Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Poppy Bertamu


__ADS_3

Nafas Noah dan Luna tersengal-sengal ketika mereka berdua berhasil mencapai puncak pelepasan beberapa menit yang lalu. Keduanya masih menetralisir degup jantung mereka yang berdetak lebih cepat dari biasanya setelah hampir satu jam bermain diatas ranjang. Tubuh polos keduanya pun masih tertutup sempurna oleh bedcover.


Pagi-pagi begini, kedua pasutri ini sudah disibukkan dengan olahraga pagi yang mengundang keringat.


"Huhh...huh..." lirih Noah. "That feels good, Lun.."


"Iya Mas...aku juga. Kita soalnya udah lama enggak berhubungan gitu." Luna melirik suaminya.


Noah memiringkan badannya menghadap kearah sang istri, lalu ia menekuk siku tangan untuk menopang kepalanya agar bisa menatap wajah cantik Luna yang dipenuhi dengan peluh sisa percintaann mereka tadi.


"Tapi maaf ya kalau aku mainnya agak menggebu-gebu tadi...sakit tidak?" Noah menatap Luna khawatir.


Pasalnya Luna sedang mengandung saat ini, tentu Noah harus berhati-hati saat melakukannya. Tadi saja, Noah sudah sekuat tenaga menahan diri untuk tidak terlalu brutal.


"Enggak kok Mas...aku baik-baik aja!" Luna mengusap lembut dagu Noah dengan ibu jarinya.


"Kamu cantik, Lun." Noah menyibak anak rambut Luna dan menyisipkannya ke belakang telinga.


Luna membalasnya dengan mencubit pipi Noah. "Dih..gombal! Habis dikasih jatah langsung deh sok manis begini..."


"Aku serius, tidak gombal. Istriku memang cantik kok!" Noah menepis tangan Luna yang berada di pipinya. "Kayaknya anak kita perempuan deh, soalnya pas hamil kamu kelihatan tambah cantik."


"Apa hubungannya?" tanya Luna.


"Kan kata orang begitu, kalau ibunya kelihatan cantik saat mengandung...berarti anaknya perempuan. Tapi belum tentu juga sih, hanya mitos!" kata Noah.


"Berarti pas aku belum hamil, aku jelek begitu?!" Luna mengerucutkan bibirnya, kembali sensitif.


"Kan aku tidak ada bilang jelek. Aku bilang tambah cantik. Beda itu! Lagipula, sebelum kamu hamil...kamu itu sudah cantik. Aku saja yang lama sadarnya..."


"Habisnya sebelum kita nikah kamu masih bucin sama si Mak Lampir! Makanya baru sadar kalau aku cantik, ya kan?" goda Luna sambil menaik-naikkan alisnya.


"Tuh, mulai nih...kamu jangan mancing perkara. Nanti aku yang kena lagi, salah lagi..aku tidak ada bahas-bahas mantan lho. Kamu duluan ini!"


Luna terkekeh pelan. "Dulu aku itu sebenarnya udah naksir kamu Mas! Tapi kamunya kayak cuek gitu...sok-sokan enggak bisa move on!"


"Oh ya..jadi kamu duluan nih yang suka sama aku? Sejak kapan..?!" Noah menyatukan kedua alisnya.


Luna tampak berpikir sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari. "Hmm..mungkin pas pertama kali kamu ajakin aku liburan ke Singapore itu. Aku udah ada Sparks of Love-nya sama kamu. Eh tapi Mas malah bilang sesuatu yang bikin aku drop!"


"Aku bilang apa?"


"Bilang katanya enggak mau nikah lagi setelah cerai dari Mbak Malena, eh tapi ujung-ujungnya mau juga sama aku. Malah udah jadi nih bibitnya, bersarang di perut!" Luna mengelus perutnya dengan gerakan memutar.


"Habisnya kamu godain aku terus sih, aku jadi tidak kuat. Makanya aku tidak menolak perempuan cantik seperti ini!" Noah memajukan tubuhnya untuk mendekap Luna kemudian menggelitiki pinggangnya hingga gelak tawa meledak memenuhi seisi ruangan.


