Om Duda, I'M Coming!

Om Duda, I'M Coming!
Suami Protektif


__ADS_3

Sampai di kediaman mereka, Noah segera menggendong Luna ala bridal style untuk masuk ke dalam rumah. Luna rupanya tak sengaja ketiduran saat dalam perjalanan pulang, dan Noah tak tega membangunkannya. Alhasil Noah harus membopong tubuh istrinya itu.


Kali ini Noah tidak akan membawa Luna untuk naik ke kamar mereka di lantai atas, melainkan kamar tamu yang ada di bawah. Bukan tanpa sebab, Noah memiliki rencana tersendiri. Noah lalu segera membaringkan Luna diatas kasur, menyelimutinya, kemudian mengecup kening Luna sekilas sebelum ia beranjak pergi.


Tak lama setelah itu, Noah memerintahkan seluruh karyawan yang ada di rumahnya untuk berkumpul di ruang tengah. Baik para asisten rumah tangga, satpam, tukang kebun, hingga supir pun ikut serta.


"Karena kalian semua sudah ada disini, langsung saja saya punya berita baik untuk disampaikan. Istri saya Luna, saat ini tengah mengandung anak pertama kami."


Sontak saja, suara sorakan serta tepuk tangan dari para karyawan rumah terdengar begitu riuh. Wajah mereka menunjukkan kebahagiaan yang tulus untuk sang majikan.


"Selamat Tuan.."


"Wah, selamat Tuan sebentar lagi akan menjadi Ayah!"


"Selamat, Pak Bos! Sehat-sehat untuk Nyonya!"


Masing-masing dari mereka saling bersahutan memberi Noah ucapan selamat atas berita kehamilan istrinya yang cukup menggemparkan seisi rumah ini.


"Terima kasih semua atas doanya." balas Noah tersenyum tipis. "Saya sengaja memberitahukan hal ini, supaya kalian semua senantiasa bahu-membahu untuk menjaga dan melindungi istri saya ketika saya sedang bekerja atau pergi keluar."


"Sudah pasti itu Tuan, kami pasti akan menjaga Nyonya!" balas salah satu dari mereka.


Noah mengangguk tersenyum. "Iya, saya benar-benar minta tolong kerjasamanya untuk mengawasi Luna. Jangan biarkan dia melakukan pekerjaan rumah yang berat. Saya tahu Luna lagi suka berkebun dan sedang belajar memasak akhir-akhir ini. Tapi kalau hal itu membuatnya kelelahan, kalian langsung tegur saja! Itu perintah dari saya."


"Mengerti Tuan!" ucap mereka semua serempak.


"Dan satu lagi, saya mau berita kehamilan Luna ini jangan sampai tersebar ke publik. Hanya keluarga inti dan orang tertentu saja yang boleh tahu. Jangan sampai bocor ke orang luar!" pinta Noah.


Mereka semua mengangguk paham.


"Nah sekarang, saya minta Bi Sumi, Sari, dan Rima untuk membersihkan kamar itu dan area sekitarnya! Mulai hari ini, saya dan istri akan menempati kamar tersebut." Noah menunjuk sebuah kamar yang terletak di lantai 1 dengan view menghadap ke taman belakang dekat kolam renang.


Noah memutuskan untuk pindah kamar ke bawah demi menjaga kandungan Luna. Dia tidak mau jika Luna kerepotan naik turun tangga sehingga membuatnya lelah. Apalagi ketika perut Luna sudah membesar nanti.


"Setelah itu, pindahkan semua baju-baju dan barang-barang penting milik saya dan istri dari kamar atas ke bawah!" perintah Noah pada para art di rumahnya yang kini sedang berbaris rapi dihadapannya.


"Dan ingat, jangan ada yang berani melakukan kecurangan atau berbuat macam-macam! Kalian sudah saya beri kepercayaan untuk memindahkan beberapa barang saya. Disini ada CCTV yang mengintai pergerakan kalian. Lakukan tugas dengan baik! Saya mau, sore ini pukul 4 sudah harus selesai!" tegas Noah sekali lagi.


"Baik, Tuan." para art menunduk hormat dan menyanggupi perintah Noah.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama lagi, setelah mendapatkan titah dari sang majikan, ketiga asisten rumah tangga tersebut langsung bergegas melaksanakan tugasnya.


"Untuk Pak Hari dan Dani, saya mohon untuk perketat penjagaan rumah. Seperti biasa, jangan biarkan orang-orang asing berani masuk tanpa izin saya."


"Jika ada kiriman barang atau makanan dari orang luar, mohon dicek dulu apa itu isinya sebelum dibawa masuk. Entah itu dari keluarga atau bukan, tetap harus melewati prosedur pengecekan. Laporkan semua aktivitas di rumah ini yang dirasa janggal."


Kedua bagian keamanan tersebut bergerak membuat tanda hormat. "Siap Tuan, laksanakan!" mereka lalu kembali menuju pos satpam.


"Tugas saya dan Bagus bagaimana Tuan?" tanya Karta, supir pribadi yang baru dipekerjakan Noah khusus untuk mengantar jemput Luna. Sedangkan Bagas si tukang kebun hanya menebar senyuman meringis.


"Untuk Bagus tidak ada perubahan sejauh ini. Kamu fokus saja mengurus taman di rumah, kamu rawat sebaik mungkin agar tetap asri. Karena kedepannya, setiap pagi saya dan istri akan sarapan di area terbuka," ucap Noah.


"Oke, Tuan! Nanti akan saya tambahin tanaman-tanaman yang cantik dan bagus..kayak nama saya heheheh!" sahut Bagus.


Noah menggeleng tertawa. "Terserah kamu saja lah!"


