
"Nyonya... pesanannya sudah siap!!" ujar Sari yang sedang berjalan ke gazebo sembari mengangkat nampan berisikan macam-macam buah.
Sesuai request dari Luna. Ada melon, semangka, mangga, dan juga apel yang sudah dipotongi kotak-kotak siap santap.
Sebenarnya Luna sempat mengidam ingin makan buah nanas. Tapi sayang, dokter kandungannya tidak menyarankan buah tersebut untuk dikonsumsi, mengingat Luna memiliki kandungan lemah.
Disamping Sari, ada pula Rima yang ikut serta membawa satu jar air mineral dan camilan lainnya seperti biskuit keju dan kacang telur. Semuanya kesukaan Luna.
"Wah sini-sini Mbak, segar banget tuh! Terima kasih ya udah dibawain kesini."
"Sama-sama Nyonya. Apa ada yang diinginkan lagi Nya? Kalau mau sesuatu biar langsung saya buatkan."
"Enggak Mbak, ini dulu aja." karena tak sabaran Luna langsung mencomot satu suap buah tersebut untuk dilahap. "Mbak Sari sama Rima sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya?" tanya Luna pada kedua ART-nya.
"Sudah kok Nya. Saya baru selesai cuci baju dan menyeterika."
"Sama Nya, saya juga sudah kok. Tadi habis nge-vakum seluruh lantai ruangan sekaligus mengepelnya."
Sari dan Rima saling bersahutan secara bergiliran.
Kali ini tak ada Bi Sumi ditengah-tengah mereka, sebab beliau sedang izin untuk pulang kampung karena keponakan laki-lakinya akan melangsungkan pernikahan. Pihak keluarga sana sangat membutuhkan kehadiran Bi Sumi untuk ikut bantu-bantu.
"Kalau begitu kalian berdua temani saya duduk-duduk disini ya! Please, saya bosan banget Mbak. Enggak ada kegiatan apa-apa. Kursus masak juga gurunya baru datang lagi besok lusa."
"Baik Nya, kami akan temani Nyonya bersantai disini." jawab Rima mengangguk.
Senyuman yang merekah timbul di kedua sudut bibir Luna. Punya teman mengobrol di rumah yang sebesar ini membuatnya begitu happy. Apalagi Rima dan Sari orangnya sangat menyenangkan. Luna sendiri tak pernah membeda-bedakan status, karena dimatanya semua orang itu sama.
"Oh ya Rima, saya penasaran deh..katanya Mas Noah kamu lagi dekat sama Karta ya?"
"Ehh...engg--enggak Nya, ss-saya enggak dekat sama Mas Karta kok.." Rima menunduk malu.
"Bohong Nya, orang kemarin sore aja mereka berdua pergi ke supermarket dan pulangnya sampai malam!" celetuk Sari yang sengaja keceplosan.
Rima mencubit pelan lengan Sari. "Ihh, Mbak Sari kok ngomongnya begitu! Kemarin padahal Mbak Sari lho yang meminta saya pergi ke supermarket untuk belanja bulanan. Kemarin saya juga pulang telat karena macet di jalan." terang Rima dengan wajah polosnya.
Luna hanya bisa menahan tawanya sambil bergantian memandangi mereka berinteraksi. "Sudah..sudah...jangan berselisih paham. Lagipula saya juga enggak apa-apa kok Rima, kalau semisal kamu dekat dengan Karta."
"Karta itu orangnya baik, ramah, dan sopan. Saya lihat-lihat, sepertinya dia juga menaruh hati sama kamu!" lanjut Luna seraya meneguk segelas air putih untuk meredakan dahaganya.
"Saya setuju sama Nyonya!" Sari ikut menimpali. "Tidak ada salahnya dicoba Rim, siapa tahu jodoh. Hihihi.."
Rima menggaruk-garuk pelipisnya meski tidak merasa gatal. "Tapi Nya, saya sungguh tidak punya hubungan spesial sama Mas Karta. Semuanya murni sebatas rekan kerja. Usia saya masih muda, 20 tahun. Belum kepikiran mau cari pendamping. Toh juga saya tidak tahu bagaimana perasaan Mas Karta. Mana mungkin kami bisa bersatu?"
