
AUTHOR POV
Luna akhirnya sampai di tujuan dengan selamat setelah menempuh jarak sekitar 30 menit dari rumah menuju perusahaan Noah.
Wanita itu sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menemui sang suami demi menyantap makan siang dengan menu hasil buatan tangannya sendiri.
"Mohon maaf Ibu, izin bertanya. Ibu berkenan untuk ditunggu atau tidak?" tanya sang supir pada Luna setelah mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat didepan lobby kantor.
"Enggak usah Pak, sepertinya saya akan lama diaini. Bapak juga pasti belum makan siang kan?"
Sambil tersenyum meringis sang supir balas menimpali, "Iya Bu, saya belum makan."
"Ya sudah kalau gitu langsung pulang aja ya! Bapak cari makan siang dulu. Nanti kalau urusan saya sudah selesai, saya akan telepon lagi untuk minta jemput."
"Siap Bu, handphone saya aktif 24 jam. No silent-silent."
Luna kemudian bergegas keluar dari mobil dan memasuki kantor dengan membawa tumpukan rantang makanan serta handbag ungu berukuran mini miliknya.
Akhir-akhir ini Luna tengah senang-senangnya memakai tas mungil tersebut. Pokoknya kalau kemana-mana ya harus bawa tas itu, tas yang merupakan hadiah oleh-oleh dari mertuanya yang baru saja melancong ke Belanda.
"Selamat siang Mbak Fanny, Mbak Rahma." Luna menyapa ramah kedua staf resepsionis yang sedang jaga.
"Ehh...ada Ibu Luna! Selamat siang Bu..selamat datang," keduanya sontak membungkukkan badan memberi hormat pada Luna.
"Suami saya ada kan diatas?"
Dengan ragu, salah satu dari mereka menjawab. "Aa--da kok Bu, Bapak ada diatas."
Perasaan lega menghampiri Luna, syukur bila suaminya masih ada di kantor. Tadi sebelum berangkat dia sudah ketar-ketir saja, takut jika Noah berada diluar.
Kedatangannya kali ini kan memang surprise. Dia belum bilang apapun pada Noah kalau hari ini berniat membawakan makanan.
Sebab terkadang pria itu sering keluar untuk mengecek kondisi lapangan. Alhasil kalau makan siang belinya juga diluar pula.
__ADS_1
"Berarti saya bisa langsung naik kan?" ujar Luna to the point.
"Ehh jangan Bu!!!!" cegah mereka bersamaan.
"Kenapa?" tanya Luna penasaran.
"Hmm..anu Bu..Bapak i-itu.."
"Bapak kenapa? Yang jelas kalau ngomong!"
"Itu Bu..Bapak ada meeting sama klien baru Bu." jawab Rahma dengan nada suara yang terbata-bata.
"Oh lagi ada rapat toh, kalau gitu saya tunggu beliau di ruangannya saja ya?"
"Ehhhmmm...jj--jangan juga Bu!"
"Kenapa?" Luna mengernyitkan dahinya, memandang kebingungan akan tingkah aneh dari dua pegawai suaminya ini.
"Bapak justru sedang meeting di ruangannya, Bu. Mungkin Ibu bisa tunggu dulu di ruangan lain, nanti saya akan sampaikan ke Bapak perihal kedatangan Ibu. Saya akan siapkan lounge-nya."
Hmmm...Luna semakin curiga saja dengan gerak-gerik yang tidak beres ini. Sedari tadi tindakan Rahma dan Fanny seakan-akan bersikeras untuk tidak membiarkan Luna naik ke lantai atas.
"Kalian sedang menutupi sesuatu dari saya ya? Saya sebenarnya agak curiga dari tadi. Gelagat kalian berdua ini aneh, kalian kayaknya kekeuh banget untuk melarang saya naik ke lantai atas. Ada apa?" Lama-kelamaan Luna jadi tidak sabar.
Kendati demikian, tak ada yang bisa dilakukan oleh kedua pegawai resepsionis itu selain menundukkan kepala.
Mereka bimbang harus menjawab apa. Tidak mungkin kan jika jujur blak-blakan pada istri atasan mereka, jika mantan istri bos saat ini berada di lantai atas hendak mengobrak-abrik kantor. Yang ada bisa mati berdiri.
Apalagi dengan posisi Luna yang tengah hamil besar seperti ini. Rahma dan Fanny makin tidak tega saja memberi kabar kurang mengenakkan tersebut. Bagaikan buah simalakama, begini salah begitu juga salah.
"Ya sudah, kalau tidak ada yang mau jawab, biar saya yang naik dan cari tahu sendiri..."
"Hmmm..tapi Bu.."
__ADS_1
"Ahh..jangan berani-beraninya kalian menghalangi saya. Kelamaan menjawab dari tadi." sungut Luna dengan raut kesalnya.
Bukan bermaksud bersikap judes. Pengaruh hormon kehamilan membuat Luna berubah menjadi pribadi yang grasak-grusuk, tidak sabaran, dan seringkali bersikap impulsif.
Tring...
Luna menginjakkan kakinya di lantai ruangan Noah. Dengan langkah buru-burunya Luna berjalan cepat supaya bisa segera bertemu suaminya.
Dan,
Ceklekk..
Pintu ruangan Noah terbuka.
"Saya bilang saya tidak menerima tamu..lancang sekali ada yang mas--" ucapan Noah terhenti kala melihat wajah ayu istrinya.
"Mas Noah..?!!"
"Ss--sayang? Kamu disini?" tanya Noah panik.
Kaget adalah perasaan yang tepat untuk menggambarkan keadaannya saat ini. Tak disangka jika Luna mendadak datang ke kantor tanpa pemberitahuan.
Baru saja beberapa detik yang lalu rasanya ia ingin muntab, ingin membalikkan dunia saking emosinya. Namun amarah yang bergejolak dalam dirinya berubah menciut, seketika padam ketika ada Luna.
Noah lantas menghampiri Luna seraya memeluk dan mengecup kening sang istri cukup lama. Tangannya pun tak lupa bergerak turun mengelus perut buncit Luna.
"Iya..aku disini, aku bawain makan siang buat kamu." dengan santainya Luna melenggang masuk, merenggangkan pelukannya dengan Noah.
Wanita itu meletakkan bekal yang dibawanya diatas meja persegi panjang yang biasa Noah gunakan untuk makan.
"Kamu tadi lagi ngomong sama siapa Mas? Kayaknya kok marah-marah gitu..tadi juga aku tanya sama resepsionis dibawah katanya kamu ada meeting. Ternyata enggak ada tuh, sepi-sepi aja nih..."
Gawat...
__ADS_1
Tamatlah riwayat Noah sekarang, harus menjawab apa dia? Sedangkan Malena tengah menahan tangisannya di pojokan ruangannya saat ini.
***