Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Mencari Gara-Gara


__ADS_3

"Gimana Dani? Sudah dicek apa belum itu isinya apa?" tanya Noah to the point saat ia sudah tiba di teras depan bersama Luna yang senantiasa menggandeng tangannya.


"Hmm..sudah Pak, paket ini isinya ada dua boneka beruang yang berukuran sedang serta ada album-album foto semacam scrapbook dan juga beberapa pigura," Dani menjelaskan.


"Siapa yang mengirim? Kamu lihat itu di box-nya barangkali ada nama sender!" perintah Noah.


Dan ketika dilihat, ternyata kiriman paket hadiah tersebut berasal dari..


"Pandu Asmarabangun." Dani mengucapkan nama lengkap mantan Luna secara lantang tanpa sengaja.


Sontak mulut Luna setengah terbuka lebar kehabisan kata-kata. Entah mengapa Luna mendadak terserang rasa gugup. Bukan deg-degan akibat mendapat hadiah dari mantan. Dia justru lebih takut akan reaksi yang diberikan Noah.


Sambil mengelus perutnya, Luna melirik ke arah Noah. Dan benar saja, suaminya terlihat geram. Sekilas ekspresinya memang sulit untuk diartikan. Tapi yang jelas tangan kiri Noah sudah dalam mode mengepal secara rapat-rapat. Rahangnya terasa kaku menahan amarah.


"Sama ini Pak...tadi dapat kiriman bunga juga dalam keadaan terpisah," timpal Pak Hari menyerahkan sebuah buket bunga yang kemudian langsung diterima oleh Luna.


Buket tersebut berisikan macam-macam bunga warna-warni yang begitu cantik dan baunya semerbak mewangi. Merupakan gabungan dari bunga aster, bunga marigold, dan juga bunga peony.


Tak lupa, terdapat pula pita kecil berwarna merah hati yang melingkar pada gagang hand bouquet tersebut. Dan untuk informasi saja, bunga-bunga tersebut adalah bunga favorit Luna. Pandu sepertinya masih hafal sekali dengan kesukaan Luna.


"Itu barang-barang yang didalam kardus apa sudah fix aman? Ada sesuatu lainnya yang terlihat mencurigakan tidak?" tanya Noah lagi untuk memastikan.


"Tidak ada Tuan. Ini semua murni hanya boneka dan sekumpulan pigura serta album foto. Sudah saya telusuri dan hasilnya tidak ada penyadap atau kamera kecil." jawab Pak Hari.


Noah mengangguk kecil, "Ya sudah, saya minta tolong kalian untuk angkut ini semua ke ruang tamu!" pintanya pada Pak Hari dan Dani.


Luna meresponnya tak suka. "Mas, kenapa enggak langsung dibuang aja sih?" sanggah Luna dengan raut kesal. "Itu kan barang yang enggak penting!"


"Tidak penting buat kamu, tapi penting buat aku. Aku penasaran dan mau lihat yang dikirim mantanmu itu benda apa saja," cibir Noah.


"Tapi Mas--"


"Aku sedang tidak ingin dibantah, Luna!" tegas Noah penuh penekanan.


Luna jadi takut sendiri melihat sikap Noah tiba-tiba berubah sedingin es kutub. Yang biasanya suaminya itu akan bersikap sebagai lelaki penyabar, cenderung tenang, dan ramah senyum, maka kini Noah menjelma menjadi sosok menyeramkan.


"Ayo, segera bawa ke ruang tamu sekarang!" tukas Noah.

__ADS_1


"Baik, Tuan." jawab Pak Hari dan Dani bersamaan.


Keduanya saling bahu membahu mengangkat box kardus tersebut. Sebenarnya tidak terlalu berat, hanya saja karena ukurannya memang besar sehingga butuh lebih dari 1 orang untuk membawanya.


***


Sampai di ruang tamu. Satu persatu, Noah mulai membongkar isi dari dalam kardus. Dicomotnya benda-benda tersebut secara acak, kemudian ada sebuah album foto yang begitu menarik perhatian Noah.


Yaitu album berbentuk bulatan seperti oval dengan cover luar yang bergambar helaian beberapa dedaunan layaknya nuansa musim gugur.


Ketika album dibuka, hati Noah panasnya bukan main. Nafasnya tercekat dan tubuhnya semakin tercengang kala melihat foto-foto masa pacaran Luna dengan Pandu dulunya.


Luna yang sejak tadi harap-harap cemas duduk bersebelahan dengan sang suami, pandanganya kini ikut melirik pada album foto yang dipegang oleh suaminya itu. Dan..


Deghh...


Menunjukkan reaksi yang sama seperti Noah, Luna pun ikut sama terkejutnya. Tak pernah ia sangka jika potret gambar dirinya saat sedang kencan bersama mantan bisa terpampang jelas dalam buku itu.


Pertanyaannya satu, apakah selama ini Pandu masih menyimpan koleksi kenangan masa pacaran mereka dulunya?


"Mas, sudah ya..ditutup aja itu album fotonya! Jangan dilihat lagi..." Luna khawatir Noah menjadi tak terkontrol, sebab sedari tadi Noah hanya memilih bungkam.


