
Setelah selesai mencoba rollercoaster The Return of Mummy yang menantang, Noah dan Luna kini beranjak menaiki permainan Jurassic Park. Tubuh keduanya cukup sedikit basah karena terkena cipratan air saat mengendarai wahana tersebut.
Puas bermain-main disana, keduanya melanjutkan perjalanan lagi mengitari Universal Studios dan mencoba satu persatu wahana yang tersedia. Luna tampak begitu happy. Senyumannya hampir tidak pernah pudar sedari tadi.
"Lun, aku mau ke toilet sebentar ya untuk buang air kecil. Kamu tunggu disini dulu enggak apa-apa kan? Atau mau sekalian ke toilet?" ucap Noah.
"Aku nunggu sini aja Mas, malas jalannya jauh kesana...aku juga enggak lagi kebelet!" Luna mengipas-ngipaskan tangannya ke wajah karena udara hari ini cukup terik.
"Hmmm..udah mulai kecapekan nih tanda-tandanya?" Noah menaik-naikkan kedua alisnya.
"Ehh..enggak ya! Enggak capek, aku itu cuman kepanasan aja sekaligus menghemat tenaga! Sebelum ada kata 'capek' resmi keluar dari mulutku, berarti aku belum menyerah!"
"Terserah kamu saja lah..ya sudah aku mau ke toilet dulu, nitip tas ku ya..kalau dibawa ke toilet agak ribet!" Noah menyerahkan tas pinggangnya pada Luna.
"Oke Mas, sini aku pegangin..." Luna menyambar tas milik Noah.
Noah bergegas dari tempatnya berdiri dan berjalan menuju toilet yang jaraknya lumayan jauh.
Tingg....ting..ting...
Terdengar suara nada dering ponsel berbunyi.
Luna sengaja mengabaikannya karena suara tersebut berasal dari ponsel milik Noah yang ada di dalam tas.
Tingg....ting..ting...
Ponsel Noah tetap bergetar berbunyi dan tak mau berhenti meski sudah dihiraukan.
Ponsel tersebut masih terus berdering, membuat Luna jadi penasaran siapakah yang memanggil. Akhirnya, dibukalah tas pinggang milik Noah dan diambilnya ponsel berlogo apel yang digigit itu.
Tampilan layar menunjukkan ID caller bernama....
Malena.
Batin Luna, apa lagi yang mau dilakukan mantan istrinya Noah ini sampai-sampai harus menghubungi Noah berkali-kali.
__ADS_1
Luna memberanikan diri untuk mengangkat telepon tersebut, walaupun nanti dia akan kena semprot Noah karena berbuat lancang..itu bisa dia pikirkan nanti.
"Halo??" Luna menerima panggilan telepon tersebut dengan nada malas.
"Halo..ini siapa ya? Kok suara perempuan? Noahnya mana?"
"Mas Noah-nya enggak ada. Adanya saya, kekasih hatinya tercinta..Luna Olivia! Ada keperluan apa ya anda telepon-telepon pacar saya?"
"Bukan urusan kamu! Sebaiknya kasihkan handphone-nya ke dia, saya perlu bicara sama Noah!" ucap Malena angkuh.
"Anda punya gangguan telinga atau gimana sih? Kan tadi udah dibilang, Mas Noah-nya lagi enggak ada..." Luna mulai kesal.
"Jangan ngarang kamu! Noah pasti ada kan, lagian kenapa HP Noah ada sama kamu? Dia itu biasanya paling enggak suka kalau barang-barang pribadinya dipegang sama orang lain!" ketus Malena.
Luna merasa diatas angin setelah mendengar pernyataan Malena. Jadi, Noah ternyata paling tidak suka kalau barang pribadinya dititipkan? Sedangkan dengan Luna, Noah menunjukkan sikap berbeda yang cenderung santai.
Bahkan Noah kerap kali meminta Luna untuk menyimpan dompet dan ponselnya di tas Luna saat mereka sedang jalan bersama, alasannya Noah tidak terlalu suka membawa tas kecil supaya tidak ribet.
"Ya kan saya bukan orang lain, saya itu pacarnya...jelas Mas Noah fine-fine aja, kok jadi situ yang repot!"
"Milik? Orang udah jadi mantan aja masih banyak gaya...eh Mak Lampir, Mas Noah itu bukan barang yang bisa dijadiin kepemilikan! Terima nasib aja kenapa sih...dia udah move on dan bersama saya sekarang! Bangun dari realita sis!" balas Luna tak kalah sengit.
