
"Bi Sumi lagi buat apa?" Luna yang baru saja bangun dari tidur siangnya menghampiri Bi Sumi di dapur yang sepertinya sedang sibuk membuat sesuatu.
"Ini Nya, bibi lagi buat minuman untuk tamunya Tuan didepan!" jawabnya.
Luna mengernyitkan dahinya. "Loh lagi ada tamu diluar? Siapa Bi, kok saya enggak dikasih tahu?"
"Kan tadi Nyonya sedang tidur, saya mana berani bangunkan. Soal tamunya, saya juga kurang tahu Nya, yang tadi bukain pintu itu Rima. Bi Sumi cuman di dapur aja, disuruh bikin minum langsung."
"Oh gitu! Ini minuman udah jadi ya, kalau begitu saya ikut anterin kedepan aja deh..."
"Nyonya tidak istirahat saja di kamar? Biar bibi yang antar!" Bi Sumi hanya takut kena Omelan dari Noah karena membiarkan Luna mengangkat nampan minuman untuk tamu.
"Enggak apa-apa Bi, saya kan istrinya Mas Noah..enggak enak juga kalau ada tamu saya malah rebahan diatas kasur. Kali aja itu tamunya orang penting, nanti enggak sopan."
"Baik Nya, kalau begitu." Bi Sumi menurut.
***
Di ruang tengah keluarga, tampak suasananya sedang tegang. Noah sedang kehadiran dua orang tamu, yang tidak lain tidak bukan adalah kedua mertua aslinya, yaitu orangtua kandung dari Luna.
"Kami mohon Nak Noah, izinkan kami untuk bertemu putri kami Luna. Kami sangat merindukannya! Hanya anda satu-satunya harapan kami!" pinta Jelita.
"Saya tidak bisa janji Pak Brahim dan Ibu Jelita. Saya bisa saja bicara dengan Luna, tapi saya tidak yakin dia berkenan, mengingat history hubungan anda yang tidak begitu baik dengan istri saya. Luna saat ini sedang hamil, saya tidak mau membuat nya merasa tidak nyaman!" kata Noah.
Tiba-tiba saja..
PRANGGGG!!!
Terdengar suara pecahan gelas yang nyaring karena nampan minuman yang dibawa oleh Luna jatuh begitu saja ke lantai.
Sontak saja, perhatian orang-orang yang ada disana teralihkan dan langsung memandang kearah sumber suara. Dan ternyata itu Luna.
Kedua mata Noah terbelalak kaget karena secara mendadak Luna sudah berada diantara mereka dan terlihat kaget. Tatapan matanya begitu kosong.
"Astaga Nyonya, anda tidak apa-apa kan? Ada yang luka Nyonya?" Bi Sumi terlihat panik karena dia takut majikannya ini terluka karena kena pecahan beling.
Dari kejauhan, Noah yang sedang duduk di sofa bisa menangkap raut wajah horor dadi istrinya itu. Luna pasti tidak suka dengan pemandangan yang ada didepannya ini, yaitu kehadiran orang tuanya di rumah mereka.
"Kenapa mereka bisa ada disini Mas? Tolong suruh mereka pergi!" mata Luna berkaca-kaca menahan tumpahan air mata dari kelopak netranya.
"Luna, kamu tenang dulu ya.." Noah menenangkan.
"Aku enggak akan tenang sebelum mereka pergi dari sini Mas! Aku enggak mau mereka disini!" Luna membentak Noah.
Brahim segera bangkit dari tempat duduknya dan mencoba untuk menghampiri putrinya yang terlihat ketakutan. "Nak, ini Papa dan Mama. Papa kangen sekali sama kamu.." ucapnya lirih.
__ADS_1
"Tidak, kamu bukan ayahku, ayahku itu Pakdhe Bimo..hanya dia yang pantas kusebut sebagai ayah kandungku!"
"Mama minta maaf Lun, kami menyesal telah menyia-nyiakan kamu. Mama sangat merindukan kamu. Tolong Luna, kami masih keluarga kamu sayang..maafkan dosa-dosa Mama dan Papamu ini..." Jelita memohon ampun dengan mengatupkan kedua tangannya untuk meminta belas kasihan.
