuka.
Arlong mengajak Bianca turun ke koridor basement yang gelap. Lalu sampailah mereka ke laboratorium rahasia bawah tanah.
Disana juga ada Alfaron si ilmuwan kesayangan Arlong, sekaligus teman dekatnya.
"Si titan wanita baru saja berkunjung kesini untuk marah marah. Kurasa tidak lama lagi pembawa bencana yang lain juga akan bertamu kesini dengan alasan yang sama." Ucap Arlong sambil membaca data riset yang dilakukan Alfaron.
"Sedikit lagi selesai..." Ucap Alfaron tanpa memberitahu Arlong apa yang hampir selesai.
Black Leaves menyiapkan senjata mereka sendiri. Sementara di sisi The Hunter, mereka memiliki Hendri Graham.
__ADS_1
Hari ini The Hunter mendapat kejutan dari Red Witch. Si penyihir itu menerbangkan tanah tempat tunas inti sihirnya tertanam. Dengan begitu Red Witch bisa bergerak bebas tanpa takut keluar dari zona kekuatan sihirnya.
Kedatangan Red Witch yang mencolok ini membuat gempar masyarakat timur tengah. Sehingga mau tidak mau The Hunter pun harus membocorkan identitas Red Witch yang sebenarnya karena paksaan dari pemerintah.
Red Witch menerima ajakan Hendri untuk tinggal di timur tengah karena itulah dia sampai membawa inti sihirnya kesini. Dia pun bergegas menemui Hendri karena penasaran dengan kekuatan sihirnya.
Red Witch melacak energi sihir asing milik Hendri, lalu teleport. Dia pun menemukan Hendri tengah berlatih di gurun pasir.
"Kau sedang apa penyihir tumbuhan?" Red Witch memberikan julukan.
"Aku sedang membuat tiruan tanaman tanaman langka. kapan kau sampai kesini nona Red Witch?" Tanya Hendri.
"Baru saja. Oh ya, senang bertemu denganmu Jacob Ripe."
Ripe menggigil mendengar Red Witch menyebut namanya. Dia mundur 10 langkah dari 2 penyihir.
Hendri yang melihatnya menghela napas panjang.
"Aku datang untuk memeriksa atribut sihirmu." Ucap Red Witch dengan semangat.
"Akan aku tunjukkan padamu, tapi sebelum itu pakai topi ini dulu, hawa di gurun pasir sangat panas pada siang hari."
Hendri memberikan sebuah topi bunga yang ukurannya pas sekali di kepala Red Witch.
"Cantiknya..." Red Witch sangat menyukai topi pembelian Hendri walau modelnya sebenarnya agak norak.
"Atribut sihirmu adalah yang paling indah diantara para penyihir lainnya." Puji Red Witch.
"Hendri Graham, apa kau sudah siap?" (Red Witch)
"Bagus, lawan pertamamu adalah Dilhade. Dia adalah penyihir pikiran yang dapat memanipulasi kenyataan di kepala manusia. Dia ada di Indonesia, negara kepulauan di asia tenggara."
"Atribut sihirnya adalah hipnotis, brainwash, dan psikokinesis yang levelnya lebih rendah dariku. Untuk mengalahkannya kau harus menghancurkan menara merah yang menjadi jantungnya."
"Tentu tidak akan mudah menghancurkan menara itu karena dia pasti akan menjaga jantungnya."
"Baiklah, aku mengerti. Akan aku diskusikan strategi dengan The Hunter."
"Selama kau melawan Dilhade aku akan melindungimu dari pembawa bencana lainnya. Yang terpenting adalah membunuh Dilhade yang menjadi hambatan besar bagi pasukan The Hunter."
Hendri paham kenapa target pertama mereka adalah penyihir ilusi. Karena penyihir itu dapat memanipulasi pikiran manusia sehingga akan mudah baginya memecah belah pasukan Hunter di perang nanti.
