Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Bikin Paspor


__ADS_3

"Jadi gimana? Saya anggap, kamu terima tawaran saya..?"


"Atau kalau masih ragu, kamu minta izin sama Pakdhe dan Budhe mu! Nanti saya bantuin ngomong..."


Luna bingung harus memberikan jawaban apa untuk Noah. Sesaat, Luna teringat akan percakapannya dengan Pakdhe dan Budhe nya yang tinggal di Semarang lewat video call.


*


*


Flashback On📱


"Malam Budhe, Pakdhe...apa kabarnya kalian? Luna kangen banget nih..." senyuman Luna merekah lebar kala memandang wajah kedua orang yang paling dicintainya itu.


"Halo sayang, Budhe juga kangen! Disini kita sehat-sehat, kamu juga kan baik-baik disana?" Budhe berdada-dada lewat layar dan terlihat antusias menyapa.


"Luna baik kok disini, cuman Luna minta maaf ya Pakdhe, Budhe..karena belum bisa kirim uang banyak untuk kalian dalam 2 bulan terakhir ini. Luna belum dapat kerjaan, masih ngelamar-ngelamar dulu cari lowongan!"


Luna memang sudah bercerita jujur pada Pakdhe dan Budhe nya kalau dia terkena PHK alias pemutusan hubungan kerja, dan sudah diberhentikan kantor sejak beberapa bulan lalu.


"Jangan merasa terlalu terbebani, Pakdhe sama Budhe itu gak masalah! Kami disini sudah tercukupi. Kamu jangan khawatir, lebih baik uangnya disimpan buat biaya hidup kamu disana."


Usaha toko bangunan yang dikelola oleh Pakdhe dan Budhe-nya Luna sebenarnya lancar-lancar saja. Penjualannya sangat laris dan tergolong sukses. Tanpa bantuan kiriman uang dari Luna, mereka berdua hidupnya sudah berkecukupan dan terpenuhi.


Tapi sebagai bentuk balas budi Luna, dia tetap memaksa mereka untuk mengirimi uang tiap bulannya secara rutin. Pakdhe dan Budhe-nya Luna pun tak bisa berbuat apa-apa, mereka pasrah menerimanya untuk menghargai kerja keras Luna.


"Siap Tuan Bos dan Nyonya Bos, Minggu besok aku mau pulang ke Semarang ya.."


"J--jangan nduk, kamu di Jakarta aja!" Budhe melarang, dan wajahnya seperti orang panik.


"Lah kenapa, tumben? Mau pulang kampung kok dilarang?!"


"Pakdhe sama Budhe minggu besok mau ada urusan, bantu acara hajatan tetangga untuk lamaran di Solo." timpal Pakdhe.


"Gitu ya? Okay kalau begitu. Oh ya Budhe, Pakdhe..ada sesuatu hal penting yang mau aku bahas juga nih.."

__ADS_1


"Bahas apa toh?"


"Aku mau minta izin sama kalian untuk pergi ke Singapura. Kemungkinan berangkatnya Minggu depan, kira-kira dibolehin enggak?"


"Hahh??!!" Pakdhe dan Budhe sama-sama memekik kaget. "Ke Singapura mau acara apa? Sama siapa? Kapan perginya?" keduanya langsung mencecar Luna dengan pertanyaan-pertanyaan.


"Diajakin sama temen aja sih Budhe..aku juga dibayarin gratis tanpa keluar biaya. Cuman modal bawa badan aja! Dia minta ditemani untuk cek proyek pembangunan hotel dan apartemen disana."


"Wahhh..temanmu orang kaya nduk?" ceplos Budhe dengan nada bercanda."


"Ishh...Ibu gimana sih! Yang dipikirkan kok malah itu mulu!" Pakdhe menegur dengan tepukan pelan di lengan Budhe.


"Bapak ini enggak asik, cuman bercanda tadi kok! Hmm..ya sudah kalau gitu, Budhe setuju kamu ke Singapura!" angguk Budhe Ririn mengiyakan.


"Loh beneran Budhe? Tumben banget cepat acc nya?" Luna keheranan.


