
"Jujur aja Noy, kamu sebenarnya belum sepenuhnya move on kan dari aku? Kita udah bersama selama 10 tahun dari mulai pacaran dan menikah..."
"Perjalanan kita sudah begitu panjang, banyak hal yang kita lalui dan perjuangkan bersama. Apa kamu tidak benar-benar bisa memaafkanku? Kasih kesempatan untukku, paling enggak aku perlu bicara sama kamu..15 menit aja!"
"Justru itu Mal, justru karena kita sudah lama bersama..10 tahun lho," Noah mengangkat jari-jarinya membentuk angka 10. "Bisa-bisanya kamu tega mengkhianatiku dengan Andre! Kamu menodai pernikahan kita dengan perselingkuhan murahan itu, dan dengan gampangnya kamu minta kesempatan?" lanjut Noah.
Cairan bening di pelupuk mata Malena mulai terlihat, "Aku mengaku salah Noy, aku hanya terbawa suasana saat itu. A--ak-aku dan Andre hanya..."
"Hanya apa? Hanya berciuman saja? Menurutku itu tetap fatal...mau kamu sudah tidur sama dia kek, mau kamu berciuman sama dia kek, aku udah enggak perduli lagi!"
"Apa karena bocah ingusan ini, kamu jadi berpaling dari aku?!" Malena menunjuk-nunjuk wajah Luna.
Merasa dirinya ikut terseret atas problematika yang sebenarnya bukan urusannya, Luna tak terima begitu saja. Seenaknya Mak Lampir ini berani mengatainya bocah ingusan!
"Heh Tante Lampir! Maling teriak maling, jangan asal main nyalahin orang dong! Anda itu punya gangguan telinga apa gimana sih? Udah jelas-jelas ditolak, masih aja ngejar-ngejar! Balik sana sama selingkuhan sendiri!" pekik Luna keras.
Untungnya pelanggan di cafe tersebut tidak terlalu banyak dan masih tergolong sepi pengunjung, sehingga percekcokan yang tercipta oleh mereka tidak mencolok.
"Kamu jangan ikut campur ya! Sadar diri, tahu sopan santun enggak sih?" Malena menatap Luna nyalang. Emosinya mendidih hingga wajahnya memerah.
Luna membalas, "Sendirinya enggak ngaca ya? Situ baru datang udah marah-marah, ganggu ketenangan pagi-pagi aja! Masih jam 8 nih, ngopi dulu deh biar adem tuh kepala!"
"Ngelunjak ya kamu!" Malena menghentakkan kakinya kesal. "Apa hebatnya sih dia daripada aku Noy? Kamu enggak bercanda kan pacaran sama bocah ini? Dia kayak bukan tipe kamu, perempuan udik begini!" ejek Malena yang menatap Luna aneh.
Tidak mau kalah, Luna hendak menyahuti perkataan pedas Malena yang memandangnya rendah. Dalam otaknya, Luna sudah merangkai kata-kata pedas yang mampu menohok hati Malena.
"Mau tahu hebatnya saya? Saya jabarin nih, saya itu daun muda, lebih hot..lebih menggoda dan bohay dari Mak Lampir kayak situ! Bocah-bocah begini, servis saya memuaskan!" Luna memancing-mancing di air keruh.
Malena berkacak pinggang dan tertawa sinis, "Bangga kamu jadi sugar baby?"
__ADS_1
"Why not? Bangga dong..aku disenengin sama duda tampan macam Mas Noah. Dibelanjakan, disayang-sayang sama keluarga Mas Noah, dan lebih-lebih..sebentar lagi aku mau diajak liburan ke Singapura. Ya kan mas?" Luna tersenyum manis dan mengelus-elus lengan kokoh Noah.
Mulut Malena menganga lebar. Kedua bola matanya melotot seakan-akan hampir copot. Dia menolak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Noah mengajak bocah ingusan ini ke luar negeri? Yang paling penting, kenapa dengan mudahnya Noah bisa pergi liburan bersama perempuan lain?
Selama masa pernikahan dulu, Noah dan Malena sama-sama begitu sibuk sehingga susah memiliki waktu bersama. Apalagi dalam 2 tahun terakhir, hubungan mereka memburuk dan datar-datar saja. Total liburan bersama mereka bisa dihitung dengan jari.
Noah juga bukan tipikal orang yang suka bepergian kecuali ada perjalanan bisnis. Tiap kali ada wacana liburan, selalu tidak pernah terealisasi. Noah kerap kali berhalangan entah kenapa. Makanya ketika anniversary, mereka lebih memilih menghabiskan waktu di restoran ternama untuk fine dining atau sekedar staycation di hotel menghabiskan malam panas bersama.
"Noy, hentikan omong kosong ini! Dia bercanda kan? Kamu mana mungkin pergi liburan sama dia!"
