
"Setelah melahirkan kamu ke dunia ini, Mama pikir semuanya akan baik-baik saja Luna. Awal-awal pernikahan, Mama dan Papa bahkan begitu percaya diri bisa melewati semuanya. Tapi nyatanya anggapan itu salah karena badai pernikahan kami baru dimulai," ucap Jelita disela-sela menahan tangisnya.
"Mama mengalami baby blues yang luar biasa buruknya. Stress karena ASI tak kunjung keluar. Belum lagi repot mengurus kebutuhan sehari-hari kamu yang belum terpenuhi layaknya susu, popok, sabun, baju dan lain-lain. Mama benar-benar kalut waktu itu."
"Menjadi orang tua baru saat berusia 17 tahun adalah hal terberat dalam hidup kami. Ditambah lagi saat usia kamu sekitar 6 tahun, Papa diberhentikan dari pekerjaannya. Usaha warung kecil-kecilan yang Mama bangun ikut gulung tikar karena habis modal," terang Jelita yang masih terisak.
"Sampai pada titik kejenuhan karena hidup susah, Mama dan Papa akhirnya menyerah. Kami memutuskan berpisah dan kembali pada keluarga besar kami masing-masing hingga--"
"Hingga kalian memilih menelantarkan saya." Luna memotong perkataan Jelita dengan nada penuh penekanan. "Benar begitu bukan?"
Hati Brahim dan Jelita langsung tersentil. Buliran serta lelehan air mata mereka tampak menggenang tumpah ruah di pelupuk mata sampai tetesannya mengalir deras di pipi. Tidak ada kata selain penyesalan yang dapat menggambarkan perasaan mereka saat ini.
"Pertanyaan saya cukup sederhana. Kenapa baru sekarang?" tanya Luna sinis. "Kenapa baru sekarang anda mencari keberadaan saya setelah 15 tahun lamanya? Apa karena kalian tidak bisa punya anak lagi terus menyesal meninggalkan saya?"
Brahim ikut menimpali, "Bukan begitu sayang...Mama dan Papa bukannya tidak mau mencari, tapi posisi kami terdesak. Opa dan Eyang Kakungmu melarang keras kami untuk menemui kamu. Mereka sama-sama melarang kami berhubungan lagi dengan sebuah ancaman berbahaya. Mama dan Papa sempat bercerai sebelum kembali rujuk. Prosesnya butuh waktu 5 tahun sampai kami bisa berada di titik yang sekarang ini."
"2 tahun pasca kami menitipkan kamu, Papa dan Mama kepikiran setengah mati Luna! Bagaimana kehidupan kamu diluar sana, apa kamu sudah makan? Sudah tidur nyenyak? Sudah hidup enak kah? Kami juga tersiksa setiap malam mimpiin kamu. Khawatir takut kamu kenapa-napa..." sambung Brahim lagi.
Luna terkekeh sambil menggeleng-geleng dibuatnya. Rasanya sulit sekali untuk bisa percaya. "Seberapa besar ancaman dari Opa dan Eyang Kakung sehingga membuat kalian menjadi pengecut? Kalian berdua hanya takut hidup miskin, itu sebabnya kalian memilih jalur aman dengan menuruti perintah dua orang tua bangka itu."
"Lun..Papa juga mencari kamu nak, Papa mendatangi rumah lama kita tapi kamunya sudah tidak ada. Baru akhir-akhir ini Papa ketahui kamu ada di Semarang bersama Bimo dan Ririn. Opa kamu telah menutup segala akses Papa untuk bisa menemukan kamu sayang...tolong percaya Papa.." Brahim sampai mengatupkan kedua tangannya, memohon ampun pada anak gadisnya yang sudah tak gadis lagi.
Jujur saja Brahim ingin menangis dalam hati. Menangisi dirinya yang tak becus menjadi kepala keluarga. Ketidaktegasan dirinya membuat keluarga kecilnya jadi hancur lebur.
__ADS_1
"Saya benar-benar tidak perduli dengan masa lalu kalian Ibu Jelita dan Pak Brahim," tegas Luna sekali lagi. "Karena apapun alasannya, tidak akan ada pembenaran akan perbuatan kalian di masa lalu yang pernah membuang anak berusia 8 tahun yang tidak tahu apa-apa!"
"Saya sama sekali tidak meminta untuk dilahirkan dari orang tua seperti kalian. Seharusnya kalian gugurkan saja janin itu dulunya. Supaya masa kecil saya tidak menderita karena ulah kalian." saking sakit hatinya, Luna sampai menekan-nekan dadanyaa sendiri dengan telunjuknya.
Luna kembali memfokuskan pandangan untuk menatap orang tua kandungnya yang sedang duduk manis diseberangnya ini.
