Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Noah Berbohong


__ADS_3

Noah


Mendapat laporan dari asisten rumah tanggaku yang berkata jika Luna sedang bersedih, aku langsung buru-buru melangkahkan kakiku ke kamar untuk menemuinya.


Setelah aku masuk namun belum sempat menutup pintu, istriku itu sudah terbangun dari tidurnya dan langsung menyandarkan kepalanya di headboard kasur.


"Kamu habis dari mana Mas, kok lama?"


"Tadi agak antre Lun, biasalah kalau weekend begini sedang ramai. Apalagi ini sedang musimnya orang sakit."


Aku meletakkan jaket yang kulepaskan tadi diatas sofa kamar dan menaruh obat serta vitamin Luna di bedside table.


"Kamu kenapa belum makan lagi? Kata Bibi tadi kamu habis muntahh lagi, makan dulu ya...setelah itu baru minum obat," aku mendudukkan diri di tepian kasur seraya mengusap halus rambut Luna.


"Mas..." Luna memiringkan badannya untuk menghadap padaku.


"Apa...?!"


"Habis tebus obat di apotek, kamu pergi kemana?"


Deghh...


Gawat! Kenapa Luna tiba-tiba bertanya seperti itu tidak ada angin tidak ada hujan? Apa sebegitu lamanya aku tadi pergi sampai dia curiga? Tadi selepas menebus obat, aku mengantarkan Malena pulang. Dan sekarang Luna seperti merasakan kejanggalan karena aku pulangnya lama.


Apa ini yang dinamakan feeling seorang istri selalu benar?


Tidak juga sih, dulu Malena tidak pernah seperti ini. Dia selalu membebaskanku bepergian dan bahkan tak pernah cemburu kalau aku sedang bersama wanita lain yang merupakan rekan kerja atau teman masa sekolah.


Aku jadi serba salah bagaimana jawabnya. Mau bohong, takut ketahuan. Tapi kalau jujur, aku semakin takut dia mengamuk. Luna sedang hamil dan dokter bilang kandungannya lemah. Aku takut dia berpikiran yang tidak-tidak ketika tahu aku tadi bertemu Malena.


Sampai detik ini, Luna terkadang suka random dan seringkali overthinking pada hubunganku dengan Malena. Meski kami telah berpisah, entah kenapa pikiran Luna selalu terbersit jika aku bisa saja kembali pada mantan istriku itu sewaktu-waktu.


"A--apa sih kamu nanya itu dari tadi?" gerak-gerikku terlihat gelagapan.


"Jawab dulu Mas...kamu kemana?" Luna menggoyangkan lenganku.


"Ya langsung pulang Luna. Ini sekarang aku pulang kan, tidak pergi kemana-mana!" aku kelepasan memilih jalur berbohong.


Sontak, seketika saja Luna menangis dengan kencang. Air mata yang tertahan dan menggenang di sudut matanya pun ikut jatuh membasahi pipi.

__ADS_1


"Loh...Lun, kenapa jadi nangis? Kamu kenapa hey?" kuraih wajah cantiknya dan kuusap lembut pipinya yang merah.


Luna masih terisak tak mau berhenti. Dia menghempaskan tanganku dari sisi wajahnya, seolah tak ingin kusentuh. Luna tak lagi menatap netraku, ia malah membuang muka.


"Luna...tell me what's wrong? Jangan diam dan menangis, aku tidak bisa melihatmu sedih seperti ini. Bilang sama aku kamu kenapa?" kuapit dagu Luna agar mendongak ke arahku lagi.


"Ada sesuatu yang buat kamu sedih kah? Bilang Luna.." aku memaksa ingin tahu. Tidak mungkin istriku ini meraung-raung jika tanpa sebab akibat.


Keheningan mengantung hingga beberapa menit sampai akhirnya Luna bersuara...


"Kamu Mas yang buat aku sedih..."


"Kamu bohong..."


Kedua bola mata Luna melotott dengan seksama seakan-akan hendak keluar dari sarangnya. Aku bisa melihat kemarahan yang begitu dahsyat dalam dirinya. Cengkraman tangannya saja berubah mengepal keras hingga buku-buku jarinya memutih.


"Kenapa sih enggak jujur aja sama aku? Aku tahu kok kalau kamu pergi sama Mbak Malena! Ngaku?!!" tatapan Luna berubah tajam.


Hatiku mencelos. Sukma dalam tubuh seperti meninggalkan ragaku yang kotor ini. Matilah aku! Apa jangan-jangan Luna tahu ya kalau aku mengantar Malena? Tapi dari mana? Mata-mata?


"Kk--kamu, **--tahu dari mana?" tanyaku balik.


"Hmmm..Lun, aku bisa jela--" ucapanku terhenti.


Luna memotong pembicaraanku. "Mas tahu enggak sih, tadinya aku itu mau coba untuk positive thinking. Setelah kamu pulang, aku mau nanya baik-baik kenapa kamu bisa semobil sama Mbak Malena. Tapi ternyata, kamu udah bohong duluan! Aku kecewa Mas!"


Seonggok penyesalan menggerogoti jiwa ragaku saat ini. Bodoh sekali kau Noah! Persetann dengan hati nurani dan rasa kemanusiaan! Aku tak seharusnya sok-sokan mengantar Malena. Andai kata aku mengabaikan ajakannya untuk pulang, istriku tak mungkin menangis tersedu-sedu seperti ini.