"Kenyataannya memang begitu, apa yang dikatakan Luna benar..saya memang mengajaknya liburan ke Singapura. Saya ada pekerjaan disana, sekalian saja mengajak kekasih tercinta pergi bersama. Kerjaan lancar, pacaran pun lancar. Sambil menyelam minum air.."
Noah sedikit puas melihat Malena kelabakan. Sudah dipastikan kalau dia 100% cemburu. Biasanya Malena selalu terlihat percaya diri dan tak pernah cemburu bila Noah berdekatan dengan perempuan lain.
Alasannya, Malena perempuan-perempuan yang menggoda Noah tersebut tidak selevel dengannya. Malena percaya diri dia lebih unggul sehingga Noah tak mungkin goyah hatinya, dan itu memang kenyataan karena Noah tak pernah selingkuh darinya selama mereka bersama.
"Udahlah Mas, enggak usah diladenin ini Tante Lampir..aku enggak suka dekat-dekat sama dia, gerah disini! Mendingan pergi aja, udah kenyang juga sarapannya. Kita kan harus ke kantor imigrasi untuk urus paspor ku Mas! Lusa kan berangkat," Luna berakting merengek manja.
"Ayo sayang...kita pergi.." Noah menggandeng tangan Luna untuk pergi ke kasir terlebih dahulu. Setelah selesai membayar, keduanya langsung melengos pergi meninggalkan Malena yang masih bungkam di tempat.
***
"Masih enggak berubah juga ya Om mantan istrinya, nyolot nya enggak ketulungan! Ngakunya aja perempuan berkelas, tapi kelakuan julid juga!"
"Huhhh...." Noah menghembuskan nafasnya kasar. Ini kali kedua dia melihat mantan istrinya berseteru dengan Luna.
"Om pasti stress ya...maaf ya Om tadi saya lancang mengaku-ngaku lagi jadi pacar Om. Awalnya enggak bermaksud ikut campur, tapi dianya bikin emosi!" keluh Luna yang melipat tangannya di dada.
"Kamu hebat bisa bikin dia mati gaya dan cemburu!" puji Noah.
__ADS_1
"Emangnya sebelumnya enggak pernah ada yang membuatnya begitu Om?"
"Malena itu terlalu menjunjung tinggi gengsinya. Ego nya sangat besar dan selalu merasa superior. Sebenarnya tidak sekali-dua kali saya digosipkan dengan banyak wanita di kalangan bisnis. Dan Malena tidak pernah terganggu atau cemburu. Saya senang sih, itu tandanya Malena percaya. Tapi disisi lain, saya malah curiga sama Malena kalau dia tidak sayang."
"Enggak cemburu bukan berarti enggak sayang sih Om, anggapan yang salah tuh...tiap orang punya caranya sendiri untuk bersikap protektif dengan pasangannya," sanggah Luna.
"Iya saya paham, makanya saya 50:50 kan! Hebatnya, Malena malah cemburu lihat kamu sama saya pas sandiwara tadi,"
"Segitu meyakinkannya ya Om kita pura-pura pacaran? Dari raut wajahnya emang kelihatan kalau dia ngamuk, iri campur cemburu. Tapi harusnya dia enggak ada hak lagi dong, kan udah berpisah. Mana udah balik sama selingkuhannya lagi!"
Noah memalingkan wajahnya dan memasang seat-belt, "Sudahlah jangan bahas dia terus, saya malas mendengarnya."
"Maap Om.." Luna meringis dan mengatupkan kedua tangannya mengisyaratkan permohonan maaf.
"Santai, lebih baik membahas soal Singapura. Gimana jadinya..kamu mau ikut kan? Tadi secara enggak langsung udah bilang iya lho ke Malena?!" Noah melirik Luna. Masih segar dalam ingatan Noah kalau Luna mau pergi bersamanya ke negera tetangga.
"Tapi Om, kalau kita jadi pergi berdua atau enggak, kan enggak mungkin ketahuan Om?!"
"Lun, saya kenal betul mantan istri saya. Kamu dengar sendiri kan pengakuan dia tadi, saya itu memang enggak suka liburan atau bepergian. Dulu saja Malena jarang saya ajak liburan, itu sebabnya dia kaget kamu ikut saya ke Singapura. Kalau kamu batal ikut, dia akan curiga..dia bisa dengan mudahnya cari-cari info. Nanti pasti dia cari bukti dan ganggu kamu lagi!"
"Masuk akal sih, Om sama mantan istri kan sama-sama dari keluarga berada. Apa-apa pasti cepat!"
Noah tertawa kecil, "Jadi gimana? Saya anggap, kamu terima tawaran saya..?"
Luna seketika terdiam dan memainkan jari-jarinya sambil menggigit kecil bibir bawahnya. Apakah dia terima saja ya tawaran Noah? Mana sudah terlanjur pamer dengan Malena lagi..
***
Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.
__ADS_1