"Jika kalian meminta aku untuk memahami pasutri usia 17 tahun yang kebingungan mengurusi kehidupan rumah tangga, maka kenapa kalian tak berusaha memahami aku yang saat itu masih kecil? Setiap harinya aku selalu didoktrin sebagai anak pembawa sial oleh mulut kalian sendiri. Tidak pernah diberi kasih sayang. Selalu diabaikan, diacuhkan, beruntung saja aku tidak mati saat itu..."
"Luna cukup!!" Noah menahan ucapan istrinya supaya tidak menggebu-gebu. Diusapnya lagi lengan wanitanya itu agar lebih tenang.
Namun sayangnya Luna justru menepis segala afeksi yang diberikan oleh suaminya. Dia sedang tidak dalam mood untuk berbaik hati. Luna ingin membeberkan segala fakta kehidupannya dulu.
"Kenapa Mas? Kenapa harus berhenti? Biarin aja! Biar mereka tertohok dengan realita itu sendiri. Kamu enggak tahu aja kan gimana teganya mereka sama aku dulu! Hari pertama masuk taman kanak-kanak sampai kelulusan, bahkan pas aku pertama masuk sekolah dasar, mereka itu enggak ada Mas..kehadiran mereka enggak ada! Aku selalu dibentak, dimarahi sampai aku stress menanggung semua beban itu sendiri!" sentak Luna.
"Lihat sekarang Mas, dengan entengnya mereka datang kemari meminta maaf setelah menghancurkan mentalku. Apa mereka tahu saat remaja aku bolak-balik datang ke psikolog, psikiater..hanya untuk sekedar menyembuhkan semua rasa traumaku. Pakdhe dan Budhe banting tulang cari uang supaya aku bisa hidup normal. Mereka enggak tahu Mas!!!" tubuh Luna melemas dan bahunya menyusut kebawah.
Luna kemudian berhenti mengoceh dan membenamkan kepalanya pada pelukan sang suami. Dia sudah tak kuat lagi. Tak kuat menahan sesaknya jantung ini karena sakit hati yang tidak berkesudahan.
Jiwa Noah ikut mencelos. Sang istri yang selama ini dikenalnya sebagai sosok periang dan wanita penuh ceria, nyatanya memendam begitu banyak kesedihan dalam relung hatinya.
Benar kata orang, senyuman serta tawa indah nan manis itu hanyalah sebuah kamuflase dari seseorang untuk menyembunyikan kesedihannya. Dan itu terjadi pada Luna.
Luna merenggangkan pelukannya sambil menghapus sisa-sisa air mata yang masih menempel di wajahnya. Ditariknya nafasnya dalam-dalam, lalu dihembuskannya kembali secara perlahan.
__ADS_1
"Saya ingin sekali untuk bisa berdamai dengan masa lalu yang kelam itu," lirih Luna.
Brahim dan Jelita yang mulanya menundukkan kepala kini berdongak menatap putri mereka. Mereka sangat berharap masalah ini ada titik terangnya.
"Saya bersungguh-sungguh ingin damai. Maka dari itu saya putuskan untuk memaafkan kalian."
Deghh...
Dua kalimat tersebut membuat Jelita semakin menangis menjadi-jadi. Brahim juga menutup mulutnya tak percaya. Sepasang pasutri itu saling menggenggam satu sama lain dan menyatukan kening mereka secara menyamping.
Luna mencoba legowo. "Hidup saya sudah bahagia saat ini. Sangat-sangat bahagia. Memiliki suami yang bertanggung jawab, mertua yang perhatian, saudara ipar yang baik, serta para sahabat yang betul-betul menyayangi saya dengan tulus. Saya beruntung..."
"Saya akan berusaha melepaskan segala dendam dan beban yang menggerogoti hati saya selama 23 tahun hidup di dunia ini. Saya akan coba. Tapi semua itu butuh proses. Saya mungkin bisa memaafkan, tapi tak bisa lupa," ungkap Luna blak-blakan.
Walau bagaimanapun juga, Luna masih butuh waktu untuk menerima semuanya. Tidak ada sesuatu yang instan terkecuali pernikahan dadakannya dengan Noah dulu.
"Kami tak masalah sayang..Papa tak perduli meskipun kamu membenci kami atau apapun itu. Tapi hanya satu permintaan kami. Tolong jangan jauh-jauh lagi dari kami Luna Olivia..." pinta Brahim memelas.
"Papa dan Mama tak bisa lagi kehilangan kamu. Jangan mendorong kami untuk jauh. Izinkan kami yang berdosa ini menebus waktu 15 tahun yang terbuang sia-sia itu," ucapan Brahim terdengar begitu tulus.
Luna tak memiliki energi untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutnya lagi. Dia hanya balas mengangguk. Tak banyak juga yang ingin dikatakannya. Semua uneg-unegnya telah tersampaikan.
***
__ADS_1