
Sudah hampir 4 hari lamanya Noah dan Luna tak bertegur sapa semenjak kejadian dimana Bobby menelpon dan memaksa Noah untuk datang membesuk Malena si rumah sakit.
Setelah pertengkaran beberapa hari lalu, Luna tak tahu bagaimana kelanjutannya apakah Noah jadi mengirimi buket bunga dan makanan pada sang mantan istri atau tidak. Luna bersikap acuh dan tak mau berdebat lagi.
Ketegangan diantara majikannya pun ikut membuat para karyawan di rumah menjadi canggung. Keadaannya semakin memanas. Tak ada lagi keramaian dan canda tawa yang mengiringi seisi rumah. Bi Sumi, Rima, dan Sari ikut prihatin kala mengetahui bos kesayangan mereka sedang ribut.
Ketika sarapan dan makan malam berlangsung, Luna dan Noah saling diam dan memilih fokus pada santapan masing-masing. Baik Luna maupun Noah, sama-sama memiliki ego yang tinggi dan gengsi yang besar untuk mengawali pembicaraan.
Hal yang sama berlaku pada saat keduanya tidur di malam hari. Mereka berdua saling memunggungi satu sama lain. Tak ada dialog, tak ada pillow talk, yang ada hanyalah kesunyian yang menyelimuti malam dingin mereka. Separah itu memang.
"Mbak Rima, saya mau keluar dulu ya sebentar!" ucap Luna sambil menenteng tas jinjingnya.
"Nyonya mau kemana?" tanya Mbak Sari yang mengamati tubuh Luna dari atas hingga ke bawah.
Nyonyanya itu nampak cantik dan berseri dengan balutan knit slim-fit dress tanpa lengan berwarna pink magenta. Wedges heels slip on warna nude yang terpasang pada kedua kakinya pun menambah kesan manis. Ditambah dengan rambut indah yang bergelombang sengaja digerai. Cantiknya Luna bukan kaleng-kaleng.
"Mau ke toko kue, Mbak. Entah kenapa saya lagi kepingin makan cheese cake sama craquelin choux. Tadi pas lihat-lihat di sosial media, kok kayaknya enak banget ya! Saya jadi pingin makan kue."
Luna langsung membayangkan betapa enaknya kudapan-kudapan manis apabila disantap siang-siang begini. Sepertinya dia sedang mengidam.
Sari menyarankan, "Apa sebaiknya tidak pakai pesan antar saja Nya? Lebih praktis lho! Nyonya tidak perlu repot-repot keluar rumah."
"Enggak mau Mbak, saya mau langsung kesana aja. Kalau di tokonya itu bisa pilih-pilih sendiri sesuka hati. Sekalian jalan-jalan juga, saya bosan di rumah."
"Nyonya sudah izin sama Tuan belum?" tanya Sari hati-hati.
Dia tahu betul jika kedua majikannya ini sedang perang dingin. Kalau tahu Luna pergi tanpa izin sang suami, bisa-bisa marahannya lebih lama lagi nanti.
"Sudah kok, Mas Noah sudah saya chat. Kamu tenang saja ya, saya pasti akan baik-baik kok. Ada Dani sama Karta yang ikut mendampingi saya." ucap Luna yang sengaja berbohong biar Sari tidak tanya-tanya lagi.
Jangankan mengabari, boro-boro Luna mau mengirim pesan atau sekedar menelpon suaminya itu. Dia masih sedang dalam mode ngambek.
Semenjak hamil Luna seringkali bertengkar dengan Noah. Mulai dari hal kecil hingga hal besar sekalipun diperdebatkan. Sungguh kehamilan ini menguji kesabarannya.
"Ya sudah Nya, hati-hati dijalan ya!" pesan Sari.
Dirinya yang begitu polos pun langsung percaya begitu saja jika Luna sudah mengantongi izin. Padahal sebenarnya belum.
"Terima kasih. Mbak saya tinggal dulu di rumah sendiri enggak apa-apa kan? Soalnya Mbak Sari sama Bi Sumi masih pergi belanja bulanan."
"Saya mah sendiri juga udah biasa, Nya. Enggak apa-apa. Masih ada Pak Hari di rumah."
__ADS_1
"Kalau ada apa-apa langsung hubungi saya saja nanti."
"Siap Nya!"
Sekeluarnya Luna dari pintu utama rumah, dia disambut oleh Karta dan Dani yang berdiri standby menyandar pada mobil. Keduanya sudah ready untuk mengantar Luna pergi hari ini.
***
Sesampainya di toko roti, Luna langsung saja melihat-lihat kue-kue enak yang terpampang di etalase. Kali ini Luna agaknya sedikit memborong.
Banyak sekali jumlah kue yang dicomot dan dimasukkan kedalam keranjang. Untuk cheese cake dan craquelin choux yang diinginkannya sudah dibungkus terlebih dahulu dalam box khusus.
"Dani, kamu mau kue juga enggak?" Luna bertanya pada sang bodyguard-nya yang sejak tadi mengekorinya.
"Tidak usah Nyonya." Dani menolak secara halus.
"Beneran tidak mau nih? Jangan sungkan sama saya. Kalau mau kamu ambilah, biar saya yang bayar. Bebas pilih, karena saya tidak tahu selera kamu. Sekalian sama Karta juga pilihkan!" perintah Luna.
"Serius Nya?"
"Masa bercanda sih, kan sedang saya tawarin. Ambil yang banyak ya!"
