
"Hahhh? Dia minta kamu untuk kasih kesempatan?!" Daddy Jo memekik kencang.
"Aduh..Dad!! Jangan keras-keras kalau ngomong! Ketahuan Mommy bisa habis aku!"
"Bukan cuman Mommy ya..Daddy juga bakalan libas habis kamu kalau sampai kamu berani kasih kesempatan lagi sama dia!"
"Mana ada Dad, kisah cintaku sama Malena sudah bubar. Sudah enggak ada lagi sisa rasa.."
"Heleehhh..pakai gaya-gayaan sok tegar kamu! Daddy tahu, kamu masih menyimpan barang-barang peninggalan Malena kan jaman pas kalian pacaran saat kuliah??!"
"D--d--daddy kok bisa tahu?" Noah tergagap tak bisa menjawab serangan pertanyaan bertubi-tubi dari Daddy-nya itu.
"Apa sih yang enggak Daddy tahu? Mata-mata Daddy banyak! Sekarang Daddy tanya, kamu kenapa enggak benar-benar membuang semua barangnya dia?"
"Belum sempat aja Dad," Noah beralasan.
"Bilang aja kamu gak bisa move on, iya kan? Pantesan aja kamu mendadak pulang ke rumah, ternyata galau karena mikirin Malena?" sindir Daddy Jo.
Pasalnya, putra bungsunya itu jarang pulang ke rumah orang tuanya kalau tidak ada sebab akibat. Dari zaman Noah lulus SMA saja, Daddy Jonathan dan Mommy Adelia sudah melepasnya untuk tinggal sendiri di negeri orang demi mengenyam bangku kuliah.
Bahkan setelah lulus S2 dia memilih untuk tinggal di penthouse pribadi miliknya. Ketika menikah dengan Malena, Noah membeli sebuah mansion mewah dan menjauh dari keluarganya, dengan dalih Malena tidak terlalu dekat dengan mereka. Agar tidak menimbulkan percekcokan, ada baiknya mereka tinggal berjauhan. Dan sekarang rumah mewah bekas kediaman Noah dan Malena sudah dijual, karena Noah tak ingin teringat akan kenangan buruk oleh pernikahannya yang gagal.
"Daddy kok ngomong gitu sih..?!"
"Emang benar kan? Kalau kamu enggak cerai sama Malena, boro-boro kamu menginjakkan kaki di rumah Daddy sama Mommy! Baru pas cerai aja ngungsi disini!"
Daddy Jo mengeluarkan kata-kata pedasnya yang selama bertahun-tahun ini telah tertahan. Sejak dulu ia ingin menyampaikan uneg-uneg yang bersarang di hatinya pada Noah. Tapi karena dasarnya Noah keras kepala dan sudah buta akan cinta, Noah jadi menutup mata akan keadaan sekitar. Putranya itu seolah-olah terhipnotis akan bujuk rayu Malena yang mampu menjeratnya.
"Noah minta maaf ya Dad, Noah udah banyak salah dan mengecewakan kalian," suasana berubah menjadi sendu.
"Selama ini Noah enggak pernah mendengarkan omongan orang tua. Noah enggak nurut sama Mommy dan Daddy yang dulu menolak mentah-mentah Malena untuk menjadi menantu keluarga ini. Padahal kalian selalu mengingatkan aku agar berhati-hati dengan Malena. Terbukti sekarang...Malena mengkhianatiku. Insting orang tua memang hampir selalu benar..."
__ADS_1
"Sudahlah nak..Daddy sebenarnya sudah melupakan itu semua. Tadi hanya kebawa emosi saja dan pengen iseng ke kamu. Maaf kalau Daddy membuatmu jadi mengingat luka lama.." Daddy Jo menepuk-nepuk pelan punggung anaknya.
Noah tersenyum tipis menundukkan wajahnya, "Bukan salah Daddy, aku pantas mendapatkan ini semua. Kalau aja waktu itu aku enggak menolak perjodohan yang Mommy atur, mungkin pernikahanku akan baik-baik saja."
Sebelum menikah dengan Malena, Mommy Adelia sempat menyodorkan perjodohan pada Noah dengan anak perempuan dari temannya semasa SMA, Poppy namanya.
Poppy itu perempuan yang cantik, berpendidikan, penampilannya pun elegan dan sopan. Bahkan Noah dan Poppy sempat beberapa kali melakukan kencan untuk mengenal satu sama lain atas paksaan Mommy Adelia.
Dan dalam beberapa pertemuan itu, Poppy sudah mengutarakan blak-blakan jika dia tertarik dengan Noah. Hanya saja Noah sudah terlanjur melamar Malena saat itu dan nekat ingin menikahinya, sehingga dia menolak halus. Semua hal itu dilakukan atas pengetahuan Malena juga, karena Noah bersikap terbuka. Dia tak mau kekasih hatinya menjadi salah paham atas perjodohan yang tidak dikehendaki.
