
AUTHOR POV
"Gimana soal tugas yang kemarin aku kasih, udah beres kan Bar?" tanya Noah yang sedang duduk dengan gagahnya diatas kursi kebesarannya.
Pekerjaannya hari ini sedikit longgar sehingga dia bisa berbincang santai dengan Akbar. Namun hal itu tak membuat Noah lengah ataupun berleha-leha santai. Dasarnya sudah gila kerja makanya dia tetap sibuk mengetikkan sesuatu pada laptop.
"Beres, aman kok brother! Sesuai request." Akbar menggoyang-goyangkan kerah kemejanya. Sengaja ingin menyombongkan diri setelah tuntas menyelesaikan perintah Noah.
Kemarin sore setelah pulang dari berbelanja dengan Luna, Noah langsung saja menelpon Akbar. Memberi pria itu tugas untuk meneror kediaman Poppy. Persis seperti apa yang pernah wanita itu perbuat pada istrinya.
Semua ini Noah lakukan karena dia memang berniat membalas segala perbuatan jahat Poppy yang selama ini sudah melewati batas. Sengaja tidak dilaporkan polisi karena Noah ingin bermain-main terlebih dahulu. Baru kalau sudah puas, Noah akan memikirkan langkah selanjutnya.
Prioritasnya saat ini itu membuat Poppy merasa tertekan dan menyesali perbuatannya karena telah berani macam-macam.
"Kamu sudah make sure kan kotak itu sampai ke tangannya?" sekali lagi Noah memastikan.
"Sudah, lewat jalur ordal alias orang dalam. Katanya si Poppy nangis kejer-kejer sampai enggak mau keluar kamar setelah terima box itu pagi ini!" Akbar tertawa puas karena pekerjaannya berhasil.
Bagaimana Poppy tidak menangis kala foto-foto aibnya di masa lampau serta skandalnya bisa bocor dan tersebar pada orang-orang yang bagi dirinya misterius.
"Bagus kalau begitu. Kalau sampai gagal nanti gajimu bulan ini tidak turun." ujar Noah dengan wajah datar tidak bersalahnya.
"Sadiss...kebangetan banget gaji kagak turun? Gue aduin Luna kapok lo!" sengaja Akbar mengancam dengan kalimat seperti itu. Sekarang dia tahu jika kelemahan Noah itu ya istrinya tercinta, Luna.
"Basi! Apa-apa selalu mengadu ke Luna. Dasar cepu!!" kilah Noah.
Akbar tertawa cekikikan dibuatnya. Puas sekali rasanya menggoda Noah yang sudah resmi menyandang status suami-suami takut istri.
"Eh tapi tunggu dulu deh, balik ke topik awal tentang urusan tadi. Gue cuman mau memastikan aja, lo yakin dengan cara ini Poppy bakalan tobat?"
Noah menghembuskan nafasnya kasar seraya menyandarkan punggungnya ke belakang kursi, merilekskan diri.
Noah kemudian berujar, "Tidak sebenarnya. Wanita seperti Poppy itu kan tipe yang bebal dan sulit dikasih tahu. Tapi disatu sisi harapanku memang dia seharusnya ketar-ketir setelah mendapatkan teror balasan dariku."
"Ishh..Bos Noah kalau udah mode garang ngeri juga!" Akbar menyipitkan matanya dan tersenyum meringis.
__ADS_1
"Salah sendiri. Dia kan yang memulai duluan. Aku dan Luna tidak pernah mengusik dia tapi dia tiba-tiba mengganggu ketenangan dan ketenteraman kehidupan rumah tangga kami."
"Lagipula ini belum seberapa. Apa yang sudah dilakukan Poppy keterlaluan. Dia melanggar privasi aku dan keluarga. Jadi jangan salahkan jika aku pun membalasnya dengan tidak tanggung-tanggung."
Bagi Noah, Poppy itu seharusnya merasa beruntung karena selama ini dirinya sudah memberi banyak kelonggaran. Sibuk dengan kehamilan Luna, babymoon, dan pekerjaan di perusahaan membuatnya jadi lama memproses kasus kejahatan Poppy.
Akbar mengangguk paham, memaklumi tindak-tanduk Noah yang bersikap seperti itu. "Hmm..iya juga sih. Poppy emang cari penyakit duluan."
"Maka dari itu aku berniat membalasnya. Pelan-pelan saja, tapi pasti. Aku jamin dia akan memohon dan mengemis meminta maaf padaku. Dan sampai hari itu tiba tidak akan ada ampun!" ucap Noah dengan nada sinisnya.
Tringg..tring...tring..
