
Noah
Bodoh sekali aku. Hanya karena emosi sesaat melihat Malena yang datang tiba-tiba ke kantor, aku telah menyakiti perasaan istriku. Kehadiran Malena membuatku ter-distract, benar kata Luna.
Bukan karena aku masih menyimpan hati padanya, tapi lebih ke perasaan kaget dan kesal yang bercampur aduk menjadi satu sebab dia masih saja mengganggu kehidupan baruku. Percayalah, aku benar-benar sedang dalam proses untuk melupakannya.
Aku akui, tadi pikiranku memang sedikit kalut dan berkelana entah kemana. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak bermaksud untuk menjadikan Luna sebagai pelampiasan secara sengaja.
"Ayo Mas..buka mulutnya, aaaa.." ucap Luna dengan santainya.
Karena posisi kami yang berhadapan, mata kami berdua saling menatap dengan intens satu sama lain. Akupun mulai membuka mulut dan menerima suapan makanan dari tangan Luna.
Lihatlah istri mungilku ini, dia bahkan masih bisa tersenyum dan bersikap biasa saja seolah-olah melupakan kejadian barusan. Betapa tulusnya dia dengan telaten menyuapiku.
"Maaf ya Mas, aku belum terlalu jago untuk memasak. Makanya aku masih bawain kamu makanan hasil dari beli diluar." Luna memecah keheningan dan memulai pembicaraan agar kami berdua tidak canggung.
"It's okay, aku tidak masalah. Yang terpenting masih bisa makan dan rasanya enak, itu saja." Hanya kalimat sederhana itulah yang keluar dari mulutku.
"Syukurlah kalau begitu! Tapi aku tetap janji sama kamu Mas, aku akan berusaha untuk belajar memasak karena aku tahu kamu lebih suka makanan homemade ketimbang beli diluar." ucap Luna.
Tangannya kemudian terulur untuk membersihkan noda makanan yang tersangkut di sudut bibirku. Dan ketika dia hendak menariknya, aku menahan tangannya.
Kucium punggung tangannya dengan kecupan yang lembut.
Cupp...
"Terima kasih."
Luna tersenyum simpul dan mengalihkan pandangannya dari aku. "With my pleasure," ujarnya singkat.
"Oh ya, aku belum sempat bertanya soal EO yang datang ke rumah pagi ini. Bagaimana pertemuannya, apakah kamu cocok dengan konsep yang diajukan mereka?"
"Iya Mas, semuanya clear kok. Aku dan tim EO nya sudah menentukan konsep yang akan diusung nanti. Mengepaskan denah rumah kita dan kondisi venue yang ada, nanti temanya garden party lagi dengan suasana summer vibes. Jadi untuk dresscode para tamu bisa ala-ala pantai gitu.."
Luna sedikit menjelaskan tentang pembahasannya dengan Event Organizer yang bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pesta penyambutan rumah baru kami.
__ADS_1
"Kamu enggak apa-apa kan sama konsep usulanku?" Luna seperti meminta persetujuanku.
"Boleh kok, kan aku sudah bilang sebelumnya kamu bebas memilih. Konsep garden party and summer vibes terdengar menarik." jawabku.
Tentu saja aku mengiyakannya. Kalau dipikir-pikir konsepnya boleh juga karena terkesan homie. Para tamu akan terlihat lebih santai dan relax dengan tema pesta yang seperti itu.
Selama ini ketika aku menghelat sebuah acara tertentu, semuanya pasti serba formal dengan konsep table setting sehingga tak jarang para tamu terkadang mengalami kebosanan.
"Kamu bilang, tadi datang kesini naik taksi online...kenapa tidak mengabari aku saja? Tahu gitu biar Faiz yang jemput kamu,"
"Sebenarnya aku enggak berniat datang ke kantor Mas, semuanya serba dadakan. Pertemuanku dengan EO kan cepat selesainya, pas mau langsung ke rumah Kak Isabelle, ternyata Kak Isabelle masih di rumah sakit ngurus Ashley yang sedang puput pusar," jelas Luna panjang lebar.
Luna kemudian membuka segel botol air mineral dan menyodorkannya padaku. Istriku ini tahu persis jika aku harus minum dulu disela-sela makan agar tenggorokanku tidak tercekat.
"Terus, Kak Isabelle bilang akan kembali pulang sekitar jam setengah dua katanya. Jadi daripada nunggu lama...aku inisiatif main-main ke kantor kamu deh!"
Setelah meneguk air mineral tersebut, aku berkata, "Tetap saja, harusnya kamu ada waktu untuk telepon aku sebentar! Kalau kamu pergi sendirian aku tidak tenang. Andai sama Faiz kesininya, aku akan lebih lega."