"Kalian ternyata romantis banget ya kalau pacaran.." sindir Noah secara halus.


Ada sedikit perasaan tak nyaman yang dirasa Luna ketika suaminya melihat foto dirinya berpose mesra dengan mantan.


"Mas sudah dong! Aku mohon, please..." pinta Luna dengan ekspresi wajah yang memelas dibarengi dengan puppy-eyes andalannya.


Tangan Luna melingkar pada lengan kekar Noah. Dagunya pun juga ikut direbahkan diatas pundak lebar milik pria kesayangannya itu. Pelan-pelan Luna mengusap punggung tangan Noah dengan sentuhan lembutnya, berharap Noah bisa melunak.


Upaya tersebut berhasil karena detik berikutnya, hati Noah berubah melemah. Seketika ia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan.


"Pandu benar-benar ingin cari gara-gara sama aku!" Noah mengusap wajahnya kasar.


Bagaikan menabuh genderang perang pada Noah, Pandu begitu lancangnya mengirimi benda-benda kesukaan Luna ke kediamannya langsung.


Luna balas menyahuti, "Mas jangan marah sama aku ya..aku beneran enggak tahu kenapa tiba-tiba dia kirimin aku ini."

__ADS_1


"Iya, ini memang bukan salah kamu. Aku tidak marah ke kamu. Itu memang Pandu saja yang tidak tahu diri!" ujar Noah yang akhirnya merespon ucapan istrinya.


Dalam posisi seperti ini, Luna jadi serba salah sendiri atas sesuatu yang tidak dilakukannya. Noah terlihat begitu badmood.


Kardus ditendang, kemudian album foto yang sempat digenggam Noah tadi langsung dibuang ke lantai hingga isi-isinya ikut berceceran.


Luna menghentikan aksi sang suami, "Udah Mas..udah..tahan emosi dulu!"


"Sulit! Gimana aku tidak kesal coba, ini tuh artinya Pandu sedang memancing di air keruh. Dia pasti sengaja mau mengompori aku dan merusak hubungan kita dengan mengirimi barang tidak jelas ini!" sentak Noah.


"Ya makanya, kamu jangan terpancing Mas! Ini tuh akal-akalannya dia supaya kita berantem.."


Ucapan Luna ada benarnya juga. Tak seharusnya Noah terprovokasi. Ia hanya terbawa suasana.


Noah berpikir sejenak, "Tapi Lun...yang jadi pikiranku sekarang, bagaimana bisa pria ingusan macam dia tahu dimana alamat rumah kita? Siapa yang memberitahunya?" Noah bertanya-tanya.


Hal itu diangguki Luna yang keheranan juga, "Iya sih Mas..aku juga bingung kenapa dia bisa tahu alamat rumah. Sumpah demi Tuhan bukan aku. Kita ketemu sama Pandu juga baru kemarin-kemarin. Interaksi pun ala kadarnya. Enggak ngomongin yang mengarah ke privat."


Rumah tempat tinggal Noah dan Luna ini sebenarnya perumahan yang terletak di kawasan elit dengan pengamanan super ketat. Mustahil ada sembarang orang bisa tahu alamat sini dengan mudahnya. Tapi hal itu tidak menjamin juga sih. Beberapa waktu lalu saja Luna jadi korban teror.


"Aku tidak mau munafik Lun, jujur saja aku tak suka melihat kamu yang kelihatannya begitu mesra saat selfie bersamanya." gerutu Noah sambil memanyunkan bibir. "Kita saja bahkan tidak pernah foto berdua dengan pose intim seperti itu!"


Bayangan Noah teringat akan foto dimana Luna mencium pipi Pandu dan berpelukan saling merangkul leher. Jiwa Noah otomatis bergetar dan mendidih panas.


"Itu kan masa lalu, Mas! Jaman aku masih muda banget dan lagi alay-alaynya jadi orang. Kamu pun juga dengan Mbak Malena pasti pernah foto berdua kan?!"


"Pernah tapi cuman biasa. Masih romantis kamu dan Pandu! Aku kan juga dulunya jarang pergi berlibur sama Malena. Mana pernah punya album foto seabrek!" Noah mencibir.


"Salah kamu sendiri sih, kalau lagi liburan enggak pernah mau difoto! Kemarin pas kita honeymoon aja, susahnya minta ampun mau mengabadikan momen sama kamu!" kata Luna.


"Ya sudah kalau gitu nanti pas ke Yunani dan Belanda, aku mau kita foto yang banyak. Foto yang mesra dan romantis mengalahkan Romeo Juliet! Bukan hanya album foto yang aku buat. Aku juga mau cetak fotonya dengan ukuran besar yang menutupi dinding seisi rumah!" Noah tak mau kalah.


Memang Pandu saja yang bisa? Dia juga mampu tahu..


"Aku akan sewa fotografer dan videografer yang bagus. Disana nanti kita harus maternity shoot," sambung Noah lagi.


"Memangnya bisa Mas?"

__ADS_1


"Ya bisa. Harus dibisa-bisakan tidak mau tahu!" Noah begitu kekeuh mempertahankan argumennya.


**


__ADS_2