"Apa pantas kalian disebut sebagai orang tua setelah apa yang kalian lakukan padaku? Apa kalian belum puas setelah merenggut kebahagiaanku saat kecil? Sudah cukup, sebaiknya kalian pergi dari sini..Mas cepat usir mereka!"
"Mama minta maaf, sayang! Dengarkan penjelasan Mama dulu..
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku tidak mau berbicara dengan kalian. Sampai matipun, aku tidak akan pernah lupa atas perbuatan kalian! Pergi..."
"Tapi--"
Tiba-tiba saja tubuh Luna limbung dan lemas sehingga ia tak sadarkan diri. Ini adalah salah satu reaksi yang timbul jika seseorang sedang mengalami shock berlebih.
"Luna?!!! Bangun Luna..." Noah menepuk-nepuk pelan pipi istrinya. "Lun, dengar aku Lun?"
Noah begitu kalut dan panik karena tak ada respon apapun dari Luna. Istrinya benar-benar pingsan. Akhirnya Noah membopong tubuh istrinya ke dalam kamar mereka dan memerintahkan Bi Sumi untuk menelpon dokter pribadi keluarga agar datang ke rumah memeriksa kondisi Luna.
***
Beberapa menit kemudian, tampak Noah keluar dari kamar dengan raut ekspresi yang sulit untuk digambarkan. Entah itu marah, kesal, atau panik...tapi yang jelas, Noah kembali menghampiri Jelita dan Brahim yang masih setia berada di ruang tamu menunggu kabar dari kondisi Luna yang sedang pingsan.
"Untuk Ibu Jelita dan Pak Brahim yang terhormat, saya mohon dengan sangat untuk tinggalkan rumah saya sekarang juga. Bukan niat saya untuk mengusir, tapi istri saya sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja," ucap Noah tanpa basa-basi.
"Saya tidak akan pulang sebelum saya mengetahui kondisi putri saya!" sanggah Brahim.
"Tapi Noah, saya hanya ingin bertemu Luna..saya rindu dengannya. Tidak bisakah kamu memberikan kami toleransi untuk menungguinya disini sampai dia sadar?" Brahim masih belum menyerah juga rupanya. Tekadnya masih begitu kuat untuk tetap kekeuh bertahan menemui putrinya.
"Tidak bisa Pak Brahim. Istri saya tidak berkenan dengan kehadiran kalian. Bahkan jika kalian menangis histeris pun, saya tetap tidak mengizinkan kalian ketemu Luna jika istri saya itu tidak menghendakinya. Untuk apa bertemu kalau ujung- ujungnya menyakiti hati Luna?" tegas Noah dengan lantang.
Jelita dan Brahim hanya bisa menatap menantunya itu dengan tatapan yang kosong dan pasrah. Sepertinya memang tidak ada harapan bagi mereka untuk bertemu dengan putrinya dalam kondisi seperti ini. Mereka akhirnya mengalah dan memilih untuk pulang saja. Dilain waktu, mereka akan mencobanya lagi.
***
"Ini sudah setengah jam lebih, tapi kenapa kamu belum bangun juga Lun? Aku jadi takut..bangun ya Lun..." Noah mengusap puncak kepala Luna yang sedang terbaring tenang diatas kasur.
"Padahal tadi dokter bilang kamu tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja. Kamu hanya shock dan kelelahan akibat tekanan darah yang tinggi." lanjut Noah yang berbicara sendiri.
10 menit kemudian, kedua netra Luna akhirnya terbuka kembali.
"Mas Noah...?!" lirih Luna yang sedang mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia sedang mengumpulkan nyawa karena baru saja bangun dari tidurnya.
"Luna, akhirnya kamu bangun juga...aku panik banget lihat kamu pingsan, kamu sudah enakan sekarang? Apa masih sakit? Mana yang sakit, bilang sama aku!" Noah begitu heboh memberondong Luna dengan belasan pertanyaan sebagai bentuk kekhawatiran.
"Gimana aku bisa jawabnya kalau kamu nyerocos terus Mas!" protes Luna.