"Pegang tanganku! Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan pada kalian." Pinta Red Witch.
"Eh, aku juga?" (Ripe)
"Ayolah tuan Ripe." Pintanya.
Hendri dan Ripe menggenggam tangan Red Witch dengan enggan.
Hendri berteriak histeris saat Red Witch membawa mereka berteleportasi, Ripe yang mendengar Hendri berteriak tertawa terbahak bahak.
__ADS_1
Mereka sampai ke tempat yang sepenuhnya hanya ada tanah gersang nan tandus.
Hendri bertanya dimana mereka sekarang, Red Witch menjawab kalau mereka sedang berada di atas tanah yang Red Witch bawa sebelumnya. Artinya mereka sedang berada di atas tunas inti sihir pembawa bencana.
Red Witch menunjuk ke lubang besar di tanah dan membawa Hendri serta Ripe masuk ke dalamnya. Tidak jauh dari muara lubang terlihat sebuah batang pohon besar berwarna merah yang dipenuhi urat urat halus dikulitnya.
Tanpa dijelaskan pun sudah jelas itu adalah tunas inti sihir Red Witch.
Red Witch menantang Hendri bermain game di dalam lubang tanah ini. Kalau Hendri bisa memenangkan game buatannya maka Red Witch akan membiarkan Hendri menelan setetes darahnya.
Hendri yang tidak pernah melakukan hal semacam itu merasa jijik.
"Kenapa aku harus menelan darahmu? Apa Assault Nyarla punya kemampuan rahasia?" Protes dan tanya Hendri.
"Aku melihat kau dipotong oleh Arlong saat perang Yaman. Saat dibawa ke ruang perawatan kau tanpa sadar menyerap darah dan nutrisi orang orang di sekitarmu untuk memulihkan dirimu sendiri."
Mendengar itu Ripe jadi lebih waspada pada Red Witch.
Hendri membenarkan kejadian itu.
"Aku tahu tubuhku bisa bergerak sendiri ketika dalam kondisi sekarat berkat kejadian itu." tegas Hendri.
"Tubuhmu dapat meregenerasi luka fatal hanya dengan menyerap nutrisi dan darah beberapa orang. Coba bayangkan apa yang akan terjadi kalau kau menyerap darahku yang tercampur darah monster kuno."
Hendri sedikit tertarik dengan darah Red Witch. Tapi dia tidak akan menelannya, karena dia tidak punya hobi seperti itu.
Sebaliknya Ripe justru sangat tertarik karena darah Red Witch akan menjadi sampel yang berharga untuk melawan monster kuno nantinya.
Hendri dan Ripe saling menatap, tersenyum lalu berkedip satu sama lain.
Red Witch gemas melihat tingkah duo nyarla itu.
Dengan atribut sihirnya Red Witch mengikis tanah sekitaran tunas hingga terbentuk ruang bawah tanah yang luas.
Hendri melakukan pemanasan sebelum bertarung, saat dia menoleh ke samping kiri kanan dirinya melihat segerombolan minotaur jelek berwarna merah mengepungnya.
Ripe menerima perannya sebagai penonton kali ini. Sementara Red Witch menjelaskan aturan mainnya.
"Peraturan di ronde pertama ini sederhana, jangan sampai berdarah. Kalau berdarah aku anggap kau kalah." (Red Witch)
"Itu saja?" Hendri tersenyum tipis sengaja meremehkan peraturan yang dibuat Red Witch.
"Jangan berpikir mudah dulu. Ronde pertama ini akan berjalan selama setengah hari penuh, karena ini adalah ujian ketahanan."
"Biar begitu aku tetap yakin akan menang."
Ripe dipilih oleh Red Witch menjadi wasit. Untuk ronde pertama ini.
"Permainan penyihir ronde pertama 'Gelombang monster' dimulai!" Ripe membuka permainan.
.......................................................................................
__ADS_1
Chapter Selanjutnya ( Pembuktian Penyihir)
.......................................................................................