Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Takkan Ada Hati yang Lain


__ADS_3

Kemarin, Noah memutuskan untuk cuti sementara waktu dari hiruk-pikuknya suasana kantor. Dan di hari Kamis yang cerah ini, Noah bisa menemani sang istri pergi ke Mall untuk berbelanja keperluan mereka selama babymoon nanti.


"Setelah ini mau kemana lagi?" tanya Noah saat keduanya berada di kasir untuk melakukan transaksi pembayaran.


"Cari makan aja yuk, Mas! Aku lapar.." Luna langsung bergelayut manja pada lengan kekar Noah.


"Boleh. Kamu mau makan apa?" tanya Noah.


Luna tampak berpikir sejenak sebelum berujar, "Makan pizza enak deh kayaknya!"


Noah berdecak tak suka, "No..itu junk food. Tidak boleh sering-sering makannya. Kamu sudah janji sama aku!" larang Noah.


Luna memanyunkan bibirnya. "Hmmm...apa dong berarti? Aku bingung Mas! Enggak kepingin makan nasi soalnya..."


"Pasta mau? Di lantai 3 ada restoran Italia yang terkenal enak. Kak Steven pernah kasih rekomendasi ke aku." tawar Noah.


"Bosan, Mas. Di rumah juga aku sama Mbak biasa masak itu. Udah semingguan ini malah!" rengek Luna.


Noah kemudian menyarankan, "Kalau begitu makan Indonesian food saja! Itu jelas aman dikonsumsi karena sudah pasti matang. Kamu lagi hamil, tidak boleh makan yang mentah-mentah seperti sushi dan sashimi. Steak juga jangan dulu, karena biasanya kamu suka tingkat kematangan yang medium. Itu kan tidak boleh."


"Iya deh iya.." Luna mengalah. Sebenarnya dia sendiri juga tidak terlalu suka olahan makanan Jepang. Lidahnya tak terlalu cocok.


Lain lagi dengan steak, Luna sangat suka dengan makanan itu. Tapi dengan catatan, steak-nya harus dimasak dengan tingkat kematangan medium. Ditambah dengan warm mashed potatoes, Luna sudah bisa membayangkan betapa lezatnya itu.


Kalau steak yang kematangannya well done, kebetulan Luna kurang begitu suka. Tapi berhubung ia sedang hamil, tentunya tak bisa sembarangan memakan makanan yang olahannya tidak matang.


Keluar dari butik pakaian, Noah kembali menanyai Luna sambil menenteng tas belanjaan, "Kamu tidak mau sekalian beli kebutuhan dapur atau cari snack mungkin? Mumpung ini lagi dekat sama supermarket!"


Noah melirik pada satu gerai supermarket serba ada yang seringkali dikunjungi oleh Luna setiap bepergian ke Mall. Hampir tidak pernah Luna melewatkannya. Entah itu hanya sekedar window shopping atau memang niat membeli, pasti Luna mampir.


Yang paling terakhir, Luna baru saja memborong berbagai peralatan memasak dari supermarket tersebut karena ia sedang heboh-hebohnya belajar berkreasi untuk membuat cake dan lain-lain.


"Beberapa hari yang lalu aku udah belanja sama Bibi dan Mbak kesana. Jadi stock persediaan di rumah masih full Mas," jawab Luna.


"Yakin sudah cukup? Kurang 3 hari lagi kita mau pergi ke luar negeri lho, sekalian saja beli makanan tambahan atau snack apa yang mau kamu bawa? Buat di perjalanan."


Satu yang paling Noah hafal, selama hamil Luna itu paling tidak bisa lepas dari yang namanya snack. Kemana-mana selalu bawa camilan.

__ADS_1


Sedang pergi ke Mall seperti sekarang saja, didalam tas Luna itu terdapat dua bungkus keripik buah sehat yang sengaja disimpan untuk berjaga-jaga jika rasa lapar menyerang.


Memasuki kehamilan terimester kedua, Luna agaknya sedikit kesulitan ketika disuruh memakan nasi. Katanya tidak berselera. Maunya snack, roti, dan buah saja. Atau apapun makanan asalkan tidak nasi.


"Cukup kok, kalau nanti kurang biar beli disana deh! Aku malas Mas kalau bawa banyak-banyak, menuh-menuhin koper!"


"Oh ya sudah kalau begitu." Noah hanya menurut Luna saja. "Ini kamu belanjanya hanya baju saja? Tidak mau nambah tas dan sepatunya sekalian?"


"Enggak Mas, kalau tas sama sepatu masih banyak yang baru di rumah. Aku butuhnya baju-baju buat musim dingin aja. Coat yang kapan hari aku beli udah enggak muat soalnya nih badanku udah mulai melar!" telunjuk Luna mengarah pada perut buncitnya.


"Ya jelas tidak muat, kan Coat kamu itu belinya pas kita lagi honeymoon di Eropa. Kamunya belum hamil pas waktu itu, beda dengan sekarang yang udah mau masuk 5 bulan."


Raut wajah Luna tiba-tiba berubah masam, "Aku gendutan ya Mas? Kadang tuh aku ngerasa kalau badanku kayak begah gitu. Jelek banget deh Mas jadinya.."


"Mana ada jelek? Siapa yang bilang kamu jelek?" protes Noah sembari mengerutkan keningnya.


"Aku sendiri Mas, jujur aku sering banget merasa krisis percaya diri semenjak hamil. Kemarin pas nimbang, berat badanku aja naik 10 kilo. Drastis banget kan Mas?" Luna menundukkan kepalanya, malu menatap wajah sang suami.


