
"Makasih ya Noah, sudah mau mengantar. Ternyata kamu masih perduli sama aku," ucap Malena melebarkan senyumnya.
Setelah lama berdebat dengan pikirannya sendiri, Noah akhirnya memutuskan untuk mengantar Malena ke alamat rumah lama mereka.
Ya, Malena rupanya masih tinggal disana. Berita terakhir yang Noah tahu, rumah itu akan dijual. Tapi nyatanya tidak jadi, Malena masih betah mendiami rumah itu. Pertimbangannya, rumah itu memiliki banyak kenangan pernikahannya dengan Noah sehingga sulit untuk dilepas.
"Jangan menyalahartikan kebaikanku Mal, ini bukan berarti apa-apa. Aku hanya merasa kasihan saja padamu."
Malena tertunduk lesu sembari memainkan kuku-kukunya. "Baiklah, aku minta maaf. Diantar sama kamu saja sudah membuatku senang dan sangat-sangat berterima kasih. Aku tahu diri kok, aku tidak akan berusaha untuk melebihi batasanku lagi."
"Aku harap kamu menepati janji kamu." sahut Noah datar.
Pikir Noah, Malena yang sekarang duduk disampingnya ini tampak begitu tenang. Tidak seperti kemarin-kemarin yang emosinya menggebu-gebu. Mungkin memang benar jika Malena sudah mulai menerima perpisahan mereka.
Suasana pun mendadak hening dan begitu canggung. Bahkan saking sunyinya, hanya suara deru mesin mobil yang bisa terdengar.
"Luna pasti merasa bahagia sekali ya karena begitu diperhatikan olehmu!" Malena bersuara untuk memecah keheningan diantara mereka.
"Maksudnya?" Noah tak paham.
"Ya ini, kamu bela-belain tebus resep obat dan vitamin untuk dia ke rumah sakit. Sendirian lagi! Setahuku, dulu kamu selalu saja sibuk..even saat weekend kamu jarang ada waktu luang. Kalaupun aku sedang sakit, kamu akan meminta supir kita untuk membelikan obatnya," ujar Malena.
"Semua telah berubah, begitupun juga aku. Kegagalan pernikahan kita kujadikan pembelajaran agar aku tidak mengulangi kesalahan yang sama," ungkap Noah jujur.
"Apa kamu sungguh-sungguh mencintai Luna?"
"Kamu sudah sering bertanya padaku tentang hal itu."
"Tapi aku tidak pernah mendapatkan jawaban pastinya?!"
"Seharusnya tanpa aku jawab sekalipun, kamu sudah paham apa jawabnya. Tidak mungkin aku menikahi Luna jika aku tidak cinta padanya."
Bohong. Noah berbohong.
Sampai detik ini, rasa cinta Noah belum seratus persen tercurah untuk Luna. Tapi tidak bisa Noah pungkiri, rasa sayang itu nyata adanya dan sudah mulai mencuat ke permukaan. Namun untuk cinta, itu belum.
Tapi Noah yakin, suatu saat nanti dia pasti mampu mencintai Luna sepenuh hati. Sebab tidaklah sulit untuk mencintai perempuan sebaik dan setulus Luna.
__ADS_1
Apalagi Luna tengah mengandung buah hati mereka sekarang, tentu akan memudahkan Noah untuk mempererat hubungannya dengan sang istri.
"Entahlah Noah, aku merasa tidak yakin dengan pernyataanmu. Menurutku kamu sedang berbohong, dan aku bisa lihat itu."
Skak Mat.
Ucapan Malena tepat sasaran.
"Kamu masih mencintai aku kan? Aku berani bertaruh jika kamu menikahi Luna itu karena terpaksa. Ini semua pasti karena tuntutan orang tua kamu, atau mungkin Luna hanyalah pelampiasan kamu untuk balas dendam karena aku pernah bermain api dengan Andre?!"
"Cukup Malena!!!" Noah membentak kasar.
Noah meninggikan suaranya keras hingga memekakkan telinga Malena, membuatnya terkejut bukan main.
"Kamu bilang kamu tidak akan melewati batasanmu, tapi ujung-ujungnya...kamu munafik juga! Sudah kukatakan berkali-kali, berhenti mengurusi kehidupan rumah tanggaku yang baru!" Noah menjeda ucapannya.
"Kamu boleh berteori sesuka hati atau menyusun skenario apapun di kepalamu mengenai alasan dibalik pernikahanku dengan Luna. Aku tidak perduli. Yang terpenting sekarang, aku bahagia. Aku punya istri yang baik, tulus, pengertian, sayang padaku, dan tentunya mampu memberikanku keturunan. Hal yang tidak bisa kamu lakukan dulu!"
Deghh...
Noah sendiri sengaja menyindir Malena dengan ucapan yang menyakitkan, agar wanita itu bisa membuka matanya untuk berhenti berharap.
