Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Noah Cemburu


__ADS_3

"Mas Noah..." Luna memanggil nama suaminya lirih seraya menoel-noel lengan pria itu yang sedang memasang wajah cemberut.


Ya, Noah memang sedang sebal saat ini. Sejak keluar dari mall tadi sampai sekarang sudah masuk ke dalam mobil pun, wajahnya tampak uring-uringan dan tak bersahabat.


Luna bisa mengira-ngira kalau perubahan suasana hati suaminya ini diakibatkan oleh pertemuan mereka dengan Pandu tadi.


"Mas Noah," wanita itu kembali mencoba peruntungannya. Kali ini lengan Noah yang digoyang-goyangkan. "Mas..! Kamu kenapa jadi diemin aku sih??"


"Tidak ada yang mendiami kamu." Noah akhirnya bersuara. Wajahnya datar dan terkesan dingin.


"Lah itu, kamu dari tadi aku panggil-panggil enggak nyaut! Kamu kenapa sih? Marah sama aku?" Luna memancing-mancing pertanyaan meskipun ia bisa menebak ini semua pasti gara-gara mantan pacarnya itu.


"Tidak menyahuti bukan berarti aku marah sama kamu." Noah masih fokus menyetir tanpa mau melirik istrinya.


"Terus kenapa? Kamu cerita dong! Sharing ke aku, apa yang membuat kamu begini? Perasaan tadi kita baik-baik aja deh pas di Mall!"


"Aku lagi kesal." ucap Noah singkat.


"Tahu kamu lagi kesal, tapi kesalnya sama siapa? Sama Pandu?"


BOOM!


Sekali mendengar nama Pandu, Noah refleks menoleh cepat. "Ckk..kamu ngapain sebut-sebut nama dia?!" ketusnya.


"Jelas aku sebut, karena aku yakin seratus persen kamu pasti kesal gara-gara kita enggak sengaja berpapasan sama dia di Mall tadi. Ya kan? Ngaku deh.." Luna menunjuk-nunjuk Noah.


"Ya gimana tidak kesal coba, orang si Pandu-Pandu mantan kamu itu sepertinya masih mengharap kamu untuk kembali. Pakai sok-sokan minta maaf lagi setelah menyakiti kamu. Sumpah demi Tuhan, mukanya pingin banget aku bejek-bejek!" ujar Noah menggebu-gebu.


Dalam hati Luna tertawa geli. Ternyata pria yang duduk di setir kemudi sampingnya ini bisa lucu juga ketika mengekspresikan isi hatinya.


"Kamu cemburu ya?" tanya Luna sambil menggoda.


Noah menggeleng, "Tidak. Untuk apa aku cemburu?"


"Kalau enggak cemburu kenapa marah-marah begitu?"

__ADS_1


"Siapa yang marah? Aku kan hanya kesal saja. Kesal dan cemburu adalah dua hal yang berbeda. Lagipula, cemburu itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak percaya diri." Noah masih menyangkal.


Luna yang tidak terima dengan pernyataan Noah barusan langsung menghardik, "Oh..bagus, jadi maksudnya kamu nyindir aku yang enggak percaya diri gitu, karena aku sering cemburu sama Mbak Malena dan Mbak Poppy? Gitu?"


Lagi-lagi Noah salah bicara. Maksud hati ingin tidak terlihat kalau ia sedang cemburu, tapi ucapannya malah jadi boomerang untuknya sekarang.


"Bukan begitu maksudnya Lun..." lirih Noah.


"Ya terus apa? Padahal cemburu tuh tanda cinta dan sayang aku ke kamu lho, Mas!" balas Luna tak kalah ketus.


"Iya..iya...iya..aku mengaku kalau aku cemburu. Puas kamu?!" ujung-ujungnya Noah mengalah. "Aku tidak suka melihat tatapan Pandu ke kamu yang seakan-akan masih mendamba. Aku tidak suka karena dia masih mengharapkan kamu kembali. Aku tidak suka tadi dia pegang-pegang tangan kamu meskipun sebentar."


Nah..ini dia yang Luna inginkan sejak tadi. Sebuah pengakuan bahwa Noah itu memang cemburu dengan Pandu. Luna sampai mengatupkan bibirnya menahan tawa.


Sedang Noah, baru ini ada seorang wanita yang mampu membuatnya mati kutu selain Mommy Adelia. Di pernikahan pertamanya dulu, Noah lumayan sering juga mengalah.


Yang membedakan, dengan Malena dirinya masih bisa memenangkan argumen atau perdebatan. Tapi dengan Luna, Noah serasa tak bisa berkutik. Timbul perasaan takut jika istri mudanya ini mengamuk dan mengambek tak berkesudahan.


Sambil mengelus-elus perutnya yang agak sedikit kram, Luna berkata, "Sekarang baru tahu rasa kamu, kena deh karmanya! Enggak enak kan kalau cemburu? Sama Mas seperti aku. Itu yang aku rasain pas kamu masih perhatian sama Mbak Malena. Mulai dari kamu yang anterin dia pulang sampai kamu kirim-kirim bunga ke rumah sakit tempat dia dirawat. Sakit Mas rasanya hati aku..."


