
AUTHOR POV
"Ternyata kamu beneran pingin gituan ya Mas? Mukanya sampai merah tuh! Hihihi..." Luna cekikikan sendiri melihat wajah suaminya yang terlihat seperti menahan sesuatu.
Roman-romannya Noah sudah tidak sabaran ingin mencapai puncak kenikmatan surga dunia bersama dengan istrinya.
"Beneran ini Lun, tega sekali kamu berpikir jika aku bercanda?!"
"Ya habis kamu enggak kira-kira deh Mas, masa lagi berenang santai begini udah turn on!" pipi Noah dimainkan, ditarik ke kanan dan kiri karena Luna terlanjur gemas.
"Namanya juga pria, setiap pagi juniornya sudah otomatis tegak berdiri tanpa harus disuruh. Apalagi berendam didalam air begini. Ditambah lagi dengan penampilan kamu yang membuat aku mana tahan!" curhat Noah panjang lebar.
Bayangkan saja, siapa yang tidak tergoda bila disuguhkan bidadari cantik memakai bikinii dengan gaya sensuall didepan mata. Apalagi bidadari tersebut istrinya sendiri.
Itulah yang dirasakan Noah saat ini. Hatinya bergejolak, meronta-ronta ingin segera menerjangg istrinya. Matanya pun merah menyala bagaikan banteng matador saat melihat kain merah.
Luna meraih wajah Noah untuk mengikis jarak kemudian membubuhkan sebuah kecupan singkat pada bibirnya.
CUPP!!
"Iya..iya..enggak usah ngambek begitu mukanya. Ya udah kalau mau aku sih ayo aja, cuman kita harus naik dulu ini.."
Kedua alis Noah mengkerut bingung. "Naik? Naik kemana?"
"Naik maksud aku itu mentas, Mas. Katanya mau bercintaa? Berarti berenangnya sudah selesai dong. Kenapa nanya balik, berubah pikiran?"
"Ehh..bbuu--bukan gitu ya! Maksud aku, untuk apa pakai naik segala? Kita kan bisa itu-ituan disini saja!"
Sontak kedua bola mata Luna terbelalak lebar, sedikit terkejut.
"HAHH?!! Disini? Mm-maksudnya didalam kolam begitu?" ucap Luna sedikit terbata-bata. Menurutnya Noah sedikit gila jika memang benar hendak melakukan itu di kolam renang.
"Iyalah di kolam ini...memang kamu pikir dimana lagi? Di kamar?"
"Awalnya aku mikir begitu..emang bukan ya?" tanya Luna dengan polosnya.
"Nope." Noah menggelengkan kepalanya.
Jari-jemarinya bermain pada tali kain segitiga penutup bawah istrinya. Sedang tangan yang menganggur satunya, sudah siap berada dibalik punggung. Jika Noah kategori pria yang tidak sabaran, sudah sejak tadi semua itu terlepas.
__ADS_1
"Aku maunya disini, Lun. Mencari sensasi baru. Sebelumnya kita sudah pernah melakukan itu dimana saja bukan? Diatas ranjang sudah, balkon kamar sudah, walk in closet, dapur, gazebo taman rumah, bahkan di ruangan kantor aku pun sudah kita explore semuanya. Tinggal kolam renang yang belum."
Refleks Luna mengangguk pelan seraya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal secara pelan. Raut wajahnya berubah sedikit masam.
Kilas balik sejenak, jika dipikir-pikir ternyata aktivitas percintaan mereka bisa dibilang brutal dan ganas juga ya? Semua tempat sudah disusuri. Tapi tak apalah, Luna tidak perduli.
Semakin intens aktivitas seksuall mereka, tentunya akan mempererat hubungan keduanya agar semakin lengket. Artinya, Noah begitu puas akan servis yang diberikan sang istri.
Dengan begini Noah tidak akan menoleh kanan kiri depan belakang lagi. Walau sebenarnya Luna yakin 100 persen bahwa Noah adalah tipikal lelaki setia.
"Tapi..apa kamu enggak malu Mas kita ngelakuinnya di tempat outdoor begini. Nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" tanya Luna lagi, memecah keheningan.
"Tidak mungkin ada yang berani lihat. Kan aku sudah menyewa private paviliun di resort ini! Jadi kita aman..jauh dari jangkauan orang-orang."
"Terus apa enggak jorok Mas kalau begituan disini?" Luna sedikit maju mundur karena masih ragu.
"Kamu cerewet sekali ya, banyak tanya terus!" keluh Noah yang istrinya tak berhenti mengomel. "Nanti bisa minta tolong pegawai hotel untuk menguras kolamnya lagi, pasti bersih. Kita masih lama stay disini."
"Ishh..berani ya kamu ngatain aku cerewet? Nanti..."
BULPP!!
