
"Noah..Luna...Mommy sama Daddy datang nih!"
Sontak saja Luna dan Noah mengalihkan pandangan mereka menghadap pada Mommy Adelia dan Daddy Jo.
"Mommy, Daddy?!!" Luna begitu semangat dengan kedatangan mertuanya sampai ia terburu-buru memeluk mereka.
Noah yang panik melihat istrinya berlarian kecil, langsung refleks memarahi. "Astaga Luna..susah sekali sih dibilangin. Jangan lari-larian begitu!" tukasnya yang masih berdiri terdiam.
Luna tak mendengarkannya. Ia malah asyik bercengkrama dengan mertua kesayangan yang sudah ia anggap seperti orang tua sendiri. Noah akhirnya ikut menyusul sang istri yang sudah diklaim oleh orangtuanya.
Gagal sudah rencana indah Noah pagi ini yang ingin berduaan dengan sang istri. Tadi hampir diganggu oleh Bagas dan Siska, eh sekarang malah orangtuanya yang ikut-ikutan dengan mendadak datang ke rumah tanpa berkabar.
Kunjungan Mommy Adelia pun tak main-main kali ini. Ada begitu banyak paperbag yang berisikan barang-barang serta makanan ditentengnya. Dari bungkusnya saja, sudah jelas itu pasti barang branded.
"Ya ampun sayang, Mommy kangen banget sama kamu. Akhirnya ketemu lagi kita!" Mommy mengecup pipi kanan kiri Luna seraya mengusap baby bump-nya.
"Aku juga sama kangennya, Mommy!" Luna mendusel-duselkan kepalanya manja pada dekapan Mommy Adelia.
"Kabar kamu bagaimana Luna? Menantu dan calon cucu Daddy ini sehat-sehat saja kan? Daddy dan Mommy khawatir sekali waktu dikabari sama Noah kemarin." Daddy Jo mengusap rambut Luna penuh kasih sayang.
Luna menyahuti, "It's okay Dad, kami semua baik-baik saja kok. Mas Noah sudah mengurusnya."
"Maafkan kami ya sayang, baru bisa datang sekarang. Kemarin itu agaknya sedikit repot," ucap Mommy Adelia. "Isabelle dan Steven juga titip salam untuk kamu. Mereka belum bisa kesini karena masih liburan di luar negeri. Yang jelas, mereka turut prihatin atas kejadian kemarin."
"Iya Mom, aku maklum kok. Yang penting Mommy dan Daddy datang aku pun senang. Nanti aku akan telepon Kak Isabelle," balas Luna tersenyum tipis.
"Pakdhe sama Budhe kamu sudah tahu belum?" tanya Daddy Jo.
"Belum Dad, aku enggak berani bilang ke mereka. Takutnya malah heboh dan panik. Toh akunya juga enggak apa-apa kan?! Sebaiknya kita jangan bahas itu dulu ya Mom..Dad.." pinta Luna.
Untungnya Mommy Adelia dan Daddy Jo paham betul dengan kondisi menantunya yang masih sedikit terguncang. Mereka pun mengalah dan tak meneruskan pembicaraan yang berkaitan dengan insiden kemarin. Walaupun dalam hati mereka juga masih penasaran.
"Aih..ini Mommy sama Daddy datang-datang yang dicari langsung Luna. Lupa apa kalau anaknya masih ada? Aku disini nih!" Noah ikut meninbrung lalu memasang wajah pura-pura cemburu.
Daddy Jo berdecih mengejek. "Ishh..kalau sama kamu itu bosan lihatnya! Mending lihat mantu Daddy yang cantik ini."
Luna terkekeh pelan lalu memfokuskan matanya pada barang bawaan Mommy Adelia. "Mommy bawa apa itu??"
"Hadiah buat kamu don! Mommy beli tas sama sepatu. Mommy kan sempat bilang mau kasih hadiah atas kehamilan kamu, tapi dari kemarin belum sempat terus. Baru sekarang deh keturutan!"
__ADS_1
"Tapi kok kayaknya banyak banget Mom? Paper-bag nya besar-besar lagi!"
"Banyak soalnya itu Mommy beli tas 3, sama sepatu 4 pasang! Ada juga jam tangan sama perhiasan dua set, yang itu dari Daddy."
Glekk...
Luna meneguk air liurnya kasar. Mertuanya ini bukan kaleng-kaleng memang. Memberi hadiah mahal dengan entengnya tanpa keraguan. Beginilah salah satu privilege menjadi menantu dari seorang konglomerat. Apapun bisa didapatkan dalam jentikan jari.
"Ss--serius Mom?" Luna masih tak percaya.
"Masa bercanda sih, orang barang sudah didepan mata begitu! Dan ini ada lagi, Mommy bawakan kebab dan sandwich mayo isi telur daging. Spesial buat kamu. Mommy bikin sendiri lho! Dimakan ya sayang, udah sarapan belum?"
"Belum Mom, ini baru mau." Luna menuntun mertuanya untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Sama kalau gitu, Mommy dan Daddy juga belum sarapan. Niatnya memang mau makan bersama disini. Boleh kan?"
"Boleh dong Mom! Ahhh..senangnya, jadi rame deh meja makanku!" ucap Luna semangat. "Makasih banyak Mom, Dad..Luna jadi enggak enak sendiri. Udah dibeliin barang-barang mewah, dibawain makanan pula. Harusnya Luna yang berkunjung ke rumah kalian. Ini malah aku yang ngerepotin."
"No problem Luna, masih ada banyak waktu kamu bisa main-main ke rumah. Prioritas kami sekeluarga sekarang itu kamu dan kehamilan kamu. Sehat-sehat ya, jaga cucu kami! Kamu pokoknya harus happy terus." Daddy Jo memberikan sedikit wejangan.