"Pernikahan kita aja belum genap dua bulan lho Mas, tapi kamu udah main rahasia-rahasiaan gini sama aku. Aku lagi hamil juga...kamu malah bohong!" Luna kembali menangis sesenggukan.


"Terus kedepannya gimana? Apa kamu akan bohong lagi?" sindir Luna halus.


Kuraih kedua telapak tangan Luna dan kukecupinya tangan itu dengan manis. Aku sebenarnya ingin melakukan yang lebih dengan membawa tubuh Luna dalam dekapanku, tapi dari raut mukanya dia terlihat enggan. Untungnya genggamanku ini membuatnya berhenti berontak dan diam tak berkutik.


"Okay, aku minta maaf. Aku sadar aku salah. Aku sama sekali tidak berniat untuk bohong. Aku hanya tidak mau kamu kepikiran," aku memberanikan diri membuka suara setelah kesunyian melanda.


"Justru karena kamu bohong, aku semakin ragu dan takut Mas! Jatuhnya aku malah curiga kamu ada apa-apa sama Mak Lampir itu!" Luna mengibaskan tangannya agar bisa terlepas dariku.


"Sumpah Lun! Aku berani sumpah demi Tuhan, aku hanya mengantarnya pulang tadi. Tidak ada niat apa-apa. Ponsel Malena habis daya, mobilnya di servis, dan supirnya tidak ada. Melihat kondisi kakinya yang cedera seperti itu, saya merasa kasihan. Itu sebabnya ketika dia meminta nebeng pulang, aku mengiyakan saja" jelasku.

__ADS_1


"Kamu masih perduli Mas sama dia? Istri kamu di rumah nungguin kamu lho! Lagi hamil...butuh minum obat dan vitamin yang harus rutin dikonsumsi cepat-cepat. Aku bahkan menahan rasa mual dan harus mengeluarkan isi perut sampai lemas, eh kamunya malah asyik nganterin dia pulang!"


"Aku sungguh menyesal dan minta maaf, Lun. Aku tidak tahu kalau dampaknya akan membuat kita bertengkar kayak gini. Tapi aku benar tidak ada urusan sama dia!"


"Ya harusnya kamu sadar diri dong Mas, apapun yang berkaitan sama mantan itu pasti akan jadi perdebatan dalam urusan rumah tangga! Aku enggak perduli mau dia jatuh jungkir balik kek, kena musibah kek, bodo amat! Kamu tetap harus prioritaskan perasaan aku dulu!" lirih Luna pelan namun dengan nada yang menggebu.


Kucoba untuk yakinkan Luna sekali lagi, "Untuk yang tadi itu terakhir kalinya Lun, aku tidak akan mengulanginya lagi..aku janji. Itu adalah salah satu kesalahan fatal yang aku lakukan secara konsensual. Aku minta maaf..."


"Apa kamu masih belum bisa move on dari Mbak Malena?" tanya Luna dengan hati-hati.


Pertanyaan barusan menjadi bumerang dan sebuah jebakan tersendiri untukku. Aku memilih bungkam tak bersua. Sebenarnya aku ingin sekali berucap lantang pada Luna dan mengatakan padanya bahwa aku sudah move on. Tapi entah kenapa tenggorokanku terasa tercekat, lidahku mendadak kelu dan jatuhnya aku malah diam.


Pertemuanku dengan Malena tadi memang sedikit mengusik dan menggoyahkan pikiranku. Tak dapat dipungkiri jika efek berdekatan dengan Malena membuatku sedikit oleng. Tapi sungguh, tidak ada niat secuil pun untuk aku kembali pada Malena. Tidak akan. Cerita cinta kami sudah berakhir lama.


Luna menepis keras tanganku, dan kali ini dia mendorong tubuhku untuk mundur menjauhinya. "Kamu enggak bisa jawab kan?"


"Lun--"


Telunjuk Luna diacungkan untuk menghentikan ucapanku. "Stop Mas, jangan berbicara lagi! Aku sudah tak punya energi untuk berdebat. Sebaiknya kamu keluar dulu!"


"Aku tidak mau." sanggahku cepat.


"Kumohon Mas, aku pengen sendiri. Dan soal makan malam keluarga nanti, sebaiknya dibatalkan saja. Aku sudah tidak mood, tidak ada semangat lagi. Keluar sekarang..." usir Luna padaku.


"Jangan seperti ini Lun, kita makan dulu ya...kamu minum vitamin dan obat...please?!"


"Keluar Mas, atau aku yang keluar sendiri" Luna berdecih sinis.


"Okay. Sekali lagi aku minta maaf." Aku memilih untuk mengalah dan meninggalkannya di kamar agar mood nya tak semakin buruk.


Ahhh...apes sekali nasibku karena salah paham begini.


Kalau saja Malena pulang naik taksi tadi, aku dan Luna tidak akan cekcok. Tapi apa boleh buat, lagi-lagi semuanya terlambat. Sudah kepalang basah ketahuan dan Luna marah sekarang. Yang tersisa hanyalah sebuah penyesalan hinggap sekenanya di hati.


Tugasku kali ini adalah mencari cara untuk membujuk Luna agar dia mau memaafkanku...


***


Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊

__ADS_1


Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.


__ADS_2