"Ckkk...apa sih Mas, lebay banget kamu!" Luna berdecak. "Sebelum kita menikah, aku sudah terbiasa kemana-mana jalan sendiri. Nothing changes, buktinya aman-aman aja! Aku sampai dengan selamat di tujuan."
"Tapi Faiz kan jadinya bolak-balik, Mas!" sanggah Luna. "Aku cuman enggak mau merepotkan! Selagi aku bisa pergi sendiri, it's not a problem," lanjutnya sambil terus menyuapiku.
"Tapi itu sudah job desc-nya Luna. Nanti aku akan tambahin bonus untuk Faiz karena sudah mengantar kamu sementara," ucapku sambil mengunyah makanan di mulut.
"Apa enggak berlebihan Mas, kalau aku pakai supir pribadi? Toh juga aku enggak bakal sering bepergian. Aku kan sudah resign dari pekerjaanku." Luna masih saja ragu.
Sepulang dari kegiatan bulan madu kami, Luna telah memantapkan keputusannya untuk tidak bekerja lagi. Sejujurnya aku tahu itu adalah pilihan yang berat baginya. Dari yang aku perhatikan, Luna memang terlanjur nyaman menggeluti profesi sebagai guru TK.
Tapi dalam hati, aku justru senang mendengarnya. Itu berarti Luna akan fokus pada rumah tangga kami dan mengurusiku full-time 24/7. Hal yang dulu tidak pernah aku dapatkan dari Malena yang selalu sibuk bekerja dan mengabaikanku, meski aku terbilang mampu menafkahinya.
"Tidak sama sekali! Sebentar lagi kan kamu ikut kursus memasak, pasti butuh supir untuk mengantar. Belum lagi kalau mau belanja bulanan ke supermarket, ya kan?" bujukku pada Luna.
Bagaimanapun juga aku masih tetap kekeuh untuk mencarikannya seorang supir, kalau bisa yang sekalian mahir bela diri juga. Mana mungkin aku tega membiarkan istriku naik taksi online sendiri tanpa pengawasan. Aku tidak mau dia kenapa-napa.
Statusnya sekarang adalah resmi sebagai Nyonya Clerk. Nama belakangnya pun telah dibubuhi dengan kata Clerk. Tentunya akan ada banyak pesaing bisnisku yang nanti berpotensi untuk mengusiknya. Sama seperti Malena dulu yang kerap kali diteror.
__ADS_1
Dan ironisnya, kali ini aku juga harus pasang badan melindungi istriku dari Malena yang kelakuannya semakin tidak bisa ditebak. Bisa saja kan ia berniat mencelakai Luna?
Ahh...berbicara tentang Malena, aku dan Luna sampai lupa membahas kejadian tadi. Bukannya aku ingin membahas-bahas soal mantan, tapi ingin meluruskan saja agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Tapi ketika aku melihat ke arah istriku, sepertinya dia tidak tertarik untuk membahasnya. Luna tampak begitu tenang, tidak seperti biasanya yang kalau mendengar nama Malena emosinya bisa langsung meluap-luap. Tumben sekali.
"Ya sudah terserah, aku ngikut kamu aja," jawab Luna pasrah. "Mau aku menolak sekalipun, kamu juga pasti akan tetap memaksa Mas." cibir Luna.
Aku hanya tertawa pelan menanggapinya. Luna terlihat menggemaskan jika sedang mengerucutkan bibir mungilnya itu, membuatku ingin mengecupinya saja.
Ditengah-tengah pembicaraan kami, tiba-tiba saja Luna menghentikan aksinya menyuapiku. Dia meletakkan kotak makanan yang ada di pangkuannya ke meja. Tangannya beralih menutup mulutnya yang menggembung. Luna seperti meringis menahan sesuatu.
"Lun, kamu tidak apa-apa kan?" tanyaku khawatir seraya mengusap lembut kedua lengannya.
Bagaimana tidak cemas, Luna tampak baik-baik saja beberapa detik sebelumnya. Dan sekarang, wajahnya mendadak berkeringat dingin dan pucat.
"Aku mau ke kamar mandi dulu Mas, rasanya mual dan perutku enggak enak banget! Sebelah mana tempatnya?"
"Itu, ada di pojok kanan sana..." tunjukku.
Tanpa basa-basi lagi, Luna cepat-cepat beranjak dari tempat duduknya dan berlari kecil menuju toilet di ruanganku.
Aku yang tak paham dengan apa yang terjadi pada istriku, hanya bisa mengekorinya dari belakang.
Ingin hati aku ikut masuk ke dalam untuk memastikan kondisinya, sayangnya pintu kamar mandi telah tertutup. Dan ketika aku menempelkan telingaku pada pintu untuk menguping, terdengar suara Luna dari dalam seperti memuntahkann sesuatu.
"Huwekkkk....."
Ada apa dengan istriku?
***
Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊
Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.
__ADS_1