
Noah
Sudah dua minggu ini, Luna benar-benar tidak bisa aku tinggal sejengkal pun. Selain karena pengaruh hormon kehamilan yang membuatnya manja padaku, ada juga faktor lain seperti orang tua kandungnya yang datang ke rumah tiba-tiba membuatnya meracau di setiap malam.
Ketika aku mencoba untuk membangunkan Luna dari bunga tidurnya, dia selalu saja terkejut bagaikan mendapat shock therapy. Peluh membasahi sekujur tubuhnya. Wajahnya berubah pias. Tangannya bergetar hebat ketakutan.
Jujur saja, aku begitu prihatin melihatnya dalam kondisi seperti ini. Dia sedang hamil. Aku khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada Luna dan bayi kami. Sebagai seorang suami, aku merasa gagal menjaga wanitaku sampai dia harus menanggung kesedihan ini. Luna tidak pernah mau cerita ataupun bersikap terbuka mengenai masa lalunya.
Sedikit yang kutahu tentang orang tua kandung Luna yang menelantarkannya waktu kecil. Luna bilang, dia pernah mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari orangtuanya berupa kekerasann baik dari segi fisik maupun verbal. Sisanya, aku tak tahu lagi apa yang sudah Luna alami sehingga trauma membekas begitu pekat dalam jiwanya.
Demi Tuhan, aku ingin sekali membalas sakit hati yang bercokol dalam hati istriku dan membuat orangtuanya menyesal karena pernah menyia-nyiakannya. Tapi Daddy melarang keras. Dia bilang, bagaimanapun juga Brahim dan Jelita masih berstatus sebagai orang tua kandung Luna. Mertuaku.
Luna akan semakin sedih jika orangtuanya kenapa-napa. Mulut bisa berbicara benci, tapi didalam hati..siapa yang tahu? Begitu katanya. Tapi sumpah, aku sungguh tidak tega dengan hidup Luna yang dulunya pasti penuh tekanan, ketakutan, dan kesendirian.
Beruntung Budhe Ririn dan Pakdhe Bimo maj berbesar hati menampungnya lalu merawat Luna hingga ia dewasa dan mandiri.
Melihat keadaan Luna yang rapuh seperti ini, sisi hatiku yang selembut kapas seperti sedang dicabik-cabikk. Aku sampai harus bekerja di rumah demi mendampingi Luna sampai dia stabil. Takkan kubiarkan dia terpuruk seorang diri.
Dan untungnya, Luna sudah membaik saat ini. Sifat cerianya perlahan kembali pada setelan lama. Aku senang dengan perkembangannya yang pesat. Luna memiliki keinginan yang tinggi untuk cepat pulih. Buktinya Luna sekarang bisa duduk sarapan di taman belakang bersamaku pagi ini.
"Luna...are you okay?" sedikit kugoyangkan tangannya agar Luna tidak melamun.
Luna menggeleng untuk menyadarkan dirinya yang termenung dan beralih menatapku, "Aku baik-baik aja kok Mas..kita makan yuk, aku udah lapar. Mas mau makan apa?"
"Scrambled eggs, beans, sama sosis panggang." aku menunjuk menu makanan yang berjejer rapi diatas meja.
"Okay, biar aku siapkan." Luna mengangkat tangannya untuk mengambil piring dan menyendokkan makanan yang ingin aku konsumsi.
Aku menahan tangan Luna sejenak sebelum ia mengambil alih terlalu jauh, "Aku bisa ambil sendiri Lun.."
"No, aku mau melayani Mas Noah hari ini. Kemarin-kemarin kamu terus kan yang berkorban banyak dengan meluangkan waktu untuk aku. Jadi sekarang gantian aku..."
"Hey, I don't like that sound!" aku menggeleng. "Aku tidak merasa berkorban apa-apa. It's basic human decency for a married couple. Kamu bukan beban buat aku, jangan pernah merasa seperti itu."
Aku tak suka jika Luna menganggap dirinya sebagai beban. Dia sering saja bilang begitu. Apalagi saat hamil begini, bawaannya selalu mellow dan suka sedih sendiri.
Luna tersenyum tipis dan menumpukkan telapak tangannya diatas tanganku. "Thank you so much... I'm glad that I have you Mas."
__ADS_1
"Don't mention it." aku mengerlingkan mata kananku untuk menggodanya. Sontak saja, Luna meresponnya dengan tertawa kecil.
"Tunggu-tunggu, itu kenapa porsi makan kamu sedikit sekali? Sedangkan porsi makan yang kamu ambil untukku sebanyak ini. Tidak adil!" protesku ketika melirik isi piring Luna yang tidak ada proteinnya sama sekali.
"Aku kenyang kalau banyak-banyak." Luna memundurkan tubuhnya untuk menyandar pada kursi.
"Kenyang gimana? Dari kemarin malam saja kamu belum makan, ayo dong makan yang banyak biar ada tenaga..nanti masuk angin."
"Salad aja udah cukup kenyang kok Mas.."
