Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Mengunjungi Ruangan Noah


__ADS_3

Trtt...trtt...


Bel ruangan Noah berbunyi, pertanda ada seseorang yang akan datang. Dari kursi kebesarannya Noah segera mengambil remote diatas meja dan menekan tombol accept untuk memberi izin akses agar orang tersebut bisa masuk.


"Selamat siang, Tuan Clerk..." sapa Luna dengan nada menggoda.


Noah yang merasa namanya dipanggil seketika menoleh cepat. Noah pikir yang datang bukan Luna, melainkan asisten atau sekretarisnya.


"Hei..kamu sudah datang?" Noah segera bangkit untuk menghampiri Luna dan memeluknya erat. Tak lupa, Noah juga mengecup bibir ranum istrinya itu sekilas.


"Iya dong...sesuai janji aku datang jam 1 siang. Tapi agak telat dikit 10 menit hihihi.." Luna cekikikan.


"Baby kita hari ini rewel tidak?" Noah membungkukkan badannya untuk memberi usapan halus pada perut Luna.


"Enggak Papi, baby enggak merepotkan Mami sama sekali!" jawab Luna dengan nada suara anak kecil yang dibuat-buat.


"That's good to hear! Aku tadi sempat kepikiran kalau pas aku tinggal, kamunya gimana di rumah."


Bukan tanpa alasan Noah begitu khawatir. Pasalnya beberapa minggu belakangan, Luna tidak bisa berjauhan dengan suaminya dan kerap kali mengalami mual serta penurunan mood yang drastis.


Baru-baru ini saja Luna kembali pada setelan awal dan Noah bisa beraktivitas di kantor lagi. Sebelum-sebelumnya Luna mana pernah mau ditinggal?


"By the way, kamu tadi ngapain pas masuk pakai pencet bel ruanganku dulu? Padahal kan bisa langsung aja pakai sidik jari?!" tanya Noah seraya merengkuh tubuh Luna dan melingkarkan lengannya di pinggang sang istri.


Setelah pulang dari honeymoon, Noah telah mengubah settingan pintu ruang kerja di kantornya dengan smart door lock. Yang mana sudah diatur, hanya bisa diakses bebas oleh Noah dan istrinya saja.


Pernah sekali, Noah memanggil orang IT ke rumah untuk membetulkan finger print Luna tersebut. Dengan begitu, tidak akan ada sembarangan orang yang bisa nyelonong masuk tanpa permisi.


"Kan aku pengen surprise-in kamu Mas, makanya iseng tadi. Pura-puranya aku karyawan kamu, yang harus pencet bel dulu!"


"Bisa aja jahilnya!" Noah mencubit hidung Luna sejenak, kemudian ia menggandeng tangan istrinya itu menuju sofa yang tersedia. "Ayo kita kesana!"


Keduanya mendudukkan diri dengan posisi yang santai berdampingan. Kemudian, Luna mulai mengeluarkan bekal makanan yang telah ia persiapkan khusus untuk Noah satu persatu.


"Oh ya Mas, aku tadi papasan sama Daddy pas di lift. Kami juga sempat ngobrol sebentar lho!"


"Ngomongin apa saja tadi?"


"Mommy sama Daddy mau datang ke rumah nanti malam untuk dinner bersama. Katanya Mommy lagi kangen sama aku."


"Kalau begitu suruh ART di rumah kita buat prepare makanan untuk menjamu Mommy dan Daddy. Minta tolong sama mereka saja, kamunya jangan capek-capek! Hanya boleh memantau."


"Siap Mas, nanti biar aku yang handle..."


Luna membersihkan sendok dan garpu yang dibawanya dengan tisu sebelum alat makan tersebut digunakan oleh Noah.


"Nih, spaghetti brulee bikinan aku. Kamu cobain ya Mas! Tapi harus jujur enak atau enggak. Kalau ada yang kurang bilang!" Luna mewanti-wanti Noah untuk tidak bersikap bias. Karena dia butuh kejujuran supaya bisa improve untuk masakan selanjutnya.


