Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Perkara Sebutan Panggilan Nama


__ADS_3

"Nih kunci kamar kamu!"


Noah memberikan sebuah key card berwarna biru gelap bertuliskan 625, yang menunjukkan nomor kamar yang akan Luna tempati selama seminggu kedepan.


"Kamar kita bersebelahan, jadi kalau ada perlu apa-apa atau kamu butuh sesuatu..bisa langsung pencet bel kamar saya! Mengerti?"


"Iya Om, saya bukan anak kecil lagi! Kalau gitu sih udah tahu!" Luna sedikit tertawa cekikikan.


"Bagus deh, berarti saya enggak perlu repot-repot lagi kan untuk kasih kamu briefing selama disini?"


Luna mengangguk-angguk tersenyum.


"Dalam waktu satu jam lagi, saya akan ada pertemuan penting dengan klien seperti yang sudah saya ceritakan tadi. Saya harap kamu tidak keberatan kalau ditinggal sementara. Kamu kan mahir bahasa Inggris, jadi kalau mau pergi kemana-mana atau berkomunikasi dengan orang lain pasti tidak sulit bukan?"


"Iya Om gampang! Setelah ini mungkin saya mau berenang, kebetulan saya bawa bajunya!" Luna bersemangat.


Dari dulu, ia memang sangat suka berenang. Pernah waktu Luna masih kecil, dia diajak oleh Pakdhe dan Budhe nya berenang..dan setelah itu dia jadi ketagihan. Sang Pakdhe yang paham akan keponakannya, memutuskan untuk mengikutkan Luna les renang rutin setiap hari Minggu pagi.


"Okay, kamu bisa bebas sepuasnya bersenang-senang di hotel selama saya ada rapat penting. Kalau mau pesan layanan tinggal pesan, saya yang tanggung bill-nya! Pokoknya tetap kabari saya saja..biar kita sama-sama tenang," Noah berpesan.


"Siap Om!!" Luna membuat gerakan hormat menghadap Noah.


"Ini kartu SIM untuk ponsel kamu selama berada di Singapura. Pakai ini ya, karena kita sedang diluar negeri. Saya beli ini di bandara tadi," kata Noah.


"Habis gini langsung aku ganti deh!" jawab Luna.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau gitu saya masuk kamar dulu karena mau siap-siap," ucap Noah santai.


Noah hendak mempersiapkan diri dan mengganti pakaiannya dengan setelan kemeja rapi model slim fit yang telah disiapkan jauh-jauh hari olehnya.


Dia ingin terlihat rapi saat bertemu dengan klien penting, agar penampilannya dinilai naik oleh mereka. Hal ini bisa menjadi salah satu faktor agar proyek bisa goal secepatnya. Seorang klien tidak hanya menilai kinerjanya saja, tapi attitude dan look juga memiliki pengaruh signifikan.


"Ehh tunggu Om..."


Luna menghentikan langkah kaki Noah yang hendak beranjak dari tempatnya. Dia menahan tangan Noah dengan erat.


Noah menoleh, "Ada apa Lun?"


"Hmmm..maaf Om kalau saya sedikit ngelunjak..tapi boleh enggak kalau saya minta satu permintaan?" tanya Luna dengan mata berbinar-binarnya yang sarat akan maksud tersembunyi.


"Kamu mau apa memangnya?"


"Maksud kamu?" Noah memicingkan matanya bingung.


"Mulai detik ini, Om Noah saya panggil jadi Mas Noah..enggak apa-apa kan?" Luna memohon dengan puppy eyes-nya.


"Kenapa mau diganti? Bukannya kamu suka panggil-panggil saya dengan sebutan Om, katanya biar sama kayak Chloe!!"


"Ishhh..itu kan dulu Om, kalau sekarang beda.. sekarang kita negosiasi ulang!"


"Tapi kenapa tiba-tiba? Pasti ada maksud terselubung nih!" Noah curiga.

__ADS_1


Biasanya Luna tak mempersoalkan perihal panggilan sebutan nama. Namun kali ini, tidak ada angin atau hujan..dia ingin mengubahnya seolah-olah ada yang salah dengan sebutan itu.


"Biar kita kayak lebih dekat dan akrab aja! Lama kelamaan aneh juga kalau panggilnya Om Noah, kalau Mas Noah kan lebih terdengar lucu...sweet-sweet gimana gitu!" Luna tersenyum nakal. Niat hati dia ingin menggoda Noah.


Noah terdiam cukup lama dan mulai memikirkan permintaan Luna. Entah kenapa rasanya Noah tidak begitu suka kala nama panggilannya berganti menjadi Mas Noah, dia sudah kadung nyaman bila dipanggil Om oleh Luna walaupun diawal sempat menolaknya. Sekarang sudah berbeda vibes-nya.


"Kok diam saja Om? Gimana..boleh atau enggak?" Luna mendesak Noah meminta persetujuan. Sedangkan Noah menunjukkan ekspresi yang tak dapat dibaca.


Apa jangan-jangan Noah marah?


Takut-takut Noah kesal dan tidak setuju, sebab panggilan Mas memang agaknya terdengar sedikit lebih intim dan menunjukkan bahwa mereka begitu dekat.


"Terserah kamu saja lah..dari awal kan kamu selalu panggil-panggil saya dengan istilah yang sesuka hati kamu. Jadi buat apa pakai izin-izin segala..toh didepan orang tua saya dan Malena, kamu manggilnya Mas..jadi saya no problem!" jawab Noah jujur.


"Beneran boleh?"


"Iya. Mau kamu panggil Pak, Om, Mas..terserah! Semua bisa saya terima, asalkan istilahnya masih terdengar lumrah dan manusiawi," tegas Noah.


"Kalau saya panggil sayang...boleh?" Luna menaik-naikkan alisnya. Dia ingin menggoda duda yang fresh from the oven ini lebih dalam.


Wajah Noah mendadak merah seperti menahan malu. Baru saja, dia telah digombali dengan satu kalimat yang cukup simple sebenarnya, tapi mampu untuk menyentil hati.


Bisa-bisanya kedua pipinya merona hanya karena dirinya digoda oleh ABG tua. Bukan tua, lebih tepatnya proses menuju dewasa.


Noah jadi kelabakan dan tak mampu menjawab pertanyaan sederhana dari Luna. Dia terlanjur kaget, karena lupa bagaimana rasanya digombali. Saat masih bersama Malena, dia tak pernah mendapat gombalan receh seperti ini.

__ADS_1


***


Mohon kesediaannya untuk kakak-kakak atau teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.


__ADS_2