"Mana kenyang kalau sayuran doang, harus ada karbo dan proteinnya. Makan yang baik itu kalau mengikuti aturan 4 sehat 5 sempurna." aku menyodorkan piring makanan pada Luna. "Nih, tadi koki pribadi kita sudah masak roasted duck dan ada mashed potatoes. Daging bebeknya udah dipotong-potong dan lembut jadi gampang dikunyah."
"Tapi aku lagi enggak kepingin makan itu, mau sup asparagus aja deh yang didepan kamu!" balas Luna lagi.
"Sejak kapan kamu suka sup asparagus? Kamu kan paling anti sama seafood?!" tatapanku menyelidik kearah Luna.
"Perasaan kamu aja kali Mas, aku suka kok...ini sup nya enak karena koki kita dapat resep dari Mommy. Rasanya persis kayak buatan Mommy!" Luna berkilah.
Padahal aku tahu betul dia itu tidak suka makanan seafood. Dulu sebelum kami menikah, aku beberapa kali mengajaknya makan diluar dan dia selalu menolak makan seafood. Apa jangan-jangan ini yang namanya bawaan ibu hamil ya? Selera makannya jadi berubah total.
"Memang Mommy pernah buat sup asparagus untuk kamu?" tanyaku.
"Tidak masalah kamu mau makan seafood, asalkan kamu benar-benar tidak alergi!" aku memperingati.
"Aku enggak alergi kok, dulu itu enggak seberapa suka karena emang enek aja pas makan. Entah kenapa di kehamilanku kali ini rasanya pengen makan yang identik dengan seafood."
Tuh benar kan, dia aslinya tidak suka tapi tak mau mengaku. Biarkan saja, nanti dia malah ngambek dan mengajakku berdebat. Bisa gawat. Aku yang sekarang benar-benar definisi suami takut istri.
"Oh ya sudah terserah kamu, yang penting kamu makan yang banyak dan sehat..okay?"
Luna meraih tanganku dan mengecupnya sekilas. Cupp..
"Iya sayangku Mas Noah...."
Deghh...
Luna selalu saja membuatku salah tingkah. Panggilan sayangnya itu sering membuatku tidak kuat menahan diri. Rasanya ingin kubalas Luna dengan menggiringnya ke kamar, lalu kukunci pintunya, dan kuterkam istri gemasku ini dengan garang.
__ADS_1
Belum lagi aku dan Luna sudah lama sekali tidak berhubungan suami-istri. Kondisinya yang seringkali drop akhir-akhir ini membuatku harus bersabar menanti waktu yang tepat. Tak mungkin juga aku bersikap egois dan mementingkan kebutuhan laki-lakiku.
Pagi ini Luna terlihat cantik dengan balutan dress silky grey yang bertali spaghetti dan panjangnya diatas lutut.
"Mas kok diam aja sih? Kenapa..ada yang salah ya?" Luna memiringkan kepalanya penuh tanya. Netra indahnya menatapku lekat dengan ekspresi puppy eyes yang menggoda.
"Eng--enggak apa-apa kok!" ucapku dengan nada gugup. Jangan sampai aku ketahuan berfantasi yang tidak-tidak.
"Mas..." suara Luna semakin mendayu. "Enggak suka ya kalau telapak tangan kamu aku ciumm?" Luna mengerucutkan bibirnya.
Hihhh...gemas sekali ekspresinya. Aku berdehem menetralkan tenggorokanku yang mulai tercekat. Ini kenapa bisa tiba-tiba begini? Padahal tadi aku dan Luna sedang asyik menikmati sarapan pagi dengan santainya di patio taman belakang.
Namun sekarang, mendadak juniorku bangun dari tidurnya karena sikap manja Luna yang menjadi godaan pagi-pagi untukku.
"Mas lagi kepengen ya?"
Deghh...
Lagi dan lagi, aku terkejut dibuatnya. Luna dan jiwaku bagaikan telepati yang begitu klop sehingga dia bisa tahu apa keinginanku saat ini.
Aku tertawa meringis dan menunjukkan deretan gigi putihku pada Luna. "Hehehe.. kelihatan banget ya?"
"Iya Mas, kamu sampai gemetar dingin begitu tangannya. Nih keringatnya tuh banyak..padahal masih pagi dan baru mandi!" Luna mengusap peluh yang menetes di area pelipis dan dahiku dengan tisu.
"Kalau Mas mau, ayo lah...gas kita!" Luna menaik-naikkan alisnya seakan memberi isyarat lampu hijau.
Glekk...
Jakunku semakin naik turun tak menentu dibuatnya. "Bb-beneran Lun? Masih pagi lho ini.."
"Enggak masalah mau pagi, siang, atau malam. Aku sih ayo aja..sebelum aku berubah pikiran nih! Soalnya aku juga mau.." ucap Luna blak-blakan sambil mengelus tanganku perlahan.
"Ya sudah ayo kalau gitu!" tak butuh waktu lama aku segera berdiri dari tempat duduk dan beranjak dari sana.
Aku mengabaikan sarapan pagi kami dan mendadak selera makanku jadi hilang. Aku tak lagi lapar, tapi lapar karena Luna.
Kutarik tangan Luna untuk bangkit, kemudian kami berdua berjalan beriringan untuk masuk ke kamar dengan posisi tanganku yang melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
***