"Iya..aku minta maaf." Noah sadar kalau kelemahannya itu selalu tidak tegaan dan merasa sungkan.


Sikapnya yang Flamboyan itulah yang kerap menggiring opini Malena dan Poppy sehingga keduanya merasa memiliki kesempatan untuk memiliki Noah.


"Sudahlah Mas, jangan dibahas lagi. Lain kali kalau kesal itu lihat-lihat dulu. Kamu kesalnya sama Pandu, tapi aku yang kena semprot. Jadi ikut dicuekin lah..didiemin lah! Padahal aku enggak ada salah. Udah aku tolak lho itu Pandu pas dia ngajakin aku bicara.."


Noah berdehem. "Hmmm...maaf. Memang aku yang salah tadi."


Suasana mendadak hening. Hanya deru mesin mobil dan suara sepoi-sepoi AC yang terdengar. Biasanya Luna akan memutar musik untuk mengusir rasa bosan tapi kali ini tidak.


"Mendingan kita cari bakso yuk Mas, aku udah kelewat lapar ini!" perut Luna mulai mengeluarkan bunyi-bunyi keroncongan.


"Oh iya, aku sampai lupa!" Noah mengulurkan tangannya mengusap-usap perut buncit Luna. "Ini kamu mau makan bakso dimana? Aku kurang tahu tempat-tempat begituan. Karena aku jarang makan bakso."


"Kenapa jarang, kamu enggak suka bakso Mas emangnya?" tanya Luna.

__ADS_1


"Bukan tidak suka sih, memang jarang makan saja. Tidak terlalu favorit juga. Tapi kalau ada pasti aku tetap akan makan."


"Beneran enggak apa-apa nih makan bakso? Nanti kamu enggak doyan..."


"Tidak apa-apa sayang...kan tadi sudah dibilang, kalau ada aku pasti makan kok!" Noah kini mengelus-elus rambut Luna.


"Syukur deh..tadinya aku pikir kamu enggak mau banget Mas, kan kita bisa cari makanan yang lain kalau emang kamu enggak doyan."


"Ya jangan begitu..orang kamu lagi ngidam. Aku makannya gampang. Jadinya mau beli bakso yang dimana nih?" tanya Noah lagi.


"Deket kantor kamu ada kok Mas! Banyak warung PKL jual soto, bakso, nasi ayam, nasi bebek, banyak tuh pilihannya..maunya makan disitu aja!" kata Luna.


"Oh mau yang disitu? Ya boleh sih, aku ayo saja." balas Noah.


Pria itu langsung membelokkan setirnya menuju arah jalan ke perusahaan Clerk Kingdom demi menuruti ngidamnya sang istri.


"Ngomong-ngomong, ada sesuatu yang mau aku bahas juga Lun sama kamu.."


"Apa itu Mas?" Luna tampak berpikir.


"Begini, kandungan kamu kan sudah mau memasuki bulan kelima. Sepertinya mulai sekarang kita harus sudah mencicil untuk menyiapkan kamar bayi dan lain-lain," ujar Noah.


"Bukankah itu terlalu dini Mas? Enggak mau nunggu setelah 7 bulan aja? Sebelumnya kita sudah pernah bahas ini kan, tunggu sampai kandunganku 6 bulan keatas paling tidak."


"Gitu ya? Enggak mau sekarang aja? Soalnya membangun kamar anak itu kan butuh a lot of preparation. Seperti dekor, interior, dan lain-lain. Paling tidak beli yang basic-basic dulu saja. Baby crib contohnya..." usul Noah.


Jujur saja, Noah itu sudah tidak sabaran ingin beli ini dan beli itu untuk kebutuhan si kecil. Apalagi setiap lewat Mall, rasanya ia sudah tak tahan ingin memborong semua yang ada disana. Entah itu baju, celana, popok bayi, bedak, sabun, dan lain-lain.


"Hmm..nunggu kandungan aku 6 bulan aja boleh enggak Mas? Kalau sekarang tuh kesannya pamali. Masih ada waktu banyak kok, aku yakin selesainya bisa cepat untuk bikin kamar anak. Pakai jasa interior yang kemarin ngurus rumah kita aja. Aku belum mau kalau sekarang." jawab Luna.


"Lagipula juga kita kan belum tahu jenis kelaminnya adek, Mas. Di USG belum kelihatan. Sekalian aja nunggu kepastian gendernya dulu biar bisa tahu yang harus dipersiapkan itu perlengkapan untuk baby cowok atau cewek." lanjutnya lagi.


Katakanlah Luna adalah wanita yang kolot dan percaya mitos, itu tak mengapa. Dia hanya ingin memastikan semuanya berjalan baik-baik saja dulu. Tidak perlu heboh-heboh beli perlengkapan bayi sekarang.


"Okay, kalau itu memang keputusan kamu..aku tak masalah." Noah memberikan senyuman tipis melirik istrinya.

__ADS_1


***


__ADS_2