
Memasuki kamar, Noah tidak mendapati keberadaan istrinya diatas ranjang. Didalam kamar mandi tak ada. Didalam ruang walk in closet juga tidak ada.
Sebenarnya kemana perginya Luna saat malam sudah larut begini? Padahal kata ketiga ART-nya tadi, Luna sedang tidur.
Noah baru ingat, masih ada satu tempat yang belum dia cek, yaitu area taman. Kebetulan kamar tidur mereka memang terhubung dengan taman belakang dekat kolam renang yang dibatasi penghalang kaca.
Pantas saja Luna tak sadar kalau suaminya sudah pulang, ternyata wanita itu sedang asyik bermain ponsel sambil duduk manis diatas kursi santai jenis bean bag.
"Aku kangen banget sama Chloe dan Ashley, lusa aku main ke rumah Kakak ya!"
"Siap-siap! Nanti kita shopping sama-sama terus pulangnya makan di restoran, Kak!"
Sampai sini Noah langsung paham kalau ternyata Luna sedang menelpon kakaknya, Isabelle. Bukan rahasia umum, hubungan keduanya memang begitu dekat. Ipar rasa kakak kandung.
Sangat bertolak belakang dengan Malena dulu, yang setiap kali bertemu Isabelle bawaannya selalu ingin cakar-cakarann mengangkat senjata.
"Kabar aku baik Kak, si adek enggak rewel di dalam perut. Cuman ya gitu kadang perut masih suka kram. Kalau mual-mual sih udah enggak lagi."
"Ngidam aku masih normal, Kak. Paling ya kalau pengen makan bisa dibuatin sama Bibi dan Mbak di rumah. Kalau lagi enggak mood bisa delivery order, kadang juga minta tolong sama Karta buat beliin."
"Ke Yunani? Entah Kak, masih belum pasti. Soalnya Mas Noah lagi sibuk-sibuknya di kantor."
"Hhh..aku enggak berharap banyak, Kak. Kalau jadi ya oke, kalau enggak juga enggak apa-apa."
"Oke Kak, kita sambung besok lagi ya! See you..bye!"
Sambungan telepon terputus. Perbincangan antara istri dan kakaknya telah berakhir. Sepanjang Luna berteleponan dengan Kak Isabelle tadi, Noah hampir mendengarkan sebagian pembicaraan mereka.
Noah jadi membatin sendiri. Ketidakpekaan dirinya terhadap keluhan Luna membuatnya terjun kedalam jurang penyesalan. Noah sadar kalau selama ini ia tak benar-benar mencurahkan perhatiannya penuh pada sang istri. Padahal ia sedang mengandung.
Ibu hamil mana sih yang tidak ingin dimanja oleh suaminya ketika menjalani masa kehamilan?
Hadirnya seorang anak dalam kehidupan rumah tangga begitu diidam-idamkan oleh Noah sejak lama. Begitu benih Noah sudah menghasilkan janin, kehadirannya justru terasingkan akibat sibuknya pekerjaan di kantor.
__ADS_1
"Mas Noah..." suara lembut Luna membuyarkan lamunannya. Istrinya itu sudah kembali masuk kamar.
"Hai.." sapa Noah balik. "Kamu belum tidur?"
Noah mengecup kening Luna sekilas dan membawa tubuh istrinya itu masuk dalam dekapannya. Luna balas memeluk kemudian melingkarkan lengannya pada pinggang Noah.
"Sudah Mas, tadi sempat tidur sebentar. Terus tiba-tiba aku kebangun lagi. Mataku jadi melek sekarang." kepala Luna bersandar pada dada Noah dengan manjanya.
"Pas aku masuk kamar, aku kaget kamunya tidak ada. Ternyata lagi ada di teras kamar. Teleponan sama siapa?" Noah pura-pura tak tahu agar Luna tak curiga jika dirinya menguping sejak tadi.
Luna mengendurkan pelukan mereka. "Sama Kak Isabelle, Mas."
"Kak Isabelle jam segini belum tidur juga?"
"Heemm..tadi pas teleponan sama aku, Kak Isabelle lagi pompa ASI buat stoknya Ashley. Karena pas iseng, Kakak tiba-tiba nelpon. Yaudah deh aku angkat aja!" terang Luna.
