Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Pelukan Mama


__ADS_3

Chloe dan Noah tengah berada di bangku mobil belakang. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Isabelle dan Steven.


Awalnya Noah berniat memberikan kejutan kalau Chloe sudah ketemu setelah sampai sana, tapi hati kecilnya tak tega melihat kakaknya terus-terusan khawatir dan menangis di telepon. Belum lagi kakaknya sedang hamil anak kedua, daripada stress..akhirnya Noah mengabarinya.


Mendengar berita tersebut, Isabelle senang bukan main. Dia bisa bernafas lega karena putri kesayangannya telah ditemukan. Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalau sampai terjadi apa-apa pada Chloe.


"Princess nya Om, lain kali enggak boleh diulangi lagi ya..kalau mau mengejar abang-abang tukang mainan, izin dulu sama Mama Isabelle. Untung tadi ada yang nolongin, kalau enggak bagaimana?", Noah menasehati Chloe pelan-pelan.


"Iya Om, sekali lagi aku minta maaf yah..aku itu bosan di cafe Mama ngomong terus sama temannya! Enggak pulang-pulang..."


"Tetap saja sayang, lain jangan begitu! Semuanya panik mencari kamu lho, Mama Isabelle sampai nangis-nangis telepon Om. Lagipula ngapain Chloe kejar abang-abang mainan, kan mainan kamu banyak di rumah..Bahkan mainan pemberian Om ada yang belum dibuka, yang oleh-oleh dari Singapura tuh."


Chloe semakin tertunduk lesu dan merasa bersalah. Ia telah membuat Mama dan Papanya bersedih karena tindakannya. Tak seharusnya ia berlari begitu saja tanpa sepengetahuan Mamanya.


"Sudah jangan sedih..Om enggak marahin, tapi mengingatkan saja! Sebentar lagi Chloe akan jadi kakak dan punya adik kecil. Harus lebih hati-hati dan lebih bertanggung jawab."


"Okay, Om..Chloe janji!!"


Noah dan Chloe melakukan pinky promise, dengan menautkan jari kelingking mereka.


***


Sampai di rumah Steven, supir pribadi Noah membukakan pintu mobil agar Noah dan Chloe bisa keluar. Noah menggandeng tangan kecil Chloe dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Mama....", teriak Chloe.


"Chloe..sayang!!", dengan menangis sesenggukan Isabelle menghamburkan pelukan pada anak perempuannya itu. "Kamu enggak apa-apa kan? Ada yang terluka? Kamu sehat nak?"


Diciuminya berkali-kali seluruh wajah Chloe hingga sang anak mulai protes. "Mama, aku enggak bisa nafas!!"


"Ihh..Mama itu kangen nak...kamu kemana sih?!! Main ngilang aja..Mama takut kehilangan Chloe!!", tangis Isabelle belum reda. Steven mengusap-usap punggung istrinya itu yang masih tersedu-sedu.


"Mama don't cry! I promise I won't make the same mistakes again okay!!" (Mama jangan menangis! Aku janji aku enggak akan mengulangi kesalahan yang sama)


"Janji ya, untuk terakhir kalinya! Kalau mau pergi bilang-bilang, pasti Mama temenin kok! Mama juga minta maaf karena bersikap cuek dengan Chloe tadi. Mama pikir kamu ada di gandengan Mama. Maafin Mama ya nak.."

__ADS_1


"Iya Mama sayang", Chloe mencium pipi Mamanya.


"Ma..gantian dong! Papa juga mau peluk Princess Chloe..", giliran Steven yang protes.


Isabelle menghapus sisa air mata di pipinya. "Ahh...iya Pa, Mama jadi lupa..!!"


Steven dan Chloe berpelukan erat. Tak hanya Isabelle, Steven pun merasakan ketar-ketir saat mendapati kabar jika putrinya hilang. Pikirannya kalut saat menyetir mobil dari rumah sakit menuju cafe, tempat istrinya berada. Untung saja sekarang Chloe bisa kembali ke rumah dengan selamat tanpa ada lecet sedikitpun.


"Mama harus berterimakasih sama Tante Pretty sama orang-orang sekitar PKL. Mereka sudah nolongin aku tadi..bahkan Tante Pretty anterin aku ke kantornya Om!"


Isabelle keheranan. "Tante Pretty? Siapa itu?"


"Tadi aku hampir mau diculik Ma, terus ada Tante yang mau bantu aku melawan orang jahat itu! Habis gitu, Tante Pretty bawa aku ke kantornya Om! Tantenya cantik banget Ma, makane aku panggil Tante Pretty. Kapan-kapan Mama telepon orangnya ya, ajak ke rumah biar kita bisa main bersama-sama!"


Isabelle menoleh pada Noah meminta sebuah jawaban. "Nanti aku ceritakan detailnya Kak, biar Chloe naik ke atas dulu", ucap Noah.


"Ya sudah sayang...aku bawa Chloe keatas untuk ganti baju. Kamu ngobrol sama Noah dulu aja", Steven sangat pengertian jika Isabelle dan Noah butuh waktu untuk berbicara.


"Bye Mama, bye Om..aku mau ganti baju dulu ya.. muach!", Chloe melambaikan tangannya.


Perlahan-lahan, Noah mulai menceritakan kronologisnya pada Isabelle. Percobaan penculikan yang hampir terjadi pada anaknya membuatnya shock dan hampir sesak nafas. Dia menutup mulutnya dalam-dalam dengan kedua tangan.


