
Titik Rindu Kafe, pukul 09.00 pagi.
Disinilah Noah dan Luna berada untuk menunggu kehadiran Akbar. Semalam Noah sudah sepakat untuk janjian dengan pria itu di tempat ini.
Mulanya Akbar meminta sahabatnya untuk datang jam sepuluh saja, namun nyatanya Noah justru tiba satu jam lebih awal dari waktu yang ditentukan. Ini semua karena ulah Luna yang tidak berhenti merengek sebab sedang kumat mengidamnya.
Semalam selepas Akbar menentukan jam dan titik lokasi pertemuan, Luna mendadak penasaran dan langsung menjelajahi laman internet. Mencari-cari informasi mengenai cafe tempat mereka bertiga akan bertemu nantinya.
Sedikit yang bisa digali Luna lewat gugell, Titik Rindu Kafe ternyata adalah tempat nongkrong yang menyediakan berbagai kudapan unik nan lucu serta minuman kekinian kesukaan anak muda. Akbar pintar sekali memilih tempat ini.
Itu sebabnya pukul 7 pagi tadi, Luna sudah heboh memaksa Noah untuk segera mandi dan berganti pakaian. Wanita itu bilang, dia sedang mengidam ingin sarapan french toast dan segelas cokelat panas di cafe tersebut.
"Mas, kamu enggak mau coba nih?" Luna menyodorkan sesuap french toast yang sudah dipotong kecil-kecil didepan mulut Noah.
Barangkali suaminya ingin, Luna dengan senang hati berbagi. Tidak mungkin dia bersikap pelit.
Noah menggeleng seraya menepis sendok kecil itu, "Tidak. Melihat kamu makan lahap begitu bikin aku jadi ikutan kenyang."
"Tapi Mas belum sarapan lho! Mana enggak pesan apa-apa lagi..cuman secangkir kopi. Minum kopi disaat perut masih kosong itu enggak baik padahal!" omel Luna.
Luna ingat betul kalau suaminya ini tidak dianjurkan untuk terlalu sering minum kopi, tapi dasarnya Noah yang mengeyel dengan alasan nanti sembuh-sembuh sendiri. Repot memang kalau berdebat dengan om-om tua.
"Tadi kamu sudah pesan camilan yang asin-asin kan? Aku bisa icip-icip sedikit," ucap Noah.
"Hmm..iya deh iya..terserah Om!" cibir Luna yang langsung membuat Noah refleks menoleh cepat dan tergelak.
"Om..?" Noah mengerutkan keningnya.
"Iya Om..dulu Mas kan sempat dipanggil Om sama aku hehehe..jadi kangen masa-masa itu!" kata Luna yang pikirannya sejenak kembali ke masa lalu.
Noah terkekeh pelan, "Mentang-mentang aku sudah banyak umur, kamu seenaknya panggil aku Om! Padahal kepala tiga juga tidak bisa dikategorikan tua-tua banget."
"Biar Om-om juga kamu kan bikin gemes!" tangan Luna terulur untuk mencubit pipi sang suami.
"Awwhh..." Noah mengaduh kesakitan. "Sudah ah..ngapain pakai cubit-cubit segala! Malu dilihatin orang-orang.."
"Orang-orang mana yang mau lihat, kan cafe-nya masih sepi begini!" sanggah Luna yang diikuti gelak tawa Noah.
__ADS_1
Kedua pasangan suami istri ini pun lanjut mengobrol santai sembari sesekali bersenda gurau untuk mengisi kekosongan waktu agar tidak bosan menunggu.
***
Tak terasa satu jam terlewati, akhirnya yang sedari tadi ditunggu-tunggu pun tiba juga.
"Hey bro!!" Akbar menepuk pundak Noah dari belakang.
"Eh..Bar, datang juga kamu akhirnya!" Noah segera bangkit dari tempat duduknya dan memeluk Akbar.
"Aku sih tepat waktu, kamu aja yang datangnya terlalu cepat!" sahut Akbar lagi.
"Iya ini..Luna sedang mengidam ingin cepat-cepat ke cafe. Makanya aku langsung kesini duluan," jelas Noah sambil mengajak Akbar untuk duduk manis.
"Halo Kak Akbar, apa kabar?" gantian Luna yang kini mengulurkan tangannya untuk menyalami sahabat suaminya itu.
Luna sengaja memanggil Akbar dengan panggilan kakak atas permintaan suaminya. Pernah sekali Luna memanggil Akbar menggunakan sebutan Mas, namun hal itu membuat Noah berubah moody. Kata Noah, panggilan Mas hanya boleh disematkan untuk dirinya saja. Yang lain tidak.