"Oh ya, Karta..andai kata saya minta kamu untuk tinggal disini bagaimana? Kamu bersedia kan? Saya membutuhkan kamu 24 jam soalnya, sewaktu-waktu Luna mengidam tengah malam atau ingin pergi kemana-mana. Kalau ada kamu disini kan enak, langsung cepat bisa antar!"


Tidak semua karyawan Noah tinggal di kediamannya. Ada beberapa yang langsung pulang setelah pekerjaan selesai, ada pula jadwal shift bergantian, dan ada yang tinggal. Khusus untuk Karta, Noah memintanya untuk menatap disini.


"Bisa Pak, saya sanggup dan bersedia. Kebetulan saya sendiri anak rantau dan tinggal di kontrakan sendiri. Justru saya lebih senang kalau tinggal disini," jawab Karta.


"Apaan sih Gus! Husshhh...rese banget!"


Noah terkekeh pelan melihat kekonyolan mereka. "Ya sudah, kalian kembali ke paviliun karyawan sana. Semua pembagian tugas sudah saya sebutkan tadi, kerjakan dengan baik dan sepenuh hati. Maka saya jamin, kalian akan mendapat bonus."


"Baik Tuan, kami pamit undur diri dahulu." ujar Bagus dan Karta berbarengan.


Dari kejauhan, Luna yang baru saja bangun dari bunga tidurnya keluar dari kamar tamu dan memanggil Noah. "Mas Noah..."


"Hey Luna, kamu sudah bangun ya?" Noah berjalan mendekat dan meraih lengan Luna.


"Aku tadi ketiduran ya? Maaf Mas, ngantuk banget soalnya!"


"It's okay Lun, aku bilang juga apa. Tidur dan istirahat di rumah, kamu itu sedang lelah. Gitu tadi maksa buat ke rumah Kak Isabelle!"


"Hehehe..maaf Mas!" Luna meringis. "Tapi Mas, kok pas aku bangun...aku bukannya ada di kamar kita, malahan di kamar tamu?"


"Kamar kita diatas lagi di beresin sama Bibi, aku mau kita pindah kamar di lantai bawah."

__ADS_1


"Loh kenapa?"


"Kamu lagi hamil, aku tidak mau ya kamu naik turun tangga...nanti capek!"


"Ishhh Mas, kan perut aku belum membesar! Masih kuat lah kalau naik turun! Baru pas sekitar 5 bulan keatas kita pindah ke bawah."


"Nope. Aku maunya sekarang, lebih cepat lebih baik. Toh juga kamar bawah itu sama besarnya dengan kamar atas kita. View nya juga bagus disana, jadi enak...pas keluar balkon langsung deh bisa lihat taman belakang dan kolam renang."


Luna memutar bola matanya malas, namun tersenyum juga. "Okay, okay...suka-suka kamu aja deh!"


Noah tiba-tiba berlutut dan mensejajarkan dirinya dengan perut Luna. "Sehat-sehat di dalam sana ya Baby, Papi dan Mami sudah tidak sabar untuk bertemu kamu di dunia ini. Sampai jumpa 8 bulan lagi sayang.." ucap Noah seolah-olah berinteraksi dengan janin yang ada di kandungan Luna.


"Papi dan Mami?" tanya Luna penasaran sambil mengerutkan dahinya.


"Iya, Papi dan Mami! Lucu kan?" kata Noah seraya mengusap-usap lembut perut Luna.


"Boleh, aku juga suka kalau pakai sebutan Papi dan Mami!" ucap Luna.


Noah kemudian merengkuh pinggang Luna dan mendaratkan sebuah kecupan manis di perut istrinya itu. Luna menjadi salah tingkah dibuatnya, semakin hari Noah semakin romantis dan memberikan perhatian penuh padanya. Apalagi ketika Luna hamil sekarang.


Rasa cinta dan kasih sayang Luna pada Noah sudah berkali lipat tambah. Hanya saja Luna masih gengsi untuk mengungkapkannya. Baik Luna maupun Noah, belum ada yang mau mengucapkan kata cinta terlebih dahulu.


Mereka sedang sama-sama menikmati masa-masa indah ini mengalir begitu saja tanpa harus dibebani dengan embel-embel keharusan akan validasi dari sebuah cinta.


"Tuan Noah luar biasa ya, beliau sepertinya sayang banget sama Nyonya Luna. Baru kali ini aku lihat beliau jadi bucin!" ucap Bi Sumi.


Salah satu pekerja yang sudah lama ikut dengan Noah, bahkan sejak Noah tinggal di rumah lama dengan pernikahan sebelumnya.


"Iyakah Bi? Saya dan Rima kan orang baru soalnya, jadi enggak tahu menahu soal kehidupan Tuan Noah!" celoteh Sari.


"Benar Bi, saya penasaran deh..dulu memangnya Tuan Noah bagaimana?" Rima ikut penasaran.


"Ya, Tuan Noah memang bisa dikatakan lebih cuek sama istri yang dulu. Keduanya jarang sekali ada di rumah, jarang quality time, pokoknya rumah sepi banget! Kalau sekarang, Tuan Noah terlihat lebih hangat dan perhatian sama istri yang baru ini. Nyonya Luna membawa dampak perubahan yang baik untuk Tuan!" jawab Bi Sumi.


Ketiga art tersebut pun melanjutkan gosipan mereka sambil mengerjakan tugas masing-masing.


***


Jangan lupa kasih like, komen, hadiah, dan vote nya ya..supaya Author lebih semangat untuk up😊

__ADS_1


Sempatkan juga untuk membaca karya author yang lain ya, judulnya "Favorite Sin", di apk ini juga kok. Terimakasih.


__ADS_2