Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Overthinking Luna


__ADS_3

"Masih kesal ya?" Noah melirik kursi mobil sampingnya sekilas, dimana Luna terlihat memanyunkan bibirnya.


"Ya iyalah Mas...gimana aku enggak emosi? Mantan istri kamu itu benar-benar spesies lain tahu enggak. Ihhh...pengen aku bejek-bejek tuh mulutnya Mak Lampir!" tangan Luna mengepal membentuk gerakan meremat-remat saking kesalnya.


"Sudah Lun, relax dong..tahan emosinya. Kamu kan lagi hamil." Noah mengusap lembut puncak kepala Luna sambil fokus menyetir. "Kata Mommy, saat hamil itu lisan dan perbuatan harus dijaga. Nanti baby kita malah mirip sama orang yang dibenci lho kalau terus-terusan mengingatnya!" sambung Noah lagi.


"Mana ada Mas! Perut aku bisa ada benihnya itu hasil dari olahraga kasur kita tiap pagi, malam, dan siang. Jelas-jelas ini gen kita. Mustahil mirip orang lain. Atau jangan-jangan kamu berharapnya anak kita mirip sama Mak Lampir gitu?" selidik Luna curiga.


Noah meraih tangan Luna kemudian diletakkan diatas pahanya seraya memberikan usapan-usapan kecil.


"Haishh...buruk sangka banget sih kamu! Tidak pernah terlintas sedikitpun dibenakku mikir kayak gitu!" ucap Noah.


Luna membuang mukanya menghadap jendela melihat jalanan malam yang sunyi. "Ckkk...iya iya..maaf Mas. Habis mulut aku itu gatal kalau enggak ngomongin dia! Mbak Malena beneran masih sayang sama kamu deh!"


"Jangan terlalu terpaku sama fakta itu. Bisa saja itu cuman angan-angan atau sugesti kamu semata. Kalau Malena tulus sayang sama aku dia tidak mungkin selingkuh dari awal."


"Ya kan Mbak Malena sedang ada ditahap penyesalan, Mas. Apalagi lihat sendiri kan, selingkuhannya kasar begitu. Semakin menyesal lah dia buang berlian seperti kamu!" Luna mengerucutkan bibirnya.


Sikap dan tingkah laku Malena memang tidak bisa dipungkiri kalau dia masih saja mengharapkan Noah untuk kembali padanya.


Noah menghela nafasnya kasar. "Gini ini, yang aku takutkan sejak awal."


"Takut apa?" Luna memicingkan matanya.


"Takut kamu ngambek dan overthinking. Makanya aku sempat ragu mau menolong Malena tadi. Karena aku tahu betul setiap kali berurusan sama Malena, pasti ujung-ujungnya kita ribut dan kamunya badmood."


Luna menoleh sejenak kearah Noah. "Sebenarnya aku itu kasihan juga sih Mas kalau tadi enggak ditolong. Meskipun aku enggak suka sama mantan istrimu, aku paling anti lihat perempuan digituin. Apalagi aku pas hamil begini, bawaannya mellow gitu."


"Hmmm...istriku ini memang baik dan tulus. Bilangnya aja tadi menyesal karena suruh aku menolong Malena. Eh sekarang beda lagi jawabannya!" Noah terkekeh pelan.


"Maaf ya Mas, hormon kehamilan bikin aku labil dan jadi enggak jelas begini." Luna menatap perutnya lalu mengusapnya pelan.


"Tidak apa-apa sayang..." Noah mengecup punggung tangan Luna. "Wajar kalau mood-nya ibu hamil itu naik turun."


Deggh...


Hati Luna selalu saja menghangat setiap kali Noah menyematkan kata sayang untuknya. Pipinya merah merona karena malu.


"Aku suka deh Mas kalau kamu panggil aku pakai kata-kata sayang. Gemes deh!" Luna refleks mencubit pelan pipi Noah.


"Oke. Kalau suka berarti mulai sekarang aku akan membiasakan diri untuk memanggil kamu dengan kata sayang."

__ADS_1


"Eh tapi tunggu dulu..pas waktu Mas masih nikah sama Mbak Malena, panggilannya pakai kata sayang enggak? Kalau sama, aku enggak mau deh. Enak aja dikembari!"