__ADS_1
"Ya habis kamu bikin aku takut, aku cuman tidak mau kamu dan baby kita kenapa-napa!"
"Aku udah baik-baik aja kok, cuman lemas saja rasanya."
"Ini minum air putih dulu, biar tenggorokan kamu tidak kering." Noah menyodorkan segelas air minum yang diambilnya dari atas bedside table.
Luna menurut dan segera meneguk air mineral yang dibawakan oleh Noah hingga tandas tak tersisa.
"Wajah kamu pucat banget, istirahat sambil tiduran ya..aku temenin kamu disini" ujar Noah.
Luna mengangguk paham dan kembali berbaring memejamkan matanya untuk beristirahat. Pertemuannya dengan orangtua kandungnya tadi membuat Luna pusing tujuh keliling dibuatnya. Dia sungguh tidak siap dan tidak pernah memprediksi bahwa ini akan terjadi.
Luna pikir, Jelita dan Brahim akan pergi jauh dari hidupnya untuk selamanya. Namun secara tiba-tiba, setelah belasan tahun ia ditelantarkan...sang orang tua kembali dengan entengnya seakan-akan semuanya telah membaik. Dengan tidak tahu malunya, mereka datang menghampiri Luna dan memohon maaf atas kesalahan fatal yang pernah mereka buat di masa lalu.
Satu jam kemudian, Luna telah bangun dari tidur pulasnya tadi meski hanya sejenak. Kini waktunya Luna untuk makan siang dan minum obat setelahnya.
"Udah kenyang apa masih mau lagi?" Noah dengan telatennya menyuapi Luna dengan hati-hati dan penuh perhatian.
"Aku udah kenyang kok.." jawab Luna.
Noah tersenyum tipis seraya meletakkan piring makan Luna diatas nakas. "Kamu harus banyak makan ya biar cepet sehat! Nih minum dulu.."
Luna menahan tangan Noah, "Mas.."
"Kenapa hmmm?" wajah Noah menghangat, menampakkan raut kekhawatiran didalamnya.
Noah menyisipkan anak rambut Luna ke belakang dan mengelus pipi lembut istrinya itu. "Ada apa Luna?"
Bukannya menjawab pertanyaan sang suami, Luna malah tiba-tiba saja menangis dan mengalungkan lengannya erat di pelukan Noah.
Noah yang memahami situasi istrinya yang sedang bersedih, langsung mengambil inisiatif untuk menenangkan Luna sembari mengusap lembut kepalanya dalam dekapan.
"Kenapa mereka harus datang lagi di kehidupanku Mas, belum puaskah mereka menyiksaku lahir dan batin?" lirih Luna menangis.
"Maafin aku ya, aku benar-benar tidak tahu mereka datang ke rumah. Mau aku langsung suruh pergi juga rasanya tidak sopan tadi. Andai dari awal aku tahu kalau jadinya begini, harusnya aku cegah mereka untuk ketemu kamu." Noah merutuki kecerobohannya yang membiarkan mertuanya itu masuk tanpa meminta izin pada Luna terlebih dahulu.
"Aku benci mereka Mas, aku benci mereka! Aku enggak mau mereka muncul dihadapanku!" pekik Luna.
Noah semakin mengeratkan pelukannya untuk menguatkan Luna. "Tenangin diri kamu, aku mohon jangan menangis, aku tidak bisa lihat kamu seperti ini. Aku janji akan urus semuanya! Aku akan pastikan mereka ga bisa dekat kamu lagi"
Luna meregangkan pelukannya dan menatap Noah secara fokus. Sedangkan Noah yang ditatap, ia memilih sibuk mengusap lelehan air mata Luna. "Ingat baby kita, jangan banyak pikiran ya! Think about the happy things, dan lupakan soal tadi okay? Baby kita akan ikut sedih jika melihat ibunya bersedih pula..kamu tidur lagi saja, biar aku yang peluk..."
"Iya Mas..." balas Luna lirih.
Setelah sekitar 15 menit Luna dipuk-puk dalam keheningan oleh sang suami, akhirnya Luna bisa hanyut memejamkan mata dan terbawa dalam bunga tidurnya.
__ADS_1
**