"Terus sekarang bagaimana perasaan kamu? Apa kamu baik-baik saja?"
"I'm alright Dad, everything will be okay. Selama aku punya Daddy, Mommy, Kak Isabelle, Kak Steven, dan Chloe..semuanya akan baik-baik saja bukan?"
"Tetap ingat ya, kami semua ada disini untukmu. Jangan pernah selalu merasa bahwa kamu sendirian. Kalau ada perasaan yang mengganjal, datang pada kami. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar.."
"Of course Dad.."
Benar apa yang dikatakan oleh kebanyakan orang. Keluarga tidak akan pernah membalikkan punggungnya untukmu. Meskipun beberapa tahun belakangan sikap Noah sangat menyebalkan, tetap saja kalau sedang patah hati begini, larinya pasti kembali ke keluarga. Sedangkan Malena, wanita yang dipuja-pujanya dulu malah pergi meninggalkan luka.
"Oh ya Dad...there's one more thing I need to tell you.." ucap Noah saat pelukan sudah terlepas.
(Oh ya Dad...ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu)
"What is it?", selidik Daddy Jo curiga.
(Apa itu?)
"Aku mengajak Luna pergi ke Singapura!"
Kedua bola mata Daddy Jo terbelalak lebar, "Wooww..easy boy! Really?"
__ADS_1
"Hmmm..aku serius. Aku melakukan itu sebagai permintaan maafku pada Luna, karena aku sempat menyakiti hatinya saat dia datang ke perjamuan makan di rumah ini."
Noah sudah berterus terang pada kedua orangtuanya mengenai duduk perkara yang menimpa dirinya dan Luna setelah hari itu. Tidak ada kebohongan yang ditutupi, Noah mengungkapkan semua keluh kesahnya.
Awalnya kedua orang tua Noah sempat emosi dan mengamuk. Mommy Adelia sampai ikut turun tangan mengomeli Noah 7 hari 7 malam dan memaksa Noah untuk pergi minta maaf menghadap Luna.
"Mommy dan Daddy tidak pernah mengajarkan kamu untuk bersikap tidak sopan pada wanita ya! Masa gara-gara disuruh nikah begitu udah bentak-bentak perempuan! Gak logis...marah dilampiaskan sama orang yang gak bersalah!"
Kurang lebih begitulah ocehan Mommy Adelia yang masih terngiang-ngiang di telinga Noah. Suaranya saja sampai menggelegar memenuhi seisi rumah hingga para ART tersiap kaget.
Jarang-jarang Nyonya-nya itu mengamuk, terakhir kali saat Noah masih kelas 3 di secondary school. Kala itu ada gosip yang bertebaran kalau Daddy Jonathan ada skandal perselingkuhan. Untung saja itu hanya berita murahan yang bersifat hoax, karena Daddy Jo memiliki bukti kongkrit yang kuat menyatakan dia tak bersalah.
"Terus, dianya mau enggak?"
"Belum Dad, kayaknya Luna masih ragu sama aku. Dikira aku mau ngapa-ngapain kali ya..ini aja udah aku chat 3x masih belum ada respon padahal sudah di read message ku."
Daddy Jo menampol tengkuk leher Noah, "Lagian kamu ekstrim banget! Kalau mau deketin perempuan itu pelan-pelan. Masa belum apa-apa udah diajak ke luar negeri? Ya gimana dia enggak punya pikiran jelek!"
"Lah..Noah kan enggak ada niat buat pendekatan Dad! Ini murni sebatas permintaan maaf. Kebetulan Noah ada proyek untuk merekonstruksi bangunan hotel disana, karena Akbar dan Helen berhalangan, otomatis aku enggak ada temannya. Kuajak deh Luna, barangkali mau!"
"Kamu gak sadar ya, kalau secara gak langsung kamu itu baru saja melakukan tahap pertama dalam pendekatan?" kedua alis Daddy Jo dinaik-naikkan.
"Ishh.. Daddy semakin ngaco ngomongnya! Kemarin aku sudah tegaskan bukan, aku belum mau menikah dan berkomitmen pada seseorang. Aku masih menata hati pasca perceraian. Luna udah kuanggap seperti adik..dia aja umurnya terpaut jauh denganku!"
"Terserahmu sajalah..Daddy enggak ikut-ikut lagi. Semoga proyekmu sukses di Singapura!" Daddy Jo berjalan meninggalkan Noah yang masih duduk termangu.
"Yahhh..si Pak Tua, dicurhatin malah pergi..." Noah mendengus sebal.
***
Mohon kesediaannya untuk teman-teman agar memberi like, vote dan hadiah ya teman-teman..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih.
__ADS_1