
"Mas, aku udah kenyang nih!" Luna menyandarkan kepalanya kebelakang sofa sambil mengelus-elus perutnya yang mulai begah.
Baru makan satu slice pizza dan hamburger hana satu gigitan saja, rasanya Luna tak sanggup lagi untuk melanjutkan. Pada dasarnya ngidam Luna hanya berlaku sesaat. Cuma butuh satu gigit sudah bisa membuatnya puas. Prinsipnya yang penting ngidamnya terpenuhi.
Noah mengulurkan tangannya untuk mengusap rambut Luna. "Okay, kita pulang sekarang kalau gitu. Ini sudah malam juga, kamu harus istirahat."
"Tapi burger sama pizza-nya masih banyak, Mas! Sayang dong kalau semisal dibuang!"
"Minta bungkus saja. Nanti bisa dikasih ke orang rumah. Toh juga kamu saat memotong pizza-nya rapi, tidak kena bekas gigit. Yang burger biar ditinggal saja."
"Tapi kalau dibungkus nanti rasanya enggak enak pas dimakan di rumah!" gerutu Luna.
"Kan bisa dihangatkan di microwave, Lun..."
"Kamu aja deh Mas yang makan! Pizza-nya cuman tinggal 3 slice, hamburger juga baru segigit aja. Habiskan sekarang!" pinta Luna pada Noah sembari menyodorkan satu loyang pizza kearahnya.
Entah kenapa, tiba-tiba saja Luna ingin melihat Noah makan pizza dan hamburger yang ada didepan mata. Apakah ini salah satu bentuk dari ngidam yang aneh? Mungkin saja.
"Hahh??!! Cuman 3 kamu bilang?" Noah tercengang. "3 dari mana, orang itu masih banyak ada total 8 potong! Kamu itu bukan makan, tapi icip. Lagipula aku juga tidak terlalu suka pizza. Satu saja sudah bikin aku eneg!" Noah bergidik ngeri membayangkan jika dirinya memakan pizza.
Maklum, Noah adalah tipe pria pemilih kalau soal makanan. Paling kritis dan anti dengan makanan yang memiliki kalori ataupun kolesterol yang tinggi. Terutama junk food ataupun fast food, tak begitu suka. Itu sebabnya Noah sempat melarang Luna makan makanan seperti itu dengan alasan tidak sehat.
Faktor lainnya, Noah tidak ingin merusak pola hidup sehat yang diterapkannya sejak dulu. Sebagai pria pecinta gym dan olahraga, Noah rutin berkonsultasi dengan dokter ahli gizi untuk menjaga bentuk tubuhnya agar tetap prima.
Luna memutar bola matanya malas dan menyindir, "Kamu aneh deh Mas! Mukanya aja bule, blasteran giru..tapi pizza enggak doyan! Bule kw nih!"
__ADS_1
"Ya biarin! Orang itu punya selera yang berbeda. Mana bisa dipaksakan! Tidak ada kaitannya dengan aku yang mixed-blood," protes Noah.
"Ayolah Mas, please..." Nadine mengerjap-ngerjapkan bulu matanya memohon. Berharap Noah bisa luluh. "Lagi pengen liat kamu makan burger atau pizza. Salah satu aja deh?!"
"I said no, Luna. Kamu tahu betul aku tidak seberapa suka. Lebih baik aku makan masakan Bibi di rumah."
Luna mendengus sebal karena Noah tak mau menurutinya. "Huhhh...ya sudah, kayaknya emang susah banget untuk maksa kamu. Dibungkus aja kalau gitu. Sekalian aku tambah order satu atau dua pizza lagi ya? Buat bagi-bagi karyawan rumah, takutnya kurang."
"Boleh, asalkan kamu mau menunggu dan berhenti memintaku untuk memakan pizza," balas Noah. Mumpung restorannya agak sepi, tentunya tidak perlu menunggu lama jika hendak menambah pesanan.
Luna memanggil waitress untuk memintanya membungkus pesanan makanan yang tidak habis tadi. Tak lupa, ia juga menambah orderan lagi dua loyang pizza ukuran large untuk orang rumah. Sang waitress tersebut menurut dan tersenyum manis mengiyakan permintaan Luna.
