Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Ngidam Malam


__ADS_3

Noah


"Kamu masih marah sama aku?" tanyaku hati-hati pada Luna.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, namun tidak ada yang berubah. Sampai detik ini Luna masih mencueki diriku. Dia malah asyik selonjoran diatas sofa kamar seraya bermain ponsel.


"Enggak." jawabnya ketus. Manik matanya masih fokus pada layar ponsel tanpa mau menoleh sekilas.


"Tidak marah tapi ngomongnya ketus begitu?!" cibirku sengaja.


Wanita memang begitu, sulit dimengerti. Lain di bibir lain pula di hati. Bilangnya tidak marah tapi wajahnya terlihat bak singa yang hendak menerkam mangsanya.


Luna menegakkan tubuhnya kemudian menghentakkan kaki pada lantai karena kesal. "Udah lah Mas...berisik kamu! Aku mau tidur aja!"


Benar kan, aku kena lagi! Hanya gara-gara aku menerima kue pastry dari Poppy, masalahnya jadi merembet kemana-mana.


Tidak-tidak, ralat. Sebenarnya sejak insiden kedatangan Poppy sampai orangnya sudah pulang sekalipun, aku dan Luna seperti pasangan suami-istri yang sedang perang dingin. Tak saling bertegur sapa.


Sudah bisa dipastikan, Luna pasti cemburu. Hihihi...


Aku senang-senang saja sih melihat Luna jealous begini. Ini menunjukkan bahwa dia benar-benar mencintaiku. Luna tahu betul bagaimana history-ku dan Poppy yang pernah dijodohkan di masa lampau. Mungkin dia takut aku diambil orang.


Tapi disisi lain, aku juga merasa tak nyaman kalau diacuhkan begini olehnya. Aku sudah terbiasa dengan Luna yang bawel, centil, dan selalu punya banyak cerita untuk diobrolkan.


"Tumben mau tidur? Padahal ini masih terlalu sore untuk tidur. Nonton film dulu mau tidak?" aku menawari Luna, kali saja dia bisa melunak.


"Enggak Mas, kalau enggak ya enggak!" balasnya sedikit membentak sambil menutupi tubuhnya dengan bedcover hingga bahu.


"Iya, okay. Aku minta maaf," lagi-lagi aku memilih untuk mengalah saja.


Kata Mommy menghadapi hormon ibu hamil itu memang gampang-gampang susah. Harus ekstra sabar. Pentingnya peran suami untuk selalu berada disamping istri saat masa-masa mood swing adalah sebuah kewajiban.


Keheningan mengantung untuk beberapa menit karena baik aku maupun Luna, tak ada salah satu dari kami yang mau mengawali pembicaraan. Luna yang mempertahankan sifat ngambeknya, sedangkan aku tak tahu harus berbuat apa.


Dulu saat aku masih bersama dengan Malena, dia jarang sekali merajuk. Hampir tidak pernah aku membujuknya agar tidak ngambek. Malena juga tidak pernah cemburuan. Beda dengan Luna yang lebih ekspresif dalam mengutarakan perasaannya.


"Mas..."


Nah, akhirnya Luna mau membuka suara. "Iya Lun..ada apa?" sahutku balik.


"Mau makan, aku lapar." Luna membalikkan badannya menatapku serius.

__ADS_1


Aku tersenyum tipis. Tadi saja marah-marah dan sekarang sudah kembali ke setelan pabrik. "Iya boleh..mau makan apa?"


"Pizza sama hamburger. Boleh kan?" ekspresinya membentuk puppy-eyes.


"Junk food lagi?" aku sebenarnya kurang setuju kalau dia sering-sering makan makanan yang kurang sehat seperti itu.


"Please Mas, boleh ya? Aku lagi pingin banget!!!" Luna merengek dan melengkungkan bibirnya kebawah.


Aku menarik nafasku dalam. "Hhh..okay, kali ini aku izinkan. Tapi jangan terlalu sering," jawabku.


Seketika wajah Luna langsung berubah sumringah dan matanya berbinar-binar.


"Ini kamu mau delivery order atau makan di restorannya?" tanyaku lagi.


"Mau makan diluar sambil jalan-jalan."


"Bukannya tadi mau tidur?" aku sengaja menggodanya kali ini.


"Kan masih terlalu sore untuk tidur!" Luna membalik ucapanku. Pintar sekali dia, jadi makin gemas aku.


Kuusap kepala Luna dengan gerakan tangan yang lembut. "Okay, kamu siap-siap dan ganti baju sekarang. Aku tunggu dibawah."


"Kamu enggak ganti, Mas?"


Luna mengangguk kemudian segera beringsut dari kasur untuk menuju walk in closet.


***


Di malam yang begitu dingin setelah hujan mengguyur basah seisi kota, aku menyupir mobil sendiri untuk pergi ke restoran pizza. Biasanya kalau bepergian kami diantar oleh supir, tapi kali ini aku ingin quality time berdua dengan Luna saja.


"Udah lama ya Mas kita enggak jalan-jalan malam begini!" celetuk Luna.