"Hihihi...ishh Mas...stoop...geli aku!" Luna menepuk-nepuk pundak Noah untuk menghentikan gerakan suaminya.


"Tidak mau, kamu nakal sih!" Noah semakin mendusel-duselkan kepalanya di ceruk leher sang istri.

__ADS_1


Luna belum berhenti tertawa karena Noah tidak mau melepaskan gelitikannya dan tetap terus menjahili Luna. Sampai akhirnya tawa tersebut terhenti ketika mereka mendengar suara interkom kamar berbunyi.


"Mas itu tuh..interkom-nya bunyi!" ucap Luna.


Noah akhirnya mengalah dan segera mengendurkan dekapannya pada Luna untuk menekan tombol interkom.


"Selamat pagi Tuan, mohon maaf saya mengganggu waktunya. Saya ingin memberitahu jika dibawah sedang ada tamu yang datang mencari Tuan."


"Siapa orangnya Bi?"


"Tamunya seorang wanita bernama Poppy, Tuan."


Mendengar nama Poppy disebut, sontak saja Luna terjengkat dari kasurnya dan segera bangkit untuk duduk. Noah menoleh sebentar dan melihat tatapan Luna yang nyalang.


"Ya sudah Bi, suruh tunggu dulu. Saya dan Luna akan turun sebentar lagi."


"Baik, Tuan."


Sambungan interkom terputus.


"Poppy..mau apa dia kesini Mas? Dia itu perempuan yang sempat mau dijodohkan sama kamu itu kan? Yang pernah ketemu sama kita di Singapore!" cerocos Luna.


"Sepertinya iya. Soalnya aku tidak ingat punya kenalan yang namanya Poppy selain dia."


"Mau ngapain dia kesini? Aneh deh..."


"Aku juga tidak tahu. Tanyakan saja sama orangnya nanti. Ayo kita pakai baju dan langsung keluar, tidak enak kalau tamu menunggu terlalu lama."


"Ngomong apa sih, orang aku biasa aja. Aku tidak ada apa-apa sama dia. Dia kan tamu, harus ditemui dulu dan ditanya maksud serta tujuannya datang untuk apa."


"Kan dulu pernah kencan sama Mbak Poppy katanya...berarti sempat suka dong kamu sama dia!"


"Tidak penting mau suka atau tidak. Itu semua hanya masa lalu. Kalaupun aku suka sama Poppy, ya pasti aku bakal nikahin dia setelah cerai dari Malena. Buktinya tidak kan, kamu yang aku nikahin!"


"Iya...iya..."


"Jangan cemberut begitu, senyum dong. Minta diciumm lagi kamu? Atau mau lanjut ronde yang kesekian kalinya?"


Luna mencubit pinggang Noah membuat ia meringis kesakitan. "Awww...sakit Lun!"


"Kamu sih ngeselin! Udah ah..aku mau bersih-bersih dulu, badan aku lengket nih! Harus mandi lagi!" Luna beringsut pergi dari kasur.


Sedang Noah hanya tertawa menatap punggung istrinya yang mulai menjauh dan masuk ke kamar mandi.


***


Noah memutuskan untuk keluar terlebih dahulu atas perintah Luna, sebab dia masih membutuhkan waktu lama untuk bebersih.


Dengan tampilan memakai kaos slim fit warna hitam yang menunjukkan bentuk tubuh kekarnya serta celana panjang training abu-abu, Noah tampak begitu gagah dan tampan berjalan melenggang ke ruang tamu.

__ADS_1


Wajah Noah terlihat glowing dan segar padahal belum sarapan karena tidak jadi tadi. Juniornya keburu bangun duluan tak tahan. Mungkin karena efek mendapat asupan pagi yang lebih menggoda ketimbang memakan sarapan, Noah terlihat sumringah.


"Poppy..." sapa Noah seraya mendekat.


Poppy yang dipanggil pun langsung berdiri dari sofa dan memancarkan senyuman lebarnya. "Hi Noah...apa kabar kamu?"