"Iyaa-iyaa...belum dicobain kok udah bawel banget kamu!" balas Noah.

__ADS_1


"Mau makan sendiri atau aku suapin nih?"


"Suapin aja lah, sekali-kali.."


"Dih, Mas amnesia apa gimana? Orang aku sering banget suapin padahal!" protes Luna tak terima. Noah ketika sedang dalam mode manja seringkali minta disuapi saat makan.


Noah hanya meresponnya dengan tertawa kecil sambil bergeleng-geleng. Dia begitu gemas melihat eskpresi Luna yang mengerucutkan bibirnya.


"Aaa...ayo!" Luna memberi aba-aba pada Noah agar ia membuka mulutnya.


Nyamm...nyamm...


Satu sendok suapan masuk.


"Gimana Mas, enak enggak?"


"Hmm.." Noah berpikir sejenak sembari mencecap lidahnya untuk merasakan rasa masakan Luna. "Enak kok...tapi mungkin saus bolognese-nya kurang asin sedikit. Sama kejunya agak dibanyakin lagi pasti lebih mantap. Tapi overall sudah enak."


"Gitu ya Mas? Aku juga ngerasa kayak emang kurang asin sih. Tadinya mau aku banyakin garamnya, cuman takut keasinan karena udah ada keju. Ternyata kurang malah." Luna menghela nafasnya pelan.


"Tapi kamu tidak marah kan aku komentar begitu??" tanya Noah hati-hati.


Biasanya wanita itu suka terbawa perasaan jika dikomentari dengan hasil yang tidak memuaskan bagi dirinya. Takutnya, Luna juga begitu apalagi hormon kehamilan membuat mood Luna tak menentu.


"Ya enggak lah Mas! Kan aku sendiri tadi yang suruh kamu untuk jujur. Justru aku senang karena ini akan jadi catatan pembelajaran buat aku!" balas Luna yang tersenyum semangat.


"Siap Mas Noah-ku sayang...makin cinta deh aku sama kamu!" canda Luna sembari menggelitik pelan dagu Noah.


Tak lama, Luna kembali menyuapi Noah dengan spaghetti brulee buatannya--sesendok demi sesendok, sampai satu kotak bekal tersebut tandas habis pada akhirnya.


"By the way, aku pangling deh Mas lihat ruangan kamu. Ini interior-nya banyak yang diubah ya? Terakhir kali kesini pas kita belum nikah, penataannya enggak begini?!" Luna mengedarkan pandangannya menatap keseluruhan sudut ruangan Noah yang tampak berbeda dari sebelumnya.


"Iya, aku memang sengaja merombaknya baru-baru ini." kini Noah lanjut mengunyah buah potong yang telah disiapkan oleh Luna juga dari rumah.


"Kenapa? Padahal yang dulu udah bagus lho.." Luna mengernyitkan dahinya pemasaran.


"Ganti suasana baru. Aku ingin ruanganku terkesan lebih cerah, jadi aku ubah nuansanya jadi light-beige. Yang kemarin kan wallpaper-nya terlalu gelap, kalau dibuat lembur malam hari kurang enak saja."


"Ohh...begitu.." Luna mengangguk paham.


Tanpa dia ketahui, alasan sebenarnya Noah merenovasi ruang kerjanya itu karena ia ingin terlepas dari bayang-bayang mantan istrinya. Dulunya, interior dan dekorasi ruangan Noah yang mengatur semuanya adalah Malena.


Berhubung dia dan Malena sudah berpisah, saatnya menutup lembaran lama dan membuka memori yang baru. Itulah mengapa Noah begitu kekeuh untuk merombak kembali tatanan ruangannya.


"Setelah ini aku pulang ya Mas, udah jam tiga sore ini. Kamu pasti harus lanjut kerja lagi kan? Karta juga sudah menunggu aku dibawah." kata Luna.


