
"Perut kamu sudah besar ya sayang. Cucu Mama sehat-sehat kan didalam perut?" giliran Jelita yang kini berbicara sambil memajukan tubuhnya kedepan.
Wanita berusia 41 tahun itu memang sengaja agar bisa lebih dekat lagi dengan putrinya. Keinginan Jelita mengelus perut buncit Luna begitu besar. Andai tidak ada sekat diantara mereka, mungkin sudah dari tadi Jelita lakukan.
"Sehat. Kami semua disini dalam keadaan dan kondisi yang baik-baik saja," jawab Luna terpaksa sebelum ia kembali ditegur oleh sang suami.
"Syukurlah, Mama senang mendengarnya." Jelita lega Luna masih mau menanggapi pertanyaannya. "Sudah periksa USG kandungan belum? Apa sudah bisa diketahui jenis kelamin anak kalian, laki-laki atau perempuan?" tanyanya ramah.
Pelan-pelan Jelita coba untuk membuka hati putrinya itu dengan mengajaknya ngobrol yang ringan-ringan dulu.
Luna menyahuti, "Belum kelihatan gendernya. Usia kandungan masih baru menginjak 5 bulan, barangkali di bulan ke-6 nanti baru bisa diketahui."
"Ohh iya..iya..Mama mengerti sekarang." Jelita mengangguk paham.
Cukup lama keheningan menggantung diantara mereka, Luna mengeluarkan suaranya lagi.
"Maksud kedatangan Bapak Brahim dan Ibu Jelita kesini ada apa ya? Apakah ada sesuatu yang perlu kalian bicarakan sehingga kalian masih ngotot untuk bertemu saya?" tanyanya blak-blakan. Dia sudah muak berbasa-basi.
"Tidak ada maksud apa-apa sayang. Mama hanya kangen sekali sama putri Mama. Dari kemarin Mama selalu mimpi ketemu kamu," kata Jelita yang masih berusaha tersenyum meski hatinya lemah melihat penolakan dari sang putri.
"Kangen? Apa tidak salah kangen dengan anak perempuan yang sudah ditelantarkan 15 tahun yang lalu?" sindir Luna dengan nada sinisnya. Sebisa mungkin ia bersikap tenang dan tidak terlalu emosional seperti janjinya pada Noah.
"Luna...Papa mohon maafkan kami berdua sayang. Maafkan atas kesalahan bodoh kami di masa lalu. Kalau boleh, izinkan Papa dan Mama untuk bercerita tentang kisah kami dulunya, setelah itu kamu bisa menghakimi kami sepuas hati kamu," kata Brahim lirih.
__ADS_1
"Papa hanya butuh kamu meluangkan waktu sebentar saja, untuk mendengar penjelasan kami. Setidaknya itu akan membuat hati Papa tenang dan lega, nak..." pinta Brahim lagi sambil memelas. Kerutan sedih di dahinya semakin jelas terlihat saja ketika ia sedang memohon seperti ini.
"Baiklah...silahkan bercerita. Saya sedang berbaik hati memberikan kalian kesempatan berbicara. Tapi ingat, saya tak bisa menjamin apa-apa. Jangan minta saya untuk cepat luluh dan memaafkan kalian begitu saja." Luna memberi wanti-wanti dan ultimatum diawal agar Brahim dan Jelita tidak berharap banyak.
"Tidak masalah. Kami akan menyerahkan semua keputusan di tangan kamu nantinya. Yang penting, penjelasan kami bisa didengar dulu saja sudah cukup," kata Brahim.
Noah sekilas melirik Luna sebentar. Tangan kanannya terulur untuk meraih bahu Luna dengan maksud menguatkan sang istri agar sanggup menghadapi kenyataan.
Ibrahim memulai ceritanya, "Papa dan Mama dulunya sempat berpacaran saat kami masih duduk di bangku kelas satu SMA. Hubungan itu berjalan normal 3 tahun lamanya hingga hari kelulusan."
"Awalnya semua berjalan baik-baik saja. Kami berkencan sewajarnya seperti jalan ke Mall, menonton bioskop, pergi makan bersama waktu malam Minggu. Mama dan Papa yang kala itu usianya sangat muda benar-benar terlena dan dibutakan dengan yang namanya cinta masa sekolah."