Rencananya Isabelle dan Steven akan menemui tersangka itu di kantor polisi. Dia tak ingin masalah ini berlarut-larut. Kalau bisa segera dijatuhi hukuman saja, Isabelle tidak akan tinggal diam jika ada yang berani mencelakai keluarganya. Dia akan membuat perhitungan, karena Isabelle sangat mencintai dan menyayangi keluarganya.


"Kakak enak banget ya...kehidupan percintaan Kakak mulus kayak jalan tol! Punya keluarga kecil yang harmonis pula..aku jadi iri.."


"Berantem lagi kamu sama Malena?", tanya Isabelle.


"Tidak kak."


Isabelle menyandarkan tubuhnya di sofa dan menatap Noah lekat.


"Tidak salah...hahahaha..", Noah masih bisa bercanda ditengah kegalauan hatinya. Isabelle yang kesal langsung memukul pelan lengan adiknya itu.


"Lagian Kakak itu bingung banget deh sama kamu, tiap hari kerjaannya ribut terus. Mommy selalu dapat laporan dari ART di rumah kamu, katanya Malena kalau ngamuk suka pecahin barang-barang. Kalau udah gitu..Mommy ngadu ke Kakak."

__ADS_1


"Hhhuhh...", Noah menghela nafasnya kasar.


"Dek, Kakak sama Steven udah 13 tahun berumah tangga..kita berdua juga ada up and downs nya sama seperti kamu dan Malena. Bedanya, sehabis berantem..Kakak dan Steven akan duduk berdua dan mendiskusikan masalah kami. Disitu kami mencoba untuk introspeksi, saling mengerti dan mengalah."


"Itu yang enggak aku dapatkan dari Malena, Kak! Tiap mau ngobrol baik-baik..dianya selalu menghindar. Tahu-tahu kita udah bergulat panas di kasur...tapi enggak ada closure (penyelesaian)", keluh Noah.


"Kadang aku iri, lihat rumah tangga orang lain bisa adem ayem tenteram...kayak Kakak contohnya. Walau ada badai menerpa, selalu bisa diselesaikan. Sedangkan aku? Hanya aku Kak yang berjuang untuk mempertahankan pernikahan ini! Aku capek..aku ingin menyerah...", Noah memijat pelipisnya.


"Masih ingat dulu sebelum Chloe lahir, Kakak sama Steven sempat ada problem susah punya anak?"


Noah mengangguk.


"Berbagai proses IVF dan bayi tabung kami jalani...sampai pada tahap kami hampir menyerah dan lelah. Itu adalah titik terendah dari pernikahan kakak. Ada kekhawatiran sendiri dalam diri Kakak jika Steven akan pergi ninggalin kakak dan meminta cerai."


"Tapi karena cinta kami berdua yang begitu kuat, kami bisa bertahan! Kami punya tekad untuk tetap menjalani biduk rumah tangga ini ada atau tanpa adanya anak! Dan akhirnya..lahirlah Chloe, setelah 6 tahun penantian. Buah cinta dari kesabaran kami!", Isabelle bercerita tentang masa lalunya.


"Kakak tanya sekarang...apakah kamu masih cinta sama Malena? Apakah cinta kalian begitu kuat atau sudah rapuh?", tanya Isabelle.


"Entahlah Kak, rasa cinta itu terkikis sendiri semakin kesini. Malena banyak berubah..aku bahkan bimbang, apakah aku ini masih ada sisa rasa untuk Malena atau tidak!", sahut Noah.


"Kenapa enggak pisah aja dek? Hubungan kalian itu toxic. Perceraian mungkin bukanlah jalan yang ingin ditempuh oleh setiap orang yang berumah-tangga..tapi kasusmu sama Malena udah keterlaluan."


"Kamu enggak diperhatikan, enggak diurus, 2 tahun komunikasi buruk walau kamu sudah coba perbaiki. Malena-nya sering luar kota dan gak kasih kabar. Apa yang mau dipertahankan?"


"Toh kalian kan belum ada anak..kalau mau pisah gampang! Enggak ada yang berat untuk ditinggalkan!", cerocos Isabelle.


Noah serasa mendapatkan bimbingan konseling serta wejangan dari Isabelle panjang lebar. Kakak perempuannya itu tak henti-henti menceramahinya.


"Dengerin Kakak ya dek! Kamu itu tampan, kaya, mapan, dan berhati baik...lepas dari Malena kamu bisa cari istri lagi! Pegang omongan kakak! Duda kaya banyak dicari sekarang!"


Kata-kata yang keluar dari mulut Isabelle cukup menohok ulu hatinya. Benar kata orang jika kejujuran itu menyakitkan. Fakta demi fakta yang diuraikan oleh Isabelle nyata adanya. Hubungannya dengan Malena memanglah toxic dan tidak bisa diperbaiki lagi.


"Beri aku waktu 1 bulan lagi untuk memantapkan hati Kak! Setelahnya aku akan buat keputusan masa depanku. Memilih untuk pisah atau bertahan", lirih Noah.


"Dunia belum berakhir..masih banyak jalan buat move on! Kakak, Steven, Chloe..also Mommy and Daddy akan ada disamping kamu!! You're going to be alright okay", Isabelle mengelus lengan Noah.

__ADS_1


__ADS_2