
Noah
"Woyyyy...stoop!!! Dasar cupu lo, laki-laki beraninya sama perempuan! Tidak malu apa?" aku menghentikan gerakan tangan Andre yang hendak mendaratkan sebuah pukulann pada tubuh Malena.
Entah apa yang akan Andre lakukan pada mantan istriku itu, hanya Tuhan yang tahu. Tapi yang jelas, Malena tidak sedang dalam keadaan yang baik-baik saja. Ketakutan dalam dirinya begitu kentara sehingga tubuhnya terlihat bergetar dan penuh dengan peluh pada bagian kening.
"Noah..?!! Mau ngapain lo disini?!" Andre sedikit terkejut melihat kedatanganku yang secara tiba-tiba.
Malena juga memberikan reaksi yang sama kagetnya ketika melihat kehadiranku disana.
"Tidak penting bagaimana saya bisa disini. Justru kamu itu yang sedang apa? Kamu mau menganiayaa dia hah??!! Sudah gila kamu? Sembarangan main tangan sama perempuan!" cibirku sambil menghempas tangannya yang berada dalam genggamanku tadi.
Kulirik Malena sekilas, yang mana kulihat ia segera bangkit berdiri setelah jatuh di aspal. Wajahnya sembab seperti orang yang habis menangis. Malena memeluk erat tubuhnya sendiri.
"Jangan berani ikut campur urusan orang Noah! Kalau tidak tahu apa-apa sebaiknya kamu pergi!" Andre mengusirku terang-terangan.
Dia pikir jalanan ini punya nenek moyangnya atau area kekuasaannya begitu? Seenaknya saja menyuruh pergi setelah perbuatan bejad-nya ketahuan.
"Kalau tidak mau bagaimana?" aku menantangnya balik. "Kasar sekali sih jadi cowok. Memangnya apa kesalahan Malena sampai kamu bisa muntab seperti itu?"
"Lo tanya sendiri aja sama dia kenapa! Gue juga enggak mungkin kasar kalau dia enggak nyari gara-gara duluan!" sentak Andre sambil menunjuk-nunjuk wajah Malena yang menangis sesenggukan.
Ini kali kedua aku melihat mantan istriku itu ketakutan begitu hebatnya. Yang pertama yaitu saat dia ketahuan selingkuh dulu.
"Apapun alasannya, kamu tidak berhak melakukan tindak kekerasan pada wanita, Ndre! Kita sebagai laki-laki yang punya tenaga lebih kuat, tidak seharusnya berbuat semena-mena!" sanggahku.
Sebenci-bencinya aku pada Malena, tidak pernah sekalipun aku mengangkat tanganku untuk menyakitinya. Itu perbuatan yang tidak manusiawi. Daddy selalu mengajarkanku untuk menjadi pria gentleman.
"Daripada repot-repot mengusirku, lebih baik kamu pergi saja Ndre! Jalanan ini meski sepi ada CCTV-nya. Lihatlah restoran pizza seberang, mereka pasang kamera pengintai untuk area luar. Kamu bisa saja dilaporkan atas perbuatan kamu barusan." ucapku menakut-nakuti Andre, berharap supaya ia cepat-cepat pulang.
Andre mengacak-acak rambutnya kesal. "Huhh...awas lho ya Mal, berani lo lapor ke polisi..lo bakalan habis sama gue! Kartu AS lo masih gue yang pegang..jangan berani macam-macam!" Andre bergegas pergi meninggalkanku dan Malena dengan perasaan kesal yang luar biasa.
Diancam begitu saja sudah keok si Andre, meski sebelumnya dia juga memberi Malena ultimatum untuk tidak melapor pada pihak berwajib.
Aku membalikkan badanku menghadap Malena yang masih saja menangis dengan kepala tertunduk. "Kamu tidak apa-apa Mal?" tanyaku baik-baik.
Malena mendongak. "Aku baik-baik aja kok Noah. Untung saja kamu tadi datang, kalau tidak...mungkin Andre bisa berbuat hal diluar nalarku! Terima kasih ya!!" Malena berjalan mendekat dan memelukku secara spontan.