Noah menghela nafasnya sambil menarik hidung Luna gemas dengan tangan kosongnya yang tidak membawa tas belanja.


"Hmm..mulai lagi kan kamu overthinking! Sudah dibilangin, jangan terlalu banyak mikir! Ini sudah yang kesekian kalinya lho kamu begini. Cukup. Kamu itu akan tetap selalu cantik di mata aku apapun yang terjadi."


"Beneran kamu masih mau? Meski badanku udah kayak gentong, apa masih mau juga?" Luna memandangi Noah dengan tatapan menyelidik.


"Memang apa alasan yang membuat aku tidak mau? Kamu sudah berkorban banyak untuk hubungan kita. Tidak ada alasan buat aku berpaling!" tegas Noah tanpa keraguan.


Noah akan menjadi orang yang bodoh apabila ia menyia-nyiakan wanita berlian macam Luna yang cantiknya bak bidadari kahyangan.


Sudah cukup kemarin saja, Noah sempat oleng sekali saat bertemu dengan mantan istrinya. Kini hatinya sudah mantap. Tak akan ada hati yang lain selain untuk Luna istrinya.


"Lagipula, namanya orang hamil wajar kalau berat tubuhnya bertambah. Nanti juga bisa kembali normal lagi timbangannya." Noah menyemangati Luna agar wanitanya itu tak berkecil hati dengan bentuk tubuhnya yang tidak seramping dulu.


"Iya kalau balik? Kalau masih tetap gendut gimana? Apa mungkin aku perlu konsultasi ke dokter kali ya Mas, ikut diet sehat yang aman buat ibu hamil. Soalnya dari yang aku baca, enggak bagus juga buat bumil kalau terlalu gemuk," ucap Luna.


Dia masih merasa resah dengan perubahan bentuk tubuhnya ini. Tadi saat Luna sedang memilih-milih baju saja, dirinya kerap menggerutu kesal sebab baju-baju yang diinginkannya banyak yang tidak muat. Alhasil dia harus beberapa kali berganti di changing room.


"Padahal sebenarnya bagiku tubuh kamu ini normal-normal saja Lun! Sekalipun mau naik 10 kilo atau berubah jadi gendut, aku tidak perduli. Aku sih tidak menyarankan kamu berniat diet. Menurutku, dengan kamu melakukan senam hamil saja sudah cukup membakar kalori."

__ADS_1


"Tapi kembali lagi, aku serahkan semua keputusan sama kamu. Kalau memang kamu ingin pergi ke dokter gizi ya silahkan, nanti aku temani. Kalau tidak ya tidak masalah juga. Tubuh juga tubuh kamu, jadi kamu sendiri yang lebih berhak untuk memegang kendali atas itu."


Luna jadi terharu sendiri dengan perkataan suaminya yang benar-benar respect terhadap keputusannya.


"Hehe..makasih Mas Noah sayangku," Luna malah menyengir sambil memaju-majukan bibirnya hendak mengecup Noah sekilas.


Keduanya lalu segera beranjak dari tempat mereka berdiri sekarang, bergandengan tangan sambil melangkahkan kaki menuju tempat makan. Baru saja Noah mendengar bunyi kerucuk dari perut Luna. Pertanda bahwa istrinya itu memang kelaparan.


Keduanya terlalu asyik berbincang-bincang, hingga tanpa sadar ketika berjalan ada seseorang yang berpapasan dengan mereka tak sengaja menabrak Luna.


Brukkk...


"Aww...aww..." Luna sedikit meringis dan tubuhnya limbung.


Hampir saja Luna tersungkur karena kehilangan keseimbangan. Untung ada Noah disampingnya yang begitu tanggap menangkap tubuh istrinya. Hanya kantong belanja mereka yang menjadi korbannya disini karena jatuh berserakan.


"Woyyy...kalau jalan itu lihat-lihat! Sudah tahu ada wanita hamil begini, jalannya malah diterabas! Lain kali fokus, jangan main HP saja!" Noah tampak kesal dan memarahi pria yang menabrak istrinya itu habis-habisan.


Jelas sekali orang itu yang salah sebab Noah dan Luna sudah berada di tempat yang benar. Masih ada ruang lebar untuk pria itu berjalan leluasa, namun ia main terobos saja.


"Mm--maaf, saya tidak sengaja!" ucap pria itu yang merasa bersalah.


Noah mengabaikan permintaan maaf dari pria itu dan lebih fokus membantu istrinya kembali berdiri tegak.


Luna yang sedari tadi menunduk sambil mengusap-usap perut, kini mendongakkan kepalanya untuk bertatapan langsung dengan sosok pria yang menyenggolnya tadi. Suara pria itu terdengar tidak asing. Sangat familiar di kupingnya.


Dan benar saja, Luna kenal dengan pria tersebut.


"Loh..Luna..?!"


Deghh....


Sekujur badan Luna lemas seketika saat namanya keluar dari mulut pria itu. Detak jantungnya berdegup kencang, naik turun tak beraturan melihat sosok yang ia benci sedang muncul dihadapannya.


Pandu. Pria itu adalah Pandu. Seorang mantan kekasih yang pernah dengan teganya menyelingkuhi dirinya setahun yang lalu. Parahnya, Luna sendiri yang memergoki pria ini bermain api dengan seorang wanita di apartemennya.


"Apa kabar Luna? Kamu masih ingat dengan aku kan..."

__ADS_1


***


__ADS_2