"Tidak tuh, aku panggil sayang cuman sama kamu saja. Malena sih dulu sering panggil aku Noy. Tapi kalau aku sendiri tidak ada panggilan khusus untuknya," ungkap Noah jujur.


Perlu diakui, Noah yang sekarang tidaklah sama dengan Noah yang dulu. Benar kalau Noah adalah sosok suami yang romantis. Hanya saja sikap romantisnya itu keluar pada saat momen-momen tertentu saja.


Noah dan Malena adalah pasangan super sibuk pada zamannya. Mereka jarang sekali bonding atau pillow talk sekedar mengobrol santai. 10 tahun bersama membuat mereka berada dalam titik kejenuhan sehingga ikatan keduanya merenggang dan sudah tergolong hilang rasa.


Berbeda dengan Luna yang begitu aktif mengajak Noah berinteraksi dan berkomunikasi sesering mungkin. Entah itu sharing masalah pribadi ataupun masalah kantor, Luna pasti mau mendengar.


Begitupun juga dengan Noah yang berusaha mengimbangi Luna. Dia tak mau pernikahan keduanya gagal lagi. Sebisa mungkin Noah menurunkan egonya dan mencoba untuk menuruti kemauan Luna. Sebagai pecinta act of service dalam suatu hubungan, Luna sangat diperhatikan betul oleh Noah.


***


Keesokan paginya, Luna sudah bertengger di dapur dan disibukkan dengan kegiatan masak-memasak untuk membuatkan Noah hidangan sarapan. Pagi-pagi sekali ia sengaja bangun dan membantu para asisten rumah tangganya mengolah masakan.


"Nyonya, sebaiknya jangan terlalu lelah. Urusan dapur biar saya dan art lain saja yang kerja." ucap Bi Sumi.


"Enggak apa-apa Bi, saya sekalian belajar masak. Mau lihat Bibi buat resep bumbu masakan," ucap Luna sembari memotong-motong wortel dan kentang berbentuk dadu kecil-kecil."


"Lagipula saya juga bosan kalau enggak ngapa-ngapain. Kebiasaan dulu kan kerja setiap hari. Makanya kalau nganggur itu hampa rasanya," curhat Luna.


Terbiasa bekerja kantoran sehari-hari membuat Luna tidak nyaman kalau menganggur. Sebenarnya Luna juga masih ingin kembali bekerja sebagai pengajar di taman kanak-kanak.


Bi Sumi tersenyum melihat keramahan dari majikannya. "Baiklah, terserah Nyonya saja. Asal jangan terlalu lelah sebab Nyonya kan sedang hamil muda. Harus dijaga betul kandungannya. Tuan Noah sudah lama sekali lho Nya menginginkan buah hati." ucap Bu Sumi semangat.


"Siap Bibi..." tangan Luna terangkat membentuk gerakan hormat.


Bi Sumi memang sudah bekerja lama dengan Noah. Dari zaman saat Noah masih menikah dengan Malena. Selama masa itu berlangsung, Bi Sumi tahu betul bagaimana Tuannya itu begitu menginginkan hadirnya buah hati dalam rumah megahnya. Sayangnya belum kesampaian.


Barulah di pernikahan keduanya, Noah bisa merasakan kebahagiaan karena diberi anugerah melimpah dengan adanya calon bayi yang ada di perut Luna. Bi Sumi senang karena penantian lama Noah terbayar sudah. Wanita paruh baya itu sangat menyayangi Noah dengan sepenuh hati seperti anaknya sendiri.


Hari ini Luna akan membuatkan sup ayam dan juga ayam goreng lengkuas kesukaan Noah. Ketika Luna sedang sibuk merebus ayam, tiba-tiba saja ada seseorang yang melingkarkan lengannya pada pinggangnya.


Luna tersenyum tipis. Dia sudah tahu tangan nakal siapa ini. Tidak lain tidak bukan adalah Noah--suaminya.


"Maassss..." ucap Luna mendayu-dayu karena Noah mulai jahil dan mendusel-duselkan kepalanya pada tengkuk leher Luna.