"Jangan salah Rima, jodoh itu enggak bisa ditebak kapan datangnya. Kamu lihat saya sama Mas Noah! Sebuah keajaiban kami bisa bersatu. Berawal dari salah grebek akhirnya kami mendadak nikah dan sekarang tengah menanti kehadiran buah hati pertama." tangan Luna bergerak untuk mengusap-usap lembut perutnya.
Drtt...drtt....
Ponsel Luna berbunyi. Tampilan layar menunjukkan nama mertuanya menelpon. Perasaan Luna begitu bahagia mendapat panggilan dari Mommy Adelia.
__ADS_1
📱
"Halo Mommy..."
"Hai sayang...apa kabarnya kamu sehat-sehat kan? Cucu Mommy rewel tidak didalam perut?"
"Puji Tuhan, Aku dan Baby dalam keadaan yang sehat Mom. Rencananya besok aku dan Mas Noah akan check-up kandungan ke rumah sakit. Mommy sendiri gimana kabarnya, terus Daddy juga apa kabar?"
"Kami sehat-sehat selalu sayang...Mommy sekarang lagi kangen sama kamu!"
"Mommy bisa aja deh, aku jadi tersanjung! Padahal dua hari yang lalu kan Mommy baru ketemu sama aku. Kita kemarin habis dinner bersama di rumah."
"Iya, tapi enggak tahu kenapa bawaannya Mommy tuh kangen terus sama kamu. Ayo kita ketemuan yah..sama Isabelle juga. Kita bertiga jalan-jalan bersama ke Mall, pasti seru! Nanti biar Mommy yang jemput kalian."
"Okay...okay..boleh Mom. Luna pasti bisa kok kalau jalan-jalan. Kan Luna udah jadi pengangguran hihihi.."
"Kamu maunya hari apa sayang?"
"Asalkan jangan hari Rabu dan Kamis, Mom. Aku ada kursus memasak untuk dua hari itu. Selebihnya aku available."
"Okay deh siap, nanti Mommy tanya Isabelle dulu ya. Kita atur waktunya bersama." Mommy Adelia menjeda ucapannya sejenak.
"Oh ya sayang, satu lagi..Mommy tadi itu habis beli donat banyak. Karena kelebihan, kamu mau enggak kalau semisal Mommy kirimin donatnya ke rumah. Beberapa hari yang lalu kamu sempat curhat ke Mommy katanya pengen donat tapi enggak kesampaian."
"Wahhh...mau banget Mommy, aku mau! Aku suka sama donat!"
"Iya enggak masalah kok Mom. Aku tunggu ya.."
"Okay sayang..bye..see you soon!"
Sambungan telepon mereka akhirnya terhenti. Luna kembali meletakkan ponselnya dan lanjut menikmati camilan yang tersedia.
"Nyonya Luna beruntung sekali ya, disayang sama mertua. Saya jadi pengen deh punya mertua seperti ibunya Tuan Noah. Pasti rumah tangga saya adem ayem.." ujar Sari.
"Saya pasti akan doakan yang terbaik untuk Mbak Sari. Semoga dipertemukan dengan jodoh yang baik serta keluarga baik yang sedia menerima Mbak Sari dengan ketulusan hati." balas Luna.
Ketiga wanita itu akhirnya melanjutkan bincang-bincang santai mereka dan bergosip ria untuk mengisi kekosongan waktu.
***
30 menit berlalu, terdengar suara bel pagar berbunyi. Karena jaraknya antar gazebo tidak terlalu jauh, Luna buru-buru berjalan menuju depan rumah. Pikir Luna, yang datang itu pasti kurir yang mengirimkan makanan dari sang mertua.
Luna sudah tak sabar ingin menikmati jajanan donat tersebut karena dia sudah menginginkannya sejak lama, bisa dikatakan hampir semingguan ini.
"Nyonya ingat jangan lari-lari, biar saya yang ambil kesana. Nyonya duduk manis disini saja!" Sari sedikit meninggikan suaranya untuk menegur Luna yang sayangnya dihiraukan begitu saja.
Kalau Noah tahu hal ini, bisa habis dimarahi karyawan seisi rumah karena membiarkan Luna berlarian sekenanya.