"Siap Nya, terima kasih." Dani nampak girang karena dapat rejeki nomplok ditraktir kue mahal oleh Luna.
Puas memilih-milih, Luna akhirnya menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya. Dan setelah transaksi pembayaran selesai, tentunya ia akan langsung pulang tanpa mampir kemana-mana dulu. Luna sudah tak sabar ingin memakan kue yang baru saja dibelinya tersebut.
"Dan, saya kok haus banget ya.." ucap Luna saat keduanya sudah keluar dari toko kue.
"Di mobil ada persediaan air mineral dan beberapa minuman botol, Nya."
"Tidak mau, saya maunya minum jus yang dijual di gerai kecil seberang sana!" tunjuk Luna.
"Alangkah baiknya menunggu di rumah saja, Nya. Bisa dibuatkan nanti sama Bibi atau Mbak. Kalau beli di tempat seperti itu kan tidak higienis. Seringkali mereka menggunakan air mentah!" usul Dani.
"Tapi saya pengen banget Dan! Kamu beliin ya, please!" Luna memohon dengan tatapan memelas. Dani jadi tak tega melihatnya.
Dani lalu melihat pada sekeliling arah luaran toko roti. Dia tidak mendapati kehadiran Karta disekitar, hanya ada mobil saja yang masih terparkir.
Mengecek ponselnya, Dani melihat sebuah pesan masuk yang mengatakan bahwa Karta sedang pergi sebentar ke toilet untuk buang air besar karena sudah tak tahan lagi.
"Karta masih pergi ke kamar mandi, Nya. Tunggu sampai Karta balik lagi saja ya baru nanti saya belikan."
__ADS_1
"Sekarang aja, nanti takut semakin ramai. Lihat tuh orang-orang pada bergerombol. Pasti jusnya enak banget sampai ramai begitu! Buruan Dan, ini uangnya saya kasih." Luna mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah untuk diserahkan pada Dani.
"Saya mau jus strawberry satu, kalau enggak ada jus melon aja ya.."
"Tapi Nya--"
"Enggak ada tapi-tapian, saya akan jaga diri baik-baik disini. Lagian ini kawasan ramai orang, pasti tidak akan ada yang berani macam-macam." ujar Luna santai.
Padahal tanpa Luna ketahui, sejak tadi ada yang mengincarnya dari jauh ketika ia sedang masuk ke toko roti. Seorang pria bermasker dan berkacamata hitam dengan topi dan sarung tangan abu-abu tengah mengamati gerak-geriknya tanpa lengah.
"Nya, tunggu Karta saja. Tidak bisa saya tinggalkan Nyonya disini sendiri. Nanti saya kena marah sama Tuan Noah." Dani benar-benar mengikuti prosedur Noah tanpa ada bantahan. Susah sekali diajak nego.
"Ckk..bawel ih! Mas Noah lagi..Mas Noah lagi..saya tuh padahal lagi ngidam banget ini tolonglah ya?!"
"Tetap tidak, Nya." Dani teguh pada pendiriannya.
"Ckkk..ya sudah, kalau kamu tidak mau biar saya yang beli sendiri!" Luna semakin menantang balik.
Ingin hati Dani mencegahnya dan menarik tangan Nyonya-nya itu, namun sayang ia tidak bisa bergerak leluasa karena kedua tangannya penuh dengan tentengan goodie bag berisikan kue-kue. Mau ditaruh bagasi pun, Karta nya belum balik dari toilet. Alhasil Dani mengikuti Luna meski jalannya agak sedikit lambat dari biasanya.
Belum sampai 5 langkah Luna berjalan, tiba-tiba saja ada sebuah mobil hitam berjenis SUV dari arah berlawanan yang melaju dengan kecepatan tinggi hendak menyambar Luna.
TINNNN....
"Awas Nyonya!!!" Dani berteriak kencang dan sontak melepaskan goodie bag yang dipegangnya hingga tercecer tak beraturan.
Dengan gerakan cepatnya, Dani menarik tubuh Luna agar tak tertabrak. Untungnya berhasil. Keduanya sampai jatuh tersungkur diatas jalanan.
Dan, WUSHHHH!!
Mobil itu tetap terus melaju tanpa mau berhenti. Hal ini semakin membuat Dani yakin jika ada sesuatu yang mengganjal. Mobil itu jelas-jelas ingin melukai Nyonya-nya.
"Dan..perut saya kram rasanya..sakit..." rintih Luna kesakitan.
Seketika Dani melihat noda merah yang merembess keluar dari balik dress Luna. Gawat, ini pasti pendarahan. Pikir Dani dalam hati.
Bersamaan dengan itu, Karta yang baru dari toilet akhirnya keluar juga. Dia datang berlari dari jauh untuk menghampiri Luna dan Dani. "Waduh..ini Nyonya kenapa?" tanya Karta dengan suara ngos-ngosan.
"Enggak usah banyak ngomong! Bantu angkat Nyonya ke mobil. Kita ke rumah sakit sekarang!" tukas Dani yang panik.
Karta dan Dani segera membopong tubuh Luna yang lemas dengan kedua lengan Luna dikalungkan pada kedua pria itu. Tak lupa Karta juga memunguti goodie bag kue yang jatuh berserakan tadi kemudian dimasukkan pada bagasi belakang.
__ADS_1
***
Jangan lupa beri like, comment dan vote nya ya teman-teman untuk support author agar lebih semangat menulis. Terima kasih 😁