
"Aku jahat ya?" celetuk Noah tiba-tiba.
Luna mengernyitkan dahinya kebingungan, dia tidak mengerti mengapa Noah bertanya seperti itu. "Jahat apa? Mas enggak jahat kok.."
"Kamu bohong lagi." sahut Noah tegas. "Aku bisa melihat jelas kesedihan di mata kamu. Dan itu semua pasti gara-gara aku kan?"
"Apa sih Mas, ngomongnya kok melantur begitu? Udah ahh..aku mau tiduran lagi. Kamu buruan mandi ya, bau asem nih ketiaknya!" canda Luna untuk mengalihkan perhatian.
Sebenarnya badan Noah tidak bau sama sekali meskipun ia belum mandi. Parfumnya saja menggunakan brand terkenal dengan harga mahal, tentunya akan tahan seharian.
Hanya saja Luna tidak memiliki kekuatan untuk bertatap-tatapan dengan suaminya secara intens seperti ini. Dia takut tak bisa menahan diri dan berujung emosional.
Luna hendak beranjak dari pangkuan sang suami namun Noah menahan pinggangnya erat. "Mau kemana? Aku belum selesai ngomongnya. Duduk sini saja!"
Terpaksa Luna mengalah walaupun rasa kantuk telah menyerangnya. "Kamu ini maunya apa sih Mas?"
"Kamu belum jawab pertanyaan aku."
"Pertanyaan yang mana?"
"Yang tadi itu. Aku jahat ya? Aku kan yang bikin kamu sedih?" Noah tertunduk lesu. "Aku bahkan sampai tidak tahu kamu lagi ngidam apa. Kamu pun juga tidak cerita ke aku karena sudah terlanjur kecewa bukan? Kecewa karena setiap kali kamu ngidam, aku tak pernah mewujudkan keinginan kamu."
Sebuah tawaan yang masam keluar dari mulut Noah. "Aku merasa menjadi suami yang tidak berguna karena aku tak bisa memenuhi hal sepele yang seharusnya mudah dilakukan."
Luna menggelengkan kepalanya, kemudian menangkup wajah Noah. "Jangan gitu Mas, kamu enggak jahat kok! Kamu berharga untuk aku." ia tak mau suaminya merasa kecil hati.
"Tapi kenyataannya aku memang jahat, Lun. Aku sudah jahat sama kamu,"Noah meraih tangan Luna yang sedang mengusap-usap pipinya. "Maafin aku ya, karena terlalu cuek sama kamu. Pekerjaan di kantor akhir-akhir ini sangat padat, menyebabkan aku jarang punya waktu berdua sama kamu. Sama anak kita juga."
Luna menghela nafasnya. "Enggak masalah, Mas. Kamu memang lagi kerja. Wajar kalau sibuk. Toh juga kamu kerja cari uang buat aku dan anak kita. It's okay..I'm fine with it."
"Soal ngidam itu juga bukan perkara yang serius. Enggak semua keinginan aku harus tercapai. Ya memang sesekali rasa ingin itu ada. Tapi aku kan enggak mungkin bersikap egois. Walaupun kamu enggak ada, aku bisa minta tolong sama karyawan-karyawan kita di rumah. Mereka selalu siap sedia untuk melayani semua kebutuhan ngidam aku!" terang Luna panjang lebar.
__ADS_1
"Tuh kan, bahkan kamu saja bergantung dengan mereka! Terlihat sekali disini siapa yang paling apatis? Aku Lun..aku.." lirih Noah.
"Dan ini bukan hanya tentang ngidam aja, Lun." Noah menjeda ucapannya sejenak. "Tapi ini juga berkaitan dengan masalah kita yang menumpuk belakangan waktu."
Mata Noah berkaca-kaca, sebagai tanda bukti jika ia merasa bersalah sekali karena telah mengabaikan sang istri.
"Aku membuat kesalahan besar karena masih berhubungan dengan masa laluku. Dan untuk itu aku minta maaf. I should've handled it better. Maaf karena aku terbawa suasana saat itu."
"Mas...aku enggak apa-apa..." Luna melingkarkan lengannya pada leher Noah.
"Please, jangan bilang tidak apa-apa. Aku akan semakin merasa bersalah Luna!" Noah menggeleng cepat. "Tak seharusnya aku perduli lagi sama mantan istriku itu. Tak seharusnya aku memberikan atensi pada dia meskipun dia sedang sakit sekarang."
"Aku mohon, Mas.. kita lupakan saja soal kemarin. Aku benar-benar tidak ingin membahasnya."
"Aku tidak bisa. Rasa bersalah itu masih menghantuiku. Aku tahu semua curhatan kamu sama Bibi dan Mbak. Aku tahu semua pembicaraan kamu dengan Kak Isabelle di telepon tadi. Aku dengar semuanya, Lun. Dan itu membuat aku sedih. Aku pernah gagal dalam membina rumah tangga Lun, dan seharusnya aku berbenah diri supaya pernikahan keduaku enggak gagal juga. Tapi lagi-lagi, aku melakukan blunder." Noah semakin mengoceh, pembicaraannya semakin melebar kemana-mana.
"Mas..udah dong!" Luna menarik tubuh Noah untuk dipeluknya. "Udah ya...jangan sedih begini. Aku udah maafin kamu."
Noah meregangkan pelukan mereka kemudian berkata, "Mulai besok aku akan berhenti kerja."
"Mas..." Luna merasa Noah tidak perlu melakukan ini.
"No, Luna. Aku sudah mantap dengan keputusan ini. Lagipula cuman sementara waktu saja."
"Sampai kapan?" tanya Luna.
"Sampai keberangkatan kita ke Yunani. Aku akan libur demi kamu. Toh juga aku masih bisa kerja di rumah. Biar Bagas sama Siska yang handle pekerjaan aku di kantor. Nanti aku akan kasih mereka bonus!" kata Noah.
"Kk--kita beneran jadi pergi ke Yunani?" agaknya Luna sedikit shock. Dia pikir rencana itu hanya wacana semata.
"Jadi sayang...kita jadi pergi kesana." disibaknya helaian anak rambut Luna menjuntai ke belakang.
__ADS_1
"Berapa lama Mas?"
"Dua minggu kita di Yunani, dan dua minggu lagi kita ke Belanda," ucap Noah dengan entengnya.
"Ke Belanda, Mas? Untuk apa?" Luna menyipitkan matanya keheranan. Kemarin dia hanya mengungkapkan pada Noah untuk berlibur ke Yunani saja padahal.
Noah tersenyum tipis. "Kamu lupa ya? Kan kamu sendiri yang minta sama aku pergi kesana. Katanya kamu mau lihat Bunga Tulip bermekaran di Keukenhof Garden? Bulan depan kan sudah memasuki musim semi di Lisse, timingnya sudah pas."
Luna melengkungkan bibirnya kebawah. Ia merasa terharu karena Noah masih ingat akan ngidam tertundanya dulu.
Memang benar adanya, Luna sempat menyinggung kalau dia ingin sekali pergi mengunjungi taman Bunga Tulip di Lisse. Dan Noah akan mewujudkan hal itu.
Padahal permintaan iseng itu diutarakan Luna pada saat awal-awal kehamilannya. Saking lamanya, ia sampai lupa pernah punya wishlist pergi ke Belanda.
"Hikss..Mas..kk--kamu masih ingat?" Luna tak kuasa menahan isak tangis harunya. "Aku kira kamu lupa. Aku aja lupa..kok kamu bisa ingat?"
"Jangan nangis dong...kita mau liburan ini. Kamu harus senyum. Setidaknya tunjukkan pada orang-orang diluar sana kalau kamu bisa hidup bahagia sama aku, meskipun suamimu ini masih perlu banyak belajar."
Luna menepuk bahu Noah pelan." Ishh..apa sih Mas, aku bahagia kok! Kamu jangan ngawur ngomongnya!" Luna kemudian mengusap air matanya.
"Pokoknya janji sama aku. Mulai sekarang jangan main kucing-kucingan lagi. Kalau kamu ngidam sesuatu, bilang sama aku. Pingin makan apa bilang, pingin barang apa bilang, pingin liburan juga kamu harus bilang. Semua yang berkaitan dengan kamu, lapor wajib ke aku. Mengerti?"
Luna mengangkat tangannya membentuk gerakan hormat. "Siap Bos!"
Gemas melihat wajah imut sang istri, Noah lanjut menarik tengkuk leher Luna seraya melumatt bibir wanitanya itu dengan ganas. Bibir keduanya sudah saling bertaut, saling mencecap satu sama lain.
Tangan Noah beranjak turun ke bawah untuk menyentuh kedua gunung kembar milik Luna yang semakin hari semakin bulat dan padat semenjak hamil.
Tak ada penolakan dari sisi Luna, dia justru menyukai kegiatan nakalnya ini bersama sang suami. Luna justru semakin gencar mengeluarkan suara desahann manja yang membangkitkan jiwa kelaki-lakian Noah.
Noah kemudian mengangkat tubuh Luna untuk berbaring di ranjang. Pakaian yang dikenakan mereka mendadak tanggal begitu saja. Dan ya, malam ini kedua pasutri tersebut akan melewati malam panas dan mereguk kenikmatan dunia bersama.
__ADS_1
***