Noah sendiri masih berada didalam posisi belajar untuk mencintai Luna. Walau di hati kecilnya masih ada secuil rasa pada Malena serta ada kenangan indah yang tak bisa terlupakan, dia tetap pada pendiriannya untuk tidak kembali pada sang mantan.
"Kita sudah sampai di depan rumahmu. Sebaiknya kamu segera turun!" ketus Noah seraya menatap lurus pandangan kedepan tanpa mau menoleh kearah Malena.
Tidak sampai 10 menit, mobil mewah Noah telah berhenti tepat di depan pagar rumah yang mejadi hadiah pernikahannya dulu bersama Malena. Jaraknya memang dekat sekali dengan rumah sakit tadi.
Malena lalu menghapus air matanya sebelum turun dari mobil. "Kamu mau mampir dulu tidak?"
Noah menggeleng. "Aku harus cepat-cepat pulang, karena Luna sudah menunggu di rumah."
"Yakin? Mungkin kita bisa ngopi atau minum teh sebentar, untu--"
Noah langsung menyela, "Untuk apa? Di rumahku masih ada banyak teh dan kopi yang tersedia, aku bisa bikin sendiri nanti."
Malena menghembuskan nafasnya berat. "Kamu sungguh-sungguh membenciku ya? Bahkan rasanya kamu seperti enggan berlama-lama berada di dekatku."
__ADS_1
"Aku sudah menikah lagi Mal, jika aku terus-terusan berdekatan denganmu nantinya akan menimbulkan banyak masalah. Aku tidak ingin ribut dengan Luna yang sudah berbuat banyak untukku. Aku sayang dia. Mengantarmu ini saja sudah membuatku merasa bersalah dan menyesal sejadi-jadinya!" ucap Noah blak-blakan.
Seharusnya Noah biarkan saja Malena tetap pulang naik taksi. Dengan begitu hati dan perasaan Noah tidak akan merasa terusik ataupun goyah.
Kembali lagi, sisi lemah dari hati nurani Noah seakan-akan meronta untuk melakukan hal baik dengan mengantar Malena sampai di rumah dengan selamat.
"Baiklah, aku mengerti. Aku minta maaf telah membuat kamu tidak nyaman. Aku pamit, terima kasih sudah mau meluangkan waktu mengantarku." Malena memungut tas jinjingnya yang tadi diletakkan di bawah mobil sambil mengambil kruk miliknya di jok belakang.
Ketika Malena membuka pintu dan hendak keluar, Noah menahan lengannya sejenak. "Move on Mal! Carilah pria diluaran sana yang bisa memberimu kebahagiaan dan mencintaimu apa adanya. Kamu juga berhak bahagia."
"Mustahil rasanya, karena tidak akan ada lagi pria yang sesempurna kamu..Noah."
"Pasti ada. Jodoh kita selesai sampai disini. Jika kamu bisa menerima fakta itu, maka hatimu akan merasa lega melepaskanku. "
Malena membuang muka dan menggigit pipi bagian dalamnya menahan tangis. Rasanya ia masih tidak terima jika Noah telah move on.
"Aku sadar, jika perceraian kita bukan sepenuhnya salah kamu. Ada kesalahanku yang ikut andil didalamnya. Andai aku bisa lebih memahami kamu dan tidak terlalu sibuk dengan pekerjaanku, mungkin kamu tidak akan selingkuh. Kamu pasti jenuh dan bosan menikahi pria sepertiku.." lirih Noah.
Terkadang, Noah meringis sendiri jika meratapi pernikahan pertamanya yang gagal. Tapi begitulah yang namanya proses kehidupan manusia. Penuh plot twist dan keterkejutan dibaliknya.
"Segeralah masuk Mal, aku tak ingin membuat Luna lama menunggu. Dari pagi dia belum minum vitamin dan obatnya..aku buru-buru."
"Iya..baiklah. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih dan selamat tinggal," nada suara Malena terdengar lirih pelan.
Setelah Malena turun dari mobil, tanpa berbasa-basi lagi, Noah langsung melajukan kemudi setirnya untuk pulang menuju kw rumahnya. Dia tak ingin berlama-lama lagi disini dengan Malena. Itu hanya akan membuang-buang waktunya saja.
Sedangkan Malena, ia hanya bisa meratapi mobil Noah yang sudah melenggang pergi meninggalkan pekarangan rumahnya tanpa pamit.
Dengan kata lain, Malena harus rela melepaskan kepergian Noah yang sudah jauh dari jangkauannya sekarang, sekalipun itu adalah hal yang sulit.
Kini Malena menyadari, jika pepatah ada benarnya juga. Kalau orangnya sudah tidak ada...baru terasa jika kehadiran orang tersebut sangat penting dan berpengaruh dalam hidupnya.
***
Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊
Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.
__ADS_1