"Siap Pak Bos!" balas Luna.
"Duit kamu itu banyak, beli sendiri Noah!" sahut Daddy Jo.
"Dasar pilih kasih! Kak Isabelle saja juga masih sering dapat hadiah. Padahal dia sudah punya penghasilan banyak dari butik plus dapat suami yang tajir begitu!" Noah masih tak terima.
"Malu sama umur! Udah tua tapi cemburu sama istri sendiri..aneh!" ejek Daddy Jo.
"Noah sih sanggup beli sendiri, tapi kalau dapat hadiah dari orang tua itu rasanya beda. Lebih spesial..makanya Noah minta!"
"Kamu mau apa memangnya?"
"Mau mobil. Tolong belikan untukku ya Dad?" Noah menaik-naikkan kedua alisnya. "Perusahaan produsen mobil favoritku baru saja mengeluarkan koleksi terbaru mereka!"
"Malas ah..yang hamil kan Luna, jadi dia yang berhak dapat hadiah. Istrimu itu mengandung selama 9 bulan penuh dan akan berjuang melahirkan bayi kalian. Tentulah dia pantas diistimewakan. Lagipula mobil kamu itu sudah banyak menumpuk di garasi. Masa mau beli lagi? Buang-buang uang saja."
"Lah Daddy gimana sih, Luna bisa hamil juga karena bibitku. Aku ikut andil nanam saham di perutnya!"
Daddy Jo mengibaskan tangannya. "Helehh...ada-ada saja kamu! Alasan itu!"
__ADS_1
"Hmm..ini nih, Daddy tidak pernah berubah. Dari dulu, selalu saja perhitungan sama anak laki-lakinya. Padahal aku ini tergolong anak yang patuh. Hampir semua keinginan Mommy dan Daddy pasti aku kabulkan!" celetuk Noah.
"Dusta! Patuh apanya? Dulu sudah dibilang jangan menikah sama Malena sampai mulut kami berbusa, eh kamunya masih ngeyel dan main trobos aja. Pas udah diselingkuhi baru menyesal kan?!" sindir Mommy Adelia.
"Masih dibahas aja soal itu, kan sudah lewat Mom! Kesalahan besar Noah hanya jatuh dalam orang yang salah sekali. Setelahnya aku nurut sama Mommy dan Daddy yang minta aku untuk menikahi Luna." Noah mendengus sebal.
"Gimana? Bener kan pilihan orang tua? Meski harus nunggu digrebek dulu sama warga sekitar, baru sadar deh mau nikahin Luna!" giliran Daddy Jo yang mencibir sekarang.
Luna terkekeh sendiri melihat suaminya yang sedang disidang dan diomeli habis-habisan oleh sang mertua. Kapan lagi bisa melihat pemandangan seperti ini? Noah yang identik dengan perawakan sangar dan tegas berubah luntur wibawanya kalau sudah berhadapan dengan orangtuanya.
Luna akan tambah mengerjainya.
"Mom, hari ini tuh aku sebenarnya lagi marahan sama Mas Noah! Aku kesel banget sama dia, Mom!"
"Kenapa memangnya? Diapain kamu sama Noah?"
"Masa Mom, Mas Noah dari tadi enggak mau nurutin permintaan aku! Aku minta gendong ke kamar mandi, Mas Noah nolak. Aku minta makan nasi uduk, dianya nolak juga. Sesusah itukah menuruti permintaan istri yang lagi ngidam?" Luna sengaja mengadu pada mertuanya agar Noah semakin disalahkan.
Tak tanggung-tanggung, Mommy Adelia beranjak dari kursinya dan segera menjewer telinga Noah.
"Kebangetan banget kamu Noah! Permintaan se-simple gitu aja kamu ogah-ogahan nurutin!Istri kamu lagi ngidam nak..ya Tuhan anak ini minta digebuk memang!"
"Aduh Mom lepas, sakit ini!" Noah menarik tangan Mommy-nya agar terlepas dari telinganya.
"Badan saja yang gede besar begitu, tapi disuruh gendong istri tidak mau. Uang berlimpah pun, disuruh beli nasi uduk malah berat hati. Padahal Daddy tahu istri kamu itu jarang minta aneh-aneh. Ampun Noah, kamu malu-maluin!" Daddy Jo hanya bisa geleng-geleng dengan kelakuan Noah.
Noah berdecak dan mengelak, "Dad, aku itu bukannya tidak mau. Tadi Luna sudah mau aku gendong, tapi dianya nolak!"
"Ya jelas nolak, orang diawal kamu sudah malas-malasan. Paling setelahnya kamu terpaksa melakukannya supaya Luna tidak merajuk. Ya kan?" tebakan Daddy Jo tepat sasaran.
"Sudah Luna, ayo ganti baju kamu sayang! Kita pergi beli nasi uduk." ajak Daddy Jo.
"Beneran Dad?" Luna melebarkan senyumnya bahagia.
Sebenarnya Bi Sumi sudah menyiapkan seporsi bubur untuknya. Tapi entah kenapa, ketika mendengar Siska dan Bagas hendak sarapan nasi uduk Luna jadi ikut tergiur. Bisa dikatakan ia sedang ngidam.
Daddy Jo semakin mengompori, "Iya, ayo pergi bertiga kita! Biar saja suamimu ini mendekam di rumah. Jangan diajak! Daddy tidak mau calon cucu Daddy ileran karena permintaan Mommy-nya tidak dituruti."
"Daddy dan Mommy memang terbaikk...sayang kalian banyak-banyak!" Luna memeluk erat kedua mertuanya secara menyamping berbarengan.
__ADS_1
***