"Baik Luna..kamu sendiri juga gimana? Sehat-sehat kan kandungannya? Kapan nih lahiran..udah gede banget ya perutnya?!" canda Akbar
Pria itu mengamati penampilan Luna dari atas sampai bawah. Terakhir ketemu, Luna belum hamil sebesar ini. Perutnya masih sangat rata.
"Semoga persalinannya nanti lancar-lancar yah...aku doakan selalu." ucap Akbar tulus.
"Siap, terima kasih Kak."
Noah kemudian menyela, "Sudah jangan pakai lama basa-basinya! Aku ingin cepat tahu Bar, coba sebutkan siapa pelaku yang sudah memasang alat penyadapp di rumahku!"
Melihat sikap suaminya yang blak-blakan seperti ini, Luna jadi kesal sendiri. "Ya ampun Mas...Kak Akbar baru aja duduk lho! Masa udah langsung dicecar pertanyaan sih?" protesnya.
"Enggak apa-apa, santai aja Lun! Noah memang begitu orangnya. To the point dan suka enggak sabaran!" Akbar menyindir tipis-tipis.
"Lebih cepat itu lebih baik sayang!" Noah mengeratkan genggaman tangannya pada Luna.
"Tapi seenggaknya biarkan Kak Akbar pesan minuman dulu dong Mas! Kamu ini.."
"Tenang Lun, bisa pesan nanti kok. Urusan ini memang lebih urgent. Gampang soal minum!" Akbar tak terlalu mempermasalahkannya sebab sebelum berangkat tadi, ia sempat sarapan dari rumah. Sehingga sekarang masih kenyang.
__ADS_1
"Tuh kan sayang, sudah kubilang dia itu tidak apa-apa! Ayo Bar katakan..siapa pelakunya."
Sambil mengeluarkan laptop dari tas ransel yang dibawanya, Akbar berkata. "Kamu pasti kaget sih kalau aku sebut namanya.."
"Siapa Bar memangnya?" Noah mulai penasaran.
Akbar celingukan menoleh kanan kiri terlebih dahulu, memastikan tidak ada orang yang menguping pembicaraan mereka. Setelahnya ia kembali berkata...
"Poppy," bisik Akbar lirih.
Glekkk...
Mata Noah terbelalak kaget, begitupun juga dengan Luna. Keduanya saling menatap satu sama lain dengan pandangan yang sulit diartikan.
Poppy? Bagaimana bisa perempuan itu yang melakukannya?
"Kamu serius Bar, jangan bercanda!"
"Mana ada bercanda Noah! Nih aku tunjukkan buktinya sebentar.." Noah menekan tombol on laptopnya agar menyala.
"Kamu pernah bilang kan kalau closed circuit television di rumah lo itu off total pada tanggal 7 Desember? Itu sebenarnya salah persepsi. Closed circuit television rumah justru mulai non-aktif di tanggal 8 Desember, tepatnya sekitar pukul 8-9 pagi. Untuk yang tanggal 7 itu memang rekamannya sengaja dihapus. Makanya di data yang kamu pegang, rekaman video terakhir cuman sampai tanggal 6," jelas Akbar panjang lebar.
"Coba deh ingat-ingat lagi, pernah enggak Poppy datang ke rumah kalian di tanggal itu?!" lanjut Akbar bertanya.
Noah dan Luna kembali saling memandang. Keduanya tampak berpikir keras sembari mencoba untuk mengingat-ingat memori yang sudah lalu.
"Aku sih enggak begitu ingat Kak tanggal berapa spesifiknya, cuman memang Mbak Poppy itu pernah datang ke rumah," celetuk Luna pada Akbar. Sedikit-sedikit dirinya masih ingat.
Noah melirik istrinya, "Kapan Lun? Aku kok tidak tahu?"
"Ckkk..yang itu lho Mas, yang pas kapan hari dia bawain kue ke rumah buat kamu! Kue sus atau apa gitu..ingat kan? Yang habis itu aku langsung ngambek sama kamu gara-gara cemburu!"
"Ohh..yang itu..iya-iya. Dia memang pernah ke rumah sekali saja," Noah mengakui hal itu.
"Ini hasil rekaman video yang sudah gue coba retas...lo cek sendiri deh!" Akbar membalikkan laptop miliknya agar Noah dan Luna bisa leluasa fokus melihat putaran video pada layar.
***
__ADS_1
...*Maaf ya readers kalau author slow update, dari kemarin udah up tapi gak lolos terus seharian penuh dari NT sampai aku revisi bolak-balik padahal enggak ada kata-kata aneh, mohon bersabar yah*...
...Jangan lupa like, komen, dan vote :)...