Tak terasa sudah, hampir 2 jam lamanya Luna bercengkrama dengan sang suami. Setelah semua bekal yang dibawanya ludes habis, keduanya lanjut mengobrol-ngobrol ringan. Topiknya membicarakan tentang keseharian mereka dan lain-lain.


"Kamu mau pulang? Kok buru-buru banget sih?" Noah masih ingin Luna berada disisinya. Bahkan kalau bisa Luna disini saja sampai ia pulang.

__ADS_1


"Ya kan udah sore! Kamu emang enggak mau lanjut ngurusin pekerjaan kamu? Biar enggak menumpuk ya harus selesaikan disini. Karena pas udah di rumah, kamu cuman milik aku. Enggak boleh tuh buka-buka laptop lagi!"


Noah terkekeh dan menundukkan kepalanya. Benar yang dikatakan Luna. Terkadang saking sibuknya Noah, pekerjaan dari kantor pun terpaksa dibawa pulang dan dituntaskan di rumah.


Semenjak istrinya hamil, Noah dilarang keras oleh Luna untuk lembur hingga larut malam. Batasnya, jam 10 sudah harus berbaring di ranjang mengistirahatkan diri. Tak ada pengecualian.


"Tapi aku tidak mau kamu pulang sekarang, gimana?" Noah mengikis jaraknya dengan Luna dan merapatkan tubuh istrinya untuk meringsek masuk dalam dekapannya.


"Ish..sejak kapan kamu jadi manja begini Mas? Makan minta disuapin, sekarang enggak mau ditinggal? Ada angin apa nih?" Luna menatap suaminya heran.


"Tidak kenapa-napa sih. Hanya saja, aku masih ingin kamu disini. Temani aku sampai pulang mau ya? Sebentar lagi kok, jam 5 aku selesai."


"Yah.padahal aku mau pergi keluar Mas sepulang dari sini..."


"Mau pergi kemana?" tanya Noah.


"Ke Mall. Aku mau beli baju-baju baru untuk ibu hamil. Mau cari maternity dress yang nyaman dipakai. Soalnya dress aku udah banyak yang enggak muat Mas!" keluh Luna.


Luna adalah tipe wanita yang tidak suka pakai baju kedodoran atau longgar. Semua dress dan kemeja atasan miliknya kebanyakan tipe pas body atau slim-fit.


Sehingga ketika hamil, pakaian tersebut tidak akan cukup untuk dikenakan. Apalagi baby-bump Luna mulai nampak terlihat sekarang, di usia kehamilan yang menginjak 3 bulan.


"Aku temani saja, kita beli baju kamu sekarang!" tukas Noah.


"Loh memangnya enggak apa-apa? Kerjaan kamu ditinggal berarti?" Luna jadi tak enak sendiri karena demi dirinya Noah harus meninggalkan kantor lebih awal.


"Aku kan boss-nya sayang. Tidak masalah kalau pulang cepat. Bisa diatur itu. Kamu dan baby adalah prioritasku sekarang. Pekerjaan nomor dua."


"Serius ini mau nemenin aku? Lama lho nanti aku..kamu tahu sendiri kan perempuan kalau milih-milih baju itu ribet." Luna meyakinkan Noah kembali.


"Tidak masalah asal kamu senang." jawab Noah tegas, membuat hati Luna bahagia tak terkira rasanya.


Perlakuan kecil seperti inilah yang membuat Luna semakin klepek-klepek pada Noah. Suaminya itu selalu memperhatikan detail kecil, namun penuh makna.


Tring...tringg...


Tiba-tiba saja, telepon ruangan Noah berbunyi yang kemudian langsung diangkat oleh Noah sendiri.


^^^"Halo Pak Noah, maaf menganggu waktunya sebentar."^^^


"Ada apa Siska?"


^^^"Itu Pak, saya mau menginfokan kalau ada tamu yang mencari Bapak. Orangnya sedang bersama saya sekarang, diluar ruangan bapak."^^^


"Siapa tamunya?"


^^^"Atas nama Poppy Karenina Gunawan."^^^


***

__ADS_1


__ADS_2