"Sampai suatu ketika, Ayah kandungnya Mama kamu itu tidak merestui hubungan kami. Begitupun juga dengan orangtua Papa yang tidak setuju kalau Mamamu menjalin kasih dengan Papa."
"Banyak faktornya. Yang paling utama itu karena keluarga kami adalah saingan bisnis. Disamping itu, setelah lulus SMA Opa kamu meminta Papa untuk melanjutkan kuliah di luar negeri. Dan saat itu juga, Papa langsung menolaknya mentah-mentah karena Papa tidak mau LDR dengan Mamamu. Sedangkan Mamamu, waktu itu dia hendak dijodohkan oleh salah satu anak dari rekan bisnis Eyang Kakung."
"Akibat rasa frustasi kami berdua yang menjalani ketidakpastian dalam sebuah hubungan, Papa dan Mamamu akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah masing-masing. Sikap egoistis dan kenaifan itulah yang mendorong kami berbuat nekat."
"Dalam masa pelarian itu, Papa dan Mama sampai melakukan hubungan terlarang yang melebihi batas wajar sehingga menghasilkan kamu," ucapan Brahim terhenti sejenak setelah panjang lebar ia menjelaskan.
Entah kenapa pria itu mendadak tak mampu lagi melanjutkan ceritanya. Brahim terlihat rapuh saat berdialog. Pancaran netra yang berkaca-kaca dan juga sedikit air mata yang menggenang di pelupuk mata menjadi bukti bahwa dirinya sangat emosional.
Seakan paham dengan perasaan bersalah yang menggerogoti hati suaminya, sang istri Jelita yang duduk disampingnya itu langsung mengambil alih kendali pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Saat pertama tahu Mama hamil, Papa dan Mama bingungnya setengah mati. Kami linglung. Posisinya saat itu, Mama dan Papa belum bekerja. Belum punya penghasilan tetap. Belum punya tempat tinggal. Hanya Ijazah sekolah menengah atas yang kami pegang. Mau lanjut kuliah tidak ada biaya karena kami kabur dari orang tua."
"Itu sebabnya kami bingung, mau dikasih makan apa bayi kami? Mau menggugurkan pun, Mama tidak bisa. Meski Mama adalah wanita yang sangat berdosa, Mama masih punya kewarasan untuk tak melakukannya. Mama ingat dengan Tuhan."
"Setelah melalui perdebatan panjang, Papa akhirnya bersedia bertanggung jawab dan menikahi Mama atas dasar nama cinta. Pernikahan kami begitu sederhana. Hanya mendaftar di kantor catatan sipil. Dan dari situlah, perjalanan hidup kami dimulai," Jelita menjelaskan detailnya.
"Pasca menikah, kami berdua sama-sama banting tulang mencari pekerjaan serabutan demi menghidupi kebutuhan sehari-hari. Fokusnya adalah menghasilkan pundi-pundi uang untuk pergi konsul ke dokter sekaligus biaya persalinan."
"Sampai semua uang terkumpul, Mama melahirkan kamu di rumah sakit lewat persalinan normal pada tanggal 15 November 1999," ucap Jelita yang suaranya terdengar bergetar.
Deghhh....
Hati Luna sedikit tersentak saat Mamanya masih ingat dengan hari kelahirannya. Tak segan-segan ia mengeluarkan air mata yang sudah tak dapat terbendung lagi.
"Luna Olivia, putri Mama dan Papa yang sangat cantik dengan panjang badan 51 cm, dan berat badan 3,2 kg telah lahir dengan selamat dan dalam keadaan yang sehat."
"Saat hamil kamu, Mama sangat suka sekali memandang langit-langit malam serta bintang dan sinar bulan yang indah. Maka dari itu, Mama sengaja menamai kamu Luna Olivia."
"Luna artinya bulan. Kalau Olivia itu artinya perdamaian. Dengan harapan saat kamu lahir, kamu bisa membawa sinar perdamaian untuk pernikahan Mama dan Papa ditengah gelapnya kehidupan kami dulu. Seperti bulan yang tetap bersinar saat malam melanda."
"**--tapi semua harapan itu harus pupus dan musnah...karena setelah kamu lahir, Mama dan Papa justru sedang berada di titik terendah kami..." ujar Jelita terbata-bata seraya menutup mulut karena menahan tangis.
***
__ADS_1