Grebb....
__ADS_1
Sontak saja aku kaget. Selama beberapa detik daya pikir otakku berubah lambat. Namun tak butuh waktu lama, kesadaranku kembali ke setelan awal sehingga aku langsung saja mendorong Malena pelan untuk melepaskan pelukannya.
"Jangan begini Mal, ini tidak pantas. Aku sudah punya pasangan. Aku harap kamu menghormati hubungan kami," tegasku.
"Mm--maaf Noah, aku enggak bermaksud. Ak--aku hanya terbawa suasana tadi." lirinnya pelan.
Suasana mendadak canggung dan kami saling memalingkan wajah satu sama lain agar tak bertatapan. Bukan karena salah tingkah, tapi aku tak mau Luna berburuk sangka setelah melihat Malena memelukku. Aku tidak mau hatinya terluka.
"Kamu tidak diapa-apain kan sama Andre tadi?" aku sengaja mengalihkan pembicaraan kami supaya dia tidak mengingat-ingat kejadian barusan.
"Cuman didorong saja hingga jatuh ke aspal. Sisanya kami hanya terlibat percekcokan biasa," jawab Malena.
"Ya sudah kalau begitu. Sebab kalau kamu sudah diapa-apain sama Andre, alangkah baiknya kamu pergi ke rumah sakit untuk melakukan visum. Kamu bisa laporkan Andre pada polisi untuk tanggung jawab atas perbuatannya." aku coba untuk memberi saran.
Lelaki kalau sudah berani main tangan, tidak boleh ada kata ampun.
Malena menggeleng cepat. "**--tidak usah Noah, aku baik-baik saja. Aku akan mencoba untuk lupakan kejadian hari ini. Anggap saja angin lalu. Toh aku juga tidak luka-luka. Kalau Andre mengulanginya lagi, baru akan aku laporkan."
Aku mengangguk paham. Malena sepertinya takut juga soal ancaman Andre yang memiliki kartu AS tentangnya. Pikirku juga terserah dia mau lapor atau tidak. Sebab yang punya masalah itu dia sendiri. Aku tak mau sok-sokan ikut menjadi pahlawan kesiangan.
"Sebaiknya kamu segera pulang, Mal. Ini sudah larut malam. Berhati-hatilah! Dan semoga masalahmu dengan Andre cepat selesai." aku berpesan sebelum pergi meninggalkannya.
"Iya..terima kasih karena sudah perduli dengan aku."
Waktu aku baru mau pergi meninggalkannya, tiba-tiba Malena menahan tanganku. "Noah, apa kamu bisa antarkan aku pulang? Aku takut sendirian begini..." pintanya memohon.
Belum sempat aku menjawab untuk menolaknya, tiba-tiba saja..
"HEHHH!!! DASAR YA MAK LAMPIR!! SEKALI CULAS YA TETAP SAJA CULAS!!" pekik seseorang dari arah belakang.
Aku mendengar suara perempuan yang menggelegar dan berteriak kencang bagaikan sambaran petir saat hujan tiba. Perasaanku jadi tidak enak. Aku tahu ini suara siapa.
Dan benar saja. Saat aku menoleh, istriku Luna itu berjalan cepat menghampiri kami sambil berkacak pinggang dan menggeleng-geleng.
Astaga Tuhan, perang dunia ketiga akan terjadi.
"Mbak Malena itu tidak tahu malu banget sih! Sudah dikasih hati malah minta jantung. Main seenak jidat minta diantar pulang! Enggak ada ya, pulang sana sendiri!" Luna menyerocos tanpa jeda.
Emosinya meletup-letup hingga telinganya berubah merah. Gawat kalau sudah begini, bisa habis aku nanti di rumah. Dia pasti akan ngambek lagi. Sudah dipastikan juga Luna melihatku dipeluk Malena sekilas. Siap-siap kena semprot nih! Semoga dia mau mendengar penjelasanku.
__ADS_1
"Kk--kamu juga disini Lun?!" Malena tampak gugup kala bertemu Luna.