"Ehh...ehhh..siapa yang bilang setuju! Pakdhe enggak suka!" Pakdhe Bimo menyahuti tak terima. Beliau adalah orang yang sangat overprotektif dan seringkali tak mengizinkan Luna bepergian jauh.


"Sudahlah, Pakdhe mu ini emang gak gaul! Pikirannya kolot...Budhe percaya kok sama kamu!"


Budhe Ririn dengan cepat menyetujui permintaan Luna tanpa ada kealotan atau sanggahan apapun. Malah terkesan oke-oke saja apabila Luna pergi ke Singapura, meski ini adalah pengalaman pertamanya.


"Ehh...Bapak belum selesai ngomong Bu!"


Panggilan video call diputuskan sepihak oleh Budhe Ririn.


Flashback Off📱


*


*


Sampai detik ini Luna masih keheranan karena diizinkan pergi ke Singapura dengan mudah tanpa hambatan oleh Pakdhe dan Budhe-nya. Rasanya seperti mimpi saja. Jangan-jangan ada sesuatu yang disembunyikan oleh mereka.


Terbukti dari keduanya yang melarang Luna untuk pulang ke Semarang secara terang-terangan hanya karena alasan hajatan. Padahal biasanya Luna sah-sah saja kalau mau pulang, syukur-syukur dia malah diajak ikut serta menjadi iring-iringan.

__ADS_1


"Lun, kok kamu diam aja? Gimana, mau kan?" Noah melambaikan tangannya didepan wajah Luna.


"I--iy--iya..deh..Om, saya ngikut aja!" Luna mengangguk setuju meskipun ada keraguan di hatinya.


"Ahh....syukurlah kalau kamu mau! Saya lega mendengarnya. Kalau begitu biar enggak berlama-lama lagi, kamu siapkan semua dokumen yang diperlukan sekarang. Kalau bisa sebelum jam 1 siang semua sudah siap, nanti kamu ke kantor saya setelahnya."


"Sekarang juga Om?"


"Iya, lebih baik jangan ditunda-tunda. Kalau bisa sekarang ya lakukan sekarang. Kalau nanti-nanti malah semakin malas dan waktunya mepet!"


"Ya sudah Om, saya akan lengkapi dokumennya. Memang apa aja yang dibutuhkan?!"


Noah mengeluarkan ponsel canggih miliknya dengan gambar logo buah apel yang sudah digerogoti. Dia tampak mengetik sesuatu dan meng-capture layar screen ponsel tersebut.


TRINGGG....


Ponsel Luna berbunyi, tanda ada notifikasi pesan masuk. Ketika Luna mengeceknya, ternyata pesan masuk tersebut datangnya dari nomor Noah. Itu berarti, pesan teks yang diketik Noah tadi diperuntukkan untuk dirinya.


"Udah masuk kan message dari saya?"


"Iy--iya Om, ini barusan saya lihat." Sebuah pesan bergambar dan teks panjang telah dibaca oleh Luna perlahan.


"Nah, yang saya kirimkan barusan itu adalah list berkas-berkas yang dibutuhkan untuk mengurus paspor. Tidak banyak kan? Kebetulan negara yang kita datangi masih satu kawasan ASEAN jadi bebas visa. Kalau ke Eropa atau US lain lagi ceritanya.."


"Oke Om, saya paham kok. Ini memang enggak banyak..jadi mungkin, jam 1 udah pas bisa beres."


"Bagus kalau begitu, lebih cepat maka lebih baik. Nanti biar saya suruh supir untuk menjemput kamu di kontrakan."


"Enggak usah repot-repot Om, saya bisa berangkat sendiri kok naik taksi online!"


"Tidak ada bantahan Luna, daripada keluar ongkos lagi..lebih baik orang saya yang jemput kamu. Biar supir saya sekali-kali ada kerjaan, udah lama dia menganggur di kantor dan banyak tebar pesona sama karyawan perempuan di pantry. Jadi lebih baik saya suruh-suruh dia aja!"


Luna terkikik pelan, " Terserah Om aja deh, aku mah mana bisa nolak!"


Keduanya tertawa bersama seraya memandang satu sama lain.

__ADS_1


***


Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.


__ADS_2