Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Berdamai dengan Masa Lalu (Part 1)


__ADS_3

Tamu yang datang ternyata Brahim dan Jelita. Pasangan suami-istri paruh baya itu nampaknya masih belum menyerah. Mereka masih memiliki keinginan sangat kuat untuk bisa duduk manis berbicara empat mata dengan putrinya. Berdamai dengan masa lalu.


Noah yang melihat ekspresi pucat istrinya dari samping bisa menyimpulkan kalau wanitanya itu pasti tidak berkenan untuk bertemu orangtua kandungnya.


Masa lalu diantara mereka terlalu suram dan meninggalkan bekas luka mendalam bagi Luna. Sehingga jangan salahkan Luna apabila dirinya masih alot untuk diajak berbaikan. Maka dari itu, Noah memerintahkan Sari untuk menyuruh kedua tamunya pulang saja.


"Kamu suruh Pak Brahim dan Ibu Jelita kembali ke rumahnya, Sari. Bilang pada mereka, Luna tidak bisa ditemui--"


"Mas..." Luna tiba-tiba memotong perkataan Noah seraya menggeleng. "Tamunya jangan disuruh pulang."


"Kenapa?" Noah menoleh cepat, menatap Luna dengan keheranan.


"Aku mau ketemu sama mereka," jawab Luna cepat.


Noah sontak membelalakkan kedua bola matanya. Pria itu kaget sekaget-kagetnya karena setelah sekian penolakan, baru ini istrinya itu mau bersedia menemui Brahim dan Jelita yang notabene adalah orang tua kandung Luna sendiri.


"Persilahkan kedua tamu kita masuk, Mbak Sari. Sekalian saya minta tolong juga untuk buatkan minum dan snack," pinta Luna.


Sari melirik Noah sebentar, memastikan apa perintah Nyonya mudanya ini harus dituruti atau tidak.


Masih segar dalam ingatan Sari pada saat dulu Brahim dan Jelita datang ke rumah, Nyonyanya itu mendadak pingsan sampai janin yang dikandungnya ikut lemah. Sari yang begitu sayang pada majikannya ini, tak mau kejadian buruk itu terulang lagi.


Noah yang seakan mengerti kode langsung berkata, "Tidak apa-apa Sari, lakukan saja perintah istri saya. Kamu bilang sama tamunya untuk menunggu kami sebentar. Saya masih perlu bicara dengan Luna."


Sari mengangguk paham dan segera pamit undur diri untuk memberikan Noah dan Luna privasi. "Baik Nyonya..Tuan..saya permisi ke dapur dulu."

__ADS_1


Pintu kamar kembali ditutup. Noah kini beralih memfokuskan pandangannya menatap Luna. "Kamu yakin, sayang?"


"Yakin, Mas. Aku butuh penyelesaian yang jelas. Lama kelamaan rasa penasaran dalam hatiku ini membuncah. Aku ingin tahu apa pembelaan mereka setelah meninggalkan aku selama belasan tahun lamanya," suara Luna terdengar lirih.


"Sebelum bertemu, alangkah baiknya kamu memantapkan hati terlebih dahulu. Aku tidak mau kamu nanti emosional..jadi drop terus pingsan kayak dulu. Aku tidak mau Lun.." Noah mengeratkan genggaman tangannya pada Luna.


"Aku sudah siap, Mas. Ini adalah waktu yang tepat. Mumpung aku lagi mau. Besok-besok kan bisa aja aku enggak mood ketemu mereka," sahut Luna.


"Beneran ya? Jangan sampai menyesal saat ketemu. Kalau kesal nantinya, jangan jadikan aku sasaran badmood-nya kamu berarti?! Sebentar lagi kita mau berangkat honeymoon, aku tidak mau merusak suasana hati kamu," jelas Noah.


"Iya Mas sungguh...udah fix, deal, resmi, dan official aku bersedia untuk ketemu dua orang itu," ujar Luna pasti untuk menghapus keraguan Noah.