Sembari menunggu, Luna dan Noah kembali berbincang-bincang untuk mengusir rasa kebosanan. Topik yang dibicarakan pun random. Mengalir begitu saja apa adanya. Keduanya pernah membuat kesepakatan, jika sedang berdua alangkah baiknya membatasi diri untuk tidak bermain ponsel dan mengabaikan satu sama lain.
Beberapa menit berlalu, pesanan Luna belum selesai juga. Tanpa sengaja, Luna yang sedang celingukan melihat Malena berada di parkiran luar bersama seorang pria yang hanya nampak punggungnya saja.
Terkadang Luna tak habis pikir. Sedang kencan tipis-tipis begini dengan suaminya saja, bisa-bisanya ia bertemu dengan Malena meski tak janjian. Tuhan seperti sengaja menguji kesabaran Luna.
"Hah??" Noah memicingkan matanya. "Malena? Dimana?"
"Itu lho Mas, orangnya ada di parkiran!" jari telunjuk Luna terulur menunjuk kearah pojok kanan parkiran mobil.
"Tidak kelihatan tuh!" Noah menoleh kanan kiri namun tak menemukan wujud Malena.
Luna berdecak kesal karena Noah tak paham juga meski sudah dijelaskan. "Ckk..bikin gemas aja kamu Mas! Tuuh..hmmm kelihatan kan sekarang!" Luna membelokkan kepala Noah agar menengok Malena yang terlihat seperti sedang adu mulut. Jelas dari rautnya yang memerah karena emosi yang meluap.
__ADS_1
"Ohh itu Malena..." Noah meresponnya dengan wajah datar dan kembali melengos menatap Luna.
Bagi Noah, Malena tak lagi penting untuk hidupnya. Apalagi ada Luna disini. Takutnya Luna cemburu, sensitif, kemudian balik merajuk seperti siang tadi. Terakhir kali Noah mengantarkan Malena pulang, Luna bisa berubah jadi singa betina.
"Mas itu kayaknya mantan istri kamu lagi berantem deh! Sama si Andre-Andre itu bukan? Aku lupa-lupa ingat sama wajahnya!" Luna masih saja kepo dan terus memperhatikan Malena yang asyik cekcok dengan pria tersebut dari balik kaca pembatas yang transparan.
"Iya, itu memang Andre," Noah membenarkan karena sekilas Andre menoleh sehingga Noah bisa memastikannya. "Dan juga, baguslah kamu tidak ingat sama wajahnya. Buat apa juga diingat, tidak penting. Sudahlah jangan lihat terus kesana. Tatap wajahku saja!"
Luna tak menghiraukan ucapan Noah dan kembali memata-matai gerak-gerik Malena dari kejauhan. "Wahhh...Mas..Mas...itu Mbak Malena didorong sampai tersungkur! Waduh..dipukull juga! Tolongin Mas!" sentak Luna heboh sehingga Noah menoleh dengan cepat.
Melihat Malena yang tubuhnya mendarat tepat di lantai tak membuat Noah bergerak untuk menolong. Dia malah diam termenung tak melakukan apa-apa.
"Mas kok diam? Bantuin Mas, aku enggak tega lihatnya! Jalanan diluar sepertinya sepi juga!"
Noah sedang berperang dalam batinnya sendiri. Tolong, tidak, tolong, tidak, tolong...tidak.
"Beneran aku tolong? Nanti kamu ngambek aku dekat-dekat dia?" Noah mengkonfirmasi terlebih dahulu pada Luna agar tidak jadi salah paham nantinya.
"Ya ampun Mas...sebenci-bencinya aku sama Mak Lampir, tetap aja aku enggak tega kalau lihat seorang wanita disakiti. Gak gentle banget tuh cowok ringan tangan!" Luna mulai mengomel-ngomel sendiri. "Udah cepetan sana, apa mau aku yang susulin?!"
"Ehh tidak..tidak..tidak ada ya! Kamu tunggu sini saja, aku tidak mau kamu kenapa-napa. Ingat lagi hamil jangan aneh-aneh!" Noah balik menceramahi Luna.
"Iya makanya cepat! Tuh Mbak Malena nangisnya makin kencang kelihatan dari mukanya!"
"Iya..iya..aku tolongin, demi kamu nih!"
__ADS_1
Dengan perasaan terpaksa, mau tidak mau Noah menurut saja dan melangkahkan kakinya keluar menuju parkiran luar untuk menghampiri Malena dan Andre.
***