"Iya juga ya...kalau dipikir-pikir sudah lama kita tidak pergi keluar. Akhir-akhir ini kondisi kesehatan kamu sedang tidak baik, jadi mau pergi-pergi harus ditunda dulu."


Ketika pertama kali tahu Luna hamil, aku berniat mengajaknya pergi ke Bali untuk menghadiri resepsi pernikahan kolega kerja sekaligus teman kuliahku tapi sayangnya batal karena kondisi kandungannya yang lemah.


Hari berikutnya, aku sempat ada wacana untuk mengadakan liburan keluarga kecil-kecilan dan piknik bersama nyatanya gagal juga karena Luna harus bedrest. Alhasil aku dan Luna lebih sering banyak melakukan aktivitas di rumah saja saat weekends.


"Nanti kalau usia kandungan aku udah masuk terimester kedua...aku mau babymoon Mas! Ajakin aku jalan-jalan lagi.."


Kuraih tangan Luna yang diletakkan diatas paha dan menggenggamnya dengan erat. "Boleh, kamu memang mau kemana?"

__ADS_1


"Mau ke Belanda aja. Soalnya pas usia kehamilanku sekitar 5 bulan, disana sedang musim semi. Jadi kamu harus ajak aku lihat Bunga Tulip yang bermekaran di Keukenhof!"


"Mengidam yang tertunda nih ceritanya?" kulirik Luna sekilas sebelum pandanganku kembali fokus pada jalanan.


Istriku itu mengangguk semangat. "Heem...ngidam yang tertunda karena baru keturutan beberapa bulan kedepan! Hihihi!" Luna tertawa cekikikan.


Finally, aku bisa melihatnya tertawa dan tersenyum kembali. Ini baru sosok Luna yang sebenarnya. Yang selalu ceria dan semangat, bukannya uring-uringan meskipun aku tahu itu efek baby yang ada di perut.


"Baiklah. Aku akan kosongkan jadwal supaya bisa free untuk Bulan Mei. Kita akan ke Belanda, dengan catatan kalau kandungan kamu sudah kuat. Jika dokter mengatakan tidak, jangan merengek untuk memaksa ya?"


"Iya Mas, janji. Aku pun juga enggak mau terjadi apa-apa sama baby kita! Makasih Mas!" Luna menciumm pipiku dengan cepat.


Ahhh..aku salah tingkah jadinya.


"Good girl!" aku menarik telapak tangan Luna untuk kudekatkan pada wajahku, lalu aku mendaratkan sebuah kecupan singkat disana.


"Besok, aku mau main-main ke kantor kamu dong Mas!" ujar Luna secara random.


Aku mengerutkan dahiku dan menolehnya bingung. "Mau ngapain?" tak biasanya dia mau mampir ke kantor.


"Ya main-main aja, emang enggak boleh nyamperin suami sendiri?"


"Boleh sih, tapi ini serius? Kamu mau main-main aja atau mau ngawasin aku supaya tidak didekati oleh Poppy?" aku menaikkan kedua alisku untuk menjahilinya.


Belakangan ini aku suka sekali menggodanya. Setiap kali dia kesal, wajahnya itu terlihat imut dan menggemaskan. Aku suka.


Luna membulatkan kedua matanya lebar dan mencengkram tanganku yang masih bertaut.


"Ngaku saja Lun..kamu pasti mau samperin aku karena kamu tahu besok Poppy datang ke kantor. Iya kan?!" cibirku sekali lagi membuat pipi Luna berubah warna menjadi merah merona bagaikan buah persik.


"Enggak! Pede banget...aku itu mau antar makan siang! Kemarin guru privat masak aku baru ajarin resep makanan yang baru. Aku mau kamu cobain, jadi besok aku bakal masak menu itu. Kalau sudah jadi, aku antar ke kantor Mas Noah!" terang Luna panjang lebar. Meskipun aku tahu itu hanya alasan saja.


Tadi sore aku sempat teleponan dengan Daddy dalam mode loud speaker di ruang kerjaku. Beliau bilang, Poppy akan datang besok ke Clerk Kingdom untuk membahas kontrak pekerjaan mewakili sang ayah yang berhalangan.


Aku yakin Luna menguping pembicaraan kami karena kebetulan pintu ruanganku tidak tertutup rapat dan menganga sedikit tadi.


"Oke..oke..bawakan saja makan siang untukku. Aku juga pingin tahu hasil les privat masak kamu bagaimana. Makanan kamu pasti enak kok!"


"Ehhh..tapi kalau enggak enak gimana Mas?" Luna mendadak ciut dan khawatir.


"No problem. Belajar lagi bisa. Kan waktunya masih banyak, orang baru 4x pertemuan. Masih panjang waktunya." aku berusaha menyemangati Luna agar tidak minder.

__ADS_1


Enak atau tidak enak aku pasti akan tetap makan dan menghargai usahanya. Dia belajar masak juga untuk menyenangkan aku, yang tidak sengaja pernah bilang kalau tipe wanita idamanku itu yang jago masak. Meskipun sebenarnya, tidak bisa masak pun tidak apa-apa. Itu hanya preference kecil.


__ADS_2