Keduanya saling berjabat tangan sebagai formalitas.


"Baik, kamu sendiri?"


"Aku baik Noah. Oh ya ini..aku bawa kue-kue pastry dan juga cake untuk kamu. Dimakan ya, enak lho ini rasanya...semoga suka!"


Noah tersenyum kikuk. "Terima kasih. Silahkan duduk Poppy," Noah mempersilahkan kembali.


Bersamaan dengan itu Bi Sumi datang membawa nampan berisikan secangkir teh aroma melati beserta kudapan pendampingnya. Noah kemudian meminta Bi Sumi untuk membawa masuk makanan yang dibawa oleh Poppy ke dalam.


"Oh ya, ada keperluan apa ya Poppy kamu datang kemari?" tanya Noah tanpa basa-basi.


"Hmm...kebiasaan deh, kamu selalu to the point kalau ngomong! Ngobrol santai dulu kenapa sih...tanya gimana kabarku kek, atau apa kesibukanku kek, ini langsung aja di gas!" Poppy terkekeh mendengarkan ucapannya sendiri.


"Bukan begitu, aku cuman terkejut saja kamu tiba-tiba datang. Kamu tahu alamatku dari mana?"


"Dari Om Jo. Papa dan Mamaku lagi ada di rumah orangtua kamu sekarang, biasalah main-main sekaligus membicarakan kerjasama bisnis. Berhubung kamu dan Kak Isabelle enggak ada di tempat, jadi aku minta deh alamat kamu karena aku mau mampir." Poppy mengedarkan pandangannya menatap seluruh sudut-sudut rumah Noah.


"Haduh...Daddy ini main sembarangan kasih alamatku ke orang lain," batin Noah kesal sendiri.


"By the way, bagus juga ya rumah kamu! Aku kaget lho pas Om Jo bilang kamu sudah pindah rumah dan enggak tinggal di apartemen lagi," ucap Luna.


"Ganti suasana." jawab Noah singkat.


Selang beberapa menit kemudian, Luna keluar dari kamar dan segera bergabung dengan Noah untuk menyambut tamunya di ruang tengah.


"Sayang...maaf ya nunggu lama," celetuk Luna yang sengaja memanggil Noah dengan sebutan sayang.


Noah membiarkannya saja, Luna bebas memanggilnya dengan sebutan apapun karena dia istrinya. Tapi sumpah Demi Tuhan, setiap kali Luna menyematkan kata sayang, tubuh Noah selalu bergetar hebat dan jantungnya berdegup kencang tak karuan. Entah kenapa Luna memiliki pengaruh yang kuat dibalik kata sayang.


Andai tidak ada tamu didepan mata, Noah pasti akan menggiring Luna kembali masuk ke kamar dan mengajaknya untuk kembali mengarungi surga dunia. Apalagi Luna terlihat cantik karena kembali mengenakan dress yang tadi dipakai saat sarapan.


"Ini ya tamunya..Mbak Poppy kan?" Luna mengulurkan tangannya untuk mengajak Poppy bersalaman.


Jujur saja, Poppy sedang mati gaya saat ini. Tak bisa ditampik jika dia begitu kaget melihat wanita yang ada didepannya ini berada rumah Noah. Poppy masih ingat betul siapa wanita itu, dia adalah pacarnya Noah. Setidaknya itulah yang dia ingat ketika pertemuan terakhir mereka beberapa bulan lalu.


"Ekhh--hhh..iy--iya, Poppy." Poppy balas menyalami Luna canggung. "Kamu Luna bukan? Kita pernah bertemu sebelumnya.."


"Ahh...Mbak Poppy ingat juga ternyata, iya waktu itu pernah ketemu sekali. Pas saya sama Mas Noah masih pacaran waktu itu, dan sekarang kita ketemu lagi pas saya udah jadi istrinya Mas Noah..." ucap Luna dengan nada sarkas terselubung.


Deghh....


Poppy tersentak kaget dalam hatinya. Istri? Noah sudah menikah lagi? Kenapa dia tidak tahu apa-apa?

__ADS_1


***


__ADS_2