"Pak Hari, cepat buka pagarnya Pak!" perintah Luna yang sedang berlarian kecil.
__ADS_1
"Waduh Nya...pelan-pelan. Saya ikut nyeri sendiri lihat Nyonya lari-lari begini. Bahaya buat si kecil. Nanti kalau Tuan tahu kami bisa diomelin, Nya!" Dani mencoba menghentikan langkah majikannya agar tidak sembrono, sedang Pak Hari sibuk membukakan pagar besar.
"Tolong minggir Dani, saya mau ambil makanan dari kurir itu!" perintah Luna.
"Jangan Nya! Sebelum paketnya diperiksa, alangkah baiknya biar saya dan Pak Hari mengeceknya terlebih dahulu," ujar Pak Hari.
"Kenapa jadi ribet sih Pak, itu kan hanya makanan. Isinya cuman donat dari mertua saya. Sama sekali enggak bahaya kok. Enggak perlu lah dicek-cek segala!" omel Luna.
Dani kemudian menyahuti, "Tetap saja Nya, harus dicek terlebih dahulu. Kami hanya menjalankan prosedur yang telah ditetapkan oleh Tuan Noah."
Luna berdecih kesal karena kedua satpam di rumahnya ini masih tetap pada pendirian mereka. Entah apa yang dilakukan Noah saat men-training mereka hingga keduanya begitu patuh.
"Ya sudah cepat lakukan, jangan pakai lama! Saya soalnya udah ngidam banget pengen makan makanan itu!" ucap Luna.
Tanpa menunggu lama lagi dengan cekatannya, Pak Hari perlahan membuka box karton warna cokelat tersebut yang berukuran sedang. Untuk Dani, ia justru sibuk menahan kurir yang mengantar paketan tadi agar tidak langsung pergi begitu saja
Barangkali jika barang yang dikirimnya bermasalah, mereka akan langsung meminta pertanggungjawaban pada sang kurir terkait.
Dan ternyata benar saja..
"Astaga Tuhan!!!" Pak Hari memekik dengan suara yang cukup kencang hingga tubuhnya sedikit tersentak kaget kala melihat isi didalam box tersebut.
Karena penasaran, Dani pun iku mengintip. Rupanya reaksi yang ditunjukkannya sama dengan Pak Hari. Bedanya, Dani terlihat lebih tenang karena Pak Hari sudah melihatnya lebih dahulu jadi dia dapat mengantisipasi keterkejutannya.
Kedua pria itu tiba-tiba saja menutup hidung mereka secara bersamaan, diikuti oleh sang kurir juga yang masih ada di tempat.
"Kenapa Pak Hari, ada apa didalamnya?" tanya Luna yang hendak datang mendekat namun Dani mengehentikan langkahnya. Dani meminta Luna untuk menjauh dengan jarak sekitar 2-3 meter.
"Jangan kesini Nyonya, biar kami yang urus! Nyonya kembali saja ke dalam."
"Saya tidak akan pergi sebelum saya tahu itu isinya apa!" Luna mendesak keduanya untuk berbicara jujur.
"Hmmm..." Dani tampak berpikir sebentar sebelum menjelaskannya. "Dalam box ini terdapat bangkai tikus dan ular Nyonya beserta darah hewan tersebut yang belum mengering."
"Hahh??!! Kok bisa, dari siapa itu?" Luna begitu panik seketika.
Ingin kali rasanya dia meminta suaminya untuk pulang cepat, berharap tak ada meeting atau pekerjaan berat di kantor Clerk Kingdom. Luna ketakutan sekarang. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya barusan.
"Nyonya, dari sini kami bisa menyimpulkan bahwa anda sedang diteror."
Deghh...
"Diteror? Ya Tuhan kenapa ini...siapa yang berani-beraninya mengusik kehidupan keluarga kecilku?!" Luna bergumam dalam hatinya.
Tubuh Luna langsung luruh melemas. Seluruh sel, jaringan, dan sendi-sendi dalam tubuhnya seolah membeku dan berubah kaku. Untung saja Rima dan Sari mengambil inisiatif untuk menopang tubuh Luna agar tak terjatuh tadi.
Luna harus segera melaporkan ini semua pada Noah, ya Noah...Luna akan mengadu ke suaminya.
***
__ADS_1