Noah balas tersenyum. Tangan kirinya terangkat untuk menyibak anak rambut Luna ke belakang telinga.
"Mas mau langsung mandi sekarang? Kalau iya biar aku siapin air hangatnya di bathub."
"Okay..." Luna mengangguk paham. "Mas sudah makan malam belum?" tanya Luna lagi.
"Sudah, tadi di kantor barengan sama karyawan-karyawan lain yang ikut lembur."
Noah kemudian menggandeng tangan Luna menuju sofa bench dan mendaratkan tubuhnya disana. Posisi Luna kini duduk diatas pangkuan Noah. Direngkuhnya pinggang Luna dengan erat agar keduanya tak lagi menyisakan jarak.
"Bibi sama Mbak bilang, katanya kamu belum makan malam. Benar begitu?" Noah langsung to the point.
Raut wajah Luna berubah tegang. "Ehh..ss--sudah kok Mas." jawabnya canggung.
Noah menarik hidung Luna pelan. "Jangan bohong. Tadi ada yang laporan ke aku, katanya kamu lagi tidak selera makan. Makanya pas dinner kamu langsung tidur."
"Hufhh..pasti Bibi sama Mbak nih yang ngadu ke kamu!" Luna memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Jangan salahkan Bibi sama Mbak. Aslinya juga mereka tidak berniat mengadu. Aku sendiri yang tahu."
"Tahu dari mana?"
"Barusan aku mergokin mereka bertiga lagi masak di dapur."
Luna memandang suaminya heran. "Sekarang? Malam-malam begini masak?"
"Iya. Mereka bela-belain belajar bikin lamb steak with chimichurri sauce, demi kamu yang ngidam katanya!" Noah semakin gencar memainkan pipi Luna karena gemas.
"Ya ampun, Mas! Padahal ini udah malam banget lho, mereka belum selesai juga masaknya?! Kalau gitu aku samperin dulu deh ke dapur, aku mau suruh mereka tidur!"
Noah menahan tubuh Luna yang hendak beranjak, "Hey...sudah-sudah. Tidak perlu ke dapur, aku tadi sudah bubarkan mereka untuk segera istirahat."
Luna bernafas lega namun dia sedikit merasa bersalah. "Haduhh..aku jadi enggak enak Mas sama mereka, sampai segitunya mau belajar masak demi nurutin ngidam aku."
"Lupakan saja soal mereka. Yang jadi pertanyaan aku sekarang, kenapa kamu tidak kasih tahu aku kalau lagi ngidam makan steak di Ben & Dom's Steakhouse hmm?"
"Ya..ya..itu..kan kalau mau makan disana harus reservasi dulu Mas! Sedangkan aku ngidamnya dadakan." jawab Luna terbata-bata.
"Owner restonya itu sahabat dekatku saat kuliah, Luna. Terus jajaran chef disana juga masih kenalan aku. Walau dadakan, bisa kok diusahakan untuk makan disana kalau kamu mau," terang Noah panjang lebar.
"Sekali lagi aku tanya sama kamu, kenapa kamu tadi tidak telepon aku? Tidak bilang kalau lagi ngidam makan lamb steak?" Noah menatap Luna dengan serius.
Luna berniat membuka mulutnya untuk berkilah namun Noah mengarahkan telunjuknya didepan bibir Luna. "Shhhttt, jangan ngeles...jangan bohong."
"Aku cuman takut ngerepotin Mas Noah aja...kan Mas lagi sibuk, aku takut ganggu."
"Mana ada ganggu? Kamu istriku Luna, kamu lagi hamil. Kalau memang mengidam bilang sama aku dong sayang..."
"Ya habisnya aku bimbang Mas, mau bilang pun juga percuma. Kamunya sibuk, nanti kamu pasti bakal suruh orang lain lagi buat beliin makanan untukku. Kan ya jatuhnya sama aja. Mending langsung suruh orang lain kan..?" Luna menundukkan kepalanya sembari memainkan jari jemarinya.
Noah terkena Skak Mat! Luna ada benarnya juga.
__ADS_1
***