Dan terjadilah persilatan lidah diantara dua insan anak manusia yang cinta kasihnya begitu menggebu-gebu.
Noah semakin gencar memperdalam ciumannyaa. Lengannya melingkar erat pada pinggang wanitanya. Kemudian diangkatlah tubuh Luna hanya dengan satu tangan. Sehingga posisinya saat ini Luna bagaikan hewan koala yang bergelanyut manja.
Begitu asyiknya menikmati percumbuann di pagi hari ini membuat kepala keduanya sampai miring-miring. Telapak tangan besar Noah bergerilya, meraba-raba paha istrinya hingga kemudian bergerak untuk meremass dua bongkahan aset belakang Luna.
Namun sayang seribu sayang. Beberapa menit waktu terlewati, mendadak terdengar suara nada dering ponsel berulang kali yang cukup mengganggu telinga. Asal suara tersebut datangnya dari pool chair lounge pinggir kolam.
*Drtt..drrtt..kring..kring..*
"Hmmm...Mm--mas, itu handphone kamu bunyi!" desahh Luna disela-sela ciumann mereka.
"Biarkan sajalah, kita sedang sibuk begini. Aku malas mengangkat!" balas Noah.
*Drtt..drrtt..kring..kring..*
Luna seketika menghentikan aktivitas mereka dan menahan dada Noah. "Tuh..kan! Bunyi lagi handphone kamu, Mas. Mending diangkat dulu siapa tahu penting. Dari tadi enggak berhenti-henti lho!"
__ADS_1
Noah berdecak kesal sambil menyugar rambut basahnya kebelakang. Matanya terpejam menahan emosi.
"Huftt..mengganggu saja!" batin Noah. Siapapun itu yang menelpon, membuat darahnya mendidih panas.
Akhirnya dengan terpaksa, Noah menaiki tangga kolam, meninggalkan Luna yang masih betah untuk tinggal. Sebelum bergerak meraih ponsel, Noah membalut tangannya dengan handuk kering.
📱
"Halo..." jawab Noah dengan nada datar.
"Hai Noah, apa kabar nih? Sorry ya mendadak telepon...ganggu gak nih aku?" sahut Akbar dari panggilan berlawanan.
"Ckkk, pakai ditanya segala! Ya jelas mengganggu Bar! Kamu telepon di jam segini. Bukannya di Indonesia lagi pagi buta ya? Kok sudah melek saja mata kamu!" ketus Noah.
"Ishh sensi banget sih Pak...iya sorry! Makanya tadi kan aku minta maaf duluan. Ini urgent, kalau enggak penting-penting banget juga ogah kali telepon kamu!"
"Gimana tidak sensi, posisi aku lagi kentang nih! Sudah lah buruan saja! Cepat bilang, ada info apa?"
"Hmm... ini aku sekarang lagi di rumah kamu sama satpam dan bodyguard kamu juga. Sekitar 20 menit yang lalu, Pak Hari telepon aku. Katanya kayak ada penyusup rumah yang berniat membobol sistem keamanan rumah. Pas dicek memang benar. Bukan cuman itu aja, password brankas milikmu juga hampir kena hack."
"Hahh?!! Kok bisa..tapi aman kan?!" bohong apabila Noah tidak panik.
"Aman. Kan tadi sudah dibilang..hampir! Kalau hampir ya berarti belum. Makanya Pak Hari buru-buru telepon terus langsung aku atasi. Katanya beliau sempat menghubungi kamu via chat tapi tidak ada balasan. Mau menelpon dia sungkan, takut mengganggu liburan kamu."
"Dan bukan hanya itu aja, kemarin siang kata Dani ada mata-mata disekitar rumah kamu. Ada seorang pria misterius yang tiba-tiba nanyain keberadaan kamu sama Luna." lanjut Akbar menjelaskan detailnya.
"Terus Dani jawab apa?"
"Dia jujur, langsung bilang kalau kamu dan Luna pergi liburan ke luar negeri. Tapi tindakan Dani sudah tepat. Dengan begitu kita bisa memancing kedok mereka supaya muncul ke permukaan. Sama kayak Pak Hari, Dani sempat menelponmu tapi katanya tidak aktif."
Noah beralasan, "Jelas tidak aktif, dari kemarin aku sama sekali tidak ngecek handphone. Aku fokus sama Luna saja."
Sejenak Noah berkacak pinggang. Pikirannya berkelana menerka-nerka tentang siapa kemungkinan orang yang berniat mengusik privasinya.
"Ckk..ini gila. Aku sudah bayar mahal untuk membeli residen di area itu. Aku pikir tinggal di kediaman mansion mewah membuat privasiku terjaga. Nyatanya masih kecolongan juga. Sudah berkali-kali kejadian dari mulai Poppy kan? Sepertinya aku memang harus pindah rumah." ujarnya pada Akbar.
***
VISUALS
__ADS_1