Disela-sela obrolan mereka, tiba-tiba telepon kantor di ruangan Noah berbunyi.
"Halo.."
"Halo Noah...ini gue Helen."
"Kenapa Len? Draft yang aku kasih ada masalah?"
Sontak Noah kaget. Malena ada di kantornya? Bagaimana bisa? Noah bahkan tidak tahu apa-apa. Mendengar apapun saja tidak sebab ruangannya sudah disetting kedap suara. Tak terlalu mendengar jika ada kebisingan diluar sana.
"Hah gimana-gimana? Kok bisa dia naik keatas? Siapa yang kasih izin..naik lift kan ada kartu akses?" Noah masih saja memproses kalimat yang keluar dari mulut Helen.
"Mana gue tahu, yang jelas itu perempuan udah nangkring disini dan bertingkah! Kayaknya satpam dibawah pada lengah atau gimana gue enggak tahu! Tadinya dia mau masuk ruangan lo tapi enggak bisa kan pintunya udh ganti pakai password dan smart lock. Tengsin dia..."
Noah mengusap kasar wajahnya, "Cckkk..ada-ada aja masalah. Ya sudah tunggu sebentar Len, tahan dia disana dulu. Aku akan keluar sama Akbar."
"Iya pokoknya buruan! Gue banyak kerjaan, males banget ngadepin wanita sakit kayak Malena!"
Telepon akhirnya ditutup. Noah memejamkan matanya, mengepalkan tangannya erat kemudian menutup laptopnya kasar. Sungguh rasanya dia ingin mengumpat saja.
Akbar lalu membuyarkan lamunan Noah, "Kenapa bray? Ada masalah?"
"Malena datang." sahut Noah ogah-ogahan.
__ADS_1
"Astaga, urusan Poppy aja belum kelar sekarang Malena malah nambah-nambahin. Gila juga ya, hidup lo ribet dikelilingi wanita mulu. Keadaan lo gini jadi membuat gue bersyukur karena tampang dan ekonomi gue biasa-biasa aja. Makanya cuman Helen doang yang demen.." ujar Akbar yang kata-katanya diselingi candaan.
"Temenin aku keluar Bar, untuk menghadapi rubah satu ini. Aku takut tidak bisa mengontrol diri."
"Iya udah ayo.."
Tanpa berlama-lama lagi, kedua pria itu segera beranjak dari tempat duduk mereka untuk keluar menghampiri Malena.
.....
Sementara di kediaman Noah dan Luna, tampak seorang wanita yang terlihat semakin cantik ketika hamil itu sedang wara-wiri dapur untuk menyiapkan makan siang suaminya.
Siapa lagi kalau bukan Luna. Setelah menyelesaikan rutinitas senam paginya dengan personal coach, Luna langsung minta diajari memasak oleh asisten rumah tangganya.
Hari ini Luna sedang ingin membuatkan makanan untuk suami tercinta. Memang tidak jago sih memasak, tapi akhir-akhir ini dia mulai belajar. Niatnya dia sendiri juga yang akan mengantarkan bekal itu nanti ke kantor suaminya.
"Akhirnya udah siap semua makan siang untuk suami...jadi enggak sabar pengen cepet-cepet ketemu Mas Noah!" kata Luna semangat sambil bertepuk tangan kecil. Merasa puas dengan hasil masakannya.
"Masakan Ibu sekarang sudah enak..saya enggak bohong! Pasti Bapak akan suka!" ucap salah satu asisten rumah tangganya.
Sudah sejak 2 bulan lalu Luna meminta pada seluruh karyawan di rumahnya untuk berganti memanggilnya dengan sebutan Ibu, begitu juga dengan Noah yang dipanggil dengan Bapak.
Entah kenapa Luna tidak suka dipanggil Nyonya atau Tuan, dia merasa sebutan itu terdengar begitu angkuh saja.
"Masa sih Mbak? Beneran enak atau bohongan aja nih..."
"Ya ampun Bu, beneran enak saya enggak peres.."
"Syukurlah kalau begitu, aku juga sebenarnya ragu-ragu tadi. Mbak kan tahu sendiri masakan aku itu parah! Yang keasinan terus hambar.. bingung!"
"Tenang Bu, ini aman. Sekarang Ibu mandi lagi saja siap-siap ke kantor Bapak, nanti saya panggil Karta juga untuk siapin mobil."
"Oke Mbak, siap..makasih ya untuk bantuannya! Sayang Mbak banyak-banyak!"
Luna bergegas menuju kamarnya, tidak sabar menemui mantan Om Duda kesayangannya....
__ADS_1