"Oke kalau begitu, ayo langsung keluar! Atau kamu mau siap-siap dulu? Ganti baju atau gimana?" tanya Noah.


Barangkali Luna ingin memakai make-up tipis-tipis, Noah tidak masalah. Dia akan sabar menunggui Luna touch-up. Selama hamil Luna sangat suka bersolek. Paling tidak suka kalau penampilannya tidak terlihat cantik. Sekedar pergi ke minimarket terdekat saja Luna bahkan sampai heboh, itu sebabnya Noah menawari.


Kedua tangan Noah terangkat mencubit pelan pipi Luna yang mulai menggembul, "Enggak, kamu cantik kok..Luna-ku sayang. Mau pakai baju biasa atau tidak dipoles make-up, kamu tetap yang terbaik. Apalagi pas hamil gini, kecantikan kamu bertambah kali-kali lipat. Makin sayang jadinya!"


"Hmm gombal...paling-paling kamu merayu aja biar aku enggak ngambek!" Luna mengerucutkan bibirnya kebawah.


Noah berdecak sambil memiringkan kepalanya, "Tuh kan..kamu yang berburuk sangka lho ini! Padahal sudah aku bilang cantik..masih aja kurang!" keluhnya lagi.


Luna terkekeh dibuatnya. Senang sekali dia menjahili suaminya akhir-akhir ini. Noah kalau sedang dalam mode uring-uringan, bisa lama jinaknya.


"Sudahlah, ayo keluar. Tamunya nanti nunggu kelamaan kalau kita malah berdebat disini," sanggah Noah yang kemudian l

__ADS_1


***


"Luna..." lirih Brahim dan Jelita bersamaan.


Keduanya buru-buru bangkit dari sofa tempat mereka duduk selepas melihat orang yang ditunggu-tunggunya sejak tadi akhirnya muncul dari peradaban.


Sambil berdiri, Brahim dan Jelita fokus memandang ke arah putri semata wayang mereka yang semakin hari tampak semakin cantik dan berisi karena efek kehamilan.


Noah berinisiatif untuk membuka percakapan terlebih dahulu agar suasana tidak canggung, "Selamat datang kembali di kediaman kami Pak Brahim dan Ibu Jelita yang terhormat, maaf kami agak sedikit lama tadi."


"Tidak apa-apa nak Noah. Kami bisa maklum kok. Mendengar kalian mau bertemu dengan kami saja, rasa senangnya sudah luar biasa." ucap Brahim tersenyum tipis.


"Mari Pak..Bu..silahkan duduk kembali." Noah mempersilahkan mertuanya untuk lebih rileks, yang kemudian dibalas dengan anggukan.


Noah manatap wajah Luna sekilas. Menilik dari bahasa tubuhnya, Luna terkesan gugup. Lama tak bersua membuat hubungan yang terjalin antara mereka berubah kaku bagaikan kanebo kering.


"Bagaimana kabar kamu Luna? Papa lihat kamu tambah cantik dan kelihatan segar sekali. Kehidupan pernikahan kamu pasti bahagia sekali ya dengan Noah?"


"Tentu saja bahagia. Aku begitu dimanjakan Mas Noah saat tinggal disini, juga dikelilingi banyak orang baik. Disayang suami, disayang kakak ipar, bahkan disayang mertua melebihi orang tua kandung sendiri," cibir Luna dengan wajah datarnya yang sulit diartikan.


"Sayang, jangan begitu..." Noah menegur Luna agar istrinya itu lebih sopan lagi.


"Apa yang aku ucapkan tadi memang fakta, Mas. Memang aku disayang sama Mommy dan Daddy kamu kok!" debat Luna.


"Iya, tapi tidak begitu ngomongnya." Noah sedikit berbisik agar kedua orang didepannya ini tidak tersinggung.

__ADS_1


Tapi percuma saja, nasi sudah menjadi bubur. Mereka terlanjur dengar. Bohong rasanya jika Brahim dan Jelita tidak merasa tertohok. Kesalahan mereka di masa lampau masih belum dimaafkan oleh putri mereka sendiri.


***


__ADS_2