"Iya Mbak, memang kenapa? Ada masalah? Aku tadi ada di restoran seberang tuh! Gerak-gerik kamu dan suamiku bisa diamatin dari balik kaca sana!" Luna menatapku dan Malena bergantian secara tajam.
Matilah aku.
"Ohh..sorry tadi enggak lihat. Aku pikir Noah sendirian." ucap Malena ketus, membuat Luna semakin tak suka saja dengan raut judes Malena.
"Udah bagus ya Mbak dibantu sama Mas Noah dari laki-laki tadi. Eh sekarang malah melunjak diantar pulang..belum lagi Mbak dengan beraninya main peluk suami orang sembarangan! Wanita enggak berkelas!" sindir Luna dengan sinis.
"Hehh...aku tuh enggak sengaja ya! Cuman refleks aja kok meluknya, enggak bermaksud macam-macam! Noah juga biasa aja, kenapa kamu yang marah?" Malena berkilah tak mau disalahkan.
"Mana ada refleks? Itu namanya cari kesempatan tahu enggak!"
"Kenapa sih jadi kamu yang sewot? Aku cuman minta antar pulang aja kok. Tahu istilah nebeng? Lagian juga kalau Noah mau, kamu bisa apa?"
"Gak tahu diuntung banget nih Mak Lampir! Hehh...kalau bukan karena aku yang suruh Mas Noah untuk menolong tadi, udah pasti kamu bakal kesakitan karena dipukulii sama selingkuhanmu dulu Mbak!" omel Luna.
"Banyak ngomong ya kamu! Noah itu nolongin aku tulus...tanpa kamu suruh juga dia bakal datang buat aku. Karena aku juga orang spesial yang pernah menempati hatinya!" balas Malena.
Kondisi semakin tak terkendali saja. Kepalaku rasanya hampir mau pecah melihat perdebatan antara dua wanita didepanku ini. Yang satu masa laluku, yang satu lagi masa depanku. Jadi bingung melerainya.
"Hihhh...dasar ya janda tua! Tahu gitu biar saja kamu digebuk sama si Andre-Andre itu. Minta digaruk nih orang ngeselin banget!" tangan Luna hendak bergerak menarik rambut Malena namun kutahan aksi Luna dengan merengkuh pinggangnya.
"Hey..sudah..sudah Lun! Jangan diteruskan ya, kontrol emosi kamu." aku mendekap Luna dan mengecup keningnya bertubi-tubi untuk meredam emosinya.
"Ingat..kamu sedang hamil. Jangan banyak stress dan bikin tekanan darah kamu naik. Relax oke?!" aku menenangkan istriku yang kecil-kecil cabe rawit ini dengan memberi usapan lembut pada perutnya.
Luna akhirnya mau mendengarku dan mengalah. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Aku semakin mengeratkan pelukan lenganku di lingkar pinggangnya.
Sedangkan Malena memutar bola matanya malas. Raut wajahnya nampak masam setelah melihat perhatianku yang tercurah penuh untuk Luna. Bukan salahku kalau dia cemburu atau tak suka, Luna memang prioritasku saat ini. Membuat hatinya tenang dan bahagia adalah kewajiban buatku.
"Kita pulang sekarang sayang...sudah malam. Kamu perlu istirahat. Pesanan pizza kita apa sudah selesai tadi?" tanyaku seraya menangkup wajah Luna.
"Iya sudah, aku titipkan sama bagian front desk tinggal ambil." sahut Luna malas.
"Okay.. kita kesana sekarang yuk.."
Kemudian Luna dengan posesifnya menyelipkan tangannya pada lenganku untuk bergandengan. Kepalanya sengaja disandarkan ke bahuku. Tidak lain tidak bukan, Luna pasti mau memanas-manasi Malena.
__ADS_1
Tak apalah justru aku malah senang dengan sikap kekanak-kanakannya serta sikap manja dan centilnya Luna. Membuatku semakin gemas saja. Bersama dengan Luna, aku selalu merasa seperti laki-laki yang diinginkan dan dibutuhkan. Aku suka itu, sangat-sangat suka.
***