
"Karta, saya minta tolong kamu untuk jemput Budhe dan Pakdhe-nya istri saya di bandara. Perkiraan, mereka akan mendarat sekitar 2 jam lagi!" perintah Noah.
"Oh Baik Tuan, saya siap." Karta menyanggupi.
"Nanti kamu akan ditemani sama supir saya Faiz kesananya, dia ada di depan. Soalnya Faiz yang lebih tahu pasti jam kedatangannya, terminal mana, dan nomor flight nya..." terang Noah.
Karta menunduk paham. "Siap Tuan, kalau begitu saya berangkat sekarang saja. Takutnya macet karena sudah sore."
Noah mengangguk dan mempersilahkan Karta untuk pamit undur diri menjemput mertuanya di bandara. Ya, secara teknis Budhe dan Pakdhe nya Luna adalah mertuanya sekarang, wali dari pengganti orang tua Luna.
Selang beberapa menit kemudian, Bi Sumi berjalan melewati ruang tengah dengan membawa nampan berisi sup krim, beberapa buah potong yang terlihat segar, dan juga air mineral. Sudah jelas, makanan itu pasti diperuntukkan buat Luna.
"Bi Sumi!" Noah mengayun tangannya memanggil. "Sudah siap sajian makanannya?"
"Sudah Tuan, tinggal diantar saja ke kamar Nyonya," balas Bi Sumi.
Noah mendadak ingat jika Luna sedang mengambek. Sudah bisa dipastikan Luna tidak akan mau makan.
"Taruh di meja makan dulu saja Bi! Istri saya sedang tidak ingin diganggu. Takutnya kalau saya paksa makan, mood-nya akan semakin memburuk," ucap Noah.
"Baik Tuan, saya simpan di dapur saja. Nanti kalau Nyonya mau makan, akan saya hangatkan kembali," ujar Bi Sumi.
Bersamaan dengan kembalinya Bi Sumi ke dapur, Noah melangkahkan kakinya untuk naik ke lantai 2 menuju ruangan kerjanya. Noah hendak melanjutkan beberapa pekerjaannya yang sempat terbengkalai ketika ia liburan bulan madu.
Dan rencananya dalam satu dua hari kedepan, Noah akan kembali mengambil cuti sementara untuk mengajak Luna liburan tipis-tipis bersama keluarga besarnya. Maka dari itu, supaya liburannya bisa plong dan tenang, Noah akan mencicil tugasnya untuk bisa diselesaikan segera.
***
Tak terasa, sudah 3 jam lamanya telah Noah lewati dengan berkutat pada laptop serta berkas dan dokumen yang ada di hadapannya. Lelah itu sudah pasti. Bahkan punggungnya terasa kaku dan nyeri karena terlalu lama duduk diam menatap layar monitor.
Sekitar 5 menit yang lalu, Noah mendapat pesan masuk dari supirnya Faiz bahwa dia dan Karta sedang dalam perjalanan pulang menuju ke rumah Noah dari bandara. Faiz juga mengabarkan jika pesawat yang ditumpangi Pakdhe Bimo dan Budhe Ririn mengalami delay, sehingga jadwal kedatangan jadi terlambat dari perkiraan.
Aahh..Noah baru ingat sesuatu, bagaimana dengan kabar istrinya yang masih merajuk itu? Apa Luna masih di kamar? Apakah Luna sudah makan lagi? Bodohnya Noah yang ceroboh dan melupakan istrinya begitu saja!
Dengan tergesa-gesa, Noah segera merapikan dokumen pentingnya lalu dimasukkan secara rapi ke dalam map. Setelah itu, Noah mematikan laptop serta komputernya. Kemudian, ia buru-buru keluar dari ruang kerja pribadinya dan turun tangga untuk mengecek kondisi Luna.
"Sari? Kamu habis dari dalam?" Noah tak sengaja berpapasan dengan Sari yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Iya Tuan, saya mau ambil mangkuk dan piring kotor punya Nyonya." jawabnya.
"Istri saya baru selesai makan?"
