
AUTHOR POV
Noah dan Luna telah menyelesaikan babymoon panjang mereka setelah hampir satu bulan lamanya berlibur di negeri orang.
Pasangan suami istri itu baru tiba di tanah air sejak seminggu yang lalu. Kembali untuk mengahadapi realita kehidupan dimana Noah diharuskan kembali bekerja untuk mengumpulkan pundi-pundi uang.
Kini ketika keduanya sedang asyik bersantai di gazebo taman belakang di hunian baru mereka, tiba-tiba Luna berceletuk. "Mas, kayaknya aku lagi ngidam deh..."
Langsung saja Noah menghentikan kegiatannya yang tengah sibuk mengetik sesuatu pada laptop.
"Ngidam? Ngidam apa?" tanya Noah seraya mengerutkan keningnya.
"Iyaa..." lirih Luna pelan.
Tangan Noah terulur menggapai Luna, kemudian diusapnya dengan pelan dan lembut punggung tangan tersebut. "Mau apa, bilang sama aku? Kamu mau makan sesuatu ya?"
"Hmm..bukan makan sih."
"Terus apa?"
"Aku pingin jalan-jalan ke Mall aja Mas."
Noah menghela nafasnya sejenak sebelum menanggapi ucapan Luna. Laptopnya dimatikan dan ditutup. Kemudian pria itu menarik kursinya maju untuk memfokuskan atensi sepenuhnya pada istri kecilnya yang sedang berbadan dua ini.
"Ke Mall..emang tidak capek? Dokter bilang kamu harus banyak-banyak istirahat lho. Lagipula kita kan juga habis liburan dari Belanda dan Yunani? Masih belum puas?" tutur Noah memberi pengertian pada Luna selembut mungkin agar wanita hamil itu tidak sensitif.
__ADS_1
Luna mengerucutkan bibirnya, "Capek sih enggak, kalau bosan iya! Semingguan ini juga aku kan udah di rumah terus enggak kemana-mana."
"Mau main ke rumah Mommy sama Daddy untuk kasih oleh-oleh enggak boleh, alhasil mereka yang kesini. Mau makan diluar enggak boleh, katanya enggak sehat. Mau jogging ke taman dilarang. Terus ikut kelas yoga untuk ibu hamil juga enggak boleh sampai instruktur nya dipanggil ke rumah. Aku bosan Mas, suntuk.." rengek Luna dengan manjanya sambil protes panjang lebar.
"Ya aku harus gimana dong? Semua yang kamu sebutkan tadi juga fasilitasnya sudah ada semua di mansion kita ini. Jadi aku rasa kita enggak perlu keluar-keluar lagi kan?'" Noah beralasan.
Yang dikatakannya pun sebenarnya cukup valid. Setelah melalui pertimbangan dan perdebatan cukup panjang, akhirnya Luna sepakat dan menyetujui untuk pindah rumah meski dengan setengah hati.
Satu-satunya faktor kuat yang berhasil meyakinkan Luna adalah alasan keamanan. Sampai detik ini pun Noah memang masih kesulitan untuk menangkap dalang dibalik teror rumah lama mereka.
Target sudah didapat tapi Noah belum yakin dan punya bukti yang cukup untuk menangkap orang tersebut. Disamping itu Noah juga terlalu sibuk menikmati waktu senggangnya bersama Luna di luar negeri.
Ditambah lagi dengan perusahaan Clerk Kingdom miliknya ini tengah mengurusi proyek besar sehingga fokusnya terpecah. Begitupun juga Akbar dan Bagus, dua orang yang diandalkan dirinya untuk mengawal kasus teror ini juga lebih memilih fokus pada tender-tender dan rapat dengan para investor.
Luna menarik tangannya dari genggaman Noah kemudian memohon dengan sangat hingga kedua tangannya menutup. "Gimana Mas, boleh ya? Please..."
"Ckk, itu enggak seru Mas! Maunya ke offline store langsung. Aku tuh juga mau ke toko furniture IKIA. Mau isi-isi rumah lagi dengan perabotan baru. Rumah yang ini kan lebih besar dari yang sebelumnya jadi masih kosong gitu..aku enggak suka lihatnya," ujar Luna yang tengah berjuang untuk membujuk.
"Keras kepala banget sih dikasih tahu...istirahat Luna. Ingat kata dokter kemarin yang bilang kalau kamu tidak boleh terlalu banyak bergerak kecuali olahraga."
"Jalan-jalan ke Mall juga kan sambil Olahraga Mas, lagipula cuman sebentar aja kok. Janji deh enggak lama!" kedua jari Luna terangkat membentuk tanda peace.
"Beneran ngidam ke Mall?"
"Iya Mas, duh...masa harus diulang lagi? Please ayo ya kita kesana mumpung weekend. Besok kan kamu kerja lagi, aku ditinggal lagi di rumah. Bosan."
__ADS_1
Noah pikir-pikir dulu. Bukan dia melarang kesenangan istrinya, namun terakhir kali saat periksa setelah babymoon, catatan kesehatan Luna menunjukkan hasil yang kurang bagus. Belum lagi Noah takut dengan segala kemungkinan diluar sana ketika dia dan istirnya bepergian.
"Ya sudah boleh, aku akan temani. Tapi jangan protes kalau aku bawa bodyguard juga untuk menjaga kamu." Noah putuskan untuk mengiyakan permintaan Luna. Dirinya tak tega melihat wajah memelas wanitanya itu.
"Yeay!!! I love you Mas!" saking girangnya Luna, dia sampai berdiri dari kursi dan melompat girang membuat Noah menariknya kembali untuk duduk.
"Jangan lompat-lompat astaga! Kamu hamil...nanti baby kita terguncang disana. Atau tidak jadi pergi sekalian kalau kamu kekanakan begitu!" omel Noah dengan raut wajah datarnya namun menyeramkan. Taringnya sudah seperti mau keluar saja.
"Maaf, habis aku kesenangan.." Luna meringis pelan dan memiringkan kepalanya manja.
"Ya sudah ganti baju sana, aku tunggu disini."
"Okay Mas, tunggu sebentar aja ya aku enggak lama kok!" Luna bangkit kembali kemudian mebgecupi seluruh wajah Noah sebagai bentuk rasa terima kasihnya.
Batin Noah, beginilah Luna kalau sudah maunya dituruti langsung bersikap manis dan menggemaskan. Senyum lebarnya itulah yang membuat Noah happy. Jadi tak apalah kali ini ia mengalah lagi.
"Love you Mas!" teriak Luna seraya melenggang pergi ke kamar.
"Iya hati-hati jangan lari-lari ke kamarnya! Awas!"
Noah hanya menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah Luna itu. Baru diajak ke Mall saja happy nya tak tertolong, apalagi kalau dibuatkan menara Eiffel.
Sambil menunggu Luna berganti pakaian, Noah segera membereskan berkas-berkas dan laptopnya yang berserakan untuk dimasukkan dalam tas kerjanya kembali.
Setelahnya ia mengambil ponsel untuk menghubungi supir serta bodyguardnya untuk bersiap-siap mengantar.
__ADS_1
Namun ada satu hal yang membuatnya salah fokus.
Malena, mantan istrinya tiba-tiba menelpon.