"Dasar anak kecil enggak tahu diri! Noah dan saya itu baru bercerai 5 bulan, enggak mungkin Noah secepat itu move on..paling kamu yang godain dia, murahan banget!!" Malena menghardik Luna habis-habisan.
"Aduh..jangan emosi dong, nanti makin tua lho kayak nenek lampir! Lagian ngapain sih ganggu-ganggu, saya dan Mas Noah itu lagi liburan bersama di luar negeri..dan sekarang kita lagi di hotel. Mas Noah masih mandi karena kita habis melakukan percintaan panas...ahhh senangnya!" Luna memanas-manasi.
"Berani kamu ya? Awas nanti kalau ketemu..saya Jambak rambut kamu!" pekikan Malena di telepon cukup keras membuat Luna menjauhkan ponsel Noah sejenak.
"Udah ya tante, saya enggak mau debat yang enggak penting..saya mau have fun sama pacar saya yang hot! Bye..." Luna langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Kemudian Luna cepat-cepat menghapus riwayat panggilan masuk dari Malena agar Noah tak curiga nantinya.
Seketika mood Luna menjadi berantakan dan drop setelah berteleponan dengan Malena. Luna tak habis pikir apa yang sebenarnya diinginkan oleh nenek lampir itu. Mereka berdua kan sudah bercerai tanpa anak, semestinya Malena tidak perlu lagi berkontak-kontakan dengan Noah dan menganggunya.
Siapa suruh selingkuh? Baru menyesal kan sekarang, setelah Noah lepas dari genggamannya! Bukan salah Luna apabila dia membuka pelukannya lebar-lebar dan menerima Noah masuk ke dalam kehidupannya.
__ADS_1
"Gila ya tuh perempuan! Maunya apa sih? Pas masih nikah disia-siakan, pas cerai ngotot minta balikan...spesies macam apa dia!" Luna menggerutu.
Di belakang punggung Luna, tampak Noah tengah berdiri dan menatap Luna yang raut wajahnya terlihat kesal. Noah baru saja kembali dari toilet.
"Lun....Lun..." Noah menoel pelan bahu Luna.
"Ma--mass..Noah?!" Luna tersentak kaget. "U--uddah balik Mas, s--sejak kapan?" Luna gugup.
"Barusan aja, kamu kenapa? Kok kayaknya kelihatan bete?"
"Ahh...enggak Mas, aku enggak apa-apa..Mas beneran datang barusan kan? Berarti enggak denger tadi aku ngomong apa?" Luna tersenyum meringis dan kikuk.
"Memang kamu ngomong apa? Tadi pas aku datang kamu langsung diam lesu begitu.." selidik Noah.
"Lupain aja Mas, aku enggak apa-apa kok..biasa ini udah mau mendekati hari-hari datang bulan, jadi mood ku suka berubah-ubah karena hormon!" Luna beralasan.
"Oh, okay...kita jalan lagi? Atau mau makan siang dulu?"
"Makan siang dulu aja Mas, isi tenaga..tadi Mas Noah juga pas sarapan di hotel aku lihat sedikit porsinya. Makan aja yukk..Mas Noah harus sehat dan kuat, katanya mau menang challenge?" ajak Luna.
Hati Noah menghangat, dia tak menyangka kalau Luna memperhatikan detail kecil yang dilihatnya. Bahkan porsi makanan Noah saja Luna masih ingat.
"Ya sudah, kita jalan ke arah barat, makanannya ada disana! Kita tinggal tukar kupon ini aja," Noah mengeluarkan dua kupon tiket yang bisa ditukar untuk seporsi makanan dari kantongnya.
"Siap bos! Yukk.." Luna bergelayut manja di lengan kekar Noah dan menyandarkan kepalanya di bahu Noah.
Posisi yang membuatnya sangat nyaman tanpa disadari.
Noah pun menganggapinya santai. Walau tingkah Luna kesannya terlalu intim dan bisa menimbulkan banyak spekulasi, Noah tidak mempersoalkannya atau merasa risih sedikitpun. Bergandengan tangan bukanlah suatu hal yang besar bukan? Itu hanya sekedar gandengan biasa.
Keduanya lalu berjalan ke sebuah food court untuk menukarkan kupon santapan makan siang mereka.
***
Jangan lupa untuk memberi like, vote dan hadiah ya..agar author lebih semangat dalam berkarya 😊 Terima kasih semua.
__ADS_1
Maaf kalau beberapa hari ini slow update, karena author sedang sibuk skripsi heheh.. doain semoga lancar ya teman-teman 😁