__ADS_1
"Benar Tuan, Nyonya akhirnya mau makan lagi. Saya bawakan beliau sup krim, buah potong, dan juga tambahan roti sandwich isi daging. Semuanya habis Tuan, Nyonya sepertinya kelaparan."
Noah menghela nafasnya seraya memasukkan kedua tangannya di saku celana. "Jelas kelaparan, dari pagi hitungannya dia belum makan karena setelah sarapan perutnya mual dan dia muntahh lagi."
Semenjak Luna hamil, Noah perhatikan istrinya itu memiliki selera makan yang cukup tinggi. Bahkan sebelum hamil pun, Luna memang terkenal suka makan dan nyemil. Tidak salah jika tengah berbadan dua seperti ini, nafsuu makannya semakin bertambah.
"Obat dan vitaminnya apa sudah diminum juga Sar?" tanya Noah lagi.
"Sudah kok Tuan, saya sendiri yang menyiapkannya. Cuman ya gitu Tuan.." Sari menjeda ucapannya.
"Cuman apa? Kenapa sama Luna?" ada bumbu kekhawatiran dalam pertanyaan Noah barusan.
"Itu Tuan..Nyonya matanya sembab, sepertinya habis menangis. Meski sudah makan dan minum, beliau masih terlihat lesu dan sendu begitu. Saya tanya tapi Nyonya diam saja. Mungkin efek kehamilan kali ya, Tuan?!" Sari menerka-nerka.
Dia tidak tahu saja jika penyebab Luna menangis itu karena ulah suaminya sendiri, yang sok-sokan mengantar pulang sang mantan istri sehingga Luna bersedih.
Noah tak menjawab ocehan Sari dan langsung melengos masuk ke kamar untuk menemui Luna. Bagaimanapun juga dia harus minta maaf lagi dan membujuk istrinya agar tidak marah terlalu lama.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka dan didapati Luna terlihat berbaring selonjoran sambil menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang kasur.
"Kamu masih marah ya sama aku?" Noah mulai bersuara untuk memecah keheningan.
Belum ada sahutan dari Luna. Noah pun bertanya lagi.
"Kamu sudah makan dan minum obat ya? Bagaimana, enak tidak rasa krim sup dan sandwich daging buatan Bibi? Tadi aku yang minta asisten rumah tangga kita untuk buatkan. Kamu suka?"
Lagi-lagi tidak ada respon, Luna masih bungkam.
Noah berjalan mendekat dan ikut meringsut berbaring diatas kasur, persis disamping Luna. Ditatapnya dengan lekat wajah sang istri, meski si cantik itu enggan untuk menengok ke arahnya sekilas pun.
Benar kata Sari, kedua netra indah milik Luna itu terlihat sembab. Bekas tangisannya meninggalkan sebuah kantung mata yang agak sedikit menghitam sayu, padahal baru beberapa jam saja ditinggal. Sesedih itu Luna ketika tahu bahwa Noah masih berhubungan dengan mantan.
Tangan Noah terulur meraih semangkuk popcorn untuk diletakkan diatas nakas. Kini, kedua tangan Luna yang kosong itu berganti digenggam oleh Noah sembari diusap-usap pelan. Tidak ada penolakan, tapi Luna kekeuh untuk bersikap acuh tak ingin melirik Noah.
"Kamu kok nonton film-nya tidak mengajak aku? Biasanya minta ditemani..benar masih marah nih?" bujuk Noah.
Kegiatan rutin malam mereka sebelum tidur itu, kalau tidak pillow talk ya pasti menonton film. Setelahnya mereka akan mereguk kenikmatan dunia bersama dengan bercengkrama hingga rasa kantuk itu muncul.
"Apaan sih Mas, udah jauh-jauh sana! Males aku lihat kamu!" ketus Luna yang akhirnya mau berbicara.
__ADS_1
"Jangan jutek gitu, aku kan cuman tanya. Biasanya kamu kalau mau lihat film pasti harus maksa-maksa aku dulu buat nonton bareng...sekarang kok nonton sendirian?"
Luna mengendurkan tangannya yang bertaut dengan Noah. "Harusnya kamu senang dong, aku enggak maksa lagi. Biasanya juga ogah, alasannya ngantuk atau sibuk kerja. Enggak lagi-lagi deh ajakin Mas nonton. Kalau enggak mau, aku gak maksa. Kapok!"