"Kok langsung tahu kalau ini aku?" Noah mendaratkan dagunya pada pundak Luna sembari memberikan kecupan kecil diatasnya.


"Ya tahu lah...masa sama suami sendiri enggak hafal? Dari tangan kekarnya aja udah kelihatan. Terus juga dari baunya harum banget. Aku suka sama parfum yang kamu pakai ini. Kalau aku hirup bikin pengen dekat-dekat terus rasanya."

__ADS_1


Noah semakin mengeratkan pelukannya dari belakang dan menciumm rambut halus Luna. "Sekarang udah bisa gombal ya istriku!"


Luna membalikkan badannya untuk menghadap Noah sambil memainkan jari-jarinya mengelus dada Noah. "Bukan gombal, tapi fakta. Selama hamil rasanya aku malas jauh-jauh dari kamu. Bawaannya si baby pengen deket Papinya terus."


Noah menarik hidung Luna gemas. "Hmmm...alasan nih, paling juga Maminya yang mau!"


Luna mengangguk-angguk cepat mengiyakan ucapan Noah. "Iya juga sih Mas, soalnya Maminya udah klepek-klepek sama Papinya baby!"


Noah membuang muka kearah samping karena tak kuat menahan tawanya. Pagi-pagi Luna sudah membuatnya salah tingkah sendiri. "Bisa aja kamu!"


Luna mencuri kecupan di bibir Noah sekilas, sebelum mengendurkan pelukannya pada Noah dan kembali lagi berkutat dengan kegiatan masaknya.


"Ini kamu kok sendirian aja? Bibi dan yang lain pada kemana kok tidak ada yang bantu?" tanya Noah yang celingukan kanan-kiri untuk mencari kemana perginya para karyawan rumah.


"Tadi ada kok di dapur. Mungkin mereka pergi sebentar. Atau mungkin gara-gara lihat kamu disini mereka jadi ngacir dan takut ganggu momen kita Mas!"


Noah tampak berpikir sebentar. "Iya juga ya?! Tapi sudahlah biarkan, aku juga lebih nyaman berdua saja sama kamu. By the way, ini lagi masak apa sekarang?"


"Lagi masak sup dan ayam goreng lengkuas. Ada tempe dan tahu goreng sebagai pelengkapnya. Cukup kan buat Mas sarapan?" Luna memindahkan gorengan lauk pauk yang sudah matang pada piringan besar.


"Lebih dari cukup Lun. Aslinya aku juga tidak terlalu banyak makan kalau pagi. Yang penting perut terisi saja."


"Oke deh Mas...semoga kamu suka sama rasanya. Aku tadi diajarin sama Bibi bumbunya apa saja, seru deh!" Luna terlihat begitu sumringah.


Noah kini mendudukkan dirinya pada barstool yang ada di kitchen island. Kebetulan diatas meja sudah tersedia buah-buahan potong yang siap langsung makan. Sambil menunggui Luna, Noah memilih untuk mencemili buah itu saja sekalian mengganjal perut.


"Sayang...kamu nanti jadi kan ke kantor aku?" tanya Noah lagi.


"Jadi dong Mas! Kan aku udah janji mau bikin hidangan spesial buat makan siang kamu, spaghetti brulee."


"Okay, aku tunggu ya nanti. Kamu diantar sama supir aja. Jangan berangkat sendiri, minta tolong sama Karta. Dia udah aku hire khusus untuk supir pribadi kamu."


"Siap bos! Oh ya Mas.. enaknya aku kesana jam berapa? Soalnya aku enggak tahu jadwal makan siang yang diterapkan kantor kamu jamnya gimana?!"


"Jam 1 aja ya sayang, biar kamu enggak nunggu aku lama. Jam 11 aku ada rapat dan itu berlangsung sekitar 2 jam kurang lebih," kata Noah.


"Rapat apa Mas?" Luna menyipitkan mata penasaran.


"Ya itu, rapat kerjasama dengan perusahaan ayahnya Poppy." jawab Noah santai.


Mendadak tatapan Luna berubah tajam dan menyalang seperti api. Jiwanya mendidih mendengar nama Poppy, yang sekarang akan dijulukinya sebagai Mak Lampir jilid dua.

__ADS_1


***


__ADS_2