Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Mantan Menelpon


__ADS_3

Noah


"Siapa Mas yang telepon?" tanya Luna menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Malena." ungkapku jujur.


Aku tidak ingin menyembunyikan apapun dari Luna. Sekarang dia adalah istriku, dia berhak tahu siapa saja aku berhubungan.


Luna terjengkat. "Ngapain lagi dia Mas?"


"Mana aku tahu, Lun!"


Aku memang sungguh-sungguh tidak tahu ada gerangan apa Malena menelponku pagi-pagi seperti ini.


"Ya sudah sana, buruan diangkat.." ucap Luna dengan raut wajah tak suka.


"Tunggu sebentar ya .." aku menurunkan Luna dari pangkuanku dan beranjak dari kasur untuk menuju balkon.


Tak lupa, aku juga memakai celana bokser terlebih dahulu sebelum keluar. Setelahnya aku menekan tombol hijau untuk menerima panggilan dari mantan istriku itu.


📱


"Halo.."


^^^"Halo Noah? Kamu apa kabar..."^^^


"Jangan berbasa-basi. Cepat katakan, ada urusan apa kamu menelponku?"


^^^"Aku cuman mau menanyakan kabar kamu aja kok, kamu baik-baik saja kan? Aku kangen..."^^^


"Rasanya kalimat seperti itu tidak lagi pantas untuk keluar dari mulutmu, Mal. Kabarku baik jika itu yang kamu ingin ketahui. Sudah dulu...aku matikan telepon--"


^^^"Jj--jjangan!!!!"^^^


"Maumu itu apa sih? Kamu sangat mengganggu pagiku!"


^^^"Noy..apa benar kamu sudah menikah lagi?"^^^


"Bukan urusan kamu. Sudah ya.."


^^^"Aku mohon jawab aku Noy! Aku sudah mendengar gosip dari orang-orang dan melihat berita di beberapa media sosial, mereka bilang kamu sudah menikah lagi. Aku cuman mau mengkonfirmasi kebenarannya...jadi tolong jawab, apa kamu sudah menikah?"^^^


"Iya, aku sudah menikah."


Hening.


Tak ada suara yang terdengar lagi dari telepon. Apakah Malena sedang terkejut di luar sana?


"Mal?"


Tanyaku memastikan apakah Malena masih berada di sambungan telepon.


^^^"Kk--kkamu enggak bercanda kan Noy? Kamu serius udah married lagi? Kenapa aku enggak tahu apa-apa?"^^^


Malena tak percaya kalau aku menikah kemarin. Bukan salahnya juga, aku memang sengaja tak mengundangnya ke acara pernikahanku untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Bisa-bisa aku didamprat oleh Mommy dan Daddy kalau mengundangnya.


"Kapan aku pernah bermain-main. Aku memang sudah resmi menikah lagi, acaranya kemarin."

__ADS_1


^^^"Kamu tidak mengundangku?"^^^


"Acaranya private dan hanya keluarga dan kerabat terdekat yang datang."


^^^"Kenapa kamu tega melakukan ini padaku Noy? Kamu jahat..."^^^


Aku menghembuskan nafasku kasar.


"Jahat? Kita sudah bercerai Mal, hubungan kita sudah berakhir. Aku bebas menjalani hubungan dengan siapapun, bahkan menikah lagi dengan orang lain...itu juga sah-sah saja! Begitpun dengan kamu, kamu bebas berhubungan sama Andre.."


^^^"Aku udah lama pisah sama Andre. Aku cuman mau kamu Noy! Kamu nikah sama siapa sih? Pasti sama gadis kampung itu kan?"^^^


"Jaga bicara kamu ya! Dia tidak kampungan! Luna adalah perempuan yang baik-baik. Justru kamu yang kampungan, main seenaknya menghina orang. Sudahlah, percuma kita bicara. Hasilnya itu sia-sia.."


^^^"Noy please, kita ketemuan yuk...aku perlu bicara sama kamu! Please..."^^^


"Sudah dulu Mal, aku tutup teleponnya. Selamat pagi."


Aku langsung mematikan telepon secara sepihak. Aku benar-benar sudah malas meladeni Malena. Aku ingin move on dan menjalani hidupku yang baru. Aku juga tidak suka dia memandang Luna sebelah mata.


Tapi entah kenapa, bayangan Malena masih menghantuiku sampai detik ini. Dia selalu saja menarikku untuk kembali masuk ke kehidupannya lagi dan lagi.


Sebelum menikah dengan Luna, dia kerap kali menerorku dengan telepon setiap hari. Mendatangiku di perusahaan dan main masuk ke apartemenku sesuka hatinya tanpa permisi. Dan sekarang, dia kembali mendesakku untuk mengajak bertemu.


Terkadang aku membenci diriku yang tidak bisa bersikap tegas pada Malena dan memberikannya ruang. Tapi aku harus berubah. Terlebih sekarang ada Luna, istri baruku. Ada perasaan dan hati yang harus aku jaga.


Ketika aku kembali masuk ke dalam, aku tak menemukan Luna disana. Apa mungkin dia ada di kamar mandi? Yang kulihat hanyalah sebuah bed cover yang menggumpal dan sprei putih yang terkena noda darah.


Ya, noda darah. Noda itu mengingatkanku pada malam penyatuanku dan Luna kemarin.


Tokkk...tokkk


"Iya Mas....aku gerah, badanku rasanya lengket makanya aku mandi!" teriak Luna dari dalam.


"Boleh aku masuk?" tanyaku lagi.


Meskipun aku dan Luna sudah sah sebagai pasutri, aku tidak mau membuat Luna canggung atau merasa tidak nyaman karena aku main nyelonong masuk begitu saja.


"Masuk aja Mas!" sahut Luna.


Mendapat lampu hijau dari Luna, aku segera masuk ke dalam. Luna rupanya sedang berendam di dalam bathtub.


"Mas, maaf ya kalau aku lancang pakai shampoo dan sabun kamu tanpa izin..aku soalnya udah enggak kuat pengen mandi! Kalau sikat gigi, aku pakai yang dari hotel, tapi pasta giginya minta punya kamu." kata Luna polos.


"Bukan masalah. Anton juga belum datang dari tadi, lama sekali dia disuruh nganter kopermu..."


"Mungkin masih di jalan Mas, jarak villa ke hotel ini kan lumayan jauh. Belum lagi kalau kena macet..."


Aku mengangguk setuju.


"Mas mau sekalian mandi? Sini masuk, berendam sama aku!" ajak Luna tak malu-malu.


"Okay." aku mengiyakannya.


Setelah menanggalkan celanaku, aku segera masuk ke dalam bathtub dengan posisi duduk di belakang Luna yang memunggungiku.


"Mas tadi ngomong apa aja sama Malena?" tanya Luna sembari menyandarkan tubuhnya di bagian dadaaku.

__ADS_1


"Bukan apa-apa kok, dia hanya tanya soal kabar pernikahan kita benar atau tidak. Dia kan kemarin tidak diundang, cuman lihat di berita," jelasku.


"Mbak Malena masih ngejar-ngejar kamu ya Mas, dia belum move on. Padahal udah sekitar 7-8 bulanan kalian pisah!" celetuk Luna.


"Entahlah, aku juga bingung maunya dia itu apa. Dia yang memilih berkhianat, dia juga yang menyesal. Sekarang menangis-nangis minta bertemu."


"Terus, kamu iyain Mas? Kamu setuju diajakin Mak Lampir itu ketemuan?" Luna menengok padaku.


Aku menahan tawaku kala Luna memanggil Malena dengan sebutan Mak Lampir.


"Ya tidak lah Lun, aku masih punya akal sehat! Tentu aku menolaknya. Orang kita mau honeymoon, ngapain juga ketemu dia!" aku mencubit gemas pipinya.


"Ya kali aja, kamu luluh gitu sama dia...secara dia kan mantan istri kamu Mas! Apalagi kamu juga sama sulit move on kan?" Luna mengerucutkan bibirnya tanda cemburu.


Aku senang melihatnya cemburu. Itu berarti Luna memiliki rasa sayang padaku.


"Kamu cemburu ya?" aku menoel hidung Luna.


"Iyalah..jelas cemburu, siapa coba yang suka kalau suaminya berhubungan sama mantan!" ketus Luna.


Tak kusangka, istri kecilku ini ternyata tidak gengsi mengungkapkan kecemburuannya. Dia begitu blak-blakan. Aku pikir Luna akan menjaga image-nya karena gengsi.


"Sudah jangan marah-marah, aku kan tidak ketemu sama dia. Buktinya aku disini sama kamu. Jangan cemberut begitu Lun, minta dicium ya biar tidak ngambek?"


Cupp...


Aku mencium pipi Luna dari belakang, membuatnya tersenyum manis.


"Nah gitu dong, senyum...aku suka lihatnya. Jangan dipikirkan soal yang lain, yang terpenting itu kita. Nanti malam kan mau berangkat honeymoon.." aku memeluk Luna dan mendaratkan kecupan di rambutnya.


"Iya deh iya...Mas Noah jago banget kalau merayu gini! Bikin aku makin cinta!" ucap Luna.


"Jadi kamu udah cinta nih sama aku?" tanyaku.


Namun Luna menaikkan bahunya tak menjawab. Sifat jahilku mulai keluar, aku menggelitik pinggang Luna bertubi-tubi hingga tawanya meledak.


"Stop Mas...geli...hihiih.." Luna terkekeh.


"Siapa suruh kamu tidak mau menjawab? Gimana, udah cinta belum sama aku?" aku masih terus menggelitik Luna.


"Enggak adil dong, Mas Noah juga enggak bilang soal cinta ke aku..jadi ngapain dijawab!" jawabnya.


Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga Luna. Kami berdua baru saja menikah dan menikmati malam pertama kemarin. Meskipun kami baik-baik saja, hubungan kami berdua belum ada perkembangan yang signifikan. Masih dalam tahap awal.


Aku berhenti menggelitik Luna dan meraih dagunya untuk kucium bibirnya. Berada berdekatan dengan Luna dengan tubuh kami yang sama-sama polos seperti ini membuat jiwa lelakiku terpancing.


Luna membalas ciumanku dan berbalik mengalungkan tangannya di leherku. Dia merangkak naik ke pangkuanku dan mengeratkan dekapannya.


Aku menahan tengkuk leher Luna dan merapatkan bibir kami agar ciumannya terasa lebih dalam. Tanganku kemudian turun untuk meremaas gunung kembar milik Luna yang terasa pas di tanganku.


Dan akhirnya, di dalam bathtub dengan rendaman air hangat, kami berdua mengulang kegiatan panas yang semalam kami lakukan.


***


VISUAL NOAH & LUNA


__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊


Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.


__ADS_2