"Mau sampai kapan marah begini, jangan kekanakan Luna!" Noah mulai tak sabaran dan memiringkan badannya menghadap Luna.
Luna menoleh, "Aku memang childish, masalah? Mau cari yang mature? Sana kalau gitu balik sama Mak Lampir!" tantang Luna dengan tatapan mata yang nyalang. Emosi ibu hamil tidak ada tandingannya.
"Luna...kamu kan sudah dengar penjelasanku tadi! Aku minta maaf dan menyesal karena aku telah lancang mengantar Malena pulang tanpa sepengetahuan kamu, aku akui...aku memang salah. Dan aku sudah minta maaf.." lirih Noah.
"Bahkan maafmu itu terasa tidak cukup buat aku Mas, entah kenapa rasanya hatiku sakit. Mbak Malena itu selalu aja hadir dalam bayang-bayang rumah tangga kita! Aku enggak bisa tenang setiap kali dia dekat-dekat!" Luna mengungkapkan unek-uneknya.
"Kamu insecure dengannya? Makanya supaya tidak overthinking, kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh.." Noah kembali meraih tangan Luna namun ditepisnya begitu saja.
"Gimana aku mau positive thinking, orang kamunya belum apa-apa sudah bohong?! Lengah sedikit aja kamu udah antar Mbak Malena pulang, besok-besok apa lagi? Main ke rumahnya terus nginep gitu?" cibir Luna membuat Noah memutar malas bola matanya keatas.
Noah tidak suka dengan ucapan Luna yang menyinggungnya barusan, seakan-akan Noah dituduh atas suatu hal yang tidak ia lakukan.
"Cukup Luna, jangan berburuk sangka sama aku. Apa yang terjadi antara aku dan Malena sudah berakhir. Niat aku hanya membantunya sebentar. Aku tidak ngapa-ngapain, habis antar dia aku langsung pulang ke rumah," tegas Noah.
"Apa sih yang kamu takutkan? Aku tidak akan kembali sama dia apapun yang terjadi. Yang tadi itu benar-benar kesalahan yang tidak akan aku ulangi lagi. Aku suami kamu, aku milik kamu," lanjutnya.
Mata Luna berkaca-kaca hendak menangis lagi, lelehan air matanya sudah tak terbendung di kelopak mata.
"Kamu itu enggak ngerti apa yang aku rasain Mas! Aku itu takut..takut kamu balik sama dia. Aku terlalu cinta dan sayang sama kamu makanya aku begini!"
Deghh...
Hati Noah tersentak kaget ketika mendengar ungkapan cinta dari seorang Luna, yang notabene adalah istrinya sendiri. Jantungnya berdegup kencang kemudian jakunnya naik turun karena gugup.
Diluar dugaan jika Luna bisa bersikap seberani ini dengan menyatakan cinta terlebih dahulu dihadapannya, hingga keringat dingin di telapak tangan Noah menerpa.
Benarkah Luna jatuh cinta padanya? Ini bahkan seperti mimpi di siang bolong.
"Iya Mas..aku cinta sama kamu..aku sayang sama kamu! Entah sejak kapan rasa ini muncul. Mungkin sejak kamu mengajakku liburan ke Singapura, aku sudah punya rasa sama kamu sejak lama. Tapi kamunya yang memang enggak cinta sama aku."
"Makanya aku itu takut. Aku selalu punya pemikiran bahwa kamu akan kembali sama mantan istrimu itu. Apalagi dia sudah putus dengan selingkuhannya dan meminta kamu kembali. Sedangkan kamu sendiri...kamu kan terpaksa menikahi aku karena insiden kita yang berteduh di gubuk rumah kecil itu."
"Aku tahu kamu masih cinta sama Mbak Malena. Bukan salahku kan kalau aku selalu berpikiran negatif?! Ini murni sebagai bentuk ketakutan dari seorang istri yang takut suaminya diambil!" jelas Luna panjang